
Setelah kepergian orangtuanya, Arya samasekali tidak ada niatan lagi untuk kembali ke rumah sakit. Kepalanya tiba tiba terasa pening memikirkan masalah yang menimpanya. Belum juga masalahnya dengan Kinara selesai, sudah ada masalah dengan Sherly dan sekarang malah ditambah dengan masalah dengan orangtuanya.
Arya sama sekali tak menyangka kalau Kinara akan dengan beraninya mengatakan semua nya pada orangtuanya. Dan bahkan yang paling tak bisa Arya percaya adalah Kinara y sudah menggugat cerai dirinya.
Apa semudah itu Kinara melepaskan nya, jelas jelas Kinara sangat mencintai dirinya tapi Kinara malah dengan mudahnya menggugat cerai dirinya saat dalam masalah seperti ini. Harusnya Kinara mau mendengarkan penjelasannya dan mau memulai semua dari awal dengannya.
Ntahlah pikiran egois Arya membuatnya berpikir kalau Kinara mau menerima semua dengan lapang dada pasti tak kan ada masalah besar seperti ini. Lagipula dia juga sudah berniat akan memprioritaskan Kinara dan Feli dari pada Sherly. Lalu apa lagi yang diinginkan kinara?.
Tapi Kinara malah keras kepala lebih memilih berpisah daripada belajar memaafkan dan menerimanya. Begitu kira kira isi pikiran Arya.
Arya menatap layar ponselnya dan dia menatap nama yang tertera di sana. Arya hanya menatapnya sebentar ponselnya lalu meletakkan kembali ponselnya itu di meja.
Setelah beberapa saat panggilan itu berhenti, tapi tak lama ponselnya berbunyi lagi. Arya kembali mengacuhkan ponselnya tapi lagi dan lagi ponselnya terus berbunyi tanpa ada jedanya membuat Arya semakin kesal saja.
Arya mengambil ponselnya lalu mengetikkan beberapa kalimat agar Sherly tak terus menghubunginya.
"📩
......Aku akan datang besok! jangan telfon lagi!"......
Arya berhasil mengirimkan pesan itu kepada Sherly. Setelahnya dia mematikan ponselnya karena dua benar benar sedang tak ingin be bicara dengan Sherly terlebih dulu. Dia dan Sherly hanya akan bertengkar saja. Dan Arya tidak mau kalau sampai dua kelepasan saat bertengkar dengan Sherly lagi. Jadi Arya memilih tetap berada di rumah saja.
Lagipula dia juga butuh menenangkan fikiran setelah kemelut masalah yang dihadapinya.
Ditempat lain Sherly geram karena dari tadi Arya sana sekali tidak mengangkat panggilan darinya. Padahal dia sudah menelfon nya berkali kali. Dan di tengah rasa kesal dan geramnya. Bukannya menjawab panggilannya, Arya malah mengirimkan sebuah pesan di ponselnya.
Pesan itu bertuliskan kalau Arya tak akan datang ke sana malam ini. Dan dia bahkan meminta Sherly untuk tidak menghubungi nya.
Sherly yang semakin geram pun akhirnya kembali menelfon nomer Arya. Tapi bukannya di angkat malah ada suara operator yang mengatakan kalau nomer ponsel Arya tengah tidak aktif.
Sherly marah dan membanting ponselnya ke dinding dengan keras hingga ponsel mahalnya pecah. Sherly tak memperdulikannya, yang jkqa Sherly sedang butuh pelampiasan untuk amarahnya. Bila dia sedang ada di apartemen dan tidak di rumah sakit sherly yakin kalau dia sudah pasti akan mengobrak ngabrik isi apartemennya.
__ADS_1
Keesokan harinya, Kinara bangun tidur dengan perasaan yang lebih lega dari hari hari sebelumnya. Pagi ini Kinara berniat untuk benar benar mengubur masalalu nya dan membuka lembaran baru bersama Feli putrinya.
Sudah cukup selama beberapa hari ini dia selalu menangis, bersedih dan melamun. Kini Kinara ingin bangkit dan menunjukkan pada dunia kalau dia bisa bangkit dari rasa sakit ini. Kinara juga tak ingin putrinya terus bertanya kenapa ibunya terlihat sedih dan murung.
Kinara ingin Feli bahagia bersamanya, Melihat ibunya bersedih pasti akan membuat Feli ikut bersedih juga. Belum lagi dua harus kehilangan sosok ayah setelah ini. Jadi Kinara memang harus melupakan kesedihannya dan menata kembali hidupnya yang tadinya berantakan.
Kinara juga berniat untuk pergi ke kafe hari ini. Sudah dua hari dia tak datang kesana, padahal kafe baru saja di buka dan dia sangat di butuhkan disana. Tapi karena masalah pribadinya dia sampai melupakan tanggung jawabnya pada pekerjaan yang baru saja dia geluti.
Kinara berfikir kalau Melisa pasti sangat sibuk karena ketidak hadiran nya selama beberapa hari ini
Lagi pula datang ke kafe juga bisa menghibur Kinara. Berada di sekitar banyak orang pasti dapat membuatnya lupa akan masalahnya.
Papa Bagus dan mana Laras mengamati penampilan Kinara dengan seksama sesekali mereka saling lirik. Kinara selama beberapa hari terlihat sedih dan enggan berdandan. Tapi hari ini, hati ini Kinara pagi pagi sudah berpakaian rapi dan cantik.
Mama Sekar yang sejak tadi merasa gatal ingin berbicara pun akhirnya angkat suara.
"Kamu mau kemana nak? kok tumben lagi pagi gini kamu udah rapi dan cantik gini?" tanya mama Sekar.
"Kinara mau nganterin Feli sekolah ma, terus abis itu Kinara mau langsung ke kafe. Kinara nggak enak sama Melisa, masak baru kemarin kafe di buka udah nggak masuk terus sih. Kasihan juga yang kerja di dapur nggak ada yang bantuin" jelas Kinara.
Kinara mengangguk lalu menjawab dengan tersenyum. "Kinara yakin ma, Kinara rasa dengan bekerja, setidaknya pikiran Kinar akan sedikit teralihkan dan bertemu dengan orang banyak akan membuat Kinara labuh baik dari pada mengurung diri di kamar atau bengong nggak jelas di teras"
"Yasudah kalau begitu. Memang ada baiknya kamu pergi bekerja, menemui temanmu dan berbaur dengan orang. Dari pada kamu hanya berdiam diri di rumah itu malah tidak baik nak" kini giliran Papa Bagus yang bersuara.
"Yasudah lah kalau itu mau kamu Kinar, tapi kamu hati hati nanti ya. Jangan kerja sambil ngelamun. Jangan terlalu memaksakan diri!" ucap mama Sekar memperingati.
"Siap mamaku sayang......" ucap kinara memeluk singkat mamanya lalu mencium kening mama Laras.
"Mami, Feli juga mau di cium" ucap Feli saat melihat Maminya mencium kening Omanya. Ketiga orang itu pun tertawa mendengar Feli sedikit protes. Lalu Kinara menghampiri Feli yang duduk di kursinya, lalu dia menciumi seluruh wajah Feli sampai Feli bertawa karena merada geli.
*********
__ADS_1
Setelah mengantar Feli ke sekolah, Kinara segera melajukan motornya ke kafenya. Biasanya Kinara akan menggunakan taksi saat ditang ke kafe. Tapi Kinara ingin belajar lebih mandiri lagi. Lagipula dengan memakai motor dia malah bisa lebih irit daripada harus membayar biaya taksi.
Kinara sampai di kafe yang terlihat masih cukup sepi, tapi pintu sudah dibuka. Saat Kinara masuk, nampak ada beberapa karyawan yang mulai membersihkan dan merapikan kafe, Adapula yang sedang di dapur membuat desert. Karna tak mungkin desernya baru di masak saat di pesan. Membuat desert membutuhkan waktu yang lebih lama.
Kinara masuk dan para karyawan yang sedang bersiap untuk membuka kafe pun langsung menyapa dengan raut sumringah.
Selama beberapa hari ini mereka menang sedikit kualahan karena Kinara tidak ada di kafe. Jadi Melisa pun ikut membantu sebagai waiters dan waiters yang lain membantu di dapur. Meski masih dapat di tangani tapi tetap saja dengan kedatangan Kinara semua akan ada di posisinya masing masing.
"Pagi" sapa Kinara saat masuk.
Mereka pun menoleh dan tersenyum sumringah melihat Kinara.
"Pagi Bu Kinar" jawab mereka kompak.
"Bu Kinar sudah sembuh, Alhamdulillah kalau sudah sehat sekarang" tanya salah satu karyawan y bertugas sebagai pelayan.
Kinara agak bingung awalnya, tapi akhirnya Kinara sadar kalau mungkin Melisa mengatakan bahwa dua sedang sakit jadi tak bisa datang ke kafe beberapa hari.
"Ah ya, aku sudah sembuh. Sudah sangat sehat malahan" jawabannya tersenyum. "Alhamdulillah kalau begitu bu, kita juga ikut senang melihat Bu Kinara sehat lagi" jawab pelayanan itu lagi.
Kinara kembali melebarkan senyumnya, para karyawannya ternyata sangat perhatian padanya.
"Oh ya jangan panggil aku Bu, aku memang sudah punya anak, tapi aku merasa tua kalau di panggil begitu" ucap Kinara yang tak suka sebenarnya di panggil Bu. Telinganya agar terasa gatal dengan panggilan itu.
"Lalu kita harus memanggil Bu Kinara dengan sebutan apa?
"Emmm apa saja tak masalah, kamu mau panggil namaku saja juga boleh kok"
"Yah nggak bisa gitu juga Bu, itu sangat tidak sopan bu" ucap pelayan itu.
"Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau kamu panggil aku mbak aja. Lebih enak didengerin tau. Lagipula aku yakin umur kita juga nggak jauh jauh amat"
__ADS_1
"Iya deh kita panggil mbak saja"
"Bagus kalau begitu. Sekarang aku mau ke dapur dulu. bye" ucap Kinara berpamitan lalu dia menuju dapur untuk melihat apa yang sedang di kerjakan Alya, orang yang bekerja di dapur. Alya masih terbilang muda, usianya baru 18 tahun dan dia lulusan SMK tata boga itu sebabnya meski dia masih muda tapi dia pintar memasak dan Kinara pun tak sulit mengajarkan Alya serep resepnya.