
"Kenapa Mami tanya kayak gitu? Emang kita mau pergi kemana Mi?" tanya Feli bingung.
"Emmm nggak papa sayang, Mami cuma tanya aja. Kalau suatu saat nanti Mami ajak Feli pergi dari sini kayak Mamanya Celine Feli mau nggak?"
"Feli nggak mau pergi Mi, Feli nggak mau kayak Celine, Feli nggak mau tinggalnya pisah sama Papi kayak Celine sekarang. Feli maunya sama sama terus sama Mami sama Papi. Feli pasti bakal sedih banget kalau harus kayak Celine" jawab Feli dengan mata berkaca-kaca.
Kinara yang melihat putrinya akan menangis segera memeluk tubuh Putrinya dan mengelus rambut Feli.
"Sayangnya Mami nggak boleh nangis dong, jangan sedih. Mami tadi kan cuma tanya aja, bukan berarti beneran. Feli jangan sedih lagi ya jangan nangis nanti cantiknya hilang kalau Feli nya nangis" ucap kinara sambil terus mengelus rambut putrinya.
"Mami janji ya kita nggak akan pergi dari Papi. Kita bakal sama sama terus?" tanya Feli sambil menatap Maminya panuh harap.
Kinara melihat betapa putrinya berharap keluarganya tetap utuh membuat hati Kinara terasa nyeri dan sakit.
Bagaimana dia bisa berfikir untuk berpisah dengan mas Arya. Sedangkan putrinya saja melihat orang tua temannya berpisah saja jadi ikut sedih melihat temannya itu, terus bagaimana perasaan putrinya jika dia tau kalau orang tua nya sendiri yang akan berpisah. Kinara tidak bisa membayangkan bagaimana sedih dan terlukanya sang putri jika dia dan mas Arya sampai jadi berpisah.
Kinara menatap putrinya dengan pandangan lirih. Sungguh dia sangat menyayangi dan mencintai putrinya.
"Iya sayang Mami akan berusaha agar keluarga kita tidak akan terpisah dan akan selalu bersama" ucapnya pelan dengan berusaha menyunggingkan senyum meski hatinya benar benar sakit saat berucap.
Jujur sampai detik ini Kinara masih dihantui oleh bayangan saat suaminya sedang bercumbu dengan perempuan lain. Hatinya masih terasa sangat sakit setiap kali mengingat hal itu.
Kinara sebenarnya belum begitu yakin kalau dia bisa melakukan ini, tapi demi putri tercintanya, Kinara rela berkorban hati. Kinara rela mengalah dan menurunkan ego dan harga dirinya demi kebahagiaan putrinya.
Seorang wanita mungkin terlihat lemah. Tapi sebenarnya wanita adalah wanita paling kuat yang ada di muka bumi ini. Perempuan sanggup menahan rasa sesakit apapun itu demi orang yang di cintai. Terlebih untuk anaknnya, seorang ibu bahkan rela mengorbankan nyawa nya demi anaknya. Apalagi jika hanya berkorban hati dan perasaan. Sudah pasti seorang ibu akan lebih mengorbankan itu semua demi anak tercintanya.
__ADS_1
Begitu pula dengan Kinara. Demi kebahagiaan putrinya, dia akan berusaha sebisa mungkin mewujudkan keinginan sederhana putrinya.
Tak apalah dia berkorban hati dan perasaan. Pelan pelan Kinara akan berusaha membuat suaminya kembali lagi pada keluarganya. Bukan hanya raganya yang ada di rumah ini. Tapi juga hati dan pikirannya. Kinara akan berusaha melakukan itu semua.
*********
Pagi harinya setelah menyiapkan sarapan pagi. Kinara naik ke atas menuju kamarnya untuk membantu suaminya merapikan pakaiannya seperti biasa.
Namun saat Kinara hendak membuka pintu Kinara malah kembali terbayang lagi dengan apa yang dia lihat di kantor suaminya kemarin.
Ntah seberapa kuatnya Kinara menghilangkan bayangan itu justru malah semakin jelas terlihat di mata Kinara.
Sejak semalam Kinara sudah berusaha bersikap biasa saja, tapi kenyataannya Kinara tetap tidak bisa. Hatinya tetap terasa sakit bahkan lebih terasa lagi saat mas Arya berada di hadapannya.
"Sini mas aku bantuin"
"Kamu lama banget sih kesininya, aku kan nggak biasa ngerapiin baju sendiri" ucap Arya pada kinara.
Meski mas Arya bicara dengan nada biasa saja, ntah mengapa terasa sangat menyakitkan bagi Kinara.
Kinara mencoba tersenyum lalu membantu suaminya memakai dasi.
"Maaf ya mas kalau aku lama kesininya, kan tadi aku nyiapin sarapan sama nyiapin Feli dulu baru ke sini" ujar Kinara dengan suara selembut mungkin.
Mulai dari sekarang dia akan berusaha merebut kembali cinta suaminya dan membuat suaminya hanya akan mengingat dia sebagai rumahnya.
__ADS_1
"Ya kamu juga jangan hanya ngurusin Feli aja. Aku juga harus kamu urus juga. Itu kewajiban seorang istri"
Sontak ucapan Arya langsung membuat Kinara yang masih memasang dasi pada mas Arya reflek mendongkak menatap wajah mas Arya. Rasanya ingin sekali Kinara menjawqb ucapan nya tadi dengan mengingatkan pula kewajiban suami selain mencari nafkah.
Tapi Kinara mengurungkan niatnya itu. Dia tidak ingin terjadi pertengkaran pagi ini. Terlebih saat dia ingin membuat suaminya kembali pada keluarga ini.
"Aku tau kok mas kewajiban aku sebagai istri. Kalau aku nggak tau kewajiban ku sebagai istri. Aku nggak akan ada di sini saat ini mas, aku nggak akan bantu kamu pasang dasi"
"Udah selesai ini dasinya, sekarang kita turun buat sarapan, pasti Feli udah nunggu di bawah sekarang" ajak Kinara. Sekalian untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Ya udah ayo. Keburu kelamaan nanti Feli nungguin nya"
Kinara dan mas Arya pun bersamaan menuruni tangga. Dan mereka bisa melihat kalau putri mereka sedang duduk di meja makan menunggu orang tuanya untuk sarapan bersama.
Saat mereka sedang sarapan tiba tiba Feli bicara sesuatu pada Papinya.
"Pi, nanti pulang sekolah Feli boleh nggak ke kantor Papi?" tanya Feli di sela sarapan paginya.
"Emang Feli mau ngapain ke kantor Papi. Kantor itu tempat buat kerja Feli bukan buat main" jawab Arya.
"Tapi Feli pengen Pi pergi ke tempat kerja Papi. Feli pengen kayak temen temen Feli yang lain bisa pergi ke tempat kerja papa mereka terus makan siang bareng atau makan malam bareng gitu di restoran. Tapi Feli, jangankan pergi ke restoran bareng, Kita aja makan sama sama cuma kalau pagi aja. Kalau siang sama malem kita nggak pernah makan bareng kayak temen temen Feli" ucap Feli sambil menatap berkaca kaca pada Papinya.
"Mas menurut ku nggak ada salahnya juga buat ngijinin Feli ke kantor kamu mas, lagian juga perginya kan pas jam istirahat mas jadi nggak ganggu waktu kerja kamu mas. Ayolah mas, emang kamu nggak kasihan lihat Feli udah mau nangis gitu? Lagian kan Feli juga nggak pernah ke tempat kerja kamu mas sebelumnya" ucap kinara ikut bicara membantu putrinya.
Arya menatap putrinya yang sedang menatap dirinya dengan raut wajah memohon sambil matanya berkaca-kaca. Arya yang juga sangat menyayangi putrinya jadi tidak tega melarang lagi. Toh benar pula ucapan Kinara kalau putrinya tidak pernah sekalipun pergi ke tempat kerjanya.
__ADS_1