
Mobil Arya sudah sampai di depan rumah mertuanya, Arya mengatur nafasnya dulu sebelum mengetuk pintu rumah mertuanya. Arya juga berfikir kemungkinan mertuanya sudah tau tentang pernikahan keduanya dengan Sherly. Jadi Arya Juda menyiapkan mental dulu karena dia yakin kalau papa Bagus pasti akan mengamuk saat melihatnya.
Setelah mengumpulkan keberaniannya, Arya memencet bel rumah mertuanya. Dan tak lama kemudian pintu pun di buka dari dalam. Nampak mama Laras yang membukakan pintu. Dia sempat menunjukkan raut terkejut tapi hanya sebentar, kalau setelahnya mana Laras menunjukkan raut wajah marah dan benci pada Arya. Arya menelan ludahnya susah payah.
Ini baru ibu mertuanya, apa kabar kalau dia bertemu dengan ayah mertuanya. Belum lagi PR nya untuk meyakinkan Kinara agar mau pulang bersamanya ke rumah.
"Mau apa kamu kemari? Apa belum cukup kamu menyakiti putri saya?" ucap mama Laras sinis.
Mana Laras tentu tak bisa melupakan bagaimana putrinya tadi menangis begitu memilukan saat dia bercerita tentang masalah rumah tangganya. Mama Laras juga tak akan pernah pernah mengijinkan pria ini dekat dekat lagi dengan Kinara setelah luka yang begitu dalam yang telah dua berikan pada Kinara.
"Assalamualaikum ma" Arya mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan mana Laras.
"Wassalamu'alaikum. Cepat bilang, mau apa kamu kemari atau saya tutup pintu ini" ucap mama Laras masih ketus. Sebenarnya mama Laras adalah seorang ibu yang lembut, dan baik tapi melihat putrinya yang di sakiti sedemikian rupa oleh suaminya sendiri membuat Laras tak bisa lagi bersikap baik dan ramah pada pria yang ada di hadapannya ini.
"Ma, Arya datang kesini karena Arya ingin bertemu dengan Kinara, apa Kinara ada di dalam ma?" tanya Arya hati hati.
"Mau apa lagi kamu ketemu sama anak saya. Apa belum cukup kamu sakiti anak saya, mau kamu sakiti Kinara huh?" ucap mana Laras ber api api.
"Bukan begitu ma, Arya hanya ingin men-"
"Siapa yang datang ma?" tanya papa Bagus dari dalam membuat ucapan Arya terpotong.
"Papa lihat aja sendiri" jawab Mama Laras ketus.
Kalau Bagus yang penasaran siapa tamu yang datang pun langsung keluar dan melihat tamunya. Dan sama seperti mana Laras, ekspresi wajah papa Bagus pun sempat kaget sebentar lalu berubah marah saat dia menyadari kalau tamunya menang pria yang tadi siang membuat putrinya menangis. Wajah Papa Bagus bahkan jauh lebih menyeramkan dari pada wajah mama Laras saat marah.
"Kamu!" ucap papa Bagus sambil memunjuk ke wajah Arya, setelah itu.
Bugh bugh bugh.... papa Arya memukul wajah Arya beberapa kali sampai dua tersungkur di tanah.
"Astaghfirullah papa, sudah papa!" jerit mama Laras kaget melihat suaminya yang biasanya paling tenang tiba tiba memukul menantu br*bgsek nya.
__ADS_1
"Pa sudah pa, jangan di pukuli lagi pa. Sudah Pa" ucap mama Laras lagi sambil mencoba menarik tubuh suaminya yang masih terus menyerang Arya.
"Jangan halangi papa ma, biar dia tau rasa. Berani beraninya dia menyakiti putri satu satunya papa. Papa nggak terima dia menyakiti putri papa" ucap papa Bagus sambil masih menyerang Arya yang sudah pasrah tersungkur di tanah.
"Pa sudah pa, nanti dia m*ti kalau papa pukuli terus begitu pa" ucap mana Laras masih mencoba menarik tubuh suaminya agar melepaskan Arya. Dia juga merasa marah dan kecewa pada Arya, tapi mana Laras juga nggak mau suaminya memukuli Arya bahkan sampai babak belur seperti ini.
Karena merasa ada suara ribut ribut dari arah luar, Kinara lalu keluar dari kamarnya dan melihat ada apa kenapa sangat ribut sekali, bahkan suaranya sampai terdengar di dalam kamarnya.
Dan betapa terkejutnya Kinara saat dia sampai di luar, ternyata papanya sedang memukuli Arya, suaminya.
"Astaghfirullah papa! Udah pa, udah jangan di pukuli mas Arya, kasihan dia pa, udah nonton gitu mukanya" ucap Kinara sambil ikut mamanya menarik tubuh papa Bagus.
"Biarin Kinar, buat dia tau rasa. Biar dia sadar kalau dia sudah melakukan kesalahan Basar dengan menghianati kamu Kinar" ucap papa Bagus. "Lepaskan papa, biar papa kasih pelajaran laki laki br*ngsek ini. Biar papa pentokin juga tuh kepala dia biar otaknya war*s" ucap papa Bagus masih meronta-ronta ingin memukul Arya lagi.
"Udah pa, udah ya. Papa jangan marah marah lagi ya pa. Kasihan mas Arya pa. Dia udah bonyok banget itu pa" pinta Kinara.
"Huh yaudah papa nggak akan hajar dia lagi" ucap papa Bagus langsung membuat Kinara dan mana Laras lega. "Sekarang lebih baik kamu pulang dari pada saya kasih kamu pelajaran lagi! pergi cepat!" usir papa Bagus.
"Nggak ada bicara sama anak saya, sekarang kamu pergi dari rumah saya sekarang juga! Saya menyesal telah memberikan putri saya pada pria br*ngsek seperti kamu! Jangan kamu temui anak saya lagi. Dan juga, kamu tunggu surat dari pengadilan agama sampai di rumah kamu" ucap papa Bagus marah.
"Pa, Arya mohon pa, ijinkan Arya untuk bicara sebentar dengan Kinara. Kinar aku mohon, dengarkan dulu penjelasan dari mas, mas mohon sayang" ucap Arya memohon pada Kinara dan mertuanya.
"Tidak bi-"
"Baiklah" ucap Kinara memotong ucapan papanya.
"Tapi nak, papa nggak setuju kamu bicara sama dia" ucap pada Bagus menunjuk Arya yang sudah dalam posisi duduk tidak terbaring lagi.
"Pa, Kinar harus bicara dengan mas Arya pa. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan pa. Kinara ingin perpisahan yang baik pa, meski alasannya tidak baik. Tapi ada Feli di antara kita pa. Nggak mungkin kita bermusuhan saat ada Feli yang berdiri di antara kamu pa" ucap Kinara ingin memberi pengertian pada papanya agar Paoanya mengijinkan dua bicara sebentar dengan Arya. Meski Kinara merasa sangat terluka karena ulah suaminya, tapi Kinara tetap merasa ada banyak hal yang harus di bicarakan dengan suaminya itu.
Kinara ingin perpisahan yang damai karena Kinara sadar sebenci apapun Kinara pada Arya, dia akan tetap menjadi papi putrinya.
__ADS_1
"Nggak kalah nggak ijinin" ucap papa Bagus tetap bersikeras
"Pa, biar mereka bicara dulu sebentar, mereka punya banyak hal untuk di bicarakan" bujuk mana Laras.
Meski dia sangat benci dengan menantunya, atau bisa di buka calon mantan menantunya. Tapi benar kata Kinara, ada banyak hal yang harus mereka bicarakan. Termasuk tentang putih mereka Feli.
"Tanya sudah, tapi ingat ya. Saya masih akan mengawasi kalian berdua" ucap papa Bagus lalu segera masuk karena sudah muak dengan menantunya.
"Kinar, lebih baik kamu ajak dia masuk dulu. Bicara didalam dan setelah selesai bicara langsung pulang kamu. Jangan lama lama" ucap mana Laras menunjuk Arya.
"Ayo mas, aku bantu kamu kedalam" ucap Kinara lalu membantu Arya kedalam rumah.
Kinara menang sangat terluka karena kelakuan suaminya, tapi Kinara juga tak mau kalau Arya di pukuli di rumah Papanya, apalagi kalau Feli melihat Papinya dengan tampilan seperti ini. Bisa bisa dua akan langsung menangis histeris.
"Kamu duduk dulu di sini, aku mau ambil obat" ucap Kinara meminta Arya duduk di ruang tamu laluu mengambil kotak P3K yang ada di ruang tengah. Tapi tiba tiba Kinara merasa ada yang menegang tangannya.
"Kamu duduk aja, ada yang ingin aku jelaskan padamu" ucap Arya dengan tatapan memohon.
"Nanti aja. Aku mau obati luka kamu dulu" ucap Kinara langsung pergi.
Tak lama setelahnya, Kinara datang membawa kotak P3K di tangannya. Lalu Kinara mengobati luka yang ada di tubuh dan wajah Arya.
"Terimakasih Kinar, aku tau kamu masih sayang dan cinta sama aku. Buktinya kamu masih perduli dengan aku" ucap Arya tersenyum.
"Kamu jangan kegeeran dulu mas, aku ngelakuin itu karena aku nggak ingin Feli sampai ngelihat Papinya di pukuli sana opanya. Bukan karena aku masih perduli sama kamu" jawab kinara.
"Lebih baik kamu segera ngomong apa yang ingin kamu omongin aja. Ini sudah malam jadi sebaiknya kamu cepat bicara" ucap Kinara dingin.
"Kenapa kamu jadi sejauh ini Kinara sayang, kenapa kamu bicara dengan nada sedingin itu dengan suami kamu sendiri Kinar?"
"Kamu masih tanya kenapa mas? kamu itu nggak tau atau pura pura nggak tau sih? Aku rasa kamu juga udah tau alasan kenapa aku ada disini. Jadi nggak perlu ada kata sayang lagi"
__ADS_1
Ucapan Kinara benar benar membuat Arya merasa Kinara sudah sangat jauh dari jangkauannya. Kinara yang saat ini benar berbeda dengan Kinara yang selama ini dia kenal penurut dan lembut.