
"Abian,,,,,,,,,, jika kamu mereda kasihan dan b simpati dengan masalah ku, maka lebih baik kamu pergi saja. Aku tidak perlu di kasihani Abian" ucap Kinara berkaca-kaca. Dia tidak ingin orang lain bersimpati dengan masalahnya dan mengasihaninya. Memang Kinara sedang merasa hancur dan terpuruk saat ini, tapi dia tidak ingin ada orang luar yang mengkasihaninya.
"Bukan Kinar, aku bukan sedang merasa kasihan atau sekedar bersimpati pada kamu Kinar, aku hanya ingin menjadi temanmu di saat apapun itu. Aku ingin menjadi penguatmu, aku ingin menjadi sandaran mu saat kamu sedang rapuh Kinar" ucap Abian menggenggam lembut kedua tangan Kinara.
"Tapi Abian,,,,,,,,,,,,"
"Suutttt,,,,,,,,,,,, tidak ada tapi tapian, ini sudah keputusan ku. Aku akan bersamamu dan memberi dukungan untukmu. Tolong kibar, tolong jangan menutup hati kamu. Cobalah berbagi dan keluarkan semua duka di hatimu, itu akan membuatmu sedikit merasa lega. Dan aku disini sangat dan ingin menjadi tempatmu berbaga" ucap Abian lembut.
Luruh sudah air mata Kinara yang sedari tadi dia coba tahan. Abian benar, bagaimanapun dia hanyalah seorang wanita yang rapuh. Sekuat apapun dia mencoba, tapi nyatanya Kinara pun merasa butuh seseorang sebagai sandaran dan penopang.
Abian yang melihat Kinara menangis tanpa banyak kata langsung menenggelamkan Kinara dalam pelukannya, tanpa bicara dia mengelus rambut Kinara dan mengelus punggung yang bergetar itu. Dia membiarkan Kinara menangis dan mengeluarkan kesedihannya. Bagi Abian Lebih baik mengeluarkan kesedihan dari pada di pendam dan malah membusuk di dalam hati.
Setelah tangis Kinara mereda, Abian membawa Kinara memasuki mobil dan segera melajukan mobilnya. Karena Kinara diam saja dan tidak mengatakan akan pergi kemana, maka dari itu Abian berinisiatif membawa Kinara pergi ke tempat yang menurut Abian bisa menghilangkan sedih. Tempat yang penuh dengan kegembiraan.
***********
"Kenapa kita kesini Abian?" tanya Kinara kebingungan karena Abian malah membawanya ke taman bermain.
"Tentu saja untuk menaikkan beberapa wahana permainan, memang untuk apa lagi?" ucap Abian menarik tangan Kinara mendekati wahana rollercoaster.
__ADS_1
"Tapi Abian, aku sedang tidak ingin melakukan apapun, lagi pula aku sudah terlalu tua untuk menaikkan wahana permainan" ucap Kinara frustasi. Dia merasa aneh bila harus menaiki wahana permainan disaat usianya sudah dewasa bahkan bisa di bilang kalau dia ibu ibu.
"Kata siapa kamu sudah tua, dengar ya Kinara kita itu bukan tua tapi dewasa, ingat dewasa! tidak ada larangan bagi orang dewasa untuk menaiki wahana permainan seperti ini. Dan juga wajah kita itu Beby face tau. Mereka yang melihat kita pasti berfikir kita pasangan remaja yang sedang berkencan" jawaban Abian yang terlihat nyeleneh itu membuat Kinara tertawa. Dan Abian langsung tersenyum lebar melihat pujaan hatinya tertawa setelah tangisnya tadi.
"Abian, Abian. Mereka belum rabun sampai ada orang yang akan mengira kalau kita remaja. ha ha ha ha" ucap Kinara sambil tertawa.
"Apapun itu yang penting ayo kita naik"
"Abian,,,,,,,,," Kinara tetap diam ditempat dan tak ingin pergi.
Abian menghela nafasnya saat melihat Kinara yang masih enggan bergerak. Ternyata perempuan ini cukup sulit juga. Ucap Abian dalam hati.
Dan akhirnya Kinara pun menyetujui ide Abian untuk menaiki b berapa wahana ekstrim di taman hiburan itu.
Kinara melakukan apa yang dikatakan oleh Abian tadi. Dia menjerit bahkan memaki suaminya dengan suara yang kencang. Dan saat selesai menaiki wahana itu Kinara merasakan nafasnya yang memburu dan tengah engah, tapi dalam dadanya terasa lebih plong dan lega. Benar kata Abian tadi, setidaknya dia bisa sejenak meluapkan emosinya dengan cara seperti ini.
Kini malah giliran Kinara yang ketagihan ingin mencoba menaiki wahana yang lain lagi dan lagi. Memang setelah Kinara kuliah dua tidak pernah menaiki wahana seperti ini lagi. Walaupun kadang dua dan suaminya juga pergi ke taman bermain seperti ini, tapi mereka ketempat itu hanya untuk menyenangkan Feli dan sama sekali dia tidak pernah menaiki wahana yang seperti ini.
Meski Abian sendiri sudah merasa pusing dan lelah, tapi demi melihat pujaannya tersenyum, Abian rela melakukannya.
__ADS_1
'Mabok mabok dah, pulang dari sini kliengan kepalaku' gumam Abian saat melihat Kinara yang terus-menerus mengajaknya menaiki wahana ekstrim.
*********
Dilain tempat, tepatnya di kediaman orang tua Kinara. Tampak ada pak Bagus dan Bu Laras sedang duduk di ruang tengah sambil membicarakan hal yang cukup serius. Terbukti dari kerutan di wajah kedua orang tua itu yang semakin banyak dan berat helaan nafas mereka.
"Kalau menurut Mama, Kinara pasti sedang ada masalah Pa dengan Arya" ucap kemana Laras sambil mendesah berat.
"Ya, papa juga merasa ada yang tidak beres dengan mereka berdua ma" jawab papa Bagus menimpali.
"Sebenarnya mama sudah merasa nggak enak sejak beberapa bulan lalu saat Kinara yang lupa menjemput Feli, tapi saat mama bertanya Kinara malah mengatakan kalau dia tidak apa apa. Dan kemarin saat Arya tidak datang di acara Kinara sedangkan keluarga yang lain bisa datang mana jadi semakin merasa ada yang aneh dengan mereka. Meskipun sesibuk apapun itu, tapi setidaknya dua bisa kan menyisakan sedikit waktunya untuk hanya sekedar menyusul saat pekerjaannya selesai. Apalagi kemarin kan hari Minggu, masak hari Minggu dia masih sibuk seharian bahkan sampai sore masih nggak kelihatan batang hidungnya" keluh mana Laras. Kemarin dia memang mengatakan tidak apa apa tapi itu hanya agar putrinya dan besannya tidak merasa sungkan atau tidak enak.
"Kira doakan saja Ma, agar rumah tangga mereka baik baik saja dan selalu di lindungi dari segala badai dan cobaan yang berat" ucap papa Bagus.
"Kalau itu sih pasti pa, sldu setia dia mama pasti ada harapan semoga rumah tangga putri mama selalu di lindungi Allah. Tapi Mama juga takut pa, Nama takut kalau ini bukanlah masalah kecil pa. Pasti ada masalah besar sampai Kinara meminta Feli untuk menginap di sini semalam. Perasaan mama selalu gundah dan nggak tenang pa, Mama selalu kepikiran dengan anak kita" ucap mama Laras sedih.
"Ma, sebagai orang tua, kita tidak boleh terlalu mencampuri urusan rumah tangga anak anak kita, Kalau mereka butuh bimbingan, saran dan bantuan kita diwajibkan untuk membantu. Tapi selagi mereka masih belum menceritakan permasalahan mereka pada kita, mungkin mereka masih sanggup dan mampu mengatasi masalah mereka sendiri" ucap papa Bagus bijak.
Dua juga mengkhawatirkan rumah tangga putrinya yang sepertinya sedang tak baik baik saja, tapi dia juga yakin kalau putrinya sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan yang terbaik dan mencari solusi terbaik dari permasalahannya.
__ADS_1