Kehidupan Baru Sebagai Putra Bungsu Kerajaan

Kehidupan Baru Sebagai Putra Bungsu Kerajaan
pembalasan


__ADS_3

Sore harinya Aldric melihat market yang ada di sistem dan melihat fariasi yang ada di dalam market itu, dan ternyata barang di dunia modern juga ada ia membeli sebuah drone senyap dengan kamera bawaan.


lalu ia menerbangkanya lewat balkon rumahnya, ia pernah memainkan drone sebelumnya jadi ini tidak akan jadi masalah, yang pertama adalah keluarga iron eagel, Alsric sambil melihat sebuah peta berhasil menemukan mansion keluarga iron eagel dan mulai menyelusuri bagian luarnya.


Mansion itu kosong dan sepi, rasanya Aldric bisa masuk dengan aman lewat jendela yang terbuka namun ia tidak ingin mengambil resiko, namun mansion itu memiliki aura tidak nyaman begitu dingin, drone Aldric memutarinya berusaha melihat mansion itu dari permukaanya.


bagian taman acak acakan anehnya indah tumbuhan di sana jelas di rawat melihat bagaimana mereka tumbuh subur, Aldric menemukan seseorang berjalan di lorong, kurang jelas jika di lihat dari sudut pandang drone yang sedikit menjauh dari jendela namun tidak ada yang mencurigakan.


Aldric memutuskan untuk pergi dari mansion iron Eagel dan menyelidiki mereka nanti saja selanjutnya adalah Viscount, ketika sampai Aldric sedikit kaget mansion milik Viscount lebih besar padahal ia tinggal sendirian, dan juga betapa ramainya mansion mansion Viscount.


Aldric menjaga jarak lebih jauh di banding yang sebelumnya, Aldric juga menyadari jumlah penjaga tidak resminya ada banyak, bersama banyaknya pasukan bayaran di lihat dari penampilan mereka yang kurangnya baju besi dan peralatan yang memadai.


Aldric menemukan Viscount di lantai paling atas dia sedang duduk di meja kerjanya, meneguk banyak alkohol, ia berumur 44 namun ia masih terlihat seperti 25 tahun, postur tubuhnya juga bagus, namun hal yang menarik perhatian Aldric adalah sebuah kristal di mejanya, itu adalah kristal abyss.


Wajah Aldric langsung muram, ada sedikit emosi di dalam hatinya kebencian melihat wajah Viscount yang terlihat tidak memiliki beban atas apa yang ia lakukan, ia pasti pelaku di balik penyerangan kemarin, Aldric tidak ingin tahu apa alasanya atau mengapa, ia akan membalaskan kematian Roderick "malam ini.... akan ku coba"


Malam harinya Aldric meminta Edin untuk mengajaknya berkeliling di area bangsawan, awalnya Edin menolak namun ia di paksa oleh Aldric.


Saat di dekat kediaman Viscount Aldric memanggil ksatria yang terpanggil dalam posisi duduk di hadapanya di dalam kereta kuda, Aldric lalu mengelengkan kepalanya ke arah mansion Viscount, sang ksatria mengangguk dan berubah menjadi asap hitam yang keluar lewat selip pintu kereta kuda Aldric, dan menempel kepada jalanan menunggu seluruh pasukan Aldric pergi.


Edin merasakan hal yang janggal di belakangnya tapi ia mengabaikanya dan memilih untuk mempercepat laju pasukan dan kereta kuda Aldric.


Ketika mereka pergi sang ksatria terbang dalam wujud asap hitamnya menuju pintu masuk mansion Viscount, di mana ia kembali ke wujud asalnya, bersama dengan fanatic sword yang di istirahatkan di bahunya ia mulai berjalan masuk.


Para penjaga yang berjumlah 5 orang tentu menyadari kehadiran ksatria dengan armor yang sudah usam dan rerkikis itu, salah satu dari mereka berteriak "siapa kau !" di mana ksatria itu tidak menjawab dan tetap berjalan mendekat.


"dasar bodoh !, itu jelas jelas high undead, cepat serang makluk itu !" salah satu dari mereka bersenjatakan pedang dan perisai mendekati sang ksatria itu, perisainya di hadapkan ke arah sang ksatria berharap itu dapat melindunginya dan ia pun mengayunkan pedangnya.


Saat pedanya di ayun di tangah udara pedanya tiba tiba saja berkarat dengan cepat di saat pedangnya menyentuh sang ksatria itu langsung patah karena kerusakan karat yang begitu dalam.


Sang penjaga yang belum bisa memproses apa yang terjadi terkena serangan balasan itu begitu cepat, sang ksatria mengayunkan pedangnya dari kanan atas ke kiri bawah membelahnya menjadi dua, perisai yang ia harapkan akan melindunginya tebelah dua dengan rapih pria malang itu bahkan tidak memiliki kesempatan untuk berteriak.


Melihat ini sisa penjaga langsung tahu mereka akan kalah jika menyerang sendiri sendiri, dan jumlah mereka kurang "mundur !, makluk itu terlalu kuat, kita harus menyusun pertahanan kembali di dalam !" merekapun berlari masuk tergesah gesah, sang ksatria hanya berjalan masuk, tidak mengejar mereka.


Sang ksatria mengingat kata kata dari tuanya bunuh yang menghalangi biarkan yang lari, ia memegang printah itu di hatinya yang telah membusuk dan kehormatannya yang terdistorsi.


Saat ia membuat jalanya ke dalam mansion, banyak pelayan yang melihatnya lalu berlari menjauh, ada yang bersembunyi dan ada yang diam tidak bergerak karena takut, tapi sang ksatria mengabaikan mereka semua.


Saat ia berbelok di sebuah lorong ia langsung di sambut oleh peluru sihir dari 20 penjaga, mereka menembakan peluru sihir mereka secara beruntun, berelemen api, arcane, cahaya dan bahkan kegelapan, namun kelihatanya sang ksatria tidak tergerakan olehnya.

__ADS_1


Mereka juga membuat barikade perisai di lorong itu tidak ada celah, mereka mungkin bukan penjaga/pasukan resmi tapi mereka tidak begitu bodoh atau tidak berpengalaman.


Melihat musuh yang begitu menumpung sang ksatria mengayunkan pedangnya dari sisi kanan ke kiri sambil berteriak dengan suara serak, berat mengerikanya "death.... Slash...!"


Sebuah gelombang hitam menyapu bersih parabotan yang ada di hadapanya dan gelombang ktu dengan cepat mendekat ke arah barikade, salah satu penyihir yang menyadari ini langsung merampal "protection barrier !" sebuah perisai barrier muncul di hadapan barriel itu namun itu percuma ketika gelombang hitam itu menyentuh barrier, barrier itu langsung pecah gelombang hitam itu kemudian menyapu bersih seluruh barikade bersama pasukan reserve yang ada di bagian belakang barikade.


Beberapa selamat antara karena mereka menunduk atau beruntung karena sang gelombang hitam hilang sebelum itu dapat menyentuh mereka, namun sebagian besar barikade telah mati, dan mereka lari meninggalkan senjata mereka, nyawa lebih penting bagi mereka "sangat.... Di.... Sayangkan..... Aku... Kira.... Aku..... Akan.... Menemukan.... Seseorang.... Yang.... Ter... Hormat... Di.... Sini..." katanya sambil berjalan melweati tumpukan mayat, darah dan organ yang berceceran di lantai dan dinding, beberapa dari mereka masih bernafas yang tersisa dari mereka hanyalah setengah dari tubuh mereka namun ajal menjempit mereka tidak lama setelah itu.


Sang ksatria melanjutkan perjalananya, ia di hadang oleh banyak pasukan bayaran namun banyak dari pasukan bayaran memutuskan untuk lari, mereka tidak di bayat untuk ini dari awal, sang ksatria kemudian sampai di sebuah lorong utama, banyak pasukan yang terlihat kuat mereka pasti prajurit bayaran yang berpengalaman.


Sang ksatria menodongkan pedangnya ke arah mereka "ayo..... Maju.... Tunjukan.... aku... Semangat.... Hidup.... Kalian" mereka pun maju sambil berteriak bersamaan, lebih dari 40 orang berlari untuk menyerang sang ksatria.


"YAH !.... INILAH.... YANG... AKU.... MAU....!" teriak ksatria itu dengan nada semangat yang aneh, ia juga berlari dan sang ksatria itu mengayunkan pedangnya seperti tidak ada esok, memotong jalanya menembus serangan pasukan bayaran itu, banyak mantra di keluarkan untuk melawanya.


Mantra yang mengenainya antara tidak berefek stau tidak melakukan kerusakan yang cukup kepada sang ksatria kematian itu, pertarungan di lorong itu berlangsung singat semuanya mati karena sang ksatria tidak pernah hidup dari awal.


Ia berjalan di penuhi darah dan organ dalam yang tersangkut di armornya walau begitu ia tidak keberatan dengan hal itu "tadi... Itu... Menyenangkan...", saat ia sudah samapai ke puncak musuhnya berubah bukan lagi manusia tapi abyss, namun itu tidak masalah bagi sang ksatria kematian, ia bergerak lebih cepat di banding sebelumnya, dan para abyss menyerangnya secara tak berakal yah mereka memang low abyss dari awal di mana tidak begitu pintar.


Sang ksatira menghela nafas seakan ia tidak menikmati pertarungan bersama abyss tidak seperti melawan manusia yang berani sebelumnya itu.


Ia pun sampai di pintu kantor Viscount, ia mendobraknya dan Viscount berdiri di tengah kantornya memegang kristal abyss "siapa kau !, beraninya menyerang kediaman ku" teriak Viscount sambil menunjuk ke arah sang ksatria.


"nama.... Tidak penting.... Kematian... Mu... Adalah pasti..." Viscount tersenyum dengan sombong "hah !, sebuah undead mengancam ku ?, kau hanya tumpukan daging dan tulang yang membusuk"


tiba tiba half abyss yang berbentuk manusia turun dari atas hendak menusuknya, bersamaan dengan dua half abyss lain dari kanan dan kirinya.


Sang ksatria langsung menangkap half abyss di atasnya dan melemparnya ke arah half abyss yang ada di kananya, sementara half abyss yang di kirinya di tebas dengan kecepatan tinggi.


Kedua half abyss yang bertabrakan hancur tubuhnya, dan yang tertebas berubah menjadi half half abyss.


Viscount sedikit terkejut "kau... Kuat juga" ia terseyum " bagaimana jika begini, aku akan memberikan mu apapun yang kau tapi asal kau menurut padaku" pernyataan Viscount membuat sang ksatria itu tertawa.


"hahahaha.... Bernego..... dengan.... mayat... Itu... Lucu" Viscount terlihat kesal "baiklah jika itu yang kau mau lihatlah kekuatan yang sebenarnya !" Viscount memecahkan kristal abyss di tanganya dan tubuh Viscount mulai membesar dan membengkak, jarinya mulai memanjang, mengeras dan menjadi cakar.


"tamatlah riwayat m-" sebelum ia selesai berbicara atau bertransformasi, sang ksatria macu dengan kecepatan tinggi menusuk jantung Viscount, darah langsung bercucuran dari mulut dan dadanya, tidak sampai di situ sang ksatria lalu menendangnya ke arah jendela membuatnya terjatuh di area taman kediamanya.


Viscount yanh sedang di tahap tranformasinya terlihat sangat marah "bajinga.... Aku belum selesai berubah" sang ksatria tidak membiarkanya mendapat kesempatan, ia lompat dan hendak menusuk kepalanya , namun di saat ia meluncur ke arah Viscount sebuah tangan besar menghempaskanya kesebuah pohon yang di mana ia merubuhkan pohon itu.


tubuh Viscount telah terdistorsi menjadi monster, kepalanya menjadi semacam reptil, tanganya memanjang, lenganya melebar, tubuh dan ototnya juga membesar.

__ADS_1


"matilah kau !" ia meluncur ke arah sang ksartia namun ia di pukul dengan pukulan keras, ia terhempas, sang ksatria kemudian menarik pedangnya yang tertancap di tanah.


"tidak.... Matilah....kau" tiba tiba empat rantai melilit Viscount ia tidak dapat bergerak, dan ranrai itu memanggang dagingnya, ia berteriak kesakitan.


"cursed.... Javeline!" sebuah portal tercipta di atas ksatria itu dan ujung tanjam javelin mengintip sebelum meluncur ke arah jantung Viscount dengan kecepatan tinggi, menembus dirinya sebuah pohon, dan dinding mansionnya.


rantai itu terlepas darinya namun Viscount masih hidup namun sangat lemah, ia berusaha untuk lari tapi wanita abyss itu sedah ada di hadapanya.


"nyonya... Lilithra.... Tolong aku makluk itu....hah...hah... bunuh makluk itu" Lilithra melihat ke arah Viscount dengan jijik "aku tidak datang ke sini untuk menyelamatkan mu... Malahan sebaliknya"


Viscount kaget mendengar itu "tunggu !.... Mengapa ?!.... Aku melakukan semua yang kamu mau !" Lilithra lalu menodongkan sabit besarnya ke arah Viscount "ya.. Dan kau mengacaukan semuanya dasar %@^& !, dan~ aku mendengar semuanya... Dan aku maksud semuanya"


Viscount langsung sadar setiap ia menghina dan mencacinya ia mendengar semua itu, wajah Viscount menjadi wajah ketakutan wajah putus asa "aku mohon !, maafkan aku... Aku akan melakukan apap-" sabit Lilithra menembus lehernya, ia pun menarik jiwanya keluar di mana jiwanya masuk ke sebuah bola hitam, suara teriakan jiwa Viscount yang begitu nyaring dan mengerikan dapat terdengar dan pudar sampai itu hilang.


Lilithra kemudian melihat ke arah sang ksatria, ia terlihat terkesan dengan ksatria itu "siapa yang membangkitkan mu, wahai undead" sang ksatria mengalihkan pandanganya dari mayat Viscount.


"itu.... Itu.... Tidak.... Tidak... boleh" Lilithra mengangguk paham tidak mungkin ia dapat mendapatkan informasi dari mayat yang di kendalikan oleh seseorang.


"apa kau akan maju melawan ku ?" sekali lagi sang ksatria mengelengkan sepalanya "jika... Kau... Menyerang... Duluan... Aku... Akan... Serang"


Lilithra menurunkan sabitnya "baguslah... Aku tidak ingin menyerang sebuah... Mahakarya sepertimu" katanya dengan penuh kelaguman "sekarang apa yang akan kamu lakukan ksatria ?"


"aku... Akan... Mengambil... Kepalanya..." Lilithra pun mudur dari mayat Viscount "silakan, aku harap aku bisa bertemu dengan pembangkitmu di masa yang akan datang, titip salam ku kepada... siapapun tuan mu itu" Lilithra berjalan dan sebuah portal tercipta di jalanya menelanya masuk kedalam portal itu.


Sang ksatria pun datang mendekati mayat Viscount, namun secara tiba tiba sebuah projektil dengan kecepatan tinggi mengarah kepalanya meluncur dari bangunan di sebelah mansion Viscount, sang ksatria berhasil menangkisnya, namun itu mendorongnya cukup jauh dari posisi aslinya.


tiba tiba sebuah bayangan dengan kecepatan tinggi meluncur dari belakanya, seorang dengan jubah hitum menusuk lehernya dengan belati itu menembus armor dan kulit sang ksatria.


Ksatria itu tidak berteriak namun langsung memegang tangan sang assasin dan melemparnya ke arah depanya, sang assasin yang terlempar mengkalkulasikan posisi jatuhnya dan mendarat dengan kakinya.


Seorang ksatria kemudian muncul dari semak semak, armornya bersinar dengan banyak ukiran, pedangnya panjang terlihat sangat tajam, ia telihat seperti paladin, ia mendekat ke samping assasin itu sambil dalam posisi bertarung.


"kau baik baik saja ?" sang assasin itu menarik belati cadanganya dan siap bertarung "aku baik baik saja" dari suaranya keduanya adalah perempuan, projektil ke dua melesat namun kali ini sang ksatria memilih untuk menghindar.


Ksatria itu diam tidak meyerang setelah itu paladin itu langsung bingung "siapa kau... Dan mengapa kau di sini ?" sang ksatria menancapkan pedangnya di tanah.


"aku... Bukan... musuh... Mu... Atau... Sebaliknya..." penyataan itu cukup terdengar seperti kenjatan senjata "mengapa kau menyerang kediaman Viscount ?" tanya sang assasin.


"dia... Membunuh... Teman... Tuanku... Tidak.. Bisa... di... maafkan..." sang paladin terlihat tidak percaya "kau pikir kami akan percaya padamu ?"

__ADS_1


Sang ksatria kemudian mengangguk "itu... tidak... Masalah... aku... Ingin... Bertarung... Denganmu... Namun... Kamu... Adalah... Pelindung... Selanjutnya... Dengan.... Pedang.... Itu..." sang ksatria lalu mencabut pedangnya dan menusuk dirinya sendiri "maafkan... Aku... tuan... Aku... Tidak... Bisa... Membawa... Tanda...kehormata... Ku.... Kepadamu" tubuh sang ksatria kemudian runtuh dengan sendirinya layaknya sebuah kapal selam tertekan tekanan air sebelum hilang tanpa jejak.


Di sisi lain Di kamar Aldric yang menyaksikan semuanya lewat drone, dan melibat lentera itu menyala lalu padam menandakan kematian ksatria sebuah timer berputar di sekeliling lentera itu menandakan hitung mundur sebelum sang ksatria dapat di panggil lagi.


__ADS_2