Kehidupan Baru Sebagai Putra Bungsu Kerajaan

Kehidupan Baru Sebagai Putra Bungsu Kerajaan
badai salju


__ADS_3

Keadaan medan temour terlihat sangat bagus untuk pihak penyerang kemenangan sudah dapat terlihat dan itu di depan mata, setelah gargoile terakhir tumbang keadaan pertempuran mulai membaik, pertarungan di atas benteng terjadi secara intense pasukan Aldric berusaha mendorong pasukan musuh menuju gerbang namun di tahan dengan dinding perisai.


Abyss ini berbeda dengan yang dulu mereka lebih pintar dan terlatih... Apakah mereka berevolusi ? Atau pemimpin mereka yang mempengaruhi semuanya. Tidak masalah tetapi catapult mulai kehabisan amunisi.


Domma melihat semua bagian dari pertempuran itu sampai ia menyadari sesuatu "Aldric di mana kapten kalvari mu ?" Aldric melihat ke arah Domma "jangan khawatir dia akan muncul di saat darurat" Domma mengangguk dan kembali memperhatikan pertempuran dari jauh.


Di saat saat seperti ini hujan salju mulai turun... Sepertinya alam tidak ada di pihak Aldric dan pasukanya "ini buruk jika mereka tidak membuka gerbang sebelum keadaan cuaca memburuk kita harus mundur" Domma melihat ke arah Aldric "kenapa kita harus mundur ?" Aldric kemudian melihat keadaan sekitarnya Domma melakukan hal yang sama dan jarak pandang mereka mulai menurun bersama dengan turunya salju.


Goedo kemudian melihat ke arah pangit dan awan besar berada di atas mereka "kemungkinan ini bukan hujan salju biasa... Ini badai", Domma terlihat kesal padahal kemenangan sudah ada di depan mata "aku rasa kita harus mundur" ucap Aldric sengan serius Domma diam sebentar sebelum menjawab "baiklah" suaranya menunjukan dia pasrah dengan keadaan.


Pasukan yang sudah sangat dekat dengan bagian gerbang benteng perlahan mundur secara terorganisir tangga di tarik dan pasukan mundur secara perlahan sambil mrngangkat perisai mereka, para pemanah menembaki mereka tanpa henti beberapa terluka bahkan tewas, mereka pun kembali ke camp dan untung mereka melakukan itu badai itu benar benar buruk.


Semua pasukan beristirahat di tenda mereka masing masing yang terluka di rawat di tenda cleric, Aldric Goedo dan Domma berdiri memutari sebuah meja yabg menggambarkan kastil dan medan di area kastil tersebut.


Domma terlihat frustasi dan marah "aaah ! Kenapa kita harus mundur padalah sesikit lagi kita menang", "aku tidak mau kita di sergap di tengah tengah hujan salju dan kamu dengar Goedo sendiri kan ? Itu akan berubah menjadi badai, dan lihatlah keluar apa yabg kamu bisa lihat dengan jarak pandang 10 meter ?"


Goedo menambahkan " Domma aku paham dengan kekawatiran mu tetapi tetap saja badai di negeri kami memang sangat berbahaya, bahkan kami yang telah hidup ribuan tahun di sini belum bisa beradaptasi dengan badai ini"


Dimma kemudian menghela nafas berusaha untuk tenang "baiklah... Kalian... K-kalian benar... Maaf aku hanya ingin semua inu berakhir dengan cepat", "besok pagi kita akan langsung menyerang mereka lagi" ucap Aldric sambil melihat meja sandi, Goedo dan Domma setuju saat ini mereka harus istirahat.


Du sisi lain muerte bersandar dibkursinya dan dia terlihat bosan "badai sialan.... .gara gara nya mereka mundur... Huff... Membosankan" Zara berdiri di sisinya "tuan seperti yang anda katakan kita siap mundur setelah 'pertunjukan' selesai"


"kita berangkat besok saja tontonanku di hentikan oleh badai... Jika kalian mau pulang duluan aku akan menetap di sini" Zarah menggelengkan kepalanya "tidak bisa begitu nyonya... Kami akan selalu ada di sisi anda"


"aku benci menunggu... Tetapi aku ingin lihat siege ini sampai akhir..." Zarah mengangguk "jika itu yang anda inginkan baiklah aku dan adik adiku akan bersiap di dekat anda"

__ADS_1


Di sisi lain pasukan Agnes dan gerakan perlawanan dwarf memikirkan cara agar bisa melakukan progres karena semua yang mereka lakukan hanyalah saling membalas anak panah dengan lawan karena mereka terlalu takut meresikokan nyawa dwarf yang di sandra.


Namun hasil dari rapat itu tidak membawa resolusi atau cara lain Agnes duduk di tendanya dengan angin dingin kencang serta level salju yang mulai naik, sambil memegangi sebuah kalung yang di berikan oleh Brianna kepadanya di kepalanya dia berpikir bagaimana Aldric dalam situasi saat ini mengingat dia mungkin adalah satu satunya orang yang belum memiliki pengalaman dalam melakukan siege.


Credric dan Seraphina juga sama mereka benar benar dalam moral dilema apa yang harus di lakukan bereka bertengkar karenanya setelah kembali mengetahui badai akan terjadi, di tenda mereka memikirkan cara apakah Assasin harus di kirim atau menunggu bantuan dari Celestial tetapi mereka juga tahu waktu mereka terbatas.


Seraohin ingin maju dan meresikokan semuanya, tetapi Credric ingin mengurangi bahkan mungkin menghilangkan korban jiwa yang dapat terjadi.


Keesokan paginya Aldric, Domma, dan Goedo langsung saja bergerak menuju kastil pertahanan musuh Aldric mendekat ke arah Kirill "level saljunya naik sampai lutut, apa kalian yakin dapat bertarung di bedan seperti ini ?" Kirill mengangguk dengan percaya diri "percayakan tugas ini pada silver lance" Aldric mengangguk tanda percaya.


Tidak heran level salju yang awalnya hanya mencapai kaki mata sekarang mencapaj lutut, pergerakan mereka benar benar menjadi sulit Goedo mulai khawatir apakah mereka terlalu terburu buru level salju ini akan sangat membatasi mereka.


 Apalagi untuk kalvari milik Aldric rusa es saja kesulitan berjalan di salju setebal ini apalagi kuda yang bukanlah hewan native dari negerinya, Domma juganterlihat terlalu percaya diri dia memiliki kebanggaannya sendiri sebagai salah satu Heirbearers terkuat.


Tetapi juga dia paham dengan kelemahanya dia terlalu lemah untuk membuat tidakan kritis dan dia selalu dalam moral dillema soal pasukanya sendiri, secara mengejutkan dirinya yang telah hidup 150 tahun dan Domma entah berapa, tetapu Aldric yang masih 18 tahun dapat menahan ego dan melakukan pemikiran kritis, Goedo menghormati Aldric sebagai pemimpin sejak kemarin.


"oh garis depan akan memiliki waktu yang buruk" ucap Aldric berusaha meringankan suasana, "para Witherer akan menggambil garis depan, jadi jangan takut", "dan membiarkan pasukanku meleh dengan gas mematikan pasukan Witherer mu ? Tidak terimakasih"


Domma berpikir sebentar "ada ide yang lebih baik ?" Aldric mengangguk "mereka tidak dapat mencapai kita tetapi pemanah ku bisa... Mari paksa mereka untuk menyerang selagi kita memasang pertahanan untuk menghadapi makluk itu"


Domma setuju dan Goedo juga setuju, anak panah mulai di tembakan ke udara dan menghujani pasukan abyss itu, mereka menaikan perisai mereka namun kekuatan tembak busur pasukan Aldric terlalu kuat dan menembus perisai merekeka, beberapa beruntung armor tebal mereka bisa menahan anak panah tetapi yang kurang beruntung langsung tumbang.


Sisanya memasang tombak pertahanan yang di tancap ke tanah ke arah lawan dan sekarang mereka harus menunggu, catapult juga melemparkan batu batu nya ke arah pasukan abyss mengetahui jumlah mereka turun secara cepat dan mereka tidak melakukan kerusakan apapun, mereka mulai berjalan mendekat.


Melihat ini pasukan Domma dan Goedo mulai menembaki mereka dengan panah mereka, dan para abyss tidak mau kalah mereka juga membalas dengan anak panah.

__ADS_1


Aldric kemudian menarik sebuah peluit hitam "apa itu ?" tanya Domma dengan bingung "lihat saja" Aldric meniuonya dengan keras suaranya nyaring, pasukan Aldric yabg mendengar ini langsung maju ke belakang tombak yang telah di pasang dan membuat formasi phalanx dengan waktu yang cepat, tidak ada tabrakan maupun kekacauan semuanya terorganisir seakan mereka sudah tahu tempat masing masing individu.


"menggunakan alat musik untuk memberi perintah ? Itu luar biasa" ucap Goedo dan juga pasukan lain yang kagum dengan koordinasi pasukan Aldric perisai yang saling bertumpuk satu sama lain dan formasi yang padat dan rapat membuat pertahanan efektif.


Pasukan abyss semakin dekat Domma langsung saja memerintahkan Witherer untuk maju dan meledakan diri terutama ke arah monster abyss yang berada di garis depan lawan.


Para Witherer meledakan dirinya membuat kerusakan kepada para monster itu tetapi armor yang di miliki makluk itu terlalu kuat, dan juga lawan mengirim ratusan gargoil lagi dan menjatuhakan batu di atas pasukan garis depan.


"kau pasti bercanda ! Mereka lagi ?!" ucap salah satu pasukan namun mereka di atasi dengan cepat dengan tindakan cepat dari para penyihir, yang mepampal matra perusak.


Pasukan lawan sudah sangat dekst sampai mereka menabrak tobak yang telah di tancapkan ke tanah, tombak itu patah setelah terdorong oleh monster monster itu, namun salah satu monster terhenti karena tombak tersebut menusuk dalam ke tubuhnya.


Tabrakan terjadi phalanx nya terdorong sampai berhenti, mungkin karena salju yang tinggi dsn juga makluk itu memiliki kaki yabg relatif pendek membuatnya tidak bisa berjalan dengan kecepatan penuh dan gagal menghancurkan formasi pertahanan.


Pasukan Aldric dengan cepat mendorong tombaknya ke arah lembut deperti celah armor dan mata makluk itu, di mana mereka langsung mundur kesakitan, di situlah pasukan abyss berusaha menyerang dengan pasukan infanteri masuk untuk menyerang tetapu gagal karena di dorong mundur dengan tombak panjang dari formasi phalanx tersebut.


Melihat ini Domma langsung membuat printah dengan telepatinya yabg terhubung dengan semua Heirbearers, sayal kanan dan kirinya melebar dan maju sebelum menjepit garis depan musuh, para Heirbearers dengan mudah mrnghabisi sayap kanan dan kirinya,formasi phalanx mulai maju secara perlahan memukul mundur pasukan musuh.


Aldric melihat garus belakang lawan tidak di jaga dan terdiri dari penyihir dan pemanah, dasaran empuk pikirnya, Aldric membunyikan peluitnya lagi kali ini 2 kali dengan jarak nada di antaranya.


leier yang berada di formasi phalanx sebagai pemimpin mendengar nya dia dengan cepat mundur dan mengikatkan sebuah kain merah ke tombaknya dan lalu mengibarkanya.


Pasukan Kirill yang melihat itu dari kejauhan dari sisi kanan pertempuran mengangguk dan kemudian memasang bendera biru di punggunya sebelum memacu kudanya bersama pasukanya menuju titik terlemah yaitu garis belakang lawan.


Mereka awalnya lebih lamban dari yang biasanya namun Kirill merampal sesuatu "Charge of flame !" seketika salju di sekitarnya meleleh dengan cepat kudanya mulai berlari dengan kecepatan normal dan es di depanya meleleh dengan cepat membuat jalan menuju pasukan lawan sebelum menabrak mereka dengan kecepatan penuh.

__ADS_1


Pasukan Pemanah abyss dan juga penyihir itu langsung di sapu habis, Kirill dengan cepat melakukan manufer dan menyerang formasi belakang lawan, infanteri abyss telah terkepung dan kemenangan sudah pasti di akhiri dengan pembersihan abyss yang tersisa.


__ADS_2