
Aldric pun di biarkan masuk ke rumah bangsawan entah keluarga apa itu Alice tidak memberi tahu Aldric, villanya besar tapi kalah dengan villa lainya yang ada di area sekitar.
Aldric pun di antar ke ruang tamu untuk menuggu kepala keluarga dari Alice... Ayahnya. Tidak lama seorang pria tua datang masuk dan duduk di sisi lain kursi.
"um... Tuan hunter killer perkenalkan... aku… Aku Loman Malice..", "perkenalkan... Anda pasti sudah dengar tentang saya dari anak anda" Loman mengangguk "katakan... Hunter killer apa provesimu ?.... Kelihatanya kamu bukan dari daerah sini..."
"saya seorang pengembara... Jika anda ingin jawaban singkatnya..." Loman terlihat serius "bagaimana dengan penjelasan lebih rincinya ?"
"saya seorang pembunuh bayaran" Loman mengangguk Loman tahu jelas Aldric berusaha melindungi identitasanya "dari mana asal mu ?"
"saya berasal.... Dari... entahalah saya lupa keaslian saya", "hah !, menjelajah terlalu seri ya ?" Aldric mengangguk mengakui, "Iya, saya melakukan perjalanan jauh dan berbagai tempat. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang asal usul saya, karena waktu dan perjalanan telah merampas banyak kenangan."
Loman nampaknya agak skeptis, tetapi kemudian dia berkata, "Tidak apa-apa, saya tak ingin memaksa Anda berbicara lebih banyak daripada yang Anda ingin bagikan. Saya dengar Anda telah menyelamatkan anak termuda di keluarga ku dari para pasukan bayaran yang di kirim Everon. Terima kasih atas tindakan Anda."
"oh... Anda sudah tahu ?..." Loman mengangguk dan menghela nafas "kamu lihat di negeri ini kekuatan adalah segalanya... Keluarga Everon ingin mendapatkan artefak sarkaz sebanyak banyaknya dengan harapan salah satu dari anak keluarga tersebut dapat menikahi puteri Bacchus"
"apa putri secara terang terangan mengatakan itu ?, siapapun yang dapat memberinya artefak sarkaz terbaik dapat menikahinya ?" Loman menggelengkan kepalanya "tidak... Tapi ada kesempatan di situ dan sekarang para bangsawan sedang bertempur satu sama lain demi... Demi artefak sarkaz berharao mendapat kekuatan dan kekuasaan yang di berikan langsung oleh raja"
"dan bagaimana dengan anda sendiri ? Anda memiliki artefak sarkaz... Kan ?" Loman mengangguk "itu harusnya di kirim secara rahasia... Kebetulan yang dapat mengambilnya hanyalah adik dari Alice... Tapi aku tidak menduga dia akan di serang di tengah jalan... Kami membutuhkan artefak itu... Setidaknya untuk naik satu tingkatan di hiarki negeri ini"
__ADS_1
Ah kepalaku mulai sakit karena konflik di negeri pikir Aldric... "apa Everon akan menyerang lagi ?" Loman mengangguk "itu sudah pasti... artefak sarkaz yang keluarga ku punya bukan artefak sarkaz biasa... Ini adalah artefak langsung yang di buat oleh dewa iblis... Jelas Everon menginginkanya"
Aldric terlihat biasa saja tidak terlalu terkejut tapi ia malah bingung siapa itu dewa iblis ?, mereka berbincang lebih jauh secara tiba tiba ada pelayan datang ia terlihat panik dan tergesa gesa "tuan Loman.... Haaah.... Haah.... Anak anak dari Everon datang dengan pasukan !"
Loman mengangguk kelihatanya ia sudah tahu ini akan terjadi "tuan hunter killer... Saya mohon... Lakukan sesuatu...selamatkan keluarga saya... Saya akan lakukan apapun..." airmata tumpah dari pria tua itu ia pun berlutut di hadapan Aldric "saya mohon", "berdirilah... Saya tidak suka seseorang berlutut di hadapan saya apalagi orang yang sudah tua... Saya akan tolong tenang saja... Untuk sekarang amankan anggota keluarga anda"
Loman mengangguk dan pergi sementara itu Aldric pergi ke pintu masuk villa... Ia berbisik kepada sang topeng "akhiri secepat mungkin... Aku tidak ingin ada bala bantuan dari pihak mereka"
Ada 400 pasukan menunggu di pintu masuk mereka adalah apasukan bayaran siap membidik di depan mereka terdapat 5 orang dari pakaiannya mereka adalah anak anak dari Everon, 2 di antara mereka penyihir, seorang fighter, seorang sorcerer dan satu lagi entah apa.
"Loman malice !..' cepat keluar kami ingin bicara dengan mu" kata seorang penyihir dari anak Everon... Namun semua pasukan membidik ke arah pintu masuk jelas mereka tidak ingin berbicara mereka ingin menghabisi keluarga malice.
"aku bilang tahan !", "tahanlah sendikit adiku... Kaka tahu apa yang dia lakukan.. Di antara kita semua dia yang paling berpengalaman dalam melakukan siege" yang termuda terlihat tidak terlalu senang tapi membiarkan.
pintu terbuka dengan cepat "tembak !" seluruh pasukan menembakan corssbow dan sibir mereka namun ketika itu masuk pintu mereka kembali secara acak melukai banyak prajurit bayaran dari mereka "apa yang-"
Mereka pun melihat sosok yang keluar dari pintu itu, itu adalah Aldric dia siap dengan pedangnya, syalnya menyala merah dengan percikan api "siapa kau ?!" Aldric menggunakan suara topeng "tidak penting... Aku beri kalian satu kesempatan untuk pergi dari sini... Jika kalian menolak... Aku harus membunuh kalian semua "berisik !" teriak yang termuda menembakan peluru sihir yang lebih kuat dari biasanya namun dengan mudah di tangkis dan di kembalikan kepada yang ter muda.
itu mengenai telapak tanganya ia kehilangan ke 3 jarinya di tangan kanan sebelum peluru itu meledak di bangunan di belakangnya yang termuda di antara mereka langsung berteriak kesakitan begitu menyadari ia kelihangan beberapa jari kaka kakanya kaget bukan main, mereka tahu betul peluru dari adiknya itu sangat kuat.
__ADS_1
"tidak sopan" Aldric dengan nada marah semelum menembaknya menggunakan tongkat sihirnya.. Ia langsung mati dengan sambaran petir merah, suara tangisan dan geraman rasa sakitnya hilang saat suara keras petir merah itu menyambarnya.
salah satu dari mereka seorang fighter tidak terima dan ia maju berlari ke arahnya dengan sebuah pedang hitam Aldric menembaknya tapi seluruh energi yabg di tembakan malah terhisap oleh pedang itu "hahaha ! Sihir tidak berkerja padaku !" Aldric langsung menarik pedang utamanya dan menebas udara, seketika angin kencang menelanya dan ketika semua sudah menenang sang fighter itu kehilangan lengan kanan beberapa jari di tangan kirinya dan kedua kakinya, dengan cepat Aldric mendekatinya dan menusuk lehernya mengakhirinya.
"ada yang mau maju lagi ?" siapa dia... Dia baru saja membunuh sorcerer terhebat di keluargaku... Dan juga fighter yang sebentar lagi akan menjadi champion... Pikir kelisah kaka tertua "tunggu apa lagi serang dia !"
dua ratus pasukan mulai berlari ke arahnya dengan pedang dan Aldric menebas udara sekali lagi mereka seperti debu yang tertiup angin... Tubuh mereka terpotong di udara beberapa masih utuh walau terluka parah, tulang mereka patah karena bertabrakan dengan angin dari pedangnya.
Sang kaka tertua benar benar panik satu serangan darinya dapat membunuh seratus pasukan ? Ia bahkan tidak terlihat kelelahan atau kehabisan mana karena nya.
"apa yang kalian tunggu ?!, sisanya serang dia !" para tentara bayaran hanya diam... Mereja tidak berani mendekati Aldric setelah melihat apa yang ia lakukan kepada 100 pasukan yang baru saja menyerangnya.
Melihat ini sang kaka tertua tahu betul ia kehilangan kendali dari situasi yabg ada di hadapanya, ia melihat kr arah Aldric dengan penuh waspada, adik adiknya yang tersisa juga bersiap siaga "aku beri kalian kesempatan lagi... Pergi" kata kata Aldric mungkin terdengar biasa tetapi siapapun yang mendengarnya sangat terintimidasi.
sang kaka tertua pun telah membuat keputusan "kita mundur", "kaka ! Kenapa ?", "apa kau buta ?! Kau lihat apa yang dia lakukan kepada adik adik kita dan 100 tentara bayaran ? Kita akan kembali lain kali"
Mereka pun pergi sepenuhnya bagian depan rumah malice penuh dengan mayat dan genangan darah, Aldric mengambil pedang dari salah satu anak Everon "pedang ini bisa mengisap sihir hah ?... Tidak buruk"
Aldric tidam tahu semua aksinya di lihat oleh Alice, Loman dan gadis termuda dari malice mereka melihatnya di bagian atas bangunan "dia tidak hanya gila... Dia brutal" Alice dengan nada takut "ya... Tapi dia menolong kita.. Untungnya...", "ayah aku tidak tahu apa kita harus mempercayainya latar belakangnya tidak jelas.. Dan... Dan apa itu barusan pedang yang ia miliki membunuh 100 pasukan dalam sekali ayun"
__ADS_1
"tenanglah puteriku... Kita harus membuat tawaran untuknya... Dan berharap ia tidak meminta sesuatu yabg kita tidak bisa gapai" Alice terlihat tidak yakin "apa yang kita bisa tawatkan padanya ? kita tidak punya apapun yang cukup untuk membayarnya", ".... Tenangkah... Aku akan membicarakanya dengan adik mu"