Kehidupan Baru Sebagai Putra Bungsu Kerajaan

Kehidupan Baru Sebagai Putra Bungsu Kerajaan
kesalahan


__ADS_3

Pasukan Aldric masuk lebih dalam ke negeri Thier menguasai kota kota dan menuju ibu kota dari negeri Their dengab mudah, Livia dan Edin juga dengab mudah membuat jalan mereka menuju ibu kota.


Halphas jelas tidak senang dengan keadaan nya saat ini dia bertanya tanya mengapa ia bisa kalah, padahal dia memiliki banyak pasukan naga tetapi tidak itu tidak mengubah apapun berapa banyak uang yabg telah ia keluarkan itu juga tidak berguna.


Dia menyalahkan semua ini kepada para jendral jendral dengan begitu para jendral dj hukum ddngan cara di masukan ke sangkar burung besar dan di pertontonkan kepada warga adik Halphas yang melihat ini walau dia masih mudah namun ia tahu jelas ini adalah hal yang salah walau dia tidak bisa melakukan apapun.


Sementara itu para warga mulai lelah dengan kemuranganya lapangan pekerjaan, satu satunya pilihan mereka adalah menjadi tentara untuk membantu perang, dengan ini mereka menyalahkan semuanya kepada raja baru mereka.


Semua orang sudah tahu Halphas seharusnya tidak memimpin dia begitu bodoh dan naif, terlalu arogan untuk melihat kelemahanya sendiri perlahan namun pasti gerakan perlawanan di dalam negeri Their mulai terbangun berisi orang orang dan kebanyakan petualang yang ingin Halphas turun dari tahta melalui diplomasi atau pertumpahan darah.


Aldric dan pasukanya berhasil menguasai kota lainya dan beristirahat di kota tersebut, secara mengejutkan para warga di sana sangat ramah mereka dengan rela memberi makanan perlengkapan dan juga air, para tawanan perang juga tidak melawan mereka di biarkan berjalan jalan di kota karena Aldric tahu mereka di paksa berperang dan bukanlah ancaman untuknya lagi.


Hanya harus menguasai 2 kota lagi mereka dapat menjangkau ibu kota negeri Their dengan mudah Aldric hendak memberi tahu keadaan pertempuran kepada Eda, ia memasukan tanganya ke kantungny dan menyentuh kristalnya dan mukai bertelepati.


Ketika ia mengatakan hi, di disi lain yang menjawab bukanlah sudara Eda... Itu adalah muerte Aldric kaget sebelum mengeluarkan kristalnya, ia salah mengira kristal abyss untuk kristal yang di beri Eda kepadanya.


"jadi kamu telah memutuskan pilihanmu ? Baguslah jadi aku dengar kami sedang dalam perang... Aku tidak bisa membantu secara langsung... Jadi akan aku beri tahu sesuatu selanjutnya jangan bergabung dengan pasukan mu, berusahalah sejauh mungkin percayalah padaku"


"apa yang akan terjadi ?" muerte tertawa kecil "sesuatu yang buruk tentunya" muerte memutus komunikasi dan Aldric menghela nafas "kelihatanya aku melakukan kesalahan kecil... Aku harap ia tidak menganggap aku benar benar setuju bergabung denganya"


Selanjutnya ketika Aldric ingin menguasai 2 kota terakhir ia membuat formasi yang berbeda dengan 2.000 pasukan di depan di pimpin oleh leier dan 2.000 lainya di belakang di pimpin olehnya Dark Iron Cluster berada di barisan belakang.

__ADS_1


Dua hari sebelumnya Halphas menemui seorang necromancer "hey pria tua ! Aku ada tugas untuk mu" sang necromancer itu mengangguk "apa itu tuan ?" Halphas kemudian dengan nada marah "bunuh Aldric dengan kemampuan instan death mu"


"...! Tuan tetapi dengan ini anda melakukan kejahatan perang instand death terutama kepada seorang pange-" Halphas memotong ucapan necromancer itu "diam ! lakukan saja cepat jika dia mati pasukan musuh pasti akan ketakutan dan mundur"


Sang necromancer menghela nafas karena ia tahu menjelaskan konsekuensinya kepada Halphas dia tidak akan dengar, sang necromancer terpaksa setuju dan membuat rencana.


Sang necromancer di sebuah menara pertahanan kota memperisapkan mantranya, aura gelap dan dingin memutarinya, ia sudah mendapat informasi bahwa Aldric selalu memimpin di depan sebagai jendral sang pria tua itu dengan tangan yang bergemetar karna dia tahu dia alan membunuh banyak orang... Tetapi itu bukan masalahnya...


Masalahnya adalah dia akan membunuh seorang pria pemberani dan memiliki potensi besar namun rajanya memerintahkan dirinya untuk melakukan tindakan ini, ia tidak bisa menolak mengingat meluarganya bisa saja ikut du hukum oleh sang raja.


Ketika pasukan Aldric terlihat sang necromancer langsunf menembakan sebuah bola energi hitam dan itu meledak, bukan ledakan yang merusak namun ledakan asap hitam dan seketika 2.000 pasukan terjatuh layaknya boneka berama dengan leier pemimpin mereka.


Namun tidak lama suara barisan pasukan lain dapat terdengar dan kali ini Aldric yang memimpin sang pria tua itu kaget karena rencanyanya sudah ketahuan dengan 2.000 pasukan siege di lakukan namun kota tersebut langsung menyerah dan dengan mudah di ambil alih.


Aldric dan pasukan lainya menguburkan pasukan yang tewas oleh ledakan instant death itu terutama mayat leier ia sangatlah berjasa sebagai teman dan jendral.


Namun tidak ada air mata di mata siapapun, hanya pandangan hormat terakhir mereka kepada sang jendral yang menjadi korban, sang necromancer datang mendekati Aldric.


"tuan muda....huff... Huff" ia masih terengah engah akibat menggunakan sihir terlarang itu "saya yang menembakan sihir itu... Dengan tujuan membunuh anda..." pengakuanya memang mengejutkan tetapi itu tidak masalah mungkin saja jika ia mati ia dapat membayar kematian jendral leier namun Aldric hanya mrngangguk.


"baiklah... Tolomg bergabung dengan tahanan perang lain" sang pria tua itu kaget "tapi... Tapi saya yang" Aldric menepuk pundaknya dengan nada bersahabat "namanya juga perang pasti ada korban jiwa kan ?, dan mereka adalah salah satunya"

__ADS_1


Sang pria tua itu menganggung dan pergi sambil gemetaran dengan tongakt sihir/bantunya, ia kemudian di bantu oleh pasukan Aldric yang lain karena saat ini dia sangartlah rapuh.


Di sisi lain Aldric tidak tahu harus apa, harudkah dia berterimakasih kepada muerte atau tidak, muerte menolongnya mungkin dia bisa saja mati dengan serangan kejutan itu, namun di sisi lain ia tidak mau membuat impresi bahwa dia benar benar ingin bergabung.


Keesokan harinya Aldric mrngumpulkan 2.000 pasukan ya lalu melakukan summond untuk pasukan baru berjumlah 3.000, sekarang pasukanya berjumlah 5.000 ia alan sedikit kesulitan memberi perintah tanpa keberadaan leier namun tidak masalah seharusnya dia bisa.


Di hari itu juga dia berhasil menguasai kota terakhir dan srkarang ia berhadap hadapan dengan ibukota Their, di garis depan lain pasukan Halphas mundur dari pertemouran begitu mendengar Aldric telah dapat meraih ibu kota dan pasukan Edin, dan Livia pun bergabung dengan pasukan Aldric.


Pasukan Livia yang masih utuh 3.000 dan pasukan Edin yang sama 3.000 dan sekarang total pasukan mereka berada 11.000 siap menyerang ibukota negeri Halphas.


"jumlah pasukan anda bertambah... Apa yang terjadi" Aldric berpikir kepada dirinya sendiri, aku miss klik... "pasukan bantuan... Aku kehilangan banyak pasukan"


Livia terlihat bingung "itu cepat.... Di mana jendral mu ? (leier)" Aldric mengelengkan kepalanya "ia tewas... Oleh sihir instant death..."


Wajah Livia menjadi muram dan kesal "mereka menggunakan sihir instant death ?" Aldric mengangguk "mereka berusaha membunuhku berharap serangan berakhir dengan kematian ku"


Livia bingung "apa ?... Apa yang mereka pikirkan ?... Jika anda mati negeri Their akan lehilangan semua jalur perdaganganya dan menjadi musuh semua negara" Aldric mengangguk.


"ya begitulah... Aku juga tidak paham... namun dengan semua yang aku lihat selama perjalanan menuju ke sini aku sudah melihat sang raja tidaklah kopeten maupun layak menjadi pemimpin" Livia mengangguk "ya... Aku sempat berpikir mereka mengirim pasukan lemah untuk membuat kita lebih percaya diri lalu menyerang kita dengan kekuatan penuh... Tapi aku salah... Mereka benar benar selemah ini"


Aldric mengangguk "kita akan mulai siege besok persiapkan pasukan mari kita akhiri secepat mungkin" Livia mengangguk lalu pergi memberi tahu Edin tentang printah ini.

__ADS_1


__ADS_2