
Beberapa minggu telah berlalu, raja Douglas dengan putrinya telah kembali ke kerajaan mereka, dan tidak banyak hal berubah mungkin selain keamanan istana yang menjadi lebih ketat dari pada sebelumnya Aldric menyadari ini namun tidak begitu terlalu memikirkanya, hari ini ia pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku....
Aldric memasuki perpustakaan yang tenang dan penuh dengan aroma halaman buku yang khas. Ia berjalan perlahan di antara rak-rak yang penuh dengan berbagai judul dan pengetahuan. Setelah beberapa saat mencari, ia menemukan buku yang ingin dipinjamnya.
Tiba-tiba, Aldric mendengar suara langkah yang mendekatinya. Ia berbalik dan melihat Seraphina, kakaknya, sedang membawa beberapa buku di tangannya. Seraphina adalah seorang yang gemar membaca dan memiliki pengetahuan yang luas, ia juga salah satu penyihir terhebat di negeri itu.
"Aldric !, kamu ke sini lagi ?, bagaimana dengan buku terakhir yang kamu baca ?" tanya Seraphina dengan senyuman lembutnya, "ah, kaka ! Ya itu buku yang baguss aku sudah selesai membacanya,.... Oh iya kaka apa aku boleh bertanya sesuatu ?"
"tentu ada apa ?" Aldric memang merasa janggal dengan jumlah prajurit yang bertambah di setiap lorong istana, "mengapa penjagaan di istana tiba tiba bertambah ?" Seraphina tersenyum "ah, pasti kamu lupa sebentar lagi kan hari di mana ritual kedewasaan akan terjadi kamu juga akan berpatisipasi di sana bersama orang seumuran mu"
Aldric pernah mendengar soal ritual tersebut, ritual di mana seseorang akan di cap sebagai orang dewasa dan mendapat hak untuk meminum alkohol, berpindah kewarga negaraan, dan yang terpenting adalah menikah.
Aldric mengangguk mengingat ritual kedewasaan yang akan segera datang. Meskipun dia masih merasa agak cemas dengan kekhawatiran tentang peningkatan penjagaan di istana, ia merasa tertarik dengan proses ritual itu sendiri.
"Ya, aku ingat tentang ritual itu," kata Aldric dengan sedikit ragu. "Aku merasa campuran antara gugup dan bersemangat untuk berpartisipasi dalam ritual kedewasaan. Itu adalah momen penting dalam hidup seseorang. Apakah kaka juga pernah mengalaminya?"
Seraphina mengangguk, mengenang masa lalunya. "Tentu saja, Aldric. Aku juga telah melewati ritual kedewasaan itu beberapa tahun yang lalu. Itu adalah momen yang sangat berarti bagi setiap orang mau itu petani, pedagang atau bahkan pemburu, Ritual tersebut menandai peralihan dari masa remaja ke dewasa, dan membuka pintu bagi tanggung jawab yang lebih besar."
"Apakah kamu memiliki saran untukku dalam menghadapi ritual tersebut?" tanya Aldric dengan rasa ingin tahu.
"tentu, pilih hadiah yang menurut mu yang terbaik jika kamu ingin memberikan hadiah mu untuk dewi eda, namun jika kamu mau memberikan hadiah mu kepada dewi Victoria, berikan.... Ia sesuatu yang berguna.... Iya kesukaanya kurang jelas namun jika kamu memberinya sesuatu seperti pernak pernik ia akan menolaknya, banyak orang biasanya memberinya sebuah pedang terbaik yang mereka usahakan dari usia muda" jawab Seraphina dengan.
Senyum bijaksana. "Selain itu, Aldric, jangan lupakan bahwa ritual kedewasaan juga merupakan saat untuk merenung tentang siapa dirimu sebenarnya dan tujuan hidupmu. Pertimbangkan nilai-nilai yang ingin kamu pertahankan dan perjuangkan dalam hidupmu. Jangan takut untuk mengejar impianmu dan menjadi dirimu yang sejati."
Aldric mengangguk "baiklah.... Aku akan ingat itu" Seraphina senang dengan respon adiknya "oh iya ngomong ngomong kamu sudah melakukan Reservasi ke toko hadiah kan ?, ayah sudah memberi tahumu sejak setahun yang lalu".
Aldric tidak tahu apa apa soal Reservasi toko hadiah, kesadaranya yang saat ini tidak berada pada satu tahun yang lalu, namun melihat tingkah Seraphina Reservasi ini benar benar penting, ia memutuskan untuk berbohong.
Aldric mengangguk dengan ragu. "Ya, tentu saja. Aku sudah melakukan reservasi ke toko hadiah untuk ritual kedewasaanku." Dia mencoba menyembunyikan kebingungannya, berharap Seraphina tidak akan mencurigai apa-apa.
Seraphina tersenyum puas. "Baiklah, itu sangat penting. Pastikan untuk mengambil hadiah yang tepat dan sesuai dengan keinginanmu. Ritual kedewasaan adalah momen yang berharga, dan hadiah yang dipilih dengan hati akan memberikan kesan yang mendalam. Aku senang kamu sudah mempersiapkannya, katakan pada ayah jika waktunya kamu di panggil oleh toko itu oke ?"
"t-tentu yah aku akan melakukan itu" jawab Aldric ia berkeringat dingin ia tidak begitu baik dalam berbohong, "ngomong ngomong kak, memang kenapa harus sampai reservasi ?" Seraphina mengangguk "ya yang ikut ritual itu ada banyak, ribuan orang dari banyak negeri akan datang ke negeri kita karena kita memiliki kuil terbesar dan ter dekat dengan para dewa, jika tidak melakukan reservasi dari satu tahun sebelumnya kamu tidak akan memiliki hadiah yang layak.
Seraphina sedikit menunduk dengan ekpresi sedikit sedih "ooh... Aku benar benar merasa kasihan pada orang orang yang gagal melakukan reservasi atau tidak punya uang untuk membelj hadiah yang layak"
Aldric merasa semakin tertekan dengan informasi yang diberikan Seraphina. Ia merasa bersalah karena berbohong tentang melakukan reservasi. Namun, ia tidak ingin mengungkapkan kebenaran kepada kakaknya saat ini di tambah lagi ia harus melakukan cek apakah namanya ada di list Reservasi.
__ADS_1
"Aku mengerti, kak. Terima kasih telah memberitahuku tentang pentingnya reservasi dan memilih hadiah yang tepat. Aku akan memastikan semuanya berjalan dengan baik."
Seraphina tersenyum dan menepuk pundak Aldric dengan penuh kasih sayang. "Aku tahu kamu akan melakukannya dengan baik, Aldric. Kamu harus jadi pria yang baik dan bertanggung jawab. Jika ada yang bisa aku bantu, jangan ragu untuk mengatakan padaku, baik itu tentang reservasi atau persiapan lainnya." Aldric hanya bisa mengangguk, dan aldric pun meninggalkan perpustakaan itu dan melupakan tujuan awalnya ke sana, sekarang entah bagaimana ia harus menanyakan list reservasi.
Ke esokan harinya ia pergi ke luar istana dengan izin ayahnya dengan alasan berjalan jalan, ia di temani oleh satu penjaga khusus ia berbeda dari penjaga istana maupun anggota militer lain, di lihat dari telinganya ia adalah elf bernama Edin, ia adalah pria dwngan rambutnya panjang berwarna ke emasan walau begitu ia terlihat tampan, bajunya terdiri dari kain sutra ringan dengan armor kulit ringan, entah kulit hewan apa itu yang jelas itu bukan sapi atau hewan semacamnya.
Sebuah pedang di pinggangnya pedang itu adalah oedang melengkung yang elegan walau terlihat tidak seimbang namun energi sihir di dalamnya bisa terlihat begitu menonjol.
Dengan petunjung Edin mereka sudah dekat dengan bangunan utama toko hadiah "tuan Aldric mengapa kita pergi ke toko hadiah ?, jika giliran anda untuk memilih hadiah datang seharusnya saya tahu"
Aldric sedikit terkejut sepertinya Edin memiliki otoritas yang cukup tinggi di istananya... Haruskah ia memberitahu tujuan yang sebenarnya ?, lagi pula siapa tahu ia bisa membantu Aldric menutupi ini dari keluarga atau orang lain.
Aldric mempertimbangkan kata-kata Edin dan melihat kepercayaan yang terpancar dari matanya. Meskipun ragu, Aldric memutuskan untuk berbagi kebenaran dengan Edin.
"Edin, sebenarnya tujuan ku ke toko hadiah ini adalah untuk melakukan cek reservasi untuk ritual kedewasaan. Tapi, saya berbohong kepada kakak saya bahwa aku sudah melakukannya. Aku tidak ingin mengecewakannya atau membuatnya khawatir. Apakah kamu bisa membantu aku menutupi ini dan tetap menjaga rahasia?"
Edin menerima pengakuan Aldric dengan serius, memahami kekhawatiran dan niat baiknya. Dia menatap Aldric dengan tatapan tulus dan berkata, "Tuan Aldric, sebagai penjaga pribadi Anda, tugas saya adalah untuk melindungi Anda dan menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepada saya. Saya akan membantu Anda menutupi ini dan menjaga rahasia. Apa yang perlu saya lakukan?"
"cukup dengan membantuku dan jangan beri tahu siapapun itu saja apa kamu bisa ?" Edin mengangguk dengan sopan "tentu saja tuan saya akan usahakan"
Aldric merasa lega mendapatkan dukungan dari Edin. Dia mengucapkan terima kasih dengan tulus. "Terima kasih, Edin. Aku sangat menghargai bantuanmu. Jika kamu bisa membantu aku menjaga rahasia ini dan memastikan semuanya berjalan dengan baik, itu akan sangat membantuku."
Mereka pun sampai di depan gedung toko hadiah, itu benar benar besar yah toko ini khusus untuk orang kaya dan bangsawan karena hadiah yang di jual kualitasnya lebih tinggi dari pada yang ada di pedesaan atau perkotaan area biasa, namun antrian yang panjangnya bukan main antrian itu layaknya ular dari kejauhan tidak lurus namun memiliki belokan dan lengkungan seakan antrian itu tidak sadar dengan bentuk antrian yang mereka masuki ini.
Melihat antrian sepanjang ini Aldric kehilangan semangatnya moodnya jatuh tidak mungkin ia akan mengantri sepanjang itu hanya untuk melakukan pengecekan reservasi nya yang memiliki kemungkinan besar tidak ada di sana.
Setelah memikirkannya, Aldric mendekati Edin dengan penuh kehati-hatian. "Edin, melihat antrian yang begitu panjang, aku tidak yakin apakah aku harus mengantri atau mencari alternatif lain. Apakah kamu punya ide?"
Edin terlihat sedang berpikir "saya punya ide kemarilah" Edin membisikan rencananya setelah ia memberi tahu rencana tersebut Aldric sedikit tidak yakin "apakah ini benar benar oke ?" Edin mengangguk "tentu saja jangan takut rencana ini pasti berhasil.
Edin dan Aldric pun datang mendekati salah satu penjaga di tempat itu, penjaga yang melihat kedatangan bangsawan kelas tinggi dengan bodyguardnya menunduk hormat "selamat datang pangeran Aldric, dan juga sir Edin apa yang membawa kalian di hari yang cerah ini ?"
Edin menjawab dengan nada serius "kami melakukan penyelidikan yang penting bisakah anda memanggil atasan anda ?" penjaga itu melihat ini adalah urusan serius "tentu tolong silakan masuk lewat pintu yang itu" katanya sambil menunjuk ke arah pintu mewah yabg kelihatanya di gunakan hanya oleh pekerja di sana.
Salah satu pekerja di sana yang kelihatanya mendengar pembicaraan mereka langsung menuntun jalan ke sebuah kantor yang indah, dindingnya putih dengan meja yang begitu indah dan rapih.
Tidak lama seorang wanita masuk ke ruangan itu duduk di sisi lain meja dambutnya hitam dengan kacamata ia menggunakan gaun hitam cantik, ia terlihat berumur tapi tetap cantik pada usianya itu.
__ADS_1
"selamat datang pangeran Aldric, dan juga sir Edin... Jadi apa yang membawa kalian ke sini ? Tanyanya nada bicaranya terdengar santai tapi profesional.
Edin mengangguk "kami menemukan aktivitas kultis abyss di sebuah area dan kami menemukan tanda tangan dari salah satu pemimpin mereka, dan jika anda berbaik hati untuk membiarkan kami melihat list reservasi yang anda simpan, dengan begitu mungkin kami bisa melakukan penyergapan" Edin dengan nada serius, ekspersinya benar benar meyakinkan
Wanita itu terlihat teryakinkan oleh laporan yang di sebutkan Edin dan kemudian ia berdiri "mohon tunggu sebentar saya akan mengambilkan list reservasinya" wanita itu kemudian berdiri dan pergi meninggalkan ruangan.
Aldric melihat ke arah Edin "aku tidak tahu kamu jago berbohong seperti itu" Edin ia terlihat sedikit malu "saya tidak tahu apa itu pujian atau apa" Aldric mengangguk "ya itu pujian... Dan akting mu juga bagus.... Belajar dari mana ?"
Edin menjawab dengan senyum tipis, "Sebenarnya, aku tidak memiliki latar belakang formal dalam akting. Aku hanya belajar melalui pengalaman bermain teater saat muda. Namun, sepertinya kemampuan berimprovisasi dan mengesankan telah menjadi keahlian yang berguna dalam keadaan seperti ini"
Wanita itu pun kembali ia membawa sebuah buku besar dan tebal dan menaruhnya di meja "ini semua list reservasi yang telah di catat terakhir 8 bulan yang lalu di mana hari itu adalah hari di mana reservasi di tutup, silakan"
Aldric yang melihat ketebalan buku itu tidak yakin apakah ada cukup waktu untuk mencarj namanya di buku itu di tambah lagi ia tidak tahu seperti apa tanda tanganya di dunia itu.
Edin mengambil buku itu dengan percaya diri dan mulai membalik halaman demi halaman list di sana berisi nama tanda tangan dan status reservasi yang sudah dan belum.
Edin membalih dan membaca list itu dengan cepat matanya bergerak dengan cepar sama dengan tanganya yang membalik halaman demi halaman, Aldric yang melihat ini terkejut pasti semacam sihir yang ia belum ketahui.
Tidak lama ia selesai membaca seluruh buku dan ia melihat ke arah wanita itu, "sayang sekali tanda tangan pelaku tidak ada di dalam sini" wanita itu kemudian mengangguk "begitu yah... Sayang sekali... Saya harap anda cepat menangap pemimpin kultis itu"
Edin mengangguk "terimakasih atas kerja samanya" wanita itu kemudian tidak bisa menahan rasa penasaran yang ia simpan "permisi jika saya boleh tahu... apa tujuan kehadiran Aldric dalam penyelidikan ini"
Aldric bingung harus menjawab apa namun Edin menjawab dengan nada serius "maaf anda tidak boleh mengetahuinya ini untuk otoritas ataa" mendengar ini wanita itu mengurung rasa penasaranya dan lebih baik ia tidak tahu.
Merekapun pergi meninggalkan tempat itu dan ketika di jalan "jadi.... Edin bagaimana dengan..." Edin mengelengkan kepalanya "mohon maaf tuan.... Saya tidak melihat nama atau tanda tangan anda di sana"
Aldric menepuk jidatnya samil menunduk tanda kecewa Edin yang melihat ini merasa prihatin di tambah lagi ritual kedewasaan yang sudah dekat.
Aldric menarik nafasnya dalam dalam "ya sudah lah, mau bagaimana lagi" Edin sedikit terkejut dengan cara Aldric menangani situasi yang sulit ini.
"tapi tuan ritual kedewasaan sudah dekat dan-" Aldric memotong ucapan Edin "ya mau gimana lagi kita sudah berusaha dan gagal... Kadang menerima keadaan lebih baik di banding berjuang dengan hasil nihil.... Lagi pula aku yakin ada cara lain aku dapat mendapatkan hadiah yang layak untuk para dewa"
Edin tersenyum dan tertawa kecil "hahaha.... Mungin anda yang paling muda di antara saudara dan saudari anda.... Tapi anda yang paling cepat dewasa di antara mereka.... Bahkan sebelum mengalami ritual kedewasaan..."
Menurut Edin cara Aldric menghadapi situasi yang berat seperti ini benar benar berbeda dengan cara orang di umurnya berpikir atau bertindak, ia bisa melihat Aldric memiliki tempat tinggi di masa depan walau tanpa sihirnya itu ia yakin Aldric akan melakukan sesuatu untuk masa depan.
di sisi lain Aldric merasa dirinya tua secara mental karena ia memang telah bereingkarnasi, ia memiliki pengalaman di kehidupan untuk tahu bagaimana cara bertindak yabg terbaik... Yah dan itu membuat dirinya merasa tua dan itu tidak membuatnya begitu senang namun ia hanya mengangguk kepada Edin "terimakasih atas pujianya"
__ADS_1
Setelah itu Aldric di kamarnya berjalan jalan tanoa arah memutari seisi ruanganya itu ia berusaha berpikir tindakan apa yang harus ia ambil, sampai ia melihat ke arah music box yang di berikan sistem olehnya dan berpikir untuk menjadikanya hadiah untuk ritual kedewasaan.
Namun di saat yang sama Aldric menyukai music box itu, namun untuk membuat namanya tidak tercoreng atau mempernalukan dirinya dan keluarganya ia harus melakukan itu... dan Aldric menyalakan music box itu berusaha menikmatinya selagi bisa.