
Di sisi lain kerajaan Aldric dan Nathaniel sedang berbincang bincang sambil berjalan kelihatanya mereka menikmati kehadiran satusama lain di saat mereka sudah dekat dengan kamar Aldric Nathaniel bertanya kepada Aldric.
"tuan Aldric di saat ritual kedewasaan mu jikalau engkau beruntung dan mendapat berkah para dewa... Apa yang anda inginkan ?" katanya sambil melihat ke arah luar jendela melihat kearah langit biru berawan.
Aldric menunduk sebentar ia tidak tahu apapun tentang ritual kedewasaan tapi dari nadanya jtu adalah sesuatu yang umum di dunia itu maka Aldric menjawab dengan "ah entahlah lagi pula aku tidak ingin apa apa lagi" sambi tersenyum polos.
Nathaniel langsung melihat ke arah Aldric ia terlihat terkejut walau ekspresi itu tertutup oleh helm yang menutupi kepalanya " mengapa begitu ?, apa anda benar benar tidak menginginkan apapun ?" tanyanya lebih serius dari sebelumnya seakan udara mulai menegang.
Aldric pun tersenyum bangga " aku punya segalanya dari awal, keluarga, harta, kemakmuran, apa lagi yang aku bisa minta ?" katanya sambil melihat ke arah setiap lorong seakan menunjukan buktinya.
Nathaniel pun hendak menyebut sihir namun berhenti takut melukai hati dari Aldric namun sepertinya Aldric tahu apa yang akan Nathaniel katakan "jika aku meminta sihir... Entahlah aku tidak terlalu menginginkanya" Nathaniel langsung menjawab "bagaimana anda bisa baik baik saja tanpa sihir ?" Aldric menjawab dengan cepat "apa kamu lihat diriku ini ?, apa ada sesuatu yang kurang di matamu ?, entah apa yang engkau lihat dengan sihir itu namun aku merasa utuh aku merasa komplit dan itu tidak akan berubah"
Di situ Nathaniel sadar bahwa Aldric benar benar menerima dirinya apa adanya dan membiarkanya begitu walau ada rasa kasian dan simpatik dalam hatinya ia tidak bisa apa apa hanya menerimanya layaknya Aldric menerima dirinya itu membentuk senyum di wajahnya walau itu tidak terlihat.
__ADS_1
Nathaniel merenung sejenak, menyadari bahwa Aldric memiliki keberanian dan kebijaksanaan yang luar biasa. Meskipun tanpa sihir, Aldric mampu menerima dirinya sendiri dengan tulus dan bahagia. Nathaniel menyadari bahwa sihir bukanlah segalanya, tetapi bagaimana seseorang menggunakan dan menghargai apa yang telah ada dalam dirinya.
"Dengan segala hormat, Tuan Aldric, saya terkesan dengan kebijaksanaan dan kedewasaan Anda walau belum melewati ritual kedewasaan. Anda telah menemukan arti keutuhan dan kebahagiaan dalam diri sendiri, yang bukanlah hal yang mudah. Saya percaya bahwa kekuatan yang sejati terletak pada sikap dan keyakinan seseorang, bukan pada kekuatan magis semata," kata Nathaniel dengan penuh penghargaan.
"i-itu tidak masalah hehehe.... Berhenti memuji ku seperti itu kamu membuat ku malu" kata Aldric sambil mengaruk garuk kepala bagian belakangnya
"jadi apa yang akan anda lakukan selanjutnya ?" tanya Nathaniel penasaran, Aldric dengan semangat menjawab "aku ingin tahu lebih banyak tentang dunia ini" Nathaniel pun tertawa sebelum berhenti "hahaha... Mohon maaf walau pemikiran anda sudah dewasa kelihatanya tujuan anda masih kekanak kanakan"
"eh... Apa maksud mu ?" tanya Aldric benar benar penasaran "tujuan anda benar benar seperti anak anak yang ada di pedesaan, bukannya mengina tapi itu sangat lucu, biasanya mereka menjadi petualang", kata petualang benar benar menarik perhatian Aldric "petualang ?!, maksud mu orang orang yang melakukan misi yang di minta oleh guild ?, menjelajah dungeon berbahaya ?, dan membuat party bersama teman yang di buat sepanjang perjalanan ?, itu keren !"
Nathaniel lalu bertanya kepada Aldric "apa anda ingin jadi petualang ?" Aldric pun menjawab sambil tertawa "hahaha aku hanya akan menjadi beban di party ku, lagi pula pasti ada cara lain selain menjadi petualang kan ?" Nathaniel tersenyum kembali walau tertutup oleh helmnya "iya anda benar pasti ada jalan lain.... Pasti ada...." ada nada kekecewaan di perkataan Nathaniel namun Aldric sepertinya tidak mendengarnya dengan baik.
Aldric pun kemudian melihat sebuah pintu yang tidak asing dari kejauhan itu adalah kamarnya ! Ia langsung berlari ke arah kamarnya itu, "itu kamar ku !, ahaha akhirnya ketemu" Nathaniel melihat dari belakang Aldric yang sedang memeluk pintu kamarnya "saya senang anda menemukan kamar anda" perayaan di potong singkat di mana Aldric ingat tujuan Nathaniel "ah... Maaf aku lupa, pergilah ke sana dan belok ke kiri perpustakaan ada di sana selanjutnya kamu tahu di mana post mu kan ?" Nathaniel menunduk salam "tentu tuan, sekali lagi terimakasih" Nathaniel pun pergi ke arah yang di tujukan sementara Aldric masuk dan menutup pintunya.
__ADS_1
Di saat Nathaniel berbelok ia di sambut oleh Cedric yang menunggu sambil bersanderan ke dinding ia langsung berdiri tegak di hadapanya dan menunduk "guru !, maaf kan aku, aku benar benar lupa dengan and-" Nathaniel memotong permohonan maaf itu "sudahlah, mari kita ke tempat latihan" nada bicaranya benar benar berubah di bandingkan saat berbicara dengan Aldric suaranya lebih dingin lebih serius, ketika ia memimpin jalan Cedric tidak bisa membantu dirinya sendiri selain bertanya "guru.... Apa yang and bicarakan dengan adik saya ?" Nathaniel berhentu dan kemudian mengadap ke arah Cedric "kenapa tidak tanyakan saja pada adikmu itu ?" ia pun melanjutkan jalanya Cedric tidak bisa apa apa selain mengikutinya ke ruang latihan.
Sementara itu Aldric di kamarnya melihat kondisi kamarnya yang telah.... Di rapihkan.... Sepertinya pelayan datang dan membereskan semuanya termasuk buku sihir yang masih ada di atas kasurnya yang sekarang tertutup, "sial aku lupa memberi tanda di mana aku terakhir membaca" gumam Aldric.
ia pun membuka halaman demi halaman berusaha mencari halaman yang terakhir ia baca dan sebuah suara terdengar dari belakanganya "terakhir kamu ada di halaman 97" Aldric yang belum sadar menjawab "Oh iya halaman 97" ia membalik halaman je halaman 97 " nah ini terimak-...." ia baru sadar bahwa ia sendirian di kamarnya Nathaniel sudah pergi dan jika itu pelayan mereka akan mengetuk pintu dulu, di tambah lagi suara yang di keluarkan oleh seseorang di belakanya begitu berat... Begitu statik... Begitu aneh, ketika ia melihat ke belakanya itu adalah seorang humanoid menggunakan baju formal pria dengan kepala yang digantikan oleh tv yang menujukan layar statik realita seakan menyempit dan area menjadi hitam gelap namun parabotan masihlah ada.
Aldric langsung melempar bukunya ke arah makluk itu di mana makluk itu langsung mengeram kesakitan "oww... T-tunggu dengar kan ak-" sebelum ia bisa bicara Aldric melembar objeklain yang ada di kamarnya seperi bantal, kristal cahaya yang beroprasi layaknya lampu, sebuah bingai foto sebelum makluk itu berteriak "hey ! Hey ! Dengarkan aku dulo woi !" Aldric pun berhenti sambil mengangkat bagian loker di kepalanya siap melepar, makluk iru pun membersihakan dirinya walau bajunya masih bersih.
"dengar aku tahu siapa dirimu... Dari mana asalmu dan apa yang terjadi padamu oke ?... Aku di sini bukan untuk menyakitimu namun memberikan mu sesuatu" kata makluk itu mencoba untuk tidak terlihat mengintimidasi namun wujudnya tetap terlalu aneh, namun Aldric sadar jika makluk itu memiliki kepada tv yang ada di dunianya mungkin makluk itu mengatakan kebenaran dan bisa menjelaskan reingkarnasinya.
"aku tahu kamu pasti bingung dan kesulitan dengan keadaan mu saat ini jadi aku akan memberikan mu ini" sang manusia tv itu mengulurkan tanganya sesuatu berwarna biru kubus bersinar dengan statik dan membengkokan realita melayang di atas lenganya "ambilah" Aldric menurunkan bagian dari laci dan percaya sepenuhnya pada manusia tv itu walau itu adalah hal bodoh untuk di lakukan orang waras namun setelah semua yang ia alami ia mempercayainya.
__ADS_1
Benda itu masuk ke tangan Aldric kemudian sebuah layar transparan biru muncul di hadapanya memproses dan menunjukan sebuah option seperti market, history, search, dan komunikasi pria tv itu pun berkata "itu semua akan membantu mu dalam hidupmu yang ini kehidupan barumu jika kamu dalam kesulitan atau butuh bantuan jangan sungkan pergi ke bagian komunikasi dan bicara padaku, "namaku Amicus senang bertemu dengan mu".