
Aldric melihat ke kanan dan kekiri sepertinya ia salah belok di suatu lorong dan sekarang ia tidak tahu ia ada di mana, sepanjang jalan ia berusaha mengingat seperti apa lorong yang sebelumnya ia lewati namun hasilnya nihil karena semua lorong di istana itu terlihat sama, mungkin satu hal yang membedakan satu lorong dengan lorong lain adalah lukisan lukisan yang yang ada di dinding dan mungkin beberapa ornamen mewah namun sayangnya ia tidak memperhatikan semua itu.
satu hal yang Aldric mulai pahami adalah bagaimana sihir adalah hal yang begitu umum di mana para pelayan membersihkan ruangan dengan sihir, ada yang mengepel lantai menggunakan gelembung air, gelembung air itu pasti di campur sesuatu yang harum karena baunya tidak bisa berbohong.
Aldric mulai kelelahan ia kehilangan arah sebesar apa istana ini ?, pikir Aldric sambil berjalan, sampai akhirnya ia melihat sebuah jendela ia mengintip keluar jendela itu berada di sisi kanan istana sementara balkon kamarnya berada di sisi kiri ia pun langsung bergegas pergi ke arah kiri istana, namun ia malah berpaspasan dengan seseorang yang ia tidak tahu.
"ah pangeran Aldric senang bertemu dengan anda"
Kata pria itu sambil menunduk hormat, Aldric sama sekali tidak tahu siapa dia, pria itu memiliki postur tubuh tinggi, memiliki rambut oranye panjang menutupi mata kirinya, jika di perhatikan lagi ia adalah seorang ksatria namun ia kelihatanya mengenal Aldric, tidak heran ia adalah pangeran tentu semua orang tahu... Ya kan ?.
"ah iya s-senang bertemu dengan mu... Um"
"ah !, maafkan saya nama saya adalah Nathaniel Angelou saya hanya ksatria istana biasa"
"ah jadi begitu senang bertemu dengan mu juga.... Um... Jadi apa yang kamu lakukan di sini ?, berjaga atau melakukan sesuatu ?"
"seharusnya saya berada di pos saya tapi saya malah tersesat hehehe..... Saya benar benar baru di dalam istana ini"
"hahaha.... Itu i-itu lucu.... Aku juga tersesat"
"huh ?"
"d-dengar aku tidak biasa keluar dari kamarku oke, aku menghabisakan semua waktuku di dalam kamarku jadi.... Yah aku tidak begitu ingat dengan lorong dan jalan yang ada di istana ini"
__ADS_1
"a-ah jadi begitu.... Mau mencari jalan kita masing masing atau..... ah.... Mohon maaf saya tidak bermaksud-"
"tidak tidak, aku rasa itu ide yang bagus, sekalian menutupi fakta bahwa kita tersesat aku yakin kamar ku ada di sisi lain istana ini, dan di mana post mu berada ?"
"kalau tidak salah.... Aku lupa seingatku itu dekat dengan perpustakaan"
"perpustakaan ?, jika tidak salah itu dekat dengan kamarku"
mereka berdua pun sepakat untuk jalan bersama, Aldric memimpin jalan dengan Nathaniel mrngikutinya di sampingnya walau ia sedikit tertinggal seakan ia menghindari jalan bersamping sampingan denganya, merekapun berbincang bincang Aldric lah yang biasanya membuka pembicaraan di sepanjang perjalanan.
Sementara itu di tempat rapat sebelumnya kedua putri, pangeran Cedric raja dan ratu masih belum membubarkan diri, mereka melakukan pembicaraan soal masalah Aldric.
"jadi bagaimana dengab Aldric ?, ada berita baru yang kalian dengar ?, atau lihat ?"
"adik ku yang malang" kata putri Celestia
sambil melihat ke bawah.
"ia masih bermimpi untuk memiliki sihir.... Haaah.... Ini benar benar membuat ku sedih" kata Seraphina sambil memegang erat tongat sihirnya.
"apa ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk... Entalah membuatnya senang ?" kata Cedric kali ini terlihat lebih khawatir dari sebelumnya
"aku tidak yakin, ia tidak bisa menggunakan sihir karena jiwa dan tubuh fisiknya tidak memiliki koneksi yang baik mengakibatkan dirinya tidak memiliki mana, dan itu bukan hal mudah untuk di perbaiki" kata raja sambil mengelengkan kepalanya sekali.
__ADS_1
"h-hey mari kita berbaik sangka dulu ia belum menjalani ritual kedewasaan dan mari berharap dewi Eda mau mengabulkan permintaanya dan memperbaiki kedisabilitasanya" kata Seraphina berusaha meringankan suasana
Ratu mengangguk, mempertimbangkan kata-kata Seraphina. "Kamu benar, Seraphina. Kita harus tetap berharap dan memberi kesempatan pada Aldric. Ritual kedewasaan memang bisa menjadi titik balik bagi seseorang, dan kita belum tahu apa yang mungkin terjadi pada Aldric di masa depan."
Cedric juga mengangguk setuju. "Aku setuju dengan ibunda. Kita harus memberikan dukungan dan harapan pada Aldric. Siapa tahu apa yang bisa terjadi saat ritual kedewasaan nanti. Mungkin ada keajaiban yang bisa menyembuhkan keterbatasannya."
sang raja mulai mengela nafas "andai saja aku punya kekuatan untuk datang secara langsung dan berbicara denganya.... Hanya kami berdua.... Tapi setiap kali aku melihat wajahnya rasanya aku ingin menangis, putra ku yang malang harus menderita takdir seperti ini" air mata bisa terlihat menetes dari mata raja
Ratu segera mendekati raja, meletakkan tangannya di lengannya dengan penuh empati. "Sayangku, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini adalah takdir yang diberikan kepada kita, dan kita harus menghadapinya dengan kuat. Aldric adalah anak kita, dan kita akan memberikan dukungan penuh padanya"
Raja menghapus air mata yang menetes dari pipinya, mencoba menguasai emosinya. "Kamu benar, sayangku. Kita harus tetap kuat untuk Aldric. Dia butuh kita, butuh kasih sayang dan kepercayaan kita"
Cedric kemudian berdiri dan berlutut di hadapan ayahnya "ayah aku berjanji untuk melindungi saudara kandung dan saudara bungsuku dengan darah dan nyawaku aku berjanji"
Raja berpikir ini adalah haly yang tidak di perlukan namun melihat tekad Cedric yang kuat ia tapi Raja juga tersentuh dengan tekad dan keseriusan Cedric. Dia meraih tangan Cedric dengan penuh kebanggaan dan kepercayaan, "Cedric, putraku yang tegar, aku tahu bahwa aku bisa mengandalkanmu untuk menjaga dan melindungi saudara-saudaramu. Sumpahmu adalah bukti kesetiaanmu sebagai seorang pangeran dan saudara. Aku percaya padamu sepenuhnya" membiarkannya memegang janji itu
Cedric mengangguk dengan tegas, matanya penuh dengan tekad. "Terima kasih, ayah. Aku akan menjaga Aldric dan saudari-saudariku dengan sepenuh hati. Tidak ada yang akan menyakiti mereka selama aku ada"
Raja merasa lega mendengar kata-kata itu. Dia memeluk Cedric dengan penuh kebanggaan. "Kamu adalah kebanggaanku, anakku. Teruslah berjuang dan menjadi pelindung yang tangguh bagi keluarga kita"
Cedric menjawab dengan tegas "tentu ayah" raja pun melepas pelukanya dan Cedric teringat sesuatu.
"ayah mohon maaf atas ketiba tibaan ini namun aku baru ingat tuan Nathaniel Angelou akan berkunjung ke sini"
__ADS_1
Raja kemudian mejawab "lalu tunggu apa lagi ?, sapa gurumu itu" Cedric langsung mengangguk dan keluar dari ruang rapat keluarga itu.