
Dimensi Celestial adalah tempat yang indah, terdiri dari banyak pulau terapung dan air terjun tanpa batas, banyak makluk celsetial berterbangan dari satu tempat ke tempat lain melakukan aktifitas keseharian mereka.
Terdapat beberapa manusia juga di sana, mereka yang beruntung untuk menikahi Celestial akan tinggal di dimensi Celestial yang indah.
Jalanan di kota Celestial terbilang sepi karena kebanyakan Celestial memilih untuk terbang dengan sayap mereka, membuat jalanan kota hanya di gunakan oleh manusia yang beruntung itu.
Jumlah kuil di dimensi celestial juga ada banyak terlalu banyak, di tengah dimensi ini adalah pusat dari dunia tersebut yaitu sebuah istana besar nan megah, energi sihir di temoat itu sangatlah melimpah, dan juga rumah untuk dewi Eda dan dewi Victoria.
Eda sedang ada di kamarnya membuka ribuan hadiah yang di berikan pengikutnya padanya, jumahnya ada sangat banyak bisa di bilang ribuan namun ia terlihat sangat ceria saat membuka semua hadiah itu, sudah dari sifatnya yang baik ia tahu orang orang mati matian memberikan hadiah itu padanya hadiah yang ia sering terima adalah pernak pernik atau sebuah kerajinan, tidak masalah ia juga sangat menyukai seni.
dia menyenandungkan lagu sambil membuka semua hadiah dari pengikutnya, terkadang saat ia sendiri ia sangat kekanak kanakan, sampai sebuah ktukan pintu terdengar dari kamarnya.
Ia sudah tahu siapa itu "kaka masuklah" pintu terbuka dan masuklah seorang wanita tinggi dengan armor dan tubuh yang bagus, armornya berwarna putih silver bercahaya dengan kekuatan suci, ia memiliki matanya berwarna merah, wajahnya garang tapi cantik, dari ekpresi dan cara jalannya menunjukan sebuah otoritas dan dominasi yang kuat, ada 4 bilah pedang di bagian belakangnya terbang mengikuti kemanaoun ia pergi.
"Eda.... Kamu masih membuka hadiah hadiah itu ?" Eda tersenyum kepada kakanya "tentu saja mereka ada banyak" Victoria menghela nafas "ini benar benar menghabiskan waktumu, mengapa tidak serahkan saja tugas mu itu kepada para pelayan, dengan jumlah mereka pasti akan lebih cepat"
"ah.. Tidak masalah aku suka membuka hadiah" Victoria melihat ke arah tumpukan hadiah yang masih belum terbuka, dan yang sudah terbuka, mereka di susun rapih tapi tetap melihat jumlahnya itu tidak sedikit.
"ini benar benar buang buang waktu"' Eda hanya tertawa dengan ceria dan polos "hahaha 'buang buang waktu' ? Bagaimana aku membuang buang waktu jika aku memiliki semua waktu di dunia ini ?" Eda tidak salah, ia adalah dewi secara umur ia abadi jadi waktu bukan sesuatu yang begitu penting baginya.
"ya terserah lah... Kamu memang sulit di beritahunya..." Eda pun balas bertanya "bagaimana dengan hadiah mu kak?"
"semua sudah di buka... Seperti biasa banyak pedang... Armor... Dan perlengkapan lainya tidak terlalu berguna... Aku rasa aku akan mendonasikanya ke kerajaan kecil karena mereka tidak memenuhi setandar pasukan kita"
Eda terlihat tidak terlalu senang "setidaknya hargai usaha mereka memberikan hadiah tersebut... Seperti simpan beberapa ?"
__ADS_1
"tidak ada gunanya di simpan jika tidak akan di gunakan mereka hanya akan berkarat" Eda menghela nafas sedikit kecewa "bagaimana dengan Amorafest tahun ini ?" Victoria mengangguk "sepertinya kita mengalami peningkatan jumlah pasangan celestial di tahun ini..." Eda dengan senang dan semangat "baguslah !, berarti tahun ini sukses dan semakin banyak orang baik di luar sana"
Victoria mengangguk "tapi ada berita sedih dari the seven devine protector" wajah Eda langsung berubah menjadi khawatir "a-ada apa ?"
"Wing of salvation Aradia... Ia telah mengukapkan cintanya pada seseorang tapi ia di tolak... Dengan alasan yang aku tidak suka" Eda dengan penasaran bertanya "apa itu ?"
"pria itu... Katanya ia ingin melakukan sesuatu terlebih dahulu... Dan juga mencapai tujuan atau apalah itu padahal ia bisa berkontribusi lebih besar jika ia menerimanya" Eda menghela nafas dengan sabar "kaka kamu harus paham bahwa ia adalah manusia, umurnya tidaklah panjang apa salahnya membiarkan dia memilih, lagi pula pilihan ada untuk semua orang"
"tetap saja Aradia adalah salah satu murid ku, apa yang kurang darinya ?, dia cantik, kuat, bisa melakukan banyak hal, dan juga memiliki posisi tinggi" Eda hanya menjawab "tapi orang itu punya waktu yang terbatas, tidak ?, lagi pula kita tidak tahu apa tujuan orang itu siapa tahu itu penting"
Victoria mengela nafas "sudahlah masih banyak ikan di lautan, dan aku yakin Aradia juga akan membaik seiring waktu" Eda mengangguk yah setiap mereka berargumen mereka pasti akan ada di titik seperti ini setuju untuk tidak setuju.
"oh iya kaka !, apa lautan itu adalah sup ?" Victoria sangat bingung dengan pertanyaan dari adiknya itu "...!, apa maksudmu lautan adalah sup, lautan adalah lautan tidak bisa menjadi sup"
"um...em.... Ah !, sup haruslah panas atau hangat" Eda dengan cepat mematahkan argumen itu "berarti jika sebuah sup menjadi dingin mereka berubah menjadi lautan ?"
Victoria sudah tidak bisa menjawab atau memberi argumen lagi ia pun dengan cepat pergi ke arah pintu "bodo amatlah pikin aja sendiri" katanya sebelum menutup pintunya.
Eda hanya tertawa terbahak bahak begitu kakanya pergi, hahaha Aldric ini berhasil, ini sangat lucu, pikir Eda sambil tertawa sampai perutnya sakit.
Setelah menenangkan diri dan menghapus air matanya karena tertawa terlalu banyak, ia lanjut membuka hadiah dan melihat ke arah kotak kayu yang memiliki ukiran indah dan ketika di buka itu adalah sebuah music box yang indah.
"halo yang di sana..." katanya sambil mengangkat dan melihat desain nya yang indah "'wow ini adalah sesuatu" ia melihat kertas kecil di dalamnya memiliki nama Aldric.
"ah !, dari Aldric... Pria itu penuh dengan kejutan" ia pun mengingat waktu yang ia habiskan berkomunikasi dengan Aldric, menurutnya Aldric adalah manusia yang sangat menyenangkan apalagi jika sudah dekat dengan seseorang dan topik yang ia bawa selalu bagus seakan pikiran mereka itu singkron.
__ADS_1
Ia pun menyalakan music box itu dan ketika lantunan melodi itu berbunyi Eda kaget hatunya jatuh kepada music box itu lantunan musik nya berneda dengan yang di dengar Aldric.
Kali ini ada suara nyanyian seorang wanita yang sangat merdu seperti lagu tidur, air mata mulai tumpah dari kedua mata Eda "i-ibu ?" suara lantunan itu mengingatkanya pada ibunya yang selalu menyanyikan lagu yang sama dengan music box itu.
Tagisan bahagia ia sambil tersenyum melihat music box itu, "Aldric... Terimakasih" ia pun menggunakan sihir untuk menilai music box itu dan ia kaget bukan main.
Di sisi lain Astra baru saja kembali dari Solantia menuju kamar dormnya, namun ia bertemu dengan Aradia yang sedang benging diam di sebuah meja di kantin, ia pun berjalan mendekatinya dan duduk di sisi lain.
"hey~ Aradia... mengapa kamu bengong diam di sini" Aradia menjawab dengan nada sedih "aku di tolak..." Astra sedikit bingung "di tolak ?, apa maksud mu ?"
Aradia menghela nafas sambil melihat ke arah jendela "haaah.... Aku bertemu dengan seorang pria hebat, berani dan kuat... Tapi... Ia menolak ku karena tujuan yang ingin ia penuhi... Aku pikir aku dapat membendungnya tapi di sinilah aku bersedih... Bagaimana aku bisa berada di the seven devine protector jika aku tidak bisa menahan rasa sakit patah hati ?"
Astra pun sedikit tidak nyaman setelah mengetahui situasi temanya itu "ouch... Hey sobat dengarkan aku, semua akan baik baik saja kamu hanya butuh waktu" Aradia sedikit tergerakan oleh kata kata Astra "ya... Aku rasa kamu benar... Entah kenapa sekarang aku merasa sedikit emosi ketika melihat sepasang kekasih... Rasanya aku iri ?... Entah lah"
"hahaha... Itu hal yang wajar jangan khawatir Aradia melihat ke arah Astra untuk pertama kalinya di pembicaraan mereka ini "sungguh ?....!!!" Aradia terkejut melihat sebuah kantong cokelat menggantung di tanganya, emosinya pun meluap.
"woy bajingan !, jangan bicara seakan kita ini senasip !, dasar penghianat !" Astra jelas kaget "lah ?, ada apa ? Kenapa kamu jadi marah" Aradia pun menunjuk ke arah kantong cokelat yang Astra bawa "itu apa bajingan !, kamu sudah punya seorang pria di sisi mu ?!, dan sekarang kamu menasehati ku soal bersabar ?!, kamu tidak tahu rasanya!" Astra dengan panik"e-eh ini !.... a-aku bisa jelaskan !"
"tidak perlu menjelaskan apapun !, aku pikir kamu adalah teman ku ternyata kamu berusaha memanipulasi ku" Astra membantah hal ini tentu "tidak kamu salah aku tidak bermaksud seperti itu"
"diam lah dasar pembohing !, apa saja yabg telah kalian lakukan huh ?!, berpengangan tangan ?!, berpelukan ?!, a-atau... Be-berciuman ?! Aaaaah !, brengsek aku iri"' wajah Astra memerah memikirkan ia melakukan semua itu dengan Aldric "t-tidak mungkin aku m-melakukan itu !"
"melihat dari wajah mu yang merah dan kebohinganmu sebelumnya kamu pasti berbohing !, brengsek ayo duel sini bajingan !" katanya sambil membuncukan pedang dan prisainya.
Mereka tidak berduel malahan mereka berargumen lebih jauh lagi, tindakan mereka menjadi bahan tontonan bagi yang ada di kantin sampai, tangan kanan dewi Eda datang dan mererai mereka, mereka juga di panggil langsung ke hadapan dewi Eda.
__ADS_1