
Aldric duduk santai di meja kerjanya Andy sedang mengurusi dokumen dengan orang orangnya di ruangan lain Vermut dia seperti terbiasa tertidur di lantai sambil bersender ke paha Aldric.
Aldric kemudian membuka sebuah dokumen bertuliskan asset list Aldric kemudian melihat lihat blueprint yang ada, itu adalah blueprint mulai dari senjata, armor, dan bahkan formasi dan strategi lainya.
Namun Aldric merasa ada yang aneh dengan perlengkapan itu rasanya semua yang dia buat memiliki refrensi dunia modern... Contohnya seperti busur yang ingin ia buat benar benar membentuk compound bow di dunia modern.
Ada juga meriam, ia sudah punya konsepnya tetapi sayang di dunianya saat ini gunpowder tidak bisa di buat untuk suatu alasan bahkan ketika ia membuatnya itu bereaksi layaknya arang.... Atau mungkin dia salah takaran entahlah dia bukan seorang ahli kimiawan.
Di sisi lain juga projek barunya masih dalam proses pembuatan prototype, Aldric juga berpikir membuat mesin terbang dengan Arcanum Machina tetapi mrlihat ukuran normal dari Arcanum Machina yang ada di dalam Dark Iron Cluster itu akan sulit.
Aldric kemudian menghela nafas dan memasukan semua dokumen itu ke lacinya dan kemudian berdiri perlahan dan menahan lalu menaruh kepalanya Vermut agar tidak membangunkanya.
Lalu dia pergi ke kamar mandi dia melihat cermin... Salama ini dia menjauhi cermin ada rasa takut di hatinya rasa khawatir.... Rasa yabg tidak memgenakan bahwa dia belum terbiasa dengan tubuhnya ini setelah berbulam bulan di dunia tersebut...
Namanya Aldric.... Tapi siapa sebenarnya dia... Jiwa yang berada di tubuh Aldric ini, apakah dia Aldric atau "dia" lah yang Aldric.... Siapa namanya dia lupa, siapa dirinya sebelumnya.
Mengingat identitasnya Aldric langsunf diam menatap cermin.... Menatap pantulanya di cermin seketika rasa takut sebelumnya berubah menjadi amarah, dia marah akan sesuatu.... Dia lalu memukul cermin itu dengan keras sampai pecah.
Ia lalu menarik nafas dalam salam dan melihat tanganya yang berdarah dengan serpihan cermin kebetulan seorang pelayan yang hanya lewat mendengar pecahan kaca tersebut "permisi semua baik baik saja ?" Aldric yang masih menarik nafasnya mengtakan dengan tenang "tidak apa semua baik baik saja"
"tuan Aldric ? Apa yang terjadi ?" dari suaranya dia khawatir dia memang salah satu pelayan balai kota jadi tidak heran untuk khawatir kepadanya.
__ADS_1
"semua baik baik saja.... Aku tidak sengaja memecahkan cerminya" Aldric menunggu beberapa saat...., tidak ada respon Aldric sudah merasakan sesuatu yang berbeda suasana yang begitu familiar.... "Amicus..."
"heh... Kamu bahkan sudah bisa mengetahui kehadiran ku... Kamu telah tumbuh...." ucap Amicus seperti biasa dengan kepala tv statiknya dan jas rapihnya.
"apa yang kamu lakukan di sini ? Minta aku melakukan lvl up ?" Amicus melihat ke arah lengan dan kaca yang pecah berserakan di lantai "ya aku ingin kamu lvl up, tetapi sepertinya ada hal yabg lebih penting dari itu saat ini...."
"dan apa itu" tanya Aldric dengan serius "apa kamu baik baik saja ? Jujur saja rasanya semakin kamu tumbuh untuk mengenali dunia ini semakin tidak baik kondisimu... Secara mental tentunya"
Aldric mengelengkan kepalanya "aku tidak paham maksud mu... Dengar jika kamu di di sini hanya untuk berbincang bincang aku benar benar sibuk" Amicus tertawa dengan lembut walau suara statiknya membuat suaranya terdengar berat.
"oh ayolah aku telah menghentikan waktu kita punya semua waktu yang ada di dunia ini... Sekarang katakan padaku apa yang membebani mu ?" lalu rasa penasaran Aldric tumbuh di kepalanya dan dia akhirnya bertanya.
Aldric sedikit skeptis "kamu bilangvkamu tahu segalanya... Lalu mengapa kamu bertanya kepadaku... Dan apa kamh tahu masa depanku nantinya ?"
Amicus mengangguk "aku bertanya karena aku ingin berinteraksi dengan mu... Membangun hubungan... Koneksi denganmu... Lagi pula aku lah yang akan ada di sisi mu selamanya, dan soal masa depan... Yah aku melihat segalanya, setiap masadepan yang akan dan tidak akan terjadi, apa yang bisa dan tidak bisa, apa yang mungkin dan tidak mungkin.. Setiap inci dari garis waktu di alam semesta ini ya aku melihat semuanya di saat yang sama saat aku melihat dirimu sekarang..."
"lalu apa yang akan terjadi sekarang ? Agar aku dapat mempersiapkan diri...." Amicus tertawa "hahaha.... Jika kamu ingin tahu aku bisa saja memberi tahu apa yang akan terjadi kedepanya... Tetapi apakah kamu serius ? Tidak akan menyenangkan jika kamu tahu apa yang akan terjadi"
Aldric diam sebentar sebelum mengurungkan niatnya "baiklah tidak usah.... Lalu jika kamu tahu semuanya kamu sudah tahu masalah ku kan ?" Amicus mengangguk "oh tentu... Tidak heran kamu memiliki masalah dengan identitas mu, siapa dirimu atau bahkan apa dirimu ini..."
Aldric menunduk dia benar Aldric benar benar bingung selama dia ada di dunia itu apa yang harus dia pilih... Dia melakukan segalanya sejauh ini untuk kerajaan Solantia... Sebuah negeri yang memberinya tanggung jawab sebagai pangeran...
__ADS_1
Amicus lalu menepuk pundak Aldric "Aldric teman ku biar aku beri tahu siapa dirimu kamu adalah ■●■■■●■ hidup di ■■■■ dan kamu suka bermain dan membaca sejarah... Kan ?"
Ketika nama aslinya di sebut air mata menetes dari matanya, itu adalah namanya.... Nama aslinya mukan Aldric....Aldric sambil menunduk mengulang ulang namanya di kepalanya, lalu semua kehidupanya semua yang dia ingat dan tidak ingat dari hidupnya berkedip di depan matanya, momen menyakitkan.... Moment menyenangkan yang membangun dirinya menjadi dirinya yang sekarang... Ia tersenyum....
Aldric menghapus air matanya yang deras "ah... Aku ingat apa yang di katakan ayahku.... Ayah asli ku... Jangan menangis di saat sulit... Apa yang akan itu selesaikan ?.... Hahaha..." Amicus mengangguk dan kemudian melihat ke arah Aldric dengan serius "jangan pernah meragukan dirimu sendiri... Jika kamu pernah lupa nama mu lagi tanha saja aku...."
Aldeic mengangguk dan Amicus menghilang begitu saja, Aldric melihat ke arah cermin yang secara ajaib telah benar dan lenganya yang tidak lagi berdarah... Aldric lalu mendapat informasi melewati kristal Eda dan Aldric baru ingat "astaga ! Aku lupq hari ini seharusnya aku mengajari Dewi Eda tentang catur ! Ia bergegas berlari ke kantornya untuk mengambil perlengkapan catur yang di butuhkan.
Di suatu negeri bersebelahan dengan negeri solantia "baiklah kalian sudah tahu mengapa kita ada di sini kan ?" semua orang terlihat tidak tahu apa apa "kaka... Kamu memanggil kami mengatakan untuk rapat tanpa memberi tahukan apapun" sang kaka kelihatanya pemimpin rapat tersebut diam sebentar "oh... Iya aku lupa... Lupakan kalian sudah dengan soal penyerangan negeri dwarf ?"
Salah satu dari mereka yang tertua mengangguk "tentu tuan kami semua sudah tahu" sang oemimpin rapat lalu menghantam meja dengan keras "mengapa negeri kita tidak di panggil oleh para Celestial ?"
Yang tertua di rapat itu pun berusaha memberi penjelasan "tuan ku... Solantia adalah sebuah negeri tertua di dunia tidak heran mereka memiliki tanggung jawab untuk-" pria tua itu lalu di hentak "diam ! Seberapa hebat sebenarnya solantia ini... Cukup ! Aku lelah dengan semua ini... Aku Halphas sebagai raja negeri ini akan mendeklarasikan perang kepada Solantia !"
Semua orang yang di dalam rapat terkejut salah seorang di rapat yang menggunakan full armor mewah "tuan ku tolong pikirkan sekali lagi ini terlalu gegabag" adik dari Halphas juga memberikan pendapatnya "jendral benar... Kaka baru memimpin selama 3 bulan kepercayaan sipip belum berpihak kepada kaka"
Halphas tertawa "siapa yang butuh mereka ? Kita punya uang dan mari kita taruh gajih besar pasti akan banyak yang ikut kan ?" adiknya Halphas berusaha sekali lagi "tapi-" namun di hentikan oleh yang tertua "sudahlah... Aku mau mendesain patung kemenangan yang akan aku taruh di ibukota solantia nanti saat aku menang"
Halphas pun pergi "ini gawat..." gumam sang adik melihat kakanya yang pergi dengan rasa benci, sebulan kemudian deklarasi perang benar benar di keluarkan dan ini benar benar membuat dunia dalam syok sebuah negeri yang bukan apa apa berani mendeklarasikan perang kepada negeri tertua, negeri Halphas yang langsung memulai serangan offensive dan mengambil alih beberapa lokasi "strategis" di tanah Solantia dan jelas sang raja dan anak anaknya tidak akan membiarkan hal ini.
Solantia mengirim pasukan dan dengan mudah memukul mundur pasukan lawan kembali ke tanah mereka sekarang adalah pilihan... Balik menyerang atau melakukan perundingan damai...
__ADS_1