
"aku rasa aku harus lebih serius" kata sang topeng dan syal yang Aldric kenakan kedua ujungnya mulai mrngembag memcesar membuat dua cakar, dengan gemericik api dan percikan api, Zarah langsung lebih waspada dari sebelumnya.
Syal itu maju dengan cepat dan menyerang Zarah, Zarah dengan lihainya berhasil menghindar, dan memotong syal itu, di situ juga Aldric baru menyadari mengapa syal itu tidak mrlindunginya sebelumnya, sang topeng telah mengambil alih syal yang di kenakan Aldric juga.
Zarah mulai kewalahan dengan serangan yang terus menerus dari syal itu, sampai ia mulai terserang ujung syal itu berhasil bekerja layaknya pecut menghantam tangan kiri Zarah.
Lenganya langsung terbakar mungkin jika bukan karena armornya dia akan kalah, setiap Zarah memotong syal itu syal itu tumbuh lagi dan lagi seakan memotongnya itu adalah hal yang percuma.
Di sisi lain Morana benar benar kewalahan melawan death knight yang menyerangbya terus menerus ia pun mengingat sesuatu ia mulai menenangkan diri nafasnya menjadi lebih ringan, sang death knight langsung merasakan ada yang janggal dan menghentikan seranganya.
"cursed.... Javeline" rampal sang ksatria sebuah javelin muncul dari sabuah portal di atasnya melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Morana.
Morana menangkisnya javeline itu memantul dari perisainya ke langit, pedang Morana menghitam, auranya mulai tidak terbendung dan ia pun melakukan sebuah tebasan "reality slash" seketika realita tempat sang death knight berdiri terpotong, sang death knight jatuh berlutut sebentara tubuh bagian atasnya menghilang, sisa tubuhnya mulai runtuh pada dirinya dan hilang.
Morana langsung jatuh lemas "sialan... Aku tidak percaya aku menggunakan kartu as ku kepada undead itu" katanya dengan kelelahan "aku harap kaka baik baik saja" sambil berjalan lemas menuju kakanya.
Velara telah tersayat berkali kali rasa samit di seluruh tubunya benar benar membuat mati rasa, nafasnya benar brnar menjadi berat rasanya ia bisa pingsan kapan saja, airmatanya menetes karena rasa sakit begitu juga dengan air liurnya.
"hentikan saja usahamu sia sia" Velara menggelengkan kepalanya "aku tidak percaya aku harus menggunakan ini" Velara fokus dan mengumpulakn mana nya di tongkatnya tormented yang menyadari ini tidak membiarkanya ia menyerang dengan cepat, namun sebelum kawat berdurinya itu dapat menyentuhnya Velara selesai merampal mantranya.
"abyss cry" tiba tiba saja tanah yang di injak tormentet menghitam tetapi serangan tormented berhasil menusuk Velara di mana ia langsung berteriak kesakitan.
Genangan itu menghitam dengan radius 9 meter, dan tormented yang awalnya mrngambang di atas udara tertarik ke genangan hitam itu, sebelum monster tanma pata dan hanya mulut menelanya hidup hidup, makluk itu bersisik hitam dan berbentuk layaknya ular tanpa mata hanya mulut dengan gigi layaknya manusia tormented tidak bisa melakukan apapun dan termakan.
Velara bisa bernafas lega kawat yang menusuknya itu hilang setelah tormented mati, ia dengan tongkatnya membantu ia berjalan mulai berjalan balik ke kakanya "kaka benar... Aku... Aku seharusnya mempelajari mantra jarak jauh" kulitnya sangat sensitif bahkan saat daun menyentuh kulitnya rasanya ia di sayat oleh pisau tumpul berkarat dan itu tidaklah menyenangkan atau tidak menyakitkan.
Zarah dengan armornya 1yang sudah terkikis benar benar kewalahan padahal ia hanya melawan sebuah item dan bukan penggunanya, jika terus begini ia akan kalah.
Zarah kemudian menunjuk ke arah tubuh Aldric "soul crush" tuba tiba saja Aldric merasakan rasa sakit tajam di tubuhnya ia langsung batuk darah, darah hangat krluar dari celah topeng tetapi sang topeng tetap berdiri tegak tidak memoerdulikan rasa sakit, mungkin itu tidak bisa merasakanya.
Zarah dengan ekpresi tidak percaya dan kaget "bagaimana kau tidak bergerak maupun mengeram kesakitan ?!, aku baru saja melukai jiwa mu !" sang topeng tertawa "hahaha !, kau pikir kau dapat melukai jiwaku dan menang ?, bahkan jika kau menghancurkan tubuh ini aku aku akan tetao maju"
__ADS_1
Pernyataan sang topeng kelihatanya berhasil mengintimidasi Zarah ia kehabisan mana karena serangan serangan sihir sebelumnya di tambah soul crush yang tadi ia gunakan ia juga kelelahan karena melawan syal milik Aldric sebelumnya.
Di saat itu juga Morana datang dengan nafas yang berat, perisainya benar benar hancur sama dengan oedangnya yang terkikis berat, ia lun berdiri di sisi kakanya "belum selesai di sini ?" Zarah menggelengkan kepalanya "orang ini tidam biasa"
Velara menyusul dari sisi lain ketika Zarah melihatnya ia melihat aura kutukan yang kuat "Velara !, kamu baik baik saja ?!" Velara tertawa kecil berusaha terlihat kuat "aku baik... Ayo... Ayo kita bereskan yang terakhir ini" Velara juga berdiri di sisi Zarah.
"owh.... Kaluan kemali~, kerja bagus... Tapi bagaiman kalian akan melawan ku ?, kakian kelelahan dan kehabisan mana" Zarah melihat ke arah Morana, Morana memberinya isyarat ia sudah menggunakan kartu as nya sama dengan Velara.
"kami tetap menang jumlah" sang topeng tertawa "hahaha.... Kalian masih mengandalhkan jumlah ?, kalian lihat, apa aku terlihat kelelahan ?, aku bahkan belum menggunakan sihirku" sang topeng berbohong untuk membuat ketiga saudari abyss itu menyerah.
"kemenangan masih condong ke arah kam" katanya sambil menodongkan pedangnya sama dengan kedua adiknya masuk ke formasi, sementara Aldric di dalam sudah tidak kust jiwanya sakit dan ia kehilangan banyak darah dari kuka di bahunya.
ketika Zarah hendak maju sebuah dager di lempar ke arahnya oleh seseorang, Zarah berhasil menangkisnya dan dagger yang memantul itu kembali ke pemiliknya.
"siapa di sana ?!" seorang wanita muncul ia dengan rambut di kuncir dan topeng baja dengan lubang msta dua garis, memegang dua dagger armir kulit keratinya terlihat begitu keras.
"teman mu ?" sang topeng melihat ke arah wanita itu dan wanita itu melihat ke arah Aldric "ya" mereka berdua mengatakanya nyaris bersamaan.
Sang topeng mihat ke arah wanita itu dan wanita itu juga melihat balik "aku sungguh berterima kasih"
"tidak, tidak perlu sobat aku hanya menolong lagi oula kamu benar benar menghajar mereka, lihatlah mereka kelelahan dan terluka oarah begitu, padahal kamu hanya punya pedang biasa"
"oh... Jangan memuji ku begitu" wanita itu melihat luka di bahu Aldric dan melakukan rampalan "heal" sebuah energj hikau terbang ke arah luka Aldric dan kemudian menutuonya di dalam kehangatan "akan di sayangkan jika kamu mati kehabisan darah, aku akan pergi" Aldric di dalam sangat ingin tahu namanya tetapi ia menghilang sebelum ia dapat melepas topeng itu.
Aldric melepas topeng tersebut ia langsing memegangi dadanya darah di mukutnya telah mengering, ia memaksakan diri berjalan kembali ke penginapan "aku benar-benar kurang persiapan, tooeng brengsek ini juga terlalu ceroboh... Mungkin karena ini masih lvl 1"
Pandanganya mulai memudar ia rasanya mau pingsan ia kehilangan banyak darah di pertarungan sebelumnya itu.
"sial jika aku mati di sini.... Jujur saja tidak masalah makanan enak, temoat tidur empuk, kemewahan yang belum pernah aku rasakan, sihir dan monster, aku rasanya telah melihat seluruh dunia ini"
Dari kejauhan ia bisa memlihat sekelompok prajurit berlari ke arahnya "tuan Aldric !" teriak mereka namun pendengaran Aldric juga sudah kesulitan untuk berfugsi sebelum ia jatuh ke tanah.
__ADS_1
Di juarang Abyss Zarah langsung menghampiri Velara "kamu baik baik saja ?, kutukan di dalam tubuhmu sangat mengerikan" Velara sambil tersenyum "aku baik kaka hanya... Hanya kelelahan itu saja"
Zarah tahu adiknya itu menderita "ayo kita lepaskan dulu kutukan itu" tiba tiba saja sebuah sosok muncul dari kegelapan "jadu bagaimana tugas kalian" ketiga saudari itu langsung berlutut di hadapan sosok wanita itu, beberapa objek terbang memutarinya itu adalah buku, kristal sihir dan barang barang sihir lainya.
"ampun tuan... Kami gagal" sosok itu terlihat sedikit terkejut "gagal ?, apa yang ia katakan ?" Zarah dengan ketakutan di suaranya "ia... Ua lari sebelum kamu dapat mengatakan apapun dan kemudian kami bertemu dengan seseorang yang kuat... Bisa anda lihat... Kami di hajar olehnya"
Sang sosok wanita itu kemudian melihat ke arah Velara dan menunjuknya sebuah cahaya hitam kemudian muncul dan menyambarnya Velara berteriak "Velara !, tuan aku mohon jangan hukum mereka hukum saja aku !"
Setelah efek sambaran itu hilang sama dengan kutukan di tubuh Velara juga hilang ia tidak lagi merasakan sakut di tubuhnya Zarah kemudisn melihat dengan ekpresi bingung ke arah tuanya.
"tidak masalah, aku percaya... Melihat dari kutukan yang ada di tubuh adik mu dan Morana yang kelelahan ?, lawan kalian bukan orang biasa, aku ampuni kalian untuk saat ini" Zarah dengan senang "terkmakasih tuan !, apa... Aoa ada yang harus kami lakukan sekarang ?"
"pulihkan dulu energi mana kalia... Istirahat aku akan memanggil kalian lagi jika sudah saatnya" sosok itu hilang di dalam kegelapan.
Morana melihat ke arah kakanya "tuan terlalu baik ini tidak pertama kalinya dia mengampuni kita, Velara juga mengangguk "jika dengan komandan lain mungkin kita sudah di jadikan warga sipil"
Zarah melihat ke arah kedua adiknya "ia memang begitu... Terlalu baik, maka dari itu kita harus terus mengikutinya" kedua adiknya mengangguk setuju.
mereka berjalan di sebuah lorong, lorong itu gelap tetapi Abyss memang dapat melihat di dalam kegelapan jadi itu tidak masalah bagi mereka lorong itu terang menderang.
lorong itu terbuat dari batublayaknya gua alamia namun ada banyak pipa besi yang di seluruh bagian gua itu, salah satu dari pipa itu kelihatanya sedikit bocot dan mengekuarkan suara sttt.
Zarah langsung kaget dan menutupi mukanya "aaaah !" kedua adiknya dengan kaget "kaka ada apa !" Zarah membuka mukanya dengan bingung "eh ?"
Kedua adiknya juga bingung apa yang baru saja terjadi "kaka.... Jangan jangan kaka trauma dengan sesuatu yang di semprotkan Aldric" kata Morana, Velara mengangguk.
"t-tidak mungkin !, wajah ku memang terbakar dan... Dan i-itu menyakitkan tetapi aku tidak mungkin trauma" bantah Zarah dan melanjutkan jalan mereka, Velara mendekat ke arah telinga kakanya "sttt" sekali lagi Zarah kaget dan menutupi mukanya.
"ya dia trauma" kata Velara dan juga Morana mrnyusul dengan "sudah ku duga" Zarah dengan kesal "diamlah"
"bukan kah bijak untuk mengambil rehebilitasi ?" Zarah menggelengkan kepalanya "tidak, tidak ada waktu" Morana sambil melihat ke arah pipa "lalu bagaimana caranya kamu berhadapan dengan Aldric ?" Zarah memutuskan untuk tidak menjawabnya ia pasti akan menemukan jalanya.
__ADS_1