Kehidupan Baru Sebagai Putra Bungsu Kerajaan

Kehidupan Baru Sebagai Putra Bungsu Kerajaan
kesederhanaan


__ADS_3

Pagi itu layaknya pagi yang sebelum sebelumnya namun kali ini Aldric memiliki keinginan yaitu mendenahkan seluruh istana agar ia tidak tersesat lagi jadi jika terjadi hal darurat ia tidak akan tewas dengan mudah.


Kemarin malam Aldric meminta salah satu pelayan untuk membawakanya sebuah arang dan kertas yah gambarnya tidak akan jadi bagus atqu rapih tapi setidaknya itu dapat membantu menunjukan lokasi.


ia keluar dan mulai menggambar dan jika ada sesuatu yang mencolok di sebuah ruangan yang berbeda dengan yang lain ia memberi sedikit catatan atau gambar tambahan di ruangan tersebut, setelah dua jam ia selesai menyelesaikan denahnya itu selesai itu adalah kekacauan di atas kertas walau begitu ia terlihat bangga karena ia terlihst dapat membaca denah itu tanpa masalah.


Dan di situ juga ia baru sadar bahwa kemarin ia tersesat karena berputar putar di 2 lorong dan 3 ruangan yang sama, ia sedikit malu dengan hal ini namun ia tahu ini adalah jenis kesalahan yang hanya ia yang tahu jadi ia tidak terlalu malu dengan kesalahan ini.


Setelah menyelesaikan lantai di mana kamarnya berada ia berencana untuk mendenahkan lantai yang ada di bawahnya, ia kembali ke kamarnya dan mengambil kertas baru yang masih bersih dan pergi ke lantai bawah dan mulai menggambar lagi ia melakukan ini secara sembunyi sembunyi dari para pelayan yang bertugas


Aldric dengan hati-hati dan diam-diam melanjutkan upayanya untuk mendenahkan lantai bawah istana. Ia ingin memastikan bahwa tidak ada lorong atau ruangan yang akan membuatnya tersesat lagi. Dengan arang dan kertas baru yang dipegangnya, Aldric memulai proses menggambar denah lantai bawah.


dan ia melakukan ini hingga sore hari karena ada 20 lantai di bawahnya, belum lagi lantai yang ada di atas kamarnya, namun ia tidak berkecil hati malahan ia semakin senang karena ia tahu ia tidak akan tersesat lagi dan dapat menjelajahi istana indah dan mewah tersebut.


Sampai akhirnya ia sampai di lantai pertama, lantai pertama terlihat lebih seperti post pertahanan, mungkin memang pertahanan terakhir sebelum lawan dapat mengakses istana ?, banyak sekali penjaga dan mereka bukan sembarang penjaga, ujung tombak mereka menyala oranye dan udara di sekitar ujung tombak itu gelombang panas dapat terlihat mengelilinginya.


Beberapa penjaga juga memiliki pedang yang amat besar walau begitu jumlah mereka begitu sedikit mungkin mereka lebih elite dari pada pasukan yang membawa tombak itu ?.


Awalnya Aldric tidak begitu memperhatikan namun terdapat goyangan di udara di beberapa pojokan ia tidak tahu apa itu, tapi sebaiknya ia tidak mendekatinya mungkin mereka pasukan bertipe assasin atau semacamnya, andai saja ia tidak mencari setiap detil ruangan/area untuk di catat mungkin Aldric tidak akan melihat atau menyadari mereka.


Para pemanah juga tidak kalah tersembuyi dari pasukan asassin itu, mereka menjaga post dari sudut yang sulit di raih namun mereka dengan mudah dapat menembak siapapun yang mendekat,


Aldric pun keluar dari istana untuk pertama kalinya padang rumput luas dan juga benteng raksasa di sebagai latar belakanya, ya istana di kelilingi oleh benteng besar dengan tinggi 30 meter ketebalanya kurang di ketahui namun yang jelas itu kokoh.


Ketika ia mulai berjalan seorang penjaga datang, ia menggunakan armor hitam tebal, kedua tanganya masing masing memiliki perisai bundar besar yang menutupi seluruh tanganya, armornya terlihat begitu berat dan terlihat tidak praktis anehnya ia bergerak layaknya orang normal.


"tuan Aldric, apa yang anda lakukan di sini ?" suaranya begitu berat, suara nafasnya dapat di dengar beradu dengan helm yang menutupi kepalanya itu.


"um... A-aku hanya jalan jalan saja" Kata Aldric sambil sedikit gugup, "ah.... Sudah lama anda tidak berjalan jalan di luar istana.... Izinlan saya mengawal anda", Katanya sambil menunduk, walau penampilanya sedikit seram kelihatanya ia orang baik "iya tentu" Aldric tidak bisa menolaknya lagi pula ia sedang di luar istana walau tidak di luar benteng sesuatu mungkin bisa terjadi sebaiknya berjaga jaga.


Mereka berjalan bersama di sekitar istana, menjelajahi padang rumput yang luas dan melihat benteng yang menjulang tinggi di sekelilingnya. Aldric terkesima dengan kekokohan dan keindahan istana tersebut, serta pengawalan yang serius yang dilakukan di sekitaran luar istana.


"hm.... Hey seberapa tebal benteng itu" tanya Aldric dengan penasaran, "oh benteng itu adalah benteng terbaik tuan ku, di bangun pada zaman chief god, di bangun langsung di saat zaman kegelapan, energi si-" penjaga itu berhenti berbicara ketika ia mau menyebutkan kata sihir, mungkin ia tidak enak dengan tuanya yang tidak bisa menggunakan sihir.

__ADS_1


"um ?, ada masalah ?" penjaga itu kelihatanya sulit menjawab "m-maaf tuan.... Saya tidak bermaksud..." katanya sambil menunduk, di situ Aldric paham apa yang terjadi sama seperi kaka kakanya yang menghidari topik sihir saat bicara denganya.


"hey tidak masalah ayo lanjutkan ceritanya, aku malahan ingin tahu lebih banyak tentang benteng ini", melihat permintaan tuanya penjaga itu melanjutkan ceritanya "sihir yang mengalir di benteng ini layaknya darah terpompa oleh tekad orang orang dari masalalu dan masa kini untuk melindungi masa depan, sekarang benteng ini adalah pelindung kastil negeri ini.... Padahal dulu ini adalah benteng pertahanan terakhir umat manusia, sebelum ras non manusia membuat aliansi dengan unat manusia.


Aldric mendengarkan dengan antusias cerita yang diceritakan oleh penjaga tersebut. Ia tertarik dengan sejarah dan signifikansi benteng itu bagi kerajaan dan umat manusia. Meskipun penjaga terlihat enggan membicarakan sihir, Aldric tetap ingin mengetahui lebih banyak.


"Menarik sekali," kata Aldric dengan penuh minat. "Apakah benteng ini pernah mengalami serangan yang signifikan?".


Penjaga itu mengagguk, "dulu benteng ini di hantam oleh monster kelas world eater dan mengalami kerusakan yang tidak dapat di perbaiki, sebuah retakan besar.... Jika anda ingin melihatnya anda harus ke luar benteng... Jika anda benar benar ingin melihatnya sebaiknya minta izin raja untuk ke luar istana".


Aldric menggelengkan kepalanya,"itu tidak perlu cerita darimu sudah cukup, itu adalah cerita yang menarik... Apa nama benteng in-" Aldric keceplosan bertanya nama benteng itu, sebagai pangeran negeri itu seharusnya ia tahu nama benteng tersebut, bukan ?.


"ah, iya tidak heran anda bingung banyak nama untuk benteng ini seperti benteng dewa..., atau... Um... Benteng harapan, namun para pendiri kuil dan celestial memanggilnya Sanctuary Fortress... aku tidak tahu apa artinya tapi itu terdengar lebih baik dari pada nama lain yang pernah aku dengar..." kata penjaga itu sambil melihat ke arah menteng tersebut.


"artinya benteng suci fortress artinya benteng dan sanctuary memiliki banyak arti namun dalam konteks saat ini artinya suci jadi benteng suci", penjaga itu melihat ke arah Aldric ia telihat tekejut namun sulit di lihat karena wajahnya yang tertutup oleh helm itu.


"saya tidak tahu anda bisa menggunakan bahasa kuno, jujur saja saya terkejut" kata oenjaga itu dengan nada bicara yang memuji, sementara itu Aldric masih bingung apa yang di bicarakan.... Apakah bahasa inggris adalah bahasa kuno dunia ini ?.


"t-tidak juga !, kaka ku Seraphina sering membaca buku dengan keras di perpustakaan jadi... Jadi itu tidak sepenuhnya diriku", kata Aldric dengan panik, "tetap saja anda tidak memerlukan less ataupun perguruan tinggi tapi anda bisa memahami bahasa kuno itu luar biasa", "u-um, aku tidak tahu semua kata oke benteng itu hanya kebetulan memiliki kata yang aku pahami" Aldric sekali lagi berusaha menyangkal.


Penjaga itu tersenyum, mengerti bahwa Aldric mencoba merendahkan kemampuannya. "Tetap saja, kemampuan anda untuk memahami bahasa kuno itu luar biasa. Banyak orang yang tidak bisa melakukannya, jadi anda harus bangga"


"s-sudahlah, ayo kita masuk... lagi pula malam akan tiba" Aldric berusaha mengakhiri pembicaraan mereka pun mulai berjalan di bawah langit oranye sore, namun sesuatu menangkap perhatian Aldric itu adalah Brianna.


Kalihatanya ia sedang berlatih, ia menancapkan tongkat sihirnya di tanah, dan menutup matanya, gelombang sihir bisa di rasakan keluar layaknya gelombang angin darinya, namun saat ia membuka mata ekspresi kecewa terbentuk di wajah cantiknya itu.


Aldric penasaran namun tidak ingin menggangu apapun yang ia lakukan saat ini, namun Brianna melihat ke arah Aldric dan mendekatinya dan menyilangkan tangan kanannya di dadanya.


"tuan Aldric apa yang kamu lakukan di sini ?" tanyanya, ini pertama kalinya Aldric melihat Brianna secara dekat, rambutnya pendek untuk perempuan yang bahkan tidak menutupi seluruh telinganya, rambutnya hitam berkilau bersih, farfum bunganya yang ia gunakan dapat tercium dengan jelas, gaun putih indah dan mahal itu membuat penampilanya makin cantik.


Aldric pun melakukan hal yabg sama yaitu meyilangkan tangan kanannya di dadanya, "ah putri Brianna... senang bertemu dengan anda... Saya hanya jalan jalan sore.... Tolong turunkan kata 'tuan' nya lagi pula ke dua orabg tua kita begitu dekat", Aldric berusaha untuk sopan dan tidak terlihat canggung.


"hehehe kalau begitu kamu juga turunkan kata 'putri' nya juga dong..." Brianna sambil tertawa kecil, "ah i-iya maaf... Brianna yah aku memang jarang berbicara dengan sesama bangsawan maaf"

__ADS_1


Brianna tersenyum lebar mendengar kata-kata Aldric. "Tidak apa-apa, Aldric. Aku mengerti. Kadang-kadang formalitas itu terasa sedikit kaku, bukan? Mari kita berbicara dengan lebih santai lagipula negeri kita telah bekerja sama begitu lama akan aneh jika kita berbicara layaknya orang asing"


"i-iya itu benar.... Apa yang kamu lakukan di sini ?", Brianna kesulitan menjawab tanpa kemungkinan melukai perasaan Aldric "um... Kamu tahu.... Itu loh..." Aldric lagi lagi tahu apa yang orang orang berusaha tidak bicarakan di hadapanya "sihir ?, jangan takut aku terluka hanya dengan membicarakan sihir, aku tidak se-sensitif itu" Brianna yang mendengar ini sedikit terkejut namun juga ada perasaan kekaguman "sungguh ?, kamu tidak masalah dengab orang membicarakan atau... Menggunakan sihir di hadapan mu ?, tapi kamu-"


"iya aku tidak bisa menggunakan sihir tapi bukan berarti aku membenci sihir malahan aku menyukainya dan ingin melihat banyak jenis sihir di dunia ini... Jadi apa yang kamu pelajari ?", Brianna terkesan dengan pandanga Aldric walau ia cacat dari lahir ia memiliki semangat layaknya orang normal.


"aku sedang praktik sihir radar... Aku harus mempelajarinya untuk test akhir bulan ini" Aldric terlihat tertarik sihir radar tersebut "bisa di jelaskan seperti apa sihirnya ?" Brianna mengangguk "sihir ini menembakan gelombang mana yang tipis namun sensitif di area sekitar pengguna dan makluk apapun yang tertabrak selama itu hidup dan berakal akan bisa di deteksi"


Aldric semakin tertarik "seberapa besar radius nya ?" Brianna berpikir sebentar "jarak terjauh bisa sampai 2km secara diameter tapi untuk test aku harus bisa mendeteksi sejauh 500 meter" Aldric mengagguk tanda tertarik terhadap penjelasan Brianna,"bisa berikan langkah langkahnya ?" Brianna menggelengkan kepalanya "aku tidak tahu... Aku selalu melupakanya atau aku tidak bisa memvisualkannya di kepalaku, bukunya ada di sana di atas meja"


Aldric melihat ke arah platfrom melayang sebuah buku sihir di atanya terbuka dengan langkah langkahnya Aldric oun membacanya "pertama tutup matamu dan bayangkan sudut pandang orang ke tiga, ke dua bayangkan area sekitarmu dari ingatan, ke tiga tembakan gelombang mana secara halus, ke empat rasakan interaksi mana terhadap target"


Aldric kemudian melakukan hal yang di printahkan dengan mengabaikan intruksi ke 3 dan ke 4 karena ia tidak bisa, membayangkan sudut pandang orang ke 3 sangat mudah baginya, di ilustrasi buku tersebut sudut pandang orang ke tiga layaknya seperti di game game dengan sudut pandang orang ke tiga jadi ia mudah memvisualkanya, namu Brianna tidak tahu apa itu game dengan atau bagaiman kelihatanya sudut pandang orang ke tiga.


Aldric tidak heran visualisasi adalah kunci dasar sihir di dunia itu, setidaknya itu yang di katakan buku sihir yang ia baca walau ia belum selesai membacanya.


Aldric pun memiliki ide ia mengeluarkan kertas cadangan dan arang yang ia bawa dan mulai menggambar di atas platfrom itu, Brianna terlihat bingung apa yang Aldric lakukan.


Aetelah selesai Aldric memberikan hasil gambaranya kepada Brianna itu adalah sebuab titik di tengah yang berada di dalam lingkaran sedang dan lingaran besar yang mengelilingi semuanya layaknya radar kapal selam yang lebih sederhana.


Ia memberi tanda di garis paling luar 500 meter, dan lingkaran di tengah 250 meter, dan ia oun memberikannya ke pada Brianna "coba ini" Brianna terlihat bingun "apa ini ?" Aldric oun menjelaskan "anggap titik di tengah adalah dirimu, lingkaran yang di dalam adalah radius 250 meter dan paling luar adalah 500 meter ini seharusnya lebih mudah di ingat dari pada sudut pandang orang ke 3 ini sudut pandang dari langit"


Brianna awalnya tidak yakin tapi ia akan mencoba "baiklah" ia melihat ke arah gambaran kasar Aldric dan mengingatnya di kepalanya dan fokus, ia kemudian menaruhnya di meja kemudian menancapkan tongkatnya ke tanah dan menutup matanya.


Ia dengan mudah memvisualkan gambar kasar Aldric kemudian ia menembakan gelombang mana itu, kemudian ia melihat titik titik hijau di atas gambar kasar Aldric dan itu adalah orang orang yang ada di radius 500 meter, ia melihatnya dengan jelas.


"jarak 250 meter ada 7 orang.... Jarak sekitar 270 ada 10 orang.... Jarak 500 meter.... Ada 8 orang... Aku.... Aku tahu di mana mereka !" Brianna membuka matanya ia shock dan senang di saat bersamaan air mata bisa terlihat di matanya yang berkaca kaca.


"Aldric ini berhasil ! hahaha" Aldric berdiri di hadapanya bertepuk tangan dengan senyuman lebar di wajahnya "selamat Brianna kamu berhasil !".


"oh astaga terimakasih banyak Aldric" tanpa sadar Brianna memeluk Aldric karena senang namun ia melepaskanya dengan cepat "ah... Maaf aku... Aku terlalu bersemangat" Aldric tidak terlihat keberatan dengan hal ini " hahaha tidak masalah.... Sekali lagi aku ucapkan selamat"


Pada hari itu Brianna tidak lagi menyimpan gambar Aldric di buku pelajaranya atau di kepalanya namun di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2