
Aldric duduk di kasurnya telinganya merah karena di jewer, Celestia dan Seraphina menyilangkan tangan mereka terlihat masih marah "kamu beruntung tidak terjadi sesuatu padamu", "i-iya".
Seorang pelayan masuk membuka pintu "mohin maaf sepertinya kalian tidak mendengar saya... Tadi saya mengetuk dan... Sang raja dan ratu telah tiba" Credric pun mengnangguk "ayah telah tiba ayo sambut mereka" mereka pun pergi menuju ruang tamu dan menemukan ratu dan raja Allen duduk di ruang tamu, para pelayan mengangkut kotak kotak mewah besar.
Begitu melihat Aldric sang ratu lalu menghampirinya dan memeluknya "lama tidak bertemu Aldric anak ku... Eh... Kenapa telingamu merah ?", Aldric memasang muka sedih "aku di bully oleh kaka kaka ku"
Sang ratu langsung melihat Credric, Celestia, dan Seraphina dengan mata tajam "eh... Tidak... Tidak seperti itu dengar dulu ibu", "i-iya Aldric tiba tiba saja kabur dan keluyuran sendiri" Credric hanya mengangguk.
Sang ratu menghela nafas "ya sudah setidaknya semua baik baik saja kan ?.." Aldric mengangguk dan secara tiba tiba portal hitam tercipta dan dua orang keluar darinya, itu adalah Belialor dan Lilim.
"ah teman lama ku Allen !" sapanya kepada Allen " Belialor lama tidak bertemu dengan mu..." mereka pun bersalaman "bagaimana perjalanan anda ke mari ?", "berdarah seperti biasanya" Allen dengan humoris, ya negeri Bacchus memang penuh pertumpahan darah.
Mereka pun berbincang dan tertawa satu sama lain sementara itu Lilim melihat ke arah Aldric, Allen menarik tangan Aldric dengan halus "Belialor perkenalkan dia anak bungsuku... Hahaha... Ini pertama kalinya ia keluar dari negerinya" Aldric menyilangkan lengkan kanannya di dadanya "salam kenal"
"oh sungguh ?... Sangat di sayangkan negeri pertama yang kamu injakan kaki saat keluar dari negeri mu adalah negeri Bacchus... Aku harap kamu tidak terlalu memikirkan orang orang yang mati di luar sana" Aldric mengangguk "ah tidak masalah... Saya memang tidak nyaman tapi saya juga harus paham keadaan negeri ini dengan budayanya"
Belialor mengangguk kelihatanya puas dengan jawaban Aldric "terimakasih telah bertoleransi dengan negeriku... Tidak semua orang dapat melakukanya" Lilim datang mendekati kakanya dan berbisik, Belialor langsung mengangguk "um Aldric adiku tertarik untuk berbicara secara... Privasi dengan mu" Aldric melihat ke arah ayahnya dan Allen mengangguk setuju "baiklah"
__ADS_1
Singkat cerita Aldric dan Lilim duduk di meja portable di sebuah balkoni, untung lantainya tidam terlalu tinggi atau Aldric akan begetar tidak karuan "jadi namamu Aldric kan ?" suara Lilim terdengar sangat tenang... Juga lembut namun karena tudubg menutupi wajahnya sulit mengetahui ekpresinya dan Aldric tidak menyukainya, baginya mata adalah cerminan seseorang dan ia tidak bisa melihat itu dari Lilim.
"ya... Itu jelas namaku" Lilim mrngangguk "jadi Aldric aku telah mendengar.... 'kisah' mu sebagai wali kota di kota dekat perbatasan" Aldric mengangguk "dan... ?", "aku ingin tahu apa itu semua benar ?"
Aldric mengangguk "jika kamu bertanya pada ku aku pasti akan mengatakan iya... Tapi bagaimana kamu tahu bahwa aku tidak berbohong ?" Lilim tersenyum tipis walau wajahnya di tutup kain.
"katakan saja aku dapat membaca... Ekpresi... seseorang" Aldric merasa agak tidak nyaman, menyadari bahwa Lilim dapat membaca ekspresi seseorang meskipun wajahnya tertutup "itu... Um... Mengesankan tapi jujur saja mengapa kamu ingin tahu dari awal ?", "Lilim mengangguk "seseorang yang memiliki kecacatan seperti mu dapat mengapai sesuatu yang orang biasa tidak bisa dan itu benar benar mengesankan dan membuatku penasaran... Apalagi mengingat kamu tidak bersekolah setelah ritual kedewasaan"
Aldric mengangguk "aku tersanjung... Ya semua rumor itu benar" Lilim mengangguk dan tersenyum kecil "dan bagaimana kedua assasin yang kamu bunuh saat mereka memata matai mu" Aldric terkejut dia bisa tahu hal itu padahal informasi itu di buat rahasia hanya untuk penghuni balai kota "ya begitula aku membunuh mereka... Tapi ayolah... Mereka mencoba membunuhku... Setidaknya itu yang aku pikirkan.
Lilim mengangguk "dan juga aku dengar kamu menyelamatkan dan melindungi puteri Miriel dari negeri Arrely..." Aldric mengangguk "jika dia mati pasti akan ada kerenggangan kepada dua negeri... Aku tidak menginginkan itu"
Aldric dengan tenang menjawab "tidak... Sama sekali tidak" Lilim sedikit terkejut dengan jawaban Aldric "mengapa begitu ?", "karena itu di perlukan... Pernah dengar istilah Necessary evil ?"
"apa artinya itu ?", "artinya sebuak tindakan atau situasi yang tidak di inginkan tetapi di perlukan untuk mencapai sesuatu yabg lebih baik... Ya aku melakukan itu siapapun yang macam macam dengan kota ku... Keluarga ku... Aku akan menyingkirkanya.... Dan tentu untuk sesuatu yang lebih besar dari itu"
Lilim mengangguk "lalu bagaimana dengan um... Kecacatan mu... Bukankah itu benar benar memberatkan mu untuk melakukan tindakan dan melindungi mereka ?"
__ADS_1
"jangan lihat aku lewat kecacatan ku... Aku memiliki banyak afiliasi dan mereka aku bisa katakan cukup setia pada ku" Lilim mengangguk "aku kira kamu akan menjadi seseorang yang menarik aku salah kamu sangat menarik"
"terimakasih... Um jika kamu berkenan boleh aku bertanya ?" Lilim mengangguk "tentu apa itu" Lilim meminum teh hangatnya.
"aku denger rumor kamu menyukai artefak sarkaz... Dan tolong katakan dengan jujur jika seseorang memberikan mu banyak artefak sarkaz atau artefak sarkaz tingkat tinggi akankah kamu menikahi mereka" Lilim hampir tersedak tehnya sendiri.
"ya... Um... Mengapa kamu bertanya ?" tidak mungkin aku pasti salah kira dia pasti hanya bertanya kan ?, pikir Lilim dengan sedikit canggung.
"hanya... Penasaran" tidak dia memikirkan hal yang aku pikirkan !, "baiklah... Aku tidak tahu kamu begitu berani di depan ku padahal kita baru bertemu... Kenapa tidak pakai surat ? A-atau um pesan dari ayah mu ?" Lilim menutup mukanya karena malu.
"y-ya... Untuk menjawab pertanyaan mu... Kita lihst saja hadiah nya nanti lusa" Lilim sekarang tidak bisa melakukan kontak mata ia terlalu malu, ia berdiri dan pergi dengan cepat "aku baru ingat ada urusan yang harus aku selesaikan dah"
"dia kenapa ?" tanya Aldric dengan bingung, tidak masalah Aldric sudah mendapat jawaban dan Aldric tidak mungkin membiarkan keluarga Everon menikahi Lilim ya... Dia harus melakukan penyerangan... Dan mengambil srmua artefaknya.
ia hendak pergi juga namun secara tiba tiba kursi di depanya di duduki oleh Belialor "hey Aldric... jadu bagaimana dengan pembicaraan dengan adiku ?" Aldric mengangguk "aku rasa ini cumup sukses untuk ku", "cukup sukses huh....katakan apa yang kalian bicarakan serius ?"
Aldric mengingat dan mengangguk keluhatanya mereka berbicara serius dan tidak bercanda sama sekali "ya begitulah", "jadi semua yang kamu katakan itu sesuai kebenaran ?", "tentu"
__ADS_1
Belialor diam sebentar "mari kita lihst saja nagaimana lusa apa kamu dapat membuatnya senang atau tidak di hari ulang tahunya... Aku akan membicarakan ini dengan Allen" seketika ia pergi dan Aldric bingung apa yang baru saja terjadi