
setelah leier dan Miriel masuk ibu kota sisa tentara kembali ke desa kecil yang mereka buat dan beberapa masuk ke dalam untuk berjaga jaga, Miriel memngatakan semua yang ia alami sama dengab leier yang menjelaskan situasi di sudut pandangnya.
Aldric mengangguk "mohon maaf nyonya Miriel, apa ada konflik di negeri anda saat ini ?" Miriel menggelengkan kepalanya "tidak, konflik antar elf terakhir terjadi lebih dari ratusan tahun lalu"
"kalau begitu.... Pasti pihak lain... Saya akan menghubungi ayah saya untuk mengirim pasukan penjemput ke mari" Miriel mengangguk "itu boleh, terimakasih banyak tuan Aldric"
"tolong Aldric saja... Turunkan aja 'tuan' nya" Miriel mengangguk "baiklah Aldric, kalau begitu kamu juga harus menurunkan 'nyonya' dari nama ku"
"baiklah, nyo- maksudku Miriel senang bisa membantu mu" Miriel mengangguk "terimakasih juga aku harap dengan ini kedua negeri bisa lebih akur lagi"
Miriel pun di sediakan ruang istirahat bersama 4 pasukanya yang tersisa, Aldric menerbangkan se ekor burung pesan ke ibu kota, lebih tepatnya kepada raja dan ia menerbangkan burung ke dua dengan jarak waktu 30 menit.
Saat di tengah perjalanan burung pesan itu di tembaki peluru sihir hingga jatuh dan mati, salah satu orang dengan jubah hitam mengambilnya "ya... Ini pesan untuk sang raja" rekanya juga melihat surat tersebut "kita tidak bisa membiarkan ini, apa kamu punya rencana ?"
"yang agung telah merencanakan skenario ini di kertas yang di bawa pimpinan, ayo kita kembali dan eksekusi rencananya" yang lainya berpikir sebentar "apa kamu mendapat berita apapun dari regu ke 4 ?, seharusnya mereka yang menyerang rombongan Miriel kan ?"
"kemungkinan besar mereka sedang berisitirahat atau memantau situasi, mereka tidak bisa menyerang putri Miriel secara langsung karena pasukan dari kota tersebut"
di sisi lain burung pesan ke dua berhasil melewati mereka karena mereka tidak begitu memperhatikan langit lagi, dan mereka masuk lebih dalam ke dalam hutan.
Aldric dan Miriel melakukan bincang bincang keduanya ingin mengenal satu sama lain karena memang mereka ingin memperkuat hubungan ke dua negeri, keduanya duduk di meja sambil minum teh, Aldric menemukan bahwa Miriels seperti kelihatanya anggun dan baik.
__ADS_1
Sementara Miriel menemukan Aldric sangat humoris dan sangat mudah di ajak bicara topik apapun itu karena malam mulai datang tidak mungkin pasukan kerajaan akan datang malam hari, mereka kemungkinan besar akan datang menjelang siang.
Aldric berjalan bersama Miriel, Aldric hendak mengantar Miriel ke kamar nya untuk malam itu, sampai mereka melihat di depan mereka terdapat 3 sosok dengan berjubah hitam, dan juga terlihat beberapa penjaga telah mati terbunuh oleh tiga orang itu.
"ya tuhan pertahanan balai kota ini benar benar lemah" gumam Aldric "Miriel tetaplah di belakangku" Miriel secara tiba tiba memunculkan busur sihir dari tanganya dan membidik "harusnya aku yang mengatakan itu Aldric, mereka menginginkan ku bukan dirimu lebih baik kamu mundur"
"tck... Aku tidak selemah itu" katanya sambil meraih ke pinggangnya di situ terdapat tongkat sihirnya, ketiga sosok itu berusaha bernegoisasi "kalian bertiga lebih baik menyerah, bahkan jika kalian menang takdir kota ini sudah terkunci"
"benar kami akan mengancurkan kota ini jika-" belum selesai bicara tongkat sihir Aldric menembaknya dan membuatnya hitam arang, kedua rekanya yang melihat ini kaget "brengsek !, matilah" katanya sambil melempar 3 pisau di mana Miriel berhasil menembak ke tiga lisau itu di udara "mustahil" dan lagi tongkat Aldric menembak pelempar pisau ia bahkan tidak bereaksi seperti triak atau mengalami sakit ia hanya hangus dan jatuh ke lantai.
Yang terakhir ia terlihat panik "tunggu !, jika kamu membunuhku kamu tidak akan mendapat informasi apapun !"
tongkat Aldric sekali lagi menembak, dan lagi tidak ada reaksi hanya hangus dan jatuh ke tanah Miriel yang melihat ini sedikit mempertanyakan tindakan Aldric "Aldric mengapa kamu membunuhnya ?, dia sudah menyerah" Aldric melihat ke arah Miriel "aku telah berhadapan dengan krang orang seperti ini sebelumnya, semua yang keluar dari mulut mereka hanya omong kosong, jangan percaya bandit atau pun kultis... Tentu jika kamu tidak siap dengan konsekuansinya"
"Dengan semua yang telah terjadi, apakah kita tetap berada di jalur yang benar, Aldric? Apakah ada cara lain untuk menyelesaikan masalah tanpa harus selalu membunuh?" tanya Miriel, mencoba mencari pemahaman
"Kamu tahu, Miriel, aku tidak suka membunuh," katanya dengan suara pelan. "Tapi dalam dunia ini, kadang-kadang keputusan sulit harus diambil. Aku berusaha untuk tidak terlalu mudah mengambil nyawa orang, tetapi kadang-kadang tak ada pilihan lain"
Miriel menganggku "kamu benar... Aku tidak memiliki pengalaman di lapangan seperti mu, bahkan dengan umurku yang 170 tahun ini... maaf bertanya pasti itu pertanyaan sulit untuk di jawab"
Aldric tertawa kecil untuk meringanlan suasana "ah sudahlah... Itu hal kecil kamu akan paham pada waktunya" di saat itu juga para penjaga datang "tuan Aldric apa anda baik baik saja" sama dengan ke empat pasukan elite Miriel "tuan putri apa semua baik baik saja ?!, kami mendengar keributan dan-...!" mereka terkejut melihat ke tiga mayat yang gosong itu.
__ADS_1
"tenanglah kalian, Aldric menyelamatkan ku" ke empat prajurit elit itu menghela nafas lega "sukurlah... dewi Victoria masih bersama kita"
Aldric menghela nafas "baiklah tolong antar Miriel ke kamarnya" kata Aldric kepada ke empat pasukan elite itu, mereka setuju namun secara tiba tiba assasin jauh dari belakang melempar belatinya ke arah Miriel tepat di lehernya.
Miriel berpaling dan melihat pisau itu datang namun tidak cukup cepat untuk bereaksi, Aldric yang telah mengetahui keberadaan assasin itu langsung melindungi nya dengan lenganya, belati itu menusuk masuk ke pergelangan tangan Aldric.
Miriel melihat ini membidik dengan panah sihirnya dan menambak mati assasin itu dan langsung berpaling ke arah Aldric "Aldric kamu baik baik saja ?" Aldric melihat ke tanganya di mana sebuah belati menancap "tidak, ini hanya luka kecil... Sukurlah tidak ada racun hahaha" tawa Aldric berusaha meringankan suasana yqng benar benar intens untuk Miriel.
Meskipun Aldric berusaha menutupi rasa sakitnya dengan tawanya, Miriel tetap bisa melihat ekspresi kepedihan di wajahnya. Hatinya berdesir khawatir melihat temanya terluka seperti ini, Miriel terlihat khawatir dan cemas, "Aku minta maaf, Aldric. Aku tidak bisa melindungi diriku sendiri dengan baik."
"hahaha... Apa maksud mu, kehadiran assasin itu di luar perkuraan tentu semua orang akan tersang, aku beruntung dapat menahan belati itu dengan tangan ku dari pada belati itu menancap di lehermu" Aldric kemudian melihat lukanya darah mulai keluar dari sela sela belati tersebut, aneh seharusnya belati itu bertindak layaknya penyumbat agar darahnya tidak keluar.
"oh wow lihat itu belati ini memiliki rune bleeding" kata Aldric melihat darahnya yang menetes Miriel tetap khawatir meskipun Aldric berusaha menyembunyikan rasa sakitnya dengan candaan. "Kamu perlu mendapatkan pertolongan segera," ujarnya cepat. "Aku akan membawamu ke cleric terdekat atau penyihir yang bisa mreakukan heal untuk merawat lukamu."
"tidak kamu pergi ke kamar mu, akan buruk jika kita di serang lagi" Miriel tdengan khawatir "tapi-" Aldric memotong dan menenangkanya "ah tenang lah... Aku baik baik saja, jika kamu mati masalahnya akan lebih ribet lagi" Miriel pun paham dan dia di antar oleh ke empat tentaranya sementara Aldric di bawa oleh penjaga ke cleric terdekat dengan belati yang masih menancap.
ke empat prajurit elite Arrely milik Miriel mulai membicarakan Aldric "aku tidak percaya pangeran dari negeri Solantia begitu teguh" yang lainya mengangguk "iya mengingat kondisi tubuhnya saat lahir, dengan ke cacatanya ia masih bisa tersenyum di saat terluka ?, itu gila aku mungkin akan memilih mati" ujar rekanya itu.
"jadi kamu berpikir dia lebih baik mati ?" tanya rekanya "astaga pikiranmu pendek sekali, maksudku jika aku ada di posisinya aku lebih baik mati, tapi dia sangat kuat (secara mental)"
"aku setuju aku tidak yakin bisa hidup di tempatnya walau seorang pangeran aku tidak bisa lepas dari sihirku" sementara itu Miriel melamun sambil berjalan berpikir apakah Aldric akan baik baik saja ?.
__ADS_1