
Sepulang sekolah Valeri, Asha dan Stela, menyempatkan main ke ruamh Layla. Sesampainya di rumah Layla mereka bertiga langsung masuk ke dalam kamar Layla.
"Ibu buatkan susu ya." Anita tersenyum melihat Layla terlihat senang saat teman temannya datang. Lalu ia keluar kamar Layla.
Mereka pun berbincang bincang melepas rindu, selama ini mereka selalu sama sama, tapi semenjak Kei tidak pernah sekolah lagi. Layla pun tidak pernah masuk sekolah.
Tak lama kemudian, Anita datang dengan membawakan empat gelas susu hangat dan cemilan. "Nih, Tante bawakan makanan." Anita meletakkan nampan dan cemilannya di atas meja.
"Terima kasih tante!" jawab mereka serempak.
Anita menganggukkan kepala dan tersenyum, lalu ia balik badan meninggalkan kamar Layla.
"Jadi, kau akan pergi ke Belanda?" tanya Valeri. Tangannya mengambil gelas susu yang ada di atas meja.
Layla menganggukkan kepala, "iya benar."
"Apa Kei tahu?" tanya Asha, sambil mengunyah makanan.
Layla menggelengkan kepala, "Kei belum tahu."
"Apa rencanamu, Layla?" tanya Stela sambil menyecap susu hangatnya.
"Aku mau, kalian beritahu Kei, tentang kepergianku ke Belanda." Layla menatap wajah temannya satu persatu.
"Soal itu tenang saja Layla." Asha bangun dari kursi dan berdiri.
"Kau mau kemana?" tanya Layla, wajahnya tengadah menatap Asha.
"Aku hendak ke rumah Kei sekarang, nanti bisa atau tidaknya Kei datang," Asha menghela napas panjang. "Aku segera kembali." Asha melangkahkan kakinya.
"Ih, tuh anak main nyelonong aja." Stela tertawa kecil melihat Asha yang pergi begitu saja.
"Ya, tidak apa apa juga, kita tunggu Asha di sini." Valeri melangkahkan kakinya menuju balkon. Ia memperhatikan Asha dari atas.
****
Sepuluh menit betlalu, akhirnya Asha sampai di belakang rumah Kei. Ia keluar dari dalam mobil dan berjalan mengendap endap lewat pintu belakang rumah Kei yang tetbuka. Lalu ia mengetuk jendela kamar Kei.
"Kei..." Asha mengetuk pintu sambil memanggil nama Kei.
Beberapa detik kemudian, suara pintu jendela di buka dari dalam dengan perlahan. Asha bisa melihat Kepala Kei menyembul dari jendela.
"Asha?" Kei menatap Asha yang tertawa kecil sambil membungkam mulutnya sendiri.
"Kei, ada yang penting" ucap Asha pelan.
"Ada apa? apa Layla sakit?" Kei balik bertanya.
Asha menggelengkan kepala, "Bukan Kei, tapi Layla hendak pergi ke Belanda besok siang bersama keluarganya." Asha menengok kiri dan kanan.
"Belanda?" Kei terdiam sesaat, "Asha, katalan pada Layla. Aku menunggunya di persimpangan jalan dekat rumah Layla."
Asha menganggukkan kepala, ia mengangkat tangannya pada Kei, "oke".
Setelah sepakat, Asha melangkahkan kakinya mengendap endap ke pintu belakang dan langsung masuk ke dalam mobil kembali ke rumah Layla.
Sesampainya dirumah Layla, Asha menceritakan semuanya pada Layla. Asha juga meminta Layla untuk datang nanti malam ke persimpangan jalan dekat rumah Layla.
" Gila lu ya," Valeri menepuk pundak Asha, "lu tidak ketemu Ibunya yang sombong itu kan?"
Asha menepuk dadanya sambil tertawa, "Asha gitu loh."
Sesaat Valeri dan yang lain saling pandang, lalu mereka tertawa bersama.
"Hahahaha!"
Layla tersenyum menatap ketiga sahabatnya itu, mereka selalu ada dan membantu Layla untuk selalu bertemu dengan Kei. Mereka juga tidak pernah meninggalkan Layla, meskipun orang lain menjauhi Layla karena di kira gila.
Waktu terus berjalan, akhirnya Valeri dan dua temannya berpamitan pulang pada Layla dan Anita.
Sepeninggal ketiga temannya, Layla duduk termenung di balkon menunggu waktu malam tiba. Ia sudah tidak sabar menunggu untuk segera bertemu Kei. Tatapannya kosong ke depan, bibirnya melantunkan syair tentang cinta.
****
Malam itu udara sangat dingin menusuk ke tulang. Layla mengendap endap di samping rumahnya dan berjalan dengan sangat perlahan meninggalkan rumah untuk bertemu dengan Kei di persimpangan jalan raya yang tak jauh dari rumah Layla. Layla sudah memberitahu Kei akan keberangkatannya keluar Negeri berkat bantuan Stela dan dua temannya itu.
Hanya butuh beberapa menit akhirnya Layla telah sampai di persimpangan jalan. Disana telah menunggu dengan sabar Kei duduk di tepi jalan yang sepi. Layla langsung berlari mendekati Kei. Kei yang menyadari ke datangan Layla langsung berdiri dan merentangkan ke dua tangannya menyambut Layla. Layla langsung menubruk Kei dan memeluknya erat erat.
__ADS_1
"Kei." Ucap Layla menenggelamkan wajahnya di dada Kei.
"Layla." Kei mengecup puncak kepala Layla dan menghirup aroma tubuh Layla dalam dalam.
Cukup lama mereka berpelukan dengan sangat erat. Tak ada kata yang terucap dari bibir ke duanya. Akhirnya Layla angkat bicara memecah kebisuan. "Kei, aku-?"
"Aku tahu Layla, ini sangat berat buatku. Tapi aku akan sabar menunggumu di sini" ucap Kei menatap wajah Layla tanpa melepaskan pelukannya.
"Tapi aku takut Kei." Air mata Layla mulai turun dari sudut matanya.
"Layla, aku tidak pernah jauh darimu, aku selalu ada di hatimu. Begitu pula dengan kau Layla." Kei semakin mengeratkan pelukannya.
"Kei"
Kei terus memeluk Layla dan tak mau melepaskannya. Malam ini adalah malam perpisahan Kei dan Layla. Karena besok siang Layla akan pergi ke Belanda bersama ke dua orang tuanya.
"Ya Rabb, jika memang cintaku adalah dosa. Tunjukkan padaku di mana letak kesalahannya" ucap Layla pelan.
"Tidak Layla, Cinta bukan sebuah kesalahan. Cinta yang kita miliki bukan cinta hanya karena nafsu" jawab Kei dengan mata berkaca kaca.
"Jika ke Agungan cinta yang kita miliki Engkau restui. Maka persatukan kami walau itu dengan cara kematian" jawab Layla.
"Layla" gumam Kei dengan sangat lembut.
"Di setiap hembusan napasku, aku abadikan namamu." Layla tengadah menatap Kei dengan senyuman tersungging di bibir Layla yang merah merekah.
"Aku akan mencintai dan menyayangimu sampai Tuhan memanggilku."
Sesaat mereka terdiam, "kenapa kau diam?" tanya Layla tengadahkan wajah menatap Kei.
"Aku takut Layla."
"Kenapa?" tanya Layla lagi.
Kei menarik napas dalam, "orang tuaku akan menjodohkanku, layla" ucap Kei. "Aku takut, saat kau pergi, aku tidak bisa bertemu denganmu lagi."
Layla menundukkan kepala, " aku pergi demi Ayah dan Ibuku."
"Apa yang harus kita lakukan, Layla." Kei mendesah putus asa, dia sangat tidak ingin Layla pergi, tapi dirinya sendiri di hadapkan pada perjodohan yang tidak dia inginkan. Sebagai laki laki, ia tidak ingin cengeng dan menyerah begitu saja. Tapi keterbatasan yang Kei miliki tak mampu ia berbuat lebih. Apalagi, dimata kedua orang tuanya, mereka hanyalah anak anak yang masih harus di atur. Kei menarik napas dalam dalam memeluk Layla erat erat.
Layla larut dalam kehangatan pelukan Kei, meskipun tak banyak mereka bicara. Waktu terasa cepat berlalu. Kei melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 22:00.
"Tapi Kei-?"
Layla tidak mau berpisah dengan Kei. Hatinya menjadi sangat sesak dan sakit. Sesuatu yang tak bisa Layla ungkapkan. Betapa pedihnya berpisah dari Kei. Kei pun merasakan hal yang sama seperti Layla. Keduanya akhirnya menangis dengan berpegangan tangan.
"Layla, hapus air matamu." Kei mengusap lembut pipi Layla yang basah oleh air mata.
Layla terus saja menangis sambil menggelengkan kepala. "Kei, jaga dirimu baik baik dan jangan lupakan aku."
Kei menggelengkan kepala dan berkata,
"tidak mungkin Layla."
Perlahan Kei lepaskan genggaman tangannya, Kei masih melihat Layla yang terus menangis. Layla perlahan berjalan mundur dan melambaikan tangan pada Kei. Kei tersenyum getir menatap Layla sembari menganggukkan kepala. Lambaian tangan Layla malam itu adalah malam terakhir Kei melihat Layla dan tidak akan bertemu untuk waktu yang lama.
Kei terus menatap Layla yang berjalan mundur hingga hilang dari pandangan.
kemudian Kei duduk di tepi jalan raya memikirkan bagaimana seandainya dia tidak bertemu dengan Layla untuk selamanya? Kei tidak bisa.
Terbersit di dalam pikiran Kei untuk menyusul Layla dan membawanya pergi. Kei tersentak sadar dari lamunananya dan langsung bangun mengejar Layla. Beruntung Layla belum sampai ke rumahnya. Kei masih melihat Layla tengah berjalan perlahan dengan menundukkan kepala di jalan setapak yang sepi.
"Layla!"
Layla terkejut seperti ada yang memanggilnya. Layla menghentikan langkahnya dan berucap pelan. "Kei, aku tidak bisa jauh darimu."
"Layla!"
Layla baru sadar ketika namanya di panggil untuk ke dua kali. Dia berpikir bahwa itu hanyalah lamunannya saja. Layla menoleh ke belakang melihat Kei tengah berlari mendekatinya. Layla akhirnya berlari mendekati Kei dan langsung memeluknya erat.
"Layla, aku tidak bisa jauh darimu. Tidak bisa Layla." Kei memeluk Layla erat.
"Aku juga Kei."
"Layla, aku mau mengajakmu pergi dari rumah lagi bagaimana?"
Layla langsung mengangguk dengan cepat. "Aku mau Kei."
__ADS_1
Kei melepas pelukannya dan merogoh saku celananya. Kei mengeluarkan dompet kecil di saku celana dan membuka dompet itu. Kei memeriksa apakah dia masih punya uang untuk melarikan diri lagi. Kei tersenyum dan berkata, "aku masih punya uang Layla, ini cukup untuk kita bertahan dua bulan." Kei menatap Layla dan memperlihatkan sejumlah uang di dompetnya.
"Aku juga punya Kei, tapi tidak banyak" jawab Layla.
"Kau tidak perlu khawatir, aku bisa mencari pekerjaan. Apapun pekerjaannya akan aku kerjakan" ucap Kei semangat.
"Kau benar Kei, aku juga bisa melukis dan menjual lukisanku" timpal Layla menambah semangat mereka untuk pergi jauh dari rumah dan hidup bersama.
Akhirnya mereka berdua sepakat untuk pergi dari rumah malam itu juga. Kei langsung bergegas melangkahkan kakinya menuju jalan raya sambil menggenggam erat tangan Layla.
Beruntung malam itu masih ada angkutan umum yang menuju sebuah terminal. Kei dan Layla naik ke dalam angkutan umum menuju terminal.
****
Pagi pagi sekali rumah Surya dan Anita geger karena telah kehilangan Layla untuk yang ke dua kalinya. Anita menangis sesegukan tidak dapat menahan rasa sedih dan kecewa.
Layla, kau pergi kemana lagi sayang." Anita mondar mandir di ruang tamu sambil menangis.
"Sabarlah Bu, Layla pasti kita temukan lagi," Surya menatap Anita. "Layla pasti pergi bersama anak laki laki itu."
"Anak itu selalu bawa masalah! sama seperti orang tuanya yang keras kepala dan sombong itu!" seru Anita menatap Surya.
"Bu, mereka masih anak anak, yang salah itu orangtuanya." Surya berdiri dan berjalan ke arah Anita.
"Tenangkan hatimu, Bu."
"Bagaimana mau tenang Pak! Layla anak kita satu satunya, dia di luar sana mau makan apa?!" Tangis Anita semakin pecah, mengingat peristiwa terdahulu. Layla di temukan dalam keadaan tak terawat.
"Aku tahu Bu, kita cari Layla." Surya memeluk Anita dan mengusap punggung Anita supaya tenang.
Tiba tiba mereka di kejutkan oleh kedatangan Abdul dan Alya. Mereka datang tanpa permisi langsung masuk kedalam rumah dengan wajah emosi.
"Surya! dimana kau sembunyikan anakku!" seru Abdul pada Surya.
Surya melepaskan pelukannya dan langsung mendekati Abdul, mencengkram kerah baju Abdul dengan raut wajah tidak suka.
"Jaga mulutmu, Abdul."
Abdul menepis tangan Surya dan menghempaskannya ke bawah. "Itu kenyataan, anakmu pembawa sial!"
"Buggg!"
Surya meninju perut Abdul dengan keras. Hingga Abdul terhuyung kebelakang sambil memegang perutnya yang terasa sakit. Abdul menatap tajam Surya, giginya gemelutuk menahan amarah. Abdul maju selangkah hendak menghajar Surya, tapi di cegah oleh Alya.
"Cukup Pak! cukup! seru Alya memeluk tubuh Abdul.
" Lepas Bu! dia harus di beri pelajaran!" seru Abdul dengan tatapan lurus ke arah Surya.
"Cukup!" Anita terus memeluk tubuh Abdul.
"Anak sama Bapak, sama sama pembawa sial!" Abdul semakin tidak bisa menahan emosinya, cacian dan hinaan terus mengalir dari mulut Abdul.
Surya dan Anita hanya diam mendengarkan semua hinaan Abdul, mereka masih bisa menguasai emosinya, Surya dan Anita masih bisa lebih bijaksana dalam menanggapi masalah ini. Berbeda dengan Abdul dan Alya yang selalu mengkambing hitamkan orang lain atas permasalahan yang menimpa mereka.
"Aku akan menuntutmu Surya."
Surya tersenyum tipis, "silahkan jika kau mampu mengguhatku secara hukum, Abdul."
"Cuih!" Surya membuang muka dan membuang ludah ke lantai.
"Kau memang kaya, tapi bukan berarti kau bisa bebas dari hukum."
"Silahkan kalau ada bukti, jika memang aku melarikan atau menyembunyikan anakmu." Surya tertawa kecil menanggapi kata kata Abdul yang diluar nalar.
"Pak, sudah..sudah.." ucap Anita pelan.
"Biarkan saja Bu, biar kita tahu apa isi kepalanya," Surya melirik sesaat ke arah Anita. "Dia memang selama ini yang tidak waras, bukan Putri kita!"
"Kurang ajar!" seru Abdul hendak menerjang Surya.
"Cukup Pak! cukup!" Alya tetap menahan Abdul untuk tidak berkelahi.
"Sebaiknya kita pulang Pak, Kei memang tidak ada disini." Alya menatap keseluruh ruangan untuk memastikan Kei memang tidak ada di rumah Surya.
"Bawa dia pulang! dan biarkan dia melaporkan saya ke polisi!" timpal Surya tersenyum sinis menatap Abdul.
"Ingat baik baik, jika kau yang menyembunyikan anakku, kau akan membusuk di penjara!" seru Abdul.
__ADS_1
"Silahkan!" Surya tidak takut dengan ancaman Abdul. karena memang dia tidak menyembunyikan Kei. Bahkan Layla sendiri menghilang. Seharusnya Abdul lah yang paling rentan berhadapan dengan Polisi. Bisa saja Surya melaporkan Kei karena telah membawa kabur Putri mereka. Tapi Surya masih punya akal sehat, di teliti dulu baru bicara. Tidak seperti Abdul yang asal bicara dan asal menuduh.
Akhirnya Alya dan Abdul memutuskan untuk pulang dan melaporkan kasus ini pada Polisi.