Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 26: Niat buruk


__ADS_3

Keseokan harinya, Raiden dan Layla membuka kelas seni melukis di rumahnya. Raiden juga membuatkan spanduk di pintu gerbang rumah Layla yang berisikan pemberitahuan bahwa di rumah Layla membuka kelas seni melukis untuk berbagai usia. Satu hari berlalu tak ada yang datang untuk mendaftar ikut masuk dalam kelas seni lukis Layla. Tapi dua hari kemudian ada dua anak remaja yang mau belajar seni lukis di rumahnya Layla.


Layla membuka ruang untuk melukisnya di halaman samping rumah yang di buat taman dipenuhi dengan berbagai macam bunga dengan corak dan warna yang berbeda, yang di dominasi oleh suara gemericik air mancur yang mengalir ke sebuah danau buatan yang berukuran kecil. Sehingga suasana tenang dan asri membuat dua anak remaja yang bernama Sisil dan Mila betah untuk belajar seni melukis bersama Layla.


"Apa kau bahagia Layla?" tanya Raiden merangkul pundak Layla.


Layla menoleh menatap Raiden sesaat lalu beralih menatap Sisil dan Mila. "Iya, aku bahagia" ucap Layla sembari menundukkan kepala sesaat.


"Hei, kenapa?" tanya Raiden mengangkat dagu Layla.


"Tidak apa apa." Layla tersenyum lalu melepaskan tangan Raiden dari pundaknya. Lalu berjalan mendekati Sisil dan Mila yang tengah melukis.


Raiden menghela napas panjang, sesaat ia menundukkan kepala. 'Aku tahu kau belum bisa menerimaku,' ucap Raiden dalam hati. Kemudian Raiden berjalan mendekati Layla, Sisil dan Mila.


Hari demi hari, kelas melukis yang Layla kelola semakin hari semakin ramai. Membuat Layla sedikit sibuk dan mengalihkan perhatiannya akan tentang sosok Kei.


***


Layla melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 7:30. Dia masih duduk di kursi taman enggan untuk beranjak dari tempat ia duduk. Layla menghela napas panjang, wajahnya tengadah menatap langit bertabur bintang. "Kei, apakah kau sudah terlelap? seperti sinar rembulan yang tersipu malu menatapku." Gumam Layla pelan, ia tersenyum saat daun kering jatuh tertiup angin mengenai wajahnya seolah Kei menjawab pertanyaannya. "Kau belum tidur Kei?" ucap Layla pelan sambil memungut daun kering itu. Lagi lagi Layla tersenyum saat angin sepoi sepoi menyentuh kulitnya.


"Ehem"


Suara batuk kecil di belakang Layla mengejutkannya. Layla menoleh kebelakang menatap seorang pria tampan berambut pirang menggunakan kemeja berwarna krem. "Rai?"


Raiden tersenyum lalu berjalan mendekati Layla.


"Duduk Rai" Layla menggeser duduknya dan memberikan ruang untuk Raiden duduk di sebelahnya. Raiden pun duduk di sebelah Layla dan menatap wajah Layla yang terlihat bahagia.


"Layla, apa aku mengganggumu?" tanya Raiden ragu ragu.


Layla menggelengkan kepala cepat. " Tidak Rai, aku senang kau datang" jawab Layla menatap wajah Raiden.


"Layla, besok aku mau mengajakmu jalan jalan, apa kau mau?" tanya Raiden.


"Aku tidak bisa Rai, besok aku mau ke pemakaman Ayah dan Ibu" jawab Layla sedikit memajukan bibirnya.


"Oh, aku ikut boleh?" tanya Raiden dengan mengangkat satu alisnya menatap Layla.


"Tentu, tapi..apakah tidak mengganggu pekerjaanmu Rai?"


Raiden menyelipkan rambut di telinga Layla dan berkata dengan senyuman tersungging di bibirnya yang tipis.


"Aku ingin selalu mendampingimu di setiap suka dan dukamu Layla" jawab Raiden.


"Ih kau ini." Layla tertawa kecil sembari mencubit perut Raiden.


"Awww, sakit, sakit" ucap Raiden meringis.


"Kalau tidak mau di cubit, jangan bicara seperti itu" ucap Layla memajukan bibirnya menatap horor Raiden.

__ADS_1


"Krucukk"


Tiba tiba Layla mendengar suara perut Raiden berbunyi. Layla membulatkan mata, sementara satu tangan kanannya menyentuh perut Raiden yang kemerucuk. "Apa kau lapar?" tanya Layla.


Raiden menganggukkan kepala tertawa kecil sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ayo kita makan." Layla menarik tangan Raiden untuk berdiri. Lalu mereka melangkahkan kaki memasuki rumah.


"Mbok masak apa?" tanya Layla menatap Mbok Darmi yang tengah menyiapkan makan malam.


"Mbok masak makanan kesukaan Neng Layla" jawab Mbok Darmi sambil meletakkan segelas susu hangat.


"Uhh, makasih Mbok" jawab Layla sembari memeluk Mbok Darmi dari belakang.


"Sama sama Neng."


Layla melepas pelukannya lalu duduk di kursi , di ikuti Raiden yang juga duduk di kursi bersebelahan dengan Layla.


"Makan yang banyak biar perutmu tidak berbunyi lagi" ucap Layla tertawa kecil sambil menyodorkan piring di hadapan Raiden.


Raiden tersenyum tipis menatap Layla. "Tentu, akan aku habiskan semuanya."


Layla dan Raiden menyantap makanannya di selingi canda tawa terlontar indah di meja makan, ditemani Mbok Darmi dan Mang Usman yang selalu makan bersama tak ada perbedaan status di antara mereka sejak masih ada Anita dan Surya.


Setelah mereka selesai makan, Mbok Darmi membereskan semuanya. Sementara Layla mengantarkan Raiden yang hendak pulang sampai depan rumah.


Layla menganggukkan kepala. "Iya."


"Aku pulang ya Layla" ucap Raiden lagi sambil tertawa kecil.


Layla melepas tangan Raiden dan mencubit perut Raiden dengan gemas. " Iya bawel!"


"Hehehe"


"ih ketawa lagi, ayo cepetaaan!" ucap Layla mendorong dada bidang Raiden supaya cepat pergi dari rumahnya.


"Oke, oke, bye!" ucap Raiden melambaikan tangannya sesaat dengan tertawa kecil, lalu memutar tubuh melangkahkan kakinya menuju mobil. Raiden membuka pintu mobil, lalu ia kembali menoleh menatap Layla, bibirnya yang tipis ia majukan sedikit lalu berkata. "I love you."


Layla langsung menatap horor Raiden, dan memungut sandal yang ada di depan pintu hendak ia lemparkan ke arah Raiden.


"Hahahaha!"


Raiden tertawa dan langsung masuk ke dalam mobil saat tahu Layla akan melemparnya dengan sandal. Kemudian ia nyalakan mobil dan meninggalkan rumah Layla.


Layla tersenyum menatap mobil Raiden.


"Dasar genit" ucap Layla pelan. Lalu ia kembali masuk ke dalam rumah.


***

__ADS_1


Pukul 8:30. Saatnya jam kerja di perusahaan Raiden. Raiden duduk di kursi ruang kerjanya memeriksa beberapa file perusahaan. Ia cepat cepat menyelesaikan pekerjaannya dan berniat untuk segera ke rumah Layla.


"Tok tok!"


Dari arah luar pintu terdengar suara pintu diketuk. Raiden melirik sesaat ke arah pintu dan berkata. "Masuk."


Sekertaris Raiden membuka pintu dan langsung mendekati meja Raiden. Raiden menoleh menatap Sekertarisnya. "Ada apa?"


"Maaf Pak, di depan ada Pak Yuda hendak bertemu Bapak" jawab Sekertaris itu.


Raiden mengerutkan dahi menatap sekertarisnya. "Yuda?"


"Benar Pak."


Sesaat Raiden terdiam. "Biarkan dia masuk."


"Baik Pak" jawab Sekertaris itu lalu melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Raiden.


Tak lama kemudian Yuda mengetuk pintu, lalu masuk ke dalam ruangan Raiden. Raiden berdiri sembari membereskan semua file menjadi satu. "Ada apa?" tanya Raiden.


"Boleh saya duduk Pak Rai?" Yuda balik bertanya.


"Tidak perlu, katakan saja ada perlu apa, saya sibuk" jawab Raiden tanpa menatap Yuda. Ia sibuk membereskan file nya ke dalam laci meja.


"Oke, begini Pak Rai, saya mau bertanya tentang pengajuan saya kepada perusahaan Bapak untuk bergabung dengan perusahaan saya?"


Raiden menoleh menatap Yuda dengan tersenyum sinis. "Tidak, saya tidak tertarik" jawab Raiden tegas.


"Tapi Pak-?


" Saya tegaskan sekali lagi pada anda. Jawaban saya tetap tidak!" ucap Raiden sedikit lebih keras.


"Tapi kenapa?" tanya Yuda.


Raiden tertawa lalu berjalan mendekati Yuda, dan menatapnya tajam. "Kalau kau saja berani berbuat jahat pada seorang gadis biasa, tidak menutup kemungkinan kau pun akan menikamku dari belakang, bukan begitu?" Raiden tersenyum sembari memasukkan ke dua tangannya di saku celana.


"Maksud Bapak?" tanya Yuda pura pura tidak tahu.


"Hahahaha!


Raiden tertawa keras, lalu ia menghentikan tawanya dan menatap tajam Yuda dengan maju selangkah lebih dekat di hadapan Yuda.


" Ayolah, aku bukan anak kemarin sore yang bisa kau tipu, bukankah kau yang memfitnah warga untuk memukuli Layla?" ucap Raiden mendekatkan wajahnya pada wajah Yuda. Lalu menarik kembali wajahnya dan memutar badan. "Sebaiknya kau pergi dari kantorku, dan jangan bermimpi aku akan gabung di perusahaanmu Tuan Yuda."


Wajah Yuda berubah merah padam, matanya melotot menatap punggung Raiden. "Kau akan menyesal Raiden" ucap Yuda mengancam.


Raiden melirik sesaat pada Yuda. "Pergi!"


Yuda langsung balik badan dan melangkahkan kakinya keluar kantor Yuda. Giginya gemelutuk menahan amarah dan juga rasa malu karena Raiden telah menolak tawarannya. 'Kau akan menyesal Raiden, tunggu pembalasanku.' ucap Yuda dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2