
Sekembalinya Rico dari ruangan Dr. Kenzi, ia melangkahkan kaki dengan gontai memasuki ruangan tempat Layla di rawat di ikuti Raiden dan Sila dari belakang. Mereka berdua tidak ada yang membuka suara sama sekali selama berjalan. Saat Rico membuka pintu, mereka melihat Layla tengah melamun menatap kosong langit langit kamar. Rico menghela napas panjang lalu menoleh ke arah Raiden dan Sila. Raiden menganggukan kepala sesaat ke arah Rico memberi isyarat untuk tenang menghadapi Layla. Kemudian Rico kembali mengalihkan pandangannya pada Layla. Ia berjalan dan duduk di kursi.
"Apakah kau baik baik saja?" tanya Rico duduk di kursi samping tempat tidur. Layla menoleh ke arah Rico dan tersenyum, lalu beralih menatap Raiden dan Sila.
"Aku baik baik saja, kau dari mana? aku menunggumu dari tadi," jawab Layla.
Rico meraih tangan Layla, lalu ia genggam erat dan berkata, "maaf..sudah membuatmu menunggu."
Layla tersenyum lagi, ia menatap raut wajah Rico yang terlihat sedih. "Ada apa? apakah ada hal buruk terjadi padaku?" tanya Layla menatap mereka satu persatu.
Rico menggelengkan kepala cepat, "tidak sayang..kau baik baik saja."
"Jangan bohong..aku tahu kau tidak bisa berbohong." Layla mencengkram tangan Rico kuat.
"Aku..." Rico tidak melanjutkan kata katanya.
"Katakan.." potong Layla.
"Layla..sudah kubilang, tidak ada apa apa."
"Bohong..!" Layla sedikit berucap kasar.
"Kalau aku berbohong..apa bedanya dengan dirimu, Layla?" ucap Rico sedikit kesal.
"Aku? aku bohong apa?" Layla balik bertanya pada Rico, ia merasa tidak melakukan kesalahan.
__ADS_1
"Hhh.." Rico mendesah kesal, ia tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk menjelaskan pada Layla untuk berhenti memikirkan Kei dan masa lalunya yang sulit. Tapi rasanya terlalu egois jika ia harus memaksakan kehendak dirinya pada orang lain meski dengan alih alih demi kebaikan Layla sendiri.
"Sudahlah Layla..pikirkan saja bayi dalam kandunganmu," ucap Rico. Lalu ia berdiri dari duduknya, ia memutuskan untuk keluar ruangan namun Layla mencegahnya.
"Rico! kau mau kemana?! sahut Layla. Namun Rico tidak memperdulikannya.
Layla berusaha bangun namun apa daya, tubuhnya sudah sulit untuk bergerak. Raiden yang sedari tadi memperhatikan berusaha untuk membantu Layla untuk bangun dan bersandar di bantal. " Rico!" seru Layla lagi dengan nada suara serak.
Rico menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah Layla dan berkata, "ada apa lagi Layla? lebih baik kau istirahat," jawab Rico.
"Tidak! pekik Layla. " Aku tidak akan tenang kalau kau terus diam seperti ini?!" suara Layla terdengar bergetar, ia berusaha menahan tangis, meski bulir air mata telah jatuh di sudut netranya.
"Layla kau jangan menangis.." ucap Sila, ia memberikan tisu pada Layla lalu beralih menatap Rico. "Rico! kau jangan egois!" bentak Sila. Ia tak tega melihat Layla menangis.
Rico mengurungkan niatnya keluar ruangan, ia berjalan kembali menghampiri Layla. Ia menatap kedua bola mata Layla yang berurai air mata.
"Apa maksudmu? kenapa kau seperti ini?" tanya Layla sembari terisak.
"Kau masih juga bertanya?" Rico tertawa kecil mendengar pertanyaan Layla. Ia merasa Layla terlalu banyak menipu diri dan menutupi semua kesedihannya dan berpura pura bahagia bersama dirinya.
"Apa salahku.." ucap Layla lirih.
"Kau mau tahu salahmu, Layla?!" Rico berjalan mendekat dan mencengkram tangan Layla.
"Sakit.." ucap Layla berusaha melepaskan tangan Rico.
__ADS_1
"Dengar..dengarkan baik baik, karena aku tidak akan bicara untuk kedua kalinya." Rico menatap tajam kedua bola mata Layla. "Kau asik dengan dirimu, kau lebih mementingkan perasaanmu pada laki laki yang tidak bertanggungjawab dari pada memikirkan bagaimana kesehatanmu..bagaimana bayimu..bagaimana caranya kau berjuang untuk hidup!" Rico dadanya naik turun berusaha menahan emosinya.
"Aku..." Layla tidak melanjutkan ucapannya.
"Aku apa?!" potong Rico. "Kalau kau merasa tidak ingin hidup lagi..itu hakmu, Layla! tapi setidaknya kau lakukan untuk bayimu!" Rico menghempaskan tangan Layla dengan kasar. Tangis Layla pun akhirnya pecah, Sila langsung menghampiri Layla dan memeluknya erat. Sementara Raiden berjalan mendekati Rico.
"Kau tidak perlu bersikap seperti itu pada Layla!" bentak Raiden.
"Apalagi yang harus aku lakukan? apakah aku harus bersikap lembut dan membiarkan Layla menghancurkan dirinya sendiri? atau aku memang harus memperlakukan dia kasar supaya dia menyadari bahwa ada orang lain yang menginginkan dia hidup! dan kau tau siapa? aku..ya..aku dan bayi dia sendiri!" pekik Rico sudah tidak mampu lagi mengendalikan emosinya, ia tumpahkan semua kekesalannya saat itu juga.
Raiden menganggukkan kepala, ia mengerti maksud Rico. Bukan ia tidak merasakan apa yang Rico rasakan tapi sebelum Rico, ia terlebih dahulu pernah merasakan dan berusaha keras supaya Layla melupakan Kei.
"Kau tahu? aku juga pernah ada di posisimu. Tapi bukan berarti kau harus kasar!" seru Raiden menatap tajam ke arah Rico.
Sila yang memperhatikan mereka sembari memeluk Layla, lalu ia bangun dan berjalan mendekati mereka berdua, "cukup! bukan saatnya kalian berdebat!" Sila membentak mereka berdua. "Perasaan wanita tentu berbeda dengan kalian, tapi bukan berarti hati seorang wanita tidak peka dengan apa yang kalian pikirkan! apa kalian tidak kasihan pada Layla?" ucap Sila dengan nada suara parau. Raiden merangkul bahu Sila, ia tidak ingin kandungan Sila terganggu dengan masalah itu.
"Maafkan aku sayang..sudah..sudah..aku akan diam," ucap Raiden. Mereka berdua menatap Rico yang menundukkan kepala cukup lama. "Maafkan aku, Ric."
Rico mengusap wajahnya, lalu ia tengadahkan wajahnya menatap mereka berdua. "Tidak apa apa, kau tidak perlu minta maaf..mungkin aku terlalu berlebihan."
"Aku mohon, biarkan Layla tenang," ucap Sila.
Rico menganggukkan kepala, lalu ia beralih menatap Layla yang masih terisak. "Maafkan aku, Layla." Rico duduk di kursi lalu ia menyeka air mata Layla dengan tangannya. "Jangan menangis lagi, kita pulang sekarang."
Layla hanya diam, ia terus menangis sesegukan. Rico akhirnya memeluk Layla supaya tenang dan berhenti menangis. "Maaf..maafkan aku."
__ADS_1
Layla masih terdiam, ia tidak berucap sepatah katapun. Hatinya terlalu perih tapi bukan karena Rico sudah berlaku kasar padanya. Namun ucapan Rico seakan menamparnya berkali kali hingga ia tak mampu lagi berkata kata.
"Kita pulang," ucap Rico. Lalu ia berdiri dan mengangkat tubuh Layla dan menggendongnya untuk duduk di kursi roda. "Jangan menangis, hapus air matamu." Rico meletakkan tisu di telapak tangan Layla. Lalu ia mendorong kursi roda keluar ruangan, di ikuti Raiden dan Sila. Mereka berjalan beriringan menuju halaman rumah sakit.