
Malam yang sangat dingin, ditambah hujan lebat dan petir yang bersahutan. Terdengar bergemuruh di atas langit yang gelap.
Kei sedang berjalan menuju lantai dasar rumahnya Clara. Ia berjalan sambil melamun memikirkan Layla yang terbaring di rumah sakit.
"Wanita itu sangat familiar, tapi siapa dia?" ucap Kei pelan. "Dia sakit kanker otak?" gumam Kei sambil melangkah menuruni anak tangga.
"BLEDAAARRRR!!!
Kei terkejut mendengar suara petir, hingga ia tidak fokus dengan pijakannya hingga ia terpeleset.
" Ahhhhhkkkk!"
Kei berteriak kencang seiring dengan tubuhnya yang menggelinding jatuh ke bawah. Kepalanya membentur tiang tangga.
Clara yang tengah duduk di ruang tamu bersama putranya Keila, langsung menoleh ke arah suara, ia melihat Kei jatuh dari tangga dan Clara langsung bangun dan berlari mendekati Kei yang tak sadarkan diri.
"Sam!" seru Clara.
"Papa!" seru Keila. Berlari menghampiri Clara.
Clara membalikkan tubuh Kei, dan ia melihat darah mengalir dari keningnya Kei.
"Mbok Minaaahh!!" seru Clara memanggil Minah.
Minah dan Ujang langsung berlari menghampiri Clara dan menatap Kei.
"Bapak kenapa Bu?" tanya Minah.
"Minah!, cepat kau panggil Dokter Mira sekarang!" seru Clara. "Ujang, kau bantu saya, angkat Bapak."
"Baik Bu."
Minah langsung bergegas menelpon Dokter Mira, sementara Ujang dan Clara mengangkat tubuh Kei ke kamar tamu. Lalu mereka membaringkan tubuh Kei di atas tempat tidur. Di ikuti Keila dari belakang.
"Sam, bangunlah." Clara menepuk nepuk pipi Kei supaya bangun.
"Papa, bangun Pa..." Mata Keila berkaca kaca.
"Kenapa kau bisa jatuh, Sam?" ucap Clara lirih. "Ujang, kau ambil air hangat di wadah dan kain lembut." Clara menatap Ujang lalu kembali beralih menatap Kei yang masih belum sadar.
Ujang menganggukkan kepala sesaar, lalu ia berlari ke dapur untuk mengambil air hangat.
Tak lama kemudian Ujang kembali bergegas menuju kamar tamu dan memberikan air hangat dalam wadah bersama kain pada Clara.
"Dokter dalam perjalanan Bu" ucap Minah dari arah pintu langsung mendekati Clara.
Clara menoleh sesaat, "iya Mbok, terima kasih."
Clara menyeka kening Kei yang terlula dengan kain lembut yang sudah di basahi, "Sam, bangunlah."
Clara terus membersihkan luka di kening Kei hingga bersih, lalu ia memberikan wadah air hangat kepada Ujang.
Tak lama terdengar suara pintu di ketuk dari luar, Clara meminta Minah untuk membuka pintu. "Mungkin itu Dokter Mira, minah kau bukakan pintu."
Minah menganggukkan kepala dan bergegas keluar kamar menuju pintu rumah. Tak lama kemudian, Minah dan Dokter Mira masuk ke dalam kamar. "Dok, tolong suami saya."
"Tenang ya Bu." Dokter Mira langsung memeriksa Kei secara menyeluruh. Setelah itu ia memberikan suntikan pada Kei.
"Ibu tidak perlu khawatir, Pak Sam baik baik saja. Tidak ada luka yang serius" ucap Dokter Mira.
"Ah, syukurlah." Clara menatap sedih Kei.
__ADS_1
"Berikan saja obat ini Ya Bu, dan sebentar lagi, Pak Samuel akan sadar." Dokter Mira meletakkan obat di atas meja.
"Terima kasih Dok." Clara menundukkan kepala sesaat.
"Sama sama Bu" jawab Dokter Mira. "Kalau begitu saya permisi dulu."
"Oh, silahkan Dok." Clara mempersilahkan Dokter Mira dan mengantarkannya sampai teras rumah. Setelah itu ia kembali masuk ke dalam kamar.
"Ma! Papa bangun Ma!" seru Keila yang duduk di tepi tempat tidur.
"Sam? kau sudah sadar?" Clara menatap Kei yang tengah menatap ke langit langit kamar.
Kei mengalihkan pandangannya menatap Clara sesaat, lalu ia bangun dan duduk di atas tempat tidur.
"Kalian siapa?" tanya Kei, dua alisnya bertaut menatap Clara lalu beralih menatap Keila.
"Papa? ini Keila anak Papa" ucap Keila menatap bingung Kei.
"Anakku?" tanya Kei, ia menatap Keila lalu menatap Clara. "Kau siapa?"
"Aku istrimu." Mata Clara berkaca kaca.
"Istri?" Kei melebarkan matanya menatap Clara.
Clara menganggukkan kepala, ia menatap Kei. "Iya."
Kei mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia menatap Minah dan Ujang.
"Aku tidak kenal kalian!" seru Kei hendak turun dari atas tempat tidur.
"Papa! ini Keila anak Papa!" seru Keila menarik lengan Kei.
"Papa?" ucap Kei. "Aku tidak kenal kalian!"
"Aku menikah denganmu?" tanya Kei.
Clara menganggukkan kepala, air matanya berlinang. "Iya, itu benar."
"Papa...ini Keila Pa..jangan tinggalkan kami." Keila memeluk Kei dan menangis.
Sesaat Kei hanya diam, ia coba mengingat semuanya. Perlahan tangan Kei terulur dan membalas pelukan Keila.
"Ya Rabb, kenapa harus seperti ini" gumam Kei.
"Maafkan aku Sam, maafkan aku." Clara memeluk Kei dan menangis.
"Sudahlah, kalian tidak salah" ucap Kei. "Aku bertetima kasih, kalian sudah merawatku."
Kei menarik napas dalam, ia pejamkan mata sesaat, "Layla, maafkan aku."
"Sebaiknya kau istirahat." Clara melepaskan pelulannya dan menarik tangan Keila. "Sayang, biarkan Papamu istirahat."
Keila menganggukkan kepala, lalu mereka semua keluar kamar meninggalkan Kei dalam kekalutan.
Kei menjatuhkan tubuhnya di tepi tempat tidur dan menangkup wajahnya. "Ya Rabb, apalagi ujian yang kau beri..kenapa aku tidak bisa bersama Layla" ucapnya lirih.
"Layla?" Kei menurunkan tangannya, ia ingat saat kemarin menemui Layla di rumah sakit. "Layla sakit Kanker otak?" gumamnya pelan.
"Aku harus menemuinya." Kei bangun dan melangkahkan kakinya, lalu ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 23:40.
"Layla pasti sedang istirahat, mungkin besok pagi saja." Kei kembali balik badan kembali ke dalam. Ia hempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dan mengingat semua kejadian yang sudah lewat. Ia pijit pelipisnya dan coba memejamkan matanya. "Layla, maafkan aku."
__ADS_1
***
Ke esokan paginya Kei sudah rapi dan berpamitan untuk bekerja, tapi Kei tidak berangkat ke kantor. Namun mencari Layla di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Kei tidak menemukan Layla. Karena Layla sudah pulang ke rumahnya.
Lalu Kei bergegas meluncur ke rumah Layla dan benar saja, Layla sudah ada di rumahnya. Kei menepikan mobilnya dan keluar dari pintu mobil. Ia melihat Layla tengah duduk di atas kursi roda di temani Raiden tengah memakaikan penutup kepala pada Layla, karena sekarang Layla tidak memiliki rambut sama sekali.
"Layla..." ucap Kei lirih. Ia sangat sedih dan terpukul melihat kondisi Layla.
Perlahan Kei melangkahkan kakinya dengan ragu ragu menghampiri Layla dan Raiden yang ada di taman.
"Layla" sapa Kei dari belakang. lalu ia mendekati Layla dan Raiden.
Layla dan Raiden menoleh ke arah Kei dan menatapnya. "Kei" ucap Layla pelan.
"Raiden" sapa Kei menatap Raiden.
"Kei? kau sudah sadar dari amnesia?" tanya Raiden.
Kei menganggukkan kepala sesaat, "maafkan aku Layla."
"Tidak apa apa Kei, aku bisa mengerti" jawab Layla tersenyum, ia senang Kei sudah kembali ingatannya, meskipun kini Kei sudah menjadi suami Clara.
"Rai..terima kasih sudah merawat Layla."
Raiden tersenyum sinis, "aku melakukannya buat diriku dan Layla, bukan untukmu."
"Aku tahu, sekali lagi terima kasih." Kei menatap Raiden yang terlihat kesal, lalu beralih menatap Layla.
"Layla, maafkan aku. aku tidak pernah ada buatmu, disaat saat kau sulit." Kei jongkok di hadapan Layla.
"Iya Kei, tidak apa apa. Ada Raiden kok" jawab Layla.
Kei tengadahkan wajah menatap Raiden sesaat, lalu beralih menatap Layla. Dan langsung memeluknya. "Maafkan aku."
Layla terdiam, air matanya berlinang tanpa bisa dia tahan lagi. Ada rasa bahagia, ada rasa rindu, tapi semua itu terhalang oleh rasa kecewa yang besar. Bukan terhadap Kei tapi terhadap waktu yang tak pernah berpihak pada mereka.
Raiden yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara, "Sudahlah Kei, jangan buat Layla sedih." Raiden menarik lengan Kei supaya menjauh dari tubuh Layla.
"Maaf" ucap Kei. Ia bangun dan berdiri menatap Raiden.
"Kau sudah punya keluarga baru, jangan kau sakiti hati yang lain lagi oleh sikapmu itu." Raiden menatap kesal Kei.
"Iya aku tahu" jawab Kei.
"Sebaiknya kau pulang." Raiden menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Tapi, aku masih rindu dengan Layla."
"Rindumu itu menyakiti orang lain, kau jangan terlalu meninggikan egomu Kei!" seru Raiden.
"Apa maksudmu?" tanya Kei.
"Sudahlah, kau pikir sendiri." Raiden duduk di kursi yang tak jauh dari Layla.
"Baiklah, aku akan pergi. Layla, besok aku kesini lagi menjengukmu." Kei menatap Layla, lalu ia melangkahkan kakinya meninggalkan mereka berdua.
"Kei.." ucap Layla lirih, ia menundukkan kepala sambil menyeka air matanya.
"Sudahlah Layla" ucap Raiden memegang tangan Layla dan mengusapnya lembut.
Layla menatap Raiden sesaat, lalu ia menangis dalam pelukan Raiden. "Maaf."
__ADS_1
Raiden terdiam, matanya menatap lurus ke depan sambil mengusap punggung Layla untuk menenangkan.