Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 45: Amnesia 2


__ADS_3

Malam itu Kei termenung, ia berpikir mengapa Clara tidak pernah mau menyentuhnya. Padahal ia merasa kalau Clara adalah istrinya. Kei mulai sedikit kebingungan, setiap kali ia coba mengingat yang ada Kei merasakan sakit kepala yang hebat. Yang lebih membuat Kei bingun adalah mereka tidur beda kamar. Akhirnya Kei memutuskan untuk mendatangi kamar Clara. Ia turun dari tempat tidurnya dan melangkahkan kaki menuju kamar Clara.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Kei langsung masuk ke dalam kamar Clara. Ia langsung mendekati Clara yang sedang berbaring di atas tempat tidur.


Clara terkejut saat merasakan ada seseorang yang berbaring di sebelahnya, ia membuka mata dan menoleh kesamping. Ia melihat Kei tersenyum padanya sambil memeluk pinggang Clara.


"Hai sayang" ucap Kei dengan lembut.


Sontak Clara langsung bangun dan hendak turun dari tempat tidur, Tapi Kei menarik tangan Clara dan memeluknya.


"Kau mau kemana sayang, aku kangen sama kamu." Rengek Kei dengan manja.


Clara mencoba melepaskan pelukan Kei, lalu ia duduk di atas tempat tidur menatap Kei yang tersenyum manis.


"Sam, ini sudah malam. Kau istirahat saja." Clara coba membujuk Kei, meski hati kecilnya menolak untuk di tinggalkan Kei.


"Tidak mau, aku kangen sama kamu." Kei naik ke atas tubuh Clara dan mendekatkan wajahnya ke wajah Clara. Perlahan Kei mencium bibir Clara dengan lembut.


Sebagai seorang manusia, tentu Clara pun tidak bisa menolak hasratnya, apalagi Clara memiliki rasa sayang pada Kei. Mendapatkan ciuman lembut dari Kei. Clara perlahan membalas ciuman Kei lebih panas lagi.


Akhirnya tangan Kei berpagut di leher Clara Ciuman panas dari Clara membuat Kei semakin hanyut dalam permainan Clara. Kei membalikkan posisi dan merebahkan tubuh Clara tanpa melepaskan ciumannya. Hasrat Clara maupun Kei semakin bergejolak, secara perlahan tangan Kei mulai menyentuh dan meraba tubuh Clara, satu persatu Kei melepaskan kancing baju tidur yang Clara kenakan. Saat Clara sudah tidak ada sehelai benangpun menutupi tubuhnya, Clara tersadar bahwa yang di lakukannya adalah salah. Ia langsung bangun dan meraih selimut untuk menutupi tubuhnya. Lalu Clara turun dari tempat tidur dan duduk di kursi. Ia menangkup wajahnya dan merasa bersalah terhadap Kei.


Kek yang mengerutkan dahi memperhatikan Clara. Ia bangun dan duduk di atas tempat tidur. "Kenapa?" tanya Kei.


Clara melirik sesaat pada Kei. "Aku tidak bisa melakukannya Sam."


"Apa kau sudah tidak mencintaiku? apa kau sudah ada yang lain?" tanya Kei tidak mengerti dengan sikap Clara selama ini.


Clara menggelengkan kepala, ia bangun dan berdiri langsung mendekati Kei dan mencium kening Kei cukup lama.


"Aku mencintaimu, bahkan aku sangat takut kehilanganmu." Clara menatap sedih Kei, lalu ia turun dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya meninggalkan Kei di kamarnya.


Kei termenung, ia mencoba berpikir keras. Coba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi nihil, yang Kei dapatkan adalah rasa sakit di kepalanya. Kei berhenti untuk berpikir, lalu ia mengambil pakaiannya dan memakainya kembali. Setelah itu ia turun dari atas tempat tidur dan melangkahkan kakinya menuju balkon. Kei terduduk menatap langit yang gelap bertabur bintang.

__ADS_1


Ada rasa tenang menyeruak di dalam dadanya. Ia seperti tidak asing dengan yang ia lakukan saat ini. Ia merasa sering duduk sendirian di balkon kamar dan menatap langit berjam jam. Akhirnya Kei pun tertidur di kursi balkon hingga pagi menjelang.


***


Clara yang tidak tidur semalaman memikirkan Kei, ia keluar dari kamar Kei menuju kamarnya yang di tempati Kei . Ia terkejut melihat pintu kamar balkon terbuka. Clara langsung menuju balkon dan melihat Kei tertidur di kursi.


"Sam, kau tidur di sini?" ucap Clara pelan.


Ia jongkok di depan Kei yang masih tertidur, Clara tidak tega untuk membangunkan Kei.


"Maafkan aku Sam, harusnya aku memberitahumu kalau kau bukan suamiku."


Clara menatap sendu wajah Kei, perlahan tangannya terulur mengusap lembut rambut Kei. "Tapi aku juga tidak mau kehilanganmu, Sam."


Clara menurunkan tangannya dari rambut Kei. "Tidak, aku tidak akan memberitahumu. Aku ingin memilikimu Sam" gumam Clara pelan.


Perlahan Kei bangun dan membuka matanya, saat ia membuka mata, Kei melihat Clara sedang jongkok di hadapannya. "Ah maaf, aku bangun kesiangan." Kei menatap Clara


"Tidak apa apa sayang, kau pasti lelah." Clara bangun dan mengecup kening Kei.


Kei menganggukkan kepala, ia bnagun dan berdiri. Tiba tiba saja Kei mengangkat tubuh Clara dan menggendongnya. Lalu Kei membawa Clara memasuki ruang kamar mandi dan meletakkan Clara di bak mandi berukuran besar.


"Kau mandi bersamaku." Kei tersenyum menatap Clara.


Clara langsung bangun dan melangkahkan kakinya keluar dari bak mandi. Ia balik badan hendak keluar. Tapi tangan Clara di tarik mundur Kei, hingga mundur dua langkah dan masuk ke dalam bak mandi.


Kei tertawa kecil saat melihat pakaian Clara kebasahan, lalu Kei menyalakan air dan meminta Clara membuka pakaiannya, Clara menolak permintaan Kei. Namun Kei dengan paksa membuka seluruh pakaian Clara Akhirnya ciuman semalam mereka lanjutkan di kamar mandi.


Satu jam berlalu, akhirnya mereka keluar dari kamar. Kei terlihat rapi dengan setelan jas hitam. Mereka langsung menuju meja makan untuk sarapan. Sementara Clara membuatkan susu untuk Keila.


Setelah selesai sarapan Kei berpamitan untuk pergi bekerja, sementara Clara di rumah mengurus Keila.


***

__ADS_1


Bulan berganti dan tahun pun berlalu dengan cepat. Kei masih belum mengingat apa apa. Kei bahagia hidup bersama keluarga baru, nama baru. Semakin hari Keila Putra Clara pun tumbuh remaja. Keila menjadi anak yang cerdas dan rupawan. Kei sangat menyayangi Keila seperti anaknya sendiri, begitu pula dengan Keila. Kedekatan mereka layaknya Ayah dan anak.


Suatu hari Clara mengajak Kei dan Keila pindah ke Jakarta, karena perusahaan Clara yang ada di Jakarta butuh penanganan serius dari Clara dan Kei secara langsung.


Kei dan Keila menyetujui untuk pindah ke Jakarta, dan Clara berencana memindahkan sekolah Keila di tempat sekolah elit di Jakarta 'Harapan Bangsa' dimana tempat Layla dulu sekolah, lebih tepatnya sekolah milik Almarhum Surya, ayahnya Layla.


Keesokan harinya merekapun pindah ke Jakarta di mana kota Layla bertempat tinggal


***


Sementara itu di tempat lain. Layla dan Raiden tengah duduk di mana tempat peristiwa jatuhnya mobil yang mereka tumpangi. Lima belas tahun sudah berlalu sejak peristiwa itu. Namun Layla dan Raiden tidak berhenti berharap dan mencari keberadaan Kei, sampai pada ujung keputus asaan, Raiden dan Layla berpikir kalau Kei sudah meninggal.


Setiap setahun sekali mereka mengunjungi tempat lokasi kejadian dan meletakkan sebuket bunga di aliran sungai itu.


Lima belas tahun sudah, Raiden tetap setia terhadap Layla, merawat dan menemaninya semenjak Layla mengalami kelumpuhan.


"Kita pulang." Raiden bangun dari duduknya menatap kosong ke aliran sungai.


Layla menganggukkan kepala, tengadah menatap wajah Raiden. Matanya berkaca kaca. Raiden tersenyum tipis dan menganggukkan kepala selalu berusaha menguatkan hati Layla. Kemudian Raiden mengangkat tubuh Layla dan menggendongnya menuju mobil dan pulang ke Jakarta.


Sesampainya di Jakarta, Layla meminta Raiden menghentikan mobilnya, ia merasakan hatinya berdegup kencang. "Ada apa?" tanya Raiden.


"Aku tidak tahu, tapi aku merasakan kehadiran Kei di Jakarta" jawab Layla.


Raiden tertawa kecil menatap Layla. "Kau ini, ada ada saja."


"Aku serius Rai, coba kau rasakan dengan 'RASA' mu" jawab Layla dengan memejamkan mata.


Raiden mengikuti apa yang di katakan Layla, namun ia tidak menangkap apa yang di rasakan Layla, Raiden membuka matanya menatap Layla.


"Layla, sudahlah. Sebaiknya kita pulang dan beristirahat." Raiden menyentuh pundak Layla. Ia tahu dan sangat mengerti apa yang di rasakan Layla saat ini.


Layla membuka matanya, ia menatap Raiden sesaat lalu menganggukkan kepala. Layla dan Raiden kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah.

__ADS_1


Kini usia mereka bertambah dewasa, tapi cinta Layla kepada Kei tidak berkurang sedikitpun. Waktu tak mampu mengangkangi cinta yang hadir di kedalaman jiwa.


__ADS_2