Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 32: Permintaan maaf


__ADS_3

Satu minggu berlalu akhirnya Dokter Adrian mengijinkan Layla untuk pulang. Karena kondisi Layla sudah pulih seperti sedia kala. Setelah Dokter Adrian memberikan tips kesehatan untuk Layla pada Raiden. Raiden pun mulai menyelesaikan semua surat surat dan administrasinya. Setelah itu Layla dan Raiden mulai meninggalkan rumah sakit menuju rumahnya Layla.


Tiga puluh menit berlalu. Akhirnya Raiden dan Layla telah sampai di halaman rumah Layla. Layla langsung membuka pintu mobil dan keluar. Ia menatap depan rumahnya dan merentangkan kedua tangannya, wajahnya tengadah menatap langit dan menghirup udara dalam dalam. "Akhirnya, aku bisa menghirup udara segar" ucap Layla tersenyum.


"Neng Layla!" sapa Mbok Darmi dan Mang Usman yang sudah berdiri di hadapan Layla dan langsung memeluk Layla erat.


"Terima kasih Den Rai, sudah merawat Neng Layla" ucap Mang Usman ketika melihat Raiden keluar dari pintu mobil.


Raiden menoleh menatap Mang Usman.


"Iya Mang, kita kan keluarga" jawab Raiden.


Mendengar kata kata Raiden, Layla menoleh ke arah Raiden dan memeluknya erat.


"Terima kasih" ucapnya tengadah menatap Raiden.


"Iya Tuan Putri" jawab Raiden tersenyum, tangannya mencubit hidung Layla dengan gemas.


"Ayo masuk Neng, Den Rai" ucap Mbok Darmi .


"Iya Mbok" jawab Layla. Lalu mereka masuk ke dalam rumah.


"Oh ya Neng, kemarin sore Mbok melihat Nak Kei berdiri di luar gerbang rumah hujan hujanan, pas si Mbok mau ajak Nak Kei masuk, dia sudah menghilang" ucap Mbok Darmi sambil menyiapkan makanan dan minuman di atas meja.


"Deg!"


'Dugaanku benar, kemarin Kei datang ke rumah sakit, ada apa denganmu Kei.' ucap Layla dalam hati.


"Mulai deh bengong." Raiden mengibaskan tangannya di depan wajah Layla yang tengah melamun.


"Ah, tidak kok. Aku cuma..?


" Cuma apa? cuma memikirkan Kei. Bukan begitu?" tanya Kei setengah cemburu.


"Ih apaan sih" jawab Layla tangannya terulur hendak mencubit pinggang Raiden. Tapi tangan Layla Raiden genggam.


"Jujur saja, aku tidak apa apa kok." Raiden menatap tajam Layla. Dia paling tidak suka dengan kebohongan.


Layla menundukkan kepala dan menarik tangannya terdiam. Ada kalanya Layla tidak harus mengatakan apapun pada orang lain, meski itu dengan orang terdekat. Jika diam lebih mampu memaknai segala hal kenapa harus bicara?

__ADS_1


"Layla, aku tahu rasanya mencintai seseorang, aku tahu rasanya sulit melupakan orang yang kita sayangi. Tapi kau juga tidak perlu membohongi orang lain hanya untuk menyenangkan hati orang lain" ucap Raiden sambil menyelipkan rambut di telinga Layla.


"Kau tahu, kejujuran itu pahit, kebohongan juga buruk. Tapi bagi orang yang mengerti hakikat cinta. Dia akan mampu menerima semua candu kepahitan hidup" ucap Raiden lagi.


Layla terhenyak mendengar semua perkataan Raiden. "Maafkan aku" Layla menatap Raiden sendu.


"Kau tidak perlu minta maaf, dalam keluarga tidak ada kata maaf. Satu sama lain akan saling mengerti." Raiden tersenyum menyeringai sembari memainkan ke dua alisnya.


"Ih sok bijak, nih rasakan." Layla mencubit pinggang Raiden.


"Awww, sakiitt!" Raiden berteriak memegang pinggangnya. Membuat Mbok Darmi berlari dari arah dapur mendekati Layla dan Raiden.


"Ada apa Neng? sakit lagi?" tanya Mbok Darmi menatap Layla.


"Tidak Mbok, nih Tuan Putri galaknya kumat". jawab Raiden tertawa kecil.


" Oh, kirain Mbok Neng Layla sakit lagi" ucap Mbok Darmi sambil menggelengkan kepala, menghela napas panjang menatap keduanya dan Mbok pun memutuskan untuk kembali ke dapur. Layla dan Raiden saling pandang sesaat lalu tertawa bersama.


Kebahagiaan itu tidak terletak diluar, jika kebahagiaan hadir di dalam jiwa di sana tidak ada kepalsuan.


***


'Bila bunga cinta gugur menyelubung hati yang terasa sunyi, dan pudar bersama daun yang berjatuhan. Tiada hal yang paling indah dan menyakitkan, saat mencintai sebelum menyecap cinta itu sendiri.' ucap Layla dalam hati menerawang jauh ke masa yang telah terlewati.


'Saat pertama kali cinta hadir dan bertahta di dalam hati, waktu terus berjalan bersama bayangmu yang semu. Sedetikpun aku tak ingin berpisah darimu. Cinta bukanlah dosa yang harus di basuh dengan air. Cinta yang lahir dari sebuah kemurnian akan selalu dikenang sepanjang jaman.' ucap Layla dalam hati, ia tersenyum tangannya terulur saat kupu kupu dengan corak berbeda terbang rendah dan hinggap di jari jemarinya. Seakan menjawab semua ungkapan hati Layla.


"Ya, aku gila karena cintamu, kau pancarkan keindahanmu dan aku gila sebelum aku melihatnya" gumam Layla pelan, lalu kupu kupu itu kembali terbang menebarkan cinta bagi para pecinta.


"Laylaaa!!"


Layla terkejut saat suara yang sangat familiar ditelinganya. Ia berdiri dan memperhatikan sekitar mencari sumber suara. Mata indah Layla tertuju pada sosok Kei yang berdiri dengan pakaian lusuh, rambutnya berantakan. Ia terlihat seperti orang yang sedang putus asa. Akhirnya Layla memutuskan untuk menemuinya dan bergegas melangkahkan kakinya keluar rumah menemui Kei, kekasih pujaan hatinya.


"Kei?"


Layla menatap Kei dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ada rasa ingin memeluk dan menenangkannya, tapi ia takut. Karena ada hati yang lain bila tahu akan menimbulkan kecemburuan. Layla hanya berdiri di hadapan Kei berjarak satu meter.


"Layla" ucap Kei pelan.


Kei menatap Layla dengan rasa bersalah yang besar, karena dia berpikir telah mengkhianati cinta Layla, telah menodai cintanya yang agung. Kei tertunduk sesaat sebelum dia bicara.

__ADS_1


"Maafkan aku Layla."


Layla mengerutkan dahi tidak mengerti akan maksud permintaan maaf Kei, seingat Layla, Kei tidak pernah berbuat salah padanya meskipun Kei telah menikahi wanita lain.


"Maaf?"


Kei menganggukkan kepala, ia melangkah maju beberapa langkah lebih dekat dengan Layla. Hatinya berdegup kencang saat berada dekat dengan Layla. Ada kerinduan dan rasa bersalah yang terpancar lewat mata gelap Kei.


"Aku sudah mengkhianati cinta kita, aku sudah menodai cinta kita Layla, maafkan aku. Maafkan aku."


Layla menundukkan kepala dan terdiam cukup lama. Layla mengerti sekarang apa maksud permintaan maaf Kei. Layla mengangkat wajahnya dan tersenyum.


"Kau tidak perlu minta maaf Kei."


Kei terhenyak mendengar jawaban Layla, ia sempat berpikir kalau Layla akan marah dan membencinya. Tapi di luar dugaan Kei, jawaban Layla justru membuat Kei bertanya tanya. Apakah Layla sudah tidak memiliki cinta yang dulu mereka agungkan?


"Kau tidak marah Layla? kau tidak membenciku?"


Layla kembali tersenyum dan mengulurkan kedua tangannya ke depan dan membentuk sebuah gambar 'Love'.


"Cinta yang murni hadir di dalam hati yang paling dalam, keagungan cinta tak akan ternodai oleh hal apapun. Meski raga hancur terjamah serigala sekalipun."


Seketika itu juga tubuh dan hati Kei luruh oleh segala kemurnian cinta yang Layla miliki, ia menjatuhkan tubuhnya di tanah. Membiarkan tubuh Kei tersiram rintik hujan yang tiba tiba saja turun seolah menjawab semua keraguan Kei akan cinta yang di miliki Layla. Tubuh dan pakaian Kei basah oleh air hujan yang semakin deras. Hatinya teduh oleh siraman air hujan dan besarnya cinta Layla kepadanya.


"Aku mencintaimu Layla, aku mencintaimu."


Layla tersenyum mundur selangkah ke belakang. Dengan kedua tangan tetap terulur ke depan membentuk 'Love'.


"Pulanglah Kei."


Kei bangun dan berdiri, sembari mengusap wajahnya yang basah oleh air huja. Ia tersenyum menatap Layla. Lalu balik badan dan berlari keluar halaman tanpa mengucapkan sepatah kata lagi pada Layla.


Semua yang Layla tunjukkan, air hujan yang langit turunkan cukup memberikan semua jawaban akan kegundahan dan rasa bersalah yang Kei rasakan. Semuanya memberikan kembali keteguhan cintanya yang sempat tergoyahkan.


Layla menurunkan kedua tangannya perlahan menatap punggung Kei hingga hilang dari pandangan.


'Cinta tidak perlu kau ungkapkan Kei, biar hati yang bicara karena 'rasa' tidak pernah membohongi kita.' ucap Layla dalam hati.


Layla balik badan dan kembali masuk kedalam rumahnya, lalu mengganti semua pakaiannya yang basah oleh air hujan.

__ADS_1


__ADS_2