
Kei tiba didepan rumahnya dengan pakaian basah. Ia langsung masuk ke dalam rumah menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
Tak lama kemudian Kei telah selesai berganti pakaian dan terlihat rapi. Sekarang Kei merasa lega dan tidak memiliki beban seperti sebelum ia bertemu Layla. Kei tersenyum menatap wajahnya di cermin.
"Layla" ucapnya pelan.
Tiba tiba Kei mendengar suara pintu dibuka dari luar kamar. Kei menoleh ke arah pintu nampak Dinda masuk dan berjalan menghampiri Kei. Kei mengerutkan dahi memperhatikan Dinda yang menggunakan pakaian seksi dengan belahan dada terbuka.
"Kau dari mana Kei?" tanya Dinda menatap Kei yang terlihat bahagia.
"Bukan urusanmu" jawab Kei dingin, lalu ia berjalan menuju pintu kamar.
Dinda mendengus kesal menatap Kei yang tetap saja bersikap cuek. "Kei! aku istrimu! aku berhak tahu kemana kau pergi!"
Kei menghentikan langkahnya menoleh menatap Dinda. "Lalu?"
"Iya, aku mau tahu kau kemana saja seharian ini?" tanya Dinda berjalan mendekati Kei dan bergelayut manja di pundak Kei.
"Aku capek!" Kei melepaskan tangan Dinda di pundaknya lalu melangkahkan kakinya keluar kamar dan mengacuhkan Dinda.
"Kei!!" seru Dinda dengan nada kesal.
"Aaaahhhkkkk!! Dinda berterika histeris sembari membanting pintu kamar, lalu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia menangis sejadi jadinya meluapkan semua kekesalannya. Ia merasa semua usahanya sia sia.
***
Pagi yang cerah, secerah hati Layla. Pagi ini ia memutuskan untuk bertemu Valeri, Stela, dan Asha di sekolahan milik almarhum Ayah Layla. Semenjak kedua orang tua Layla tiada, sekolah itu di percayakan pada salah satu kerabat Surya. Dan tiga sahabat Layla menjadi Guru pengajar di sana. Layla pergi kesekolah di temani Raiden yang selalu siap mengantarkan Layla pergi kemanapun.
Raiden menatap Layla yang menggunakan kaos berwarna hitam dan celana jeans. Raiden selalu mengagumi Layla, apapun yang Layla kenakan dan katakan ia selalu menyukainya. Untuk mendapatkan Layla bak pungguk merindukan bulan. Tapi bagi Raiden itu tidak mengapa. Selama cinta yang ia miliki tulus terhadap Layla, bagi Raiden tidak perlu ia ungkapkan dan Raiden tidak butuh pengakuan dari Layla. Raiden berjalan mendekati Layla yang berdiri di depan pintu rumah.
"Bagaimana? sudah siap tuan putri?"
Layla menatap horor Raiden tiap kali Raiden berkata seperti itu. Tapi bukan berarti Layla tidak suka. Setiap orang akan berbeda cara untuk mengungkapkan rasa suka dan rasa sayang. Tangan Layla siap terulur untuk mencubit pinggang Raiden Tapi Raiden sudah lebih dulu menjauh dari cubitan tangan Layla.
"Ayo, bercanda terus kapan sampainya?"
Layla berjalan mendahului Raiden, kemudian Raiden berjalan di belakang Layla dan merekapin masuk ke dalam mobil menuju sekolah milik Ayahnya Layla.
Hanya berkisar kurang lebih lima belas menit, akhirnya Layla dan Raiden telah sampai di halaman sekolah. Layla dan Raiden langsung keluar dari dalam mobil dan berdiri menatap sekolah yang masih terlihat sepi di luar karena masih jam pelajaran sekolah tengah berlangsung.
__ADS_1
Layla terpaku menatap sekitar sekolah. Kenangan masa lalu saat awal awal perkenalannya dengan Kei masih bisa ia rasakan di setiap sudut sekolah. Layla menarik napas dalam dalam dan matanya terpejam. Ia masih bisa merasakan semua kenangan di sekolah ini.
Sementara Raiden yang terus memperhatikan Layla hanya terdiam. Ia tahu apa yang sedang Layla rasakan. Dan Raiden tidak ingin mengganggu Layla yang tengah mengenang semua hal tentang Kei di sekolah ini. Saat Layla terpejam, diam diam Raiden melangkahkan kakinya dan duduk di kursi taman yang ada di samping sekolah.
Begitu Layla membuka mata, ia menoleh ke samping dia terkejut karena tidak mendapati Raiden. Layla mengedarkan pandangannya keseluruh sudut halaman sekolah. Tapi Raiden tidak ada di manapun. Lalu Layla memutuskan untuk mencari Raiden. Hingga ia menemukan sosok Raiden tengah duduk dikursi taman sekolah. Layla berjalan menghampiri Raiden.
"Kau sedang apa di sini? aku mencarimu dari tadi!" tanya Layla.
Raiden hanya diam tidak menjawab pertanyaan Layla. Membuat Layla kebingungan dengan sikap Raiden. Kemudian Layla duduk di samping Raiden dan menatapnya.
"Hei, kau kenapa?"
Raiden melirik sesaat lalu kembali mengalihkan pandangannya pada bunga bunga yang tengah mekar beraneka warna.
"Aku pikir kau tidak membutuhkanku?" ucap Raiden datar.
Layla mengerutkan dahi tidak mengerti dengan ucapan Raiden.
"Maksudmu?" tanya Layla menatap Raiden.
Raiden menghela napas dalam, ingin rasanya ia tumpahkan semua kekesalannya saat Layla lebih asik dengan kenangannya dari pada merasakan keberadaannya di samping Layla. Tapi Raiden ragu untuk mengatakannya karena itu percuma. Raiden memilih diam dari pada harus bicara yang hanya merusak hubungan yang tengah ia jalani dengan Layla.
Layla bisa menangkap kegelisahan Raiden lewat pancaran matanya. Layla tersenyum dan meraih tangan Raiden lalu menggenggamnya erat.
"Kita ke kantin bagaimana? kita tunggu temanku di sana?"
Raiden membalas genggaman tangan Layla dan tersenyum. "Oke."
Akhirnya Layla dan Raiden memutuskan untuk pergi ke kantin dan menunggu ketiga temannya di sana. Tak lama kemudian mereka telah sampai di kantin sekolah. Layla duduk di kursi bersebelahan dengan Raiden. Lalu Layla memesan makanan dan minuman.
Tak lama kemudian setelah Layla memesan makanan dan minuman. Suara bel sekolah berbunyi pertanda para siswa dan siswi waktunya istirahat.
"Ini baksonya Rai, enak loh." Layla menyodorkan semangkok bakso dan segelas minuman segar ke hadapan Raiden.
"Terima kasih."
"Laylaa, kau apa kabar?!"
Layla menoleh menatap ke arah suara, nampak Asha, Valeri dan Stela menggunakan seragam Guru. Berdiri di hadapan Layla dan Raiden. Layla langsung bangun dan mendekati mereka berdua. Sesaat mereka saling pandang lalu mereka berpelukan bersama.
__ADS_1
"Aku kangen kalian" ucap Layla dengan suara tertahan di tenggorokan.
"Kami juga Layla" jawab mereka serempak.
Setelah puas mereka melepas rindu, Layla mengenalkan Raiden pada mereka satu persatu. Kemudian mereka duduk dan memesan makanan dan minuman. Mereka duduk bersama saling berbincang bincang dan bercanda.
"Kau nampak kurus Layla" ucap Stela menatap Layla.
"Kurang makan kali" timpal Asha tertawa kecil.
"Atau jangan jangan takut kehilangan yang ganteng satu ini, makanya dia kurus" sela Valeri.
Raiden menatap tiga wanita di hadapannya karena merasa sedang di bicarakan mereka.
Layla, Asha, Stela dan Valeri saling tatap sesaat lalu tertawa menatap Raiden yang bengong saja.
Bertemu sahabat lama, sahabat yang selalu ada di saat Layla mengalami pasang surut menjalin hubungan dengan Kei. Membuat Layla betah ngobrol dengan ketiga temannya. Tapi waktu mengharuskan mereka berpisah. Asha, Stela dan Valeri harus kembali mengajar.
"Kapan kapan, kalian main kerumah ya." Layla memegang tangan ketiga temannya.
"Iya Layla, nanti aku main kerumahmu kalau libur mengajar" jawab Valeri tersenyum menatap Layla.
"Kau jaga diri baik baik Layla" sela Asha menatap Layla dengan mata berkaca kaca.
"Jangan sedih terus, ingat Layla. Masih banyak di sekelilingmu yang menyayangi kau" Timpal Stela.
Layla tersenyum sembari menggigit bibir bawahnya, ia menganggukkan kepala. Entah mengapa bertemu dengan ketiga sahabatnya seakan membuka kenangan dan luka lama yang selama ini Layla berjuang keras untuk menyembunyilannya dan menguburnya dalam dalam di relung hatinya yang paling dalam. Mereka pun memiliki perasaan yang sama. Bertemu Layla mengingatkan mereka akan peristiwa bagaimana mereka berjuang keras mempertemukan Layla dan Kei. Ah kenangan itu bagai racun yang kapan saja melukai, tapi kenangan itu bagai kekasih yang tak pernah jauh dari pikiran.
"Aku sayang kalian" ucap Layla dengan nada suara bergetar. Detik berikutnya mereka saling berpelukan.
Raiden yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan tertunduk. Ia mengerti dan tidak ingin mengganggu mereka. Raiden memilih diam dan memberikan ruang dan waktu sebanyak banyaknya buat Layla melepas rindu.
"Hei, bengong lagi" ucap Layla menepuk pundak Raiden, membuat Raiden terkejut.
"Ah tidak" jawab Raiden tertawa kecil.
"Ayo kita pulang." Layla memegang lengan Raiden
"Bye! sampai ketemu lagi Layla!" ucap ketiga temannya serempak sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
"bye, makasih ya atas waktunya." Layla tersenyum menatap ketiga temannya lalu balik badan dan melangkahkan kakinya menuju halaman sekolah. Sesampai di halaman sekolah Layla dan Raiden langsung masuk ke dalam mobil untuk kembali pulang.