
Setelah beberapa hari di rawat, Kei sudah mulai pulih. Ia sangat senang mendengar kabar gembira tentang kelahiran bayi kembar yang telah di lahirkan Clara dengan selamat. Namun di sisi lain ia merasa sangat sedih mendengar kabar bahwa Layla tengah berjuang mempertahankan hidupnya juga bayi dalam kandungan Layla. Diam diam Kei keluar dari ruangan tempat ia di rawat. Kei berniat untuk melihat kondisi Layla dari jauh karena ia sudah berjanji untuk tidak mengganggu atau menemui Layla lagi, meski sulit dan terasa pahit tapi ia harus melakukannya untuk kebaikan Layla, karena Kei berharap besar kalau kekasih pujaannya bisa sembuh total. Namun di luar dugaan, saat ia berada tak jauh dari ruangan tempat Layla di rawat, ia melihat Raiden dan Sila tengah berjalan tergesa gesa menyusuri lorong rumah sakit. "Ada apa dengan Layla? apakah terjadi hal yang buruk?" ucap Kei. "Ya Rabb..sembuhkan Layla..selamatkan dia dan bayinya," pinta Kei dalam doa.
Kei terus memperhatikan Raiden dan Sila yang berdiri terpaku di depan pintu ruangan, lalu mereka duduk di kursi dengan raut wajah cemas, "Ya Rabb..aku mohon..aku mohon..berikan yang terbaik untuk Layla dan bayi kami," gumam Kei terus memperhatikan mereka. Tak lama kemudian Kei melihat dua orang perawat keluar dari ruangan dan berbincang bincang dengan mereka berdua.
"Ya Rabb..apa yang terjadi..mengapa perasaanku tidak enak," ucapnya pelan. Ada keinginannya untuk menghampiri mereka tapi keinginannya ia urungkan. "Mau kemana mereka?" Kei melihat Raiden dan Sila memasuki ruangan, setelah itu ia tidak dapat melihat lagi apa yang terjadi di dalam ruangan. Yang Kei lakukan saat ini adalah menunggu di tempat ia berdiri tak jauh dari ruangan Layla.
Sementara itu di dalam ruangan tempat Layla di rawat, Raiden dan Sila langsung bertanya pada Dr. Kenzi, "Dok..apa yang terjadi dengan Layla? bagaimana kondisinya?" tanya Raiden dengan tatapan khawatir. Lalu ia beralih menatap Rico yang tengah memeluk tubuh Layla yang terbaring di atas tempat tidur. "Dok..katakan ada apa?" kembali Raiden bertanya.
Dr. Kenzi menundukkan kepala sesaat, ia menggelengkan kepala menatap sendu Rico yang tengah memeluk tubuh Layla. "Maaf..kami sudah berusaha semaksimal mungkin."
"Maksud Dokter?" tanya Sila.
"Layla mengalami pendarahan hebat, dia tidak mampu bertahan," jawab Dr. Kenzi.
"Ya Rabb..Layla.." ucap Sila lirih, bulir air mata langsung turun membasahi pipinya.
"Layla, akhirnya kau meninggalkan kami semua." ucap Raiden sembari memeluk erat Sila. Hatinya terasa perih mengingat kembali semua kenangan saat bersama Layla dulu.
Suasana ruangan itu hening seketika, tak ada lagi kata kata yang terucap selain isak tangis yang terdengar. Raiden dan yang lain larut dalam kesedihan membawa semua kenangan masa lalu menjadi begitu menyakitkan bagi mereka.
"Layla banguuunn...!" Rico terus memeluk tubuh Layla dan mengguncangnya perlahan. Ia berharap Layla membuka matanya dan tersenyum seperti hari hari kemarin. "Layla..jangan tinggalkan aku..bukankah kau sudah berjanji padaku Layla..ayo banguuun.."
"Rico..kau harus iklaskan kepergian Layla.." ucap Raiden. Rico menoleh sesaat ke arah Raiden yang tengah berjalan mendekat.
__ADS_1
"Layla..bangun sayang..bangun.." ucap Rico, suaranya semakin serak nyaris tak terdengar.
"Semua sudah KehendakNya, tabahkan hatimu Ric.." Raiden menarik kedua bahu Rico supaya bangun.
"Dia sudah pergi..dia meninggalkanku.." ucap Rico lirih.
"Aku tahu..kau harus kuat Ric..ada seseorang yang membutuhkanmu.." Raiden mencoba untuk membesarkan hati Rico.
Rico menoleh ke arah Raiden, "putriku?"
Raiden menganggukkan kepala, "ya kau benar.."
"Sebaiknya kita urus jenazah Layla," potong Dr. Kenzi.
Jumat pukul 9 pagi. Hari terakhir perjuangan panjang Layla melawan sakit kanker dan memperjuangkan bayi dalam kandungannya untuk tetap hidup dan terlahir dengan selamat. Meski ia harus mengorbankan nyawanya, begitu juga akhir dari perjuangannya meraih cinta Kei hingga ajal menjemput. Kesetiaan, keteguhan hati, dan semua luka telah Layla bawa bersama kematiannya. Dia hanya menyisakan luka dan kenangan untuk orang orang yang menyayangi dan mencintainya dengan tulus.
Di balik pintu, Kei memperhatikan semuanya. Ia terduduk lemas di balik pintu sembari menangis dalam diam, tapi hatinya menjerit pilu. Tak ada lagi yang tersisa untuknya selain penyesalan dan rasa bersalah yang akan terus dia bawa sampai akhir hidupnya.
***
Proses pemakaman Layla berjalan dengan lancar, semua orang yang mengikuti proses pemakaman telah pulang ke rumahnya masing masing. Kini tinggal Rico dan Raiden yang masih berada di samping pusara Layla.
Tak ada lagi kata kata yang mampu mewakili perasaan mereka. Raiden berdiri di samping Rico yang tengah jongkok dan memeluk batu nisan. "Aku berjanji akan menjaga putrimu seperti putriku sendiri..kau tidak perlu khawatir Layla..aku akan menjadi Ayah sekaligus menjadi Ibu untuk putrimu..putri kita," ucapnya lirih di sela isak tangisnya.
__ADS_1
Raiden hanya diam, sesekali ia mengusap bulir air mata di sudut netranya. 'Layla..terima kasih untuk segalanya, kau mengajarkanku banyak hal lewat semua penderitaan hidup yang kau alami..Layla..kau wanita hebat yang pernah kukenal selain ibuku' ucap Raiden dalam hati, bibirnya tersenyum getir.
Sementara dari jauh, Kei berdiri di bawah pohon dengan tatapan lurus ke arah pusara Layla. "Maafkan aku Layla..maafkan aku.." ucapnya pelan.
Waktu terus berjalan dan tidak pernah menunggu. Ia akan terus melangkah hingga rambutpun memutih. Waktu tidak bisa di putar kembali, penyesalan tinggallah penyesalan, Layla telah pergi dengan damai.
Tak lama kemudian hujanpun turun membasahi pusara Layla yang masih merah. Raiden dan Rico meninggalkan pemakaman dengan membawa kenangan tentang Layla.
"Aku tidak bisa menemanimu Ric, karena Sila di rumah sendirian..aku khawatir dia akan melahirkan," ucap Raiden menatap sedih ke arah Rico.
"Tidak apa apa Rai..aku baik baik saja..lagipula aku tidak sendirian..ada mbok Karsih dan putriku Aira," jawab Rico.
"Baiklah..aku pulang dulu..kalau ada apa apa..hubungi aku," ucap Raiden.
Rico menganggukkan kepala, "iya..tentu saja..terima kasih banyak Rai." Raiden menganggukkan kepala, ia menepuk bahu Rico lalu balik badan melangkahkan kakinya dengan gontai menuju rumahnya.
Rico terpaku menatap pintu rumah, ia menangis saat kenangan jejak jejak keberadaan Layla di rumah itu.
"Maafkan aku Layla..aku masih belum bisa menerima kepergianmu..belum bisa..atau mungkin tak akan pernah bisa.." gumam Rico. ia menundukkan kepala sesaat. Kemudian ia melangkahkan kaki memasuki rumah langsung menuju kamar di mana bayi Layla berada.
"Aira sayang..maaf kalau ayah terlalu lama pergi," ucap Rico, ia naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Aira kecil dan memeluk sang bayi erat.
Mulai hari ini dan seterusnya, Rico yang akan menggantikan semua tugas Layla untuk merawat Aira. "Akan kutepati janjiku padamu Laa..tapi..aku tidak akan memberitahu Aira..tentang ayah kandungnya..maafkan aku Layla..karena aku akan merahasiakannya dari Aira kita."
__ADS_1