
Pasca operasi, Dokter Kenzi belum mengijinkan siapapun untuk menjenguk Layla karena kondisinya dalam masa kritis.
Kei dan Raiden masih setia menunggu di luar ruangan kamar Layla di rawat. Sementara Mbok Darmi dan Mang Usman berpamitan pulang dulu untuk membawakan perlengkapan yang dibutuhkan Layla nanti.
Kei berdiri di depan pintu ruangan, menyandarkan tubuhnya di pintu. Sementara Raiden duduk bersandar di kursi, wajahnya tengadah menatap ke atas.
Kei melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 20:45. Kei menarik napas dalam dalam.
"Clara pasti mencariku. Tapi, kalau aku pulang bagaimana dengan Layla?" gumam Kei pelan.
"Kenapa kau masih di sini? kenapa kau tidak pulang saja?" tanya Raiden menatap Kei sesaat. Tapi Kei hanya diam saja.
"Kau tidak perlu susah susah jagain Layla, ada aku" timpal Raiden.
"Terserah kau, aku..." Kei tidak melanjutkan ucapannya. Kei menatap lurus ke arah lorong rumah sakit, nampak seorang wanita tengah berjalan mendekati mereka. Kei melihat sosok wanita itu yang semakin dekat.
"Clara" ucap Kei pelan.
Clara berjalan semakin dekat dengan Kei. Ia menatap tajam Kei dengan tatapan kesal. Sudah seharian Clara mencarinya dan dugaannya ternyata benar, bahwa Kei ada bersama Layla.
"Seharian aku mencarimu, ternyata kau disini." Clara menyilangkan kedua tangan di dada.
"Clara aku-?"
"Apa?" potong Clara, "ayo kita pulang." Clara menurunkan kedua tangannya dan langsung memegang tangan Kei.
Kei menepis tangan Clara, "iya aku pulang, tapi tidak sekarang."
"Kenapa?" tanya Clara, dua alisnya saling bertaut.
"Layla sedang di rawat, dia..." Kei tidak melanjutkan ucapannya.
Clara menepuk keningnya, "oh, ya ampun. Layla lagi, Layla lgi" sindir Clara.
"Aku minta maaf Clara" balas Kei.
"Kei, Keila menangis kalau kau tidak ada dirumah." Mata Clara sayu.
"Aku...minta maaf."
"Tidak, kau harus pulang. Disini sudah ada temannya yang menjaga Layla." Clara melirik ke arah Raiden sesaat.
"Tapi-?"
"Tidak! kau harus pulang!" seru Clara.
Clara langsung menarik tangan Kei, dan memaksanya pulang. Kei terpaksa mengikuti langkah Clara dari pada nanti malah ribut di dekat kamar Layla dan mengganggunya.
Raiden yang sedari tadi diam memperhatikan, menghela napas dalam dalam menatap punggung Kei dan Clara hingga hilang di ujung rumah sakit.
Sesampainya Kei dan Clara di halaman rumah sakit, keributan mereka berlanjut hingga di dalam mobil. Sepanjang perjalanan mereka bertengkar karena beda keinginan.
"Sadarlah Kei, sekarang ini, akulah istrimu!" seru Clara dengan tatapan fokus ke depan.
"Aku tahu Clara. Tapi, Layla membutuhkanku" jawab Kei melirik sesaat ke arah Clara.
"Cukup!" seru Clara, "kau pikir, Keila tidak butuh kamu?!" Clara menghentikan laju mobilnya.
"Aku mohon mengertilah Clara..." gumam Kei lirih.
__ADS_1
"Kei!!" panggil Clara, dengan kedua tangan memukul stir mobil, dengan tatapan tajam ke arah Kei.
"Kau tidak perlu mengatur aku Clara, ucap Kei, "kau harus ingat, aku menikahimu dalam keadaan amnesia."
Clara terdiam, "lalu?" tanya Clara, "apa maumu?"
"Aku ingin kau mengerti situasi aku sekarang" jawab Kei.
Bibir Clara mengatup, giginya gemelutuk menahan amarah. Ia mengangguk anggukkan kepala menatap tajam Kei.
"Baik kalau itu maumu, sekarang juga kau keluar!!" teriak Clara.
"Clara aku-?"
"Keluar!!" potong Clara, ia melebarkan matanya menatap tajam Kei.
"Bukan maksud ak-?"
"Keluar!!" potong Clara lagi. Ia palingkan wajahnya ke jendela, lalu ia keluar dari pintu mobil dan berjalan ke kiri jalan untuk membuka pintu mobil. Lalu ia memaksa Kei untuk keluar dari dalam mobil.
"Clara, dengarkan penjelasanku dulu" ucap Kei. Lalu Kei keluar dari mobil dan kembali Clara menutup pintu mobil.
"Dengarkan aku baik baik," mata Clara berkaca kaca, "kau mau pulang silahkan, tidak pulang juga terserah kau, aku capek."
"Clara, dengar dulu!" seru Kei menarik lengan Clara.
Clara menepis tangan Kei, ia langsung bergegas kembali masuk ke dalam mobil. Sesaat Clara menatap Kei yang mengguncang pintu mobil berusaha untuk membukanya.
"Kau benar benar keterlaluan" gumam Clara.
"Clara, buka Clara." Mata Kei menatap Clara dari balik kaca mobil.
"Claraa!!" panggil Kei berteriak kencang, saat mobil yang di kemudikan Clara melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan Kei di tepi jalan.
Kei berteriak sambil mengusap kasar rambutnya, "kenapa selalu seperti ini! kenapa!!" teriak Kei menatap mobil Clara hingga hilang dari pandangan.
Kei melangkah gontai duduk di tepi jalan, ia menundukkan kepala dengan kedua tangan menahan kepalanya.
"Kenapa...kenapa aku selalu dalam posisi serba salah.." gumam Kei lirih.
Kei terdiam cukup lama di tepi jalan, ia memikirkan hidupnya selalu mengalami jalan buntu untuk kembali pada Layla. Perlahan air mata Kei menetes jatuh ke jalan aspal. Ia merasakan nyeri di dadanya mengingat semua yang telah terjadi padanya. Ia menyeka air matanya lalu bangun dan berdiri. Berkali kali Kei mengusap air matanya dan hidungnya yang meler. Lalu ia balik badan mendekati sebuah jembatan yang tak jauh dari tempat ia berdiri.
Kei berdiri di tepi jembatan dengan kedua tangan di rentangkan.
"Aaaaaaaaaahhhkkk!!!" Kei berteriak sekeras kerasnya untuk melepaskan beban yang mengganjal di dadanya.
"Kei? Kei anakku?" sapa seorang wanita dari belakang.
Kei berhenti berteriak, lalu ia balik badan menatap wanita itu.
"Ayah? Ibu?"
"Kei anakku, kau kemana saja Nak, kami pikir kau telah tiada." Alya dan Abdul langsung memeluk Kei.
"Kami sangat merindukanmu Kei," Alya melepas pelukannya, "kau masih hidup, tapi kenapa kau tidak pulang Nak?" tanya Alya.
Kei melepaskan pelukan Abdul, ia menatap dingin kedua orang tuanya.
"Aku bukan anakmu lagi sekarang." Mata Kei berkaca kaca.
__ADS_1
"Jangan bicara seperti itu Kei, jangan menjadi anak yang durhaka!" tegas Abdul.
Kei tersenyum tipis menatap Abdul, "Anak ya?" tatap Kei tajam, "sejak kalian menjualku kepada Yuda, aku sudah bukan anak kalian lagi.
" Kau sama sekali tidak berubah." Mata Alya sayu.
"Berubah? kenapa kalian yang tidak berubah?" balas Kei.
"Cukup, kita pulang ayo." Alya menarik tangan Kei. Tapi Kei tepiskan tangan Alya.
"Apa kau tidak mau pulang...." Alya menghentikan ucapannya karena wajahnya silau oleh lampu mobil yang mengarah ke wajahnya, dan berhenti tepat di depan mereka.
"Papa!" seru seorang anak laki laki keluar dari pintu mobil.
"Keila?" Kei membalas pelukan Keila yang baru saja datang bersama Clara.
Alya dan Abdul mengerutkan dahi menatap Keila dan Clara, mereka terkejut mendengar Kei telah di panggil 'Papa'.
"Hei, siapa kalian?" tanya Alya menatap Clara dan Keila.
"Saya istrinya Kei Bu" jawab Clara menganggukkan kepala sesaat.
"Istri?" Alya menatap Abdul sesaat, lalu beralih menatap Clara dan Kei, "dan anak ini?" tanya Alya lagi.
"Ini namanya Keila Bu, putra kami" sahut Clara.
"Kalau begitu, kau menantu Ibu, dan Keila cucu Ibu benar kan Pak?" tanya Alya menatap Abdul sesaat.
"Cukup! ayo kita pulang!" seru Kei menarik tangan Clara dan Keila untuk pulang. Kei tidak menginginkan orangtuanya masuk lagi di kehidupannya sekarang.
"Kei tunggu dulu, aku sedang bicara dengan Ibumu." Clara menolak ajakan Kei.
"Memang kalian siapa?" tanya Clara, menatap kedua orang tua Kei.
"Kami orang tua Kei, Nak." Mata Alya berbinar.
"Ayah dan Ibu Kei?" Clara langsung menyalami tangan kedua orangtua Kei, "Kei kau tidak mengatakn kalau kau, masih memiliki orang tua?"
"Tidak penting Kau tahu" balas Kei datar.
"Kei, jangan bicara seperti itu Nak." Alya memegang lengan Kei. Namun Kei menepisnya.
"Kalian ada apa?" tanya Clara, kedua alisnya bertaut. Ia penasaran kenapa Kei tidak akur dengan orang tuanya. Clara sangat ingin mempertanyakannya. Tapi Clara memilih diam dulu, dan akan ia pertanyakan nanti.
Sementara Kei hanya diam tidak bicara sepatah katapun. Jika mereka sudah bertemu orang tuanya, ia merasa hidupnya akan semakin sulit untuk bertemu Layla.
"Bagaimana kalau kita ke rumah saya Bu?" tanya Clara tersenyum.
"Tentu saja boleh Nak" sahut Clara dan Abdul
"Tidak!" Kei menolak usul Clara.
"Kenapa Kei?" tanya Clara lagi.
"Ayo, Papa pulang." Rengek Keila manja.
'Iya sayang" balas Kei.
Keila bergelayut manja di lengan Kei. Keila menarik tangan Kei untuk masuk ke dalam mobil. Akhirnya Clara memutuskan untuk mengajak orang tua Kei ke rumahnya, meskipun Kei sangat tidak menyetujuinya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Alya, Abdul dan Clara saling memperkenalkan diri dan bercerita banyak. Hingga mereka sampai di rumah Clara, perbincangan mereka terus berlanjut. Sementara Kei memilih tidur bersama Keila.
"Layla...maafkan aku" ucapnya lirih.