
Sementara itu di tempat lain. Kei di temukan seorang pengusaha kaya yang berstatus Janda yang memiliki seorang anak perempuan berusia satu minggu. Suaminya meninggalkan wanita itu dan bayinya setelah melahirkan dengan gadis lain. Hingga Clara memiliki sikap yang dingin terhadap pria manapun.
Clara menatap sosok pria yang terbaring di atas tempat tidur, sudah satu bulan lebih sejak ditemukan Clara, wanita itu belum sadar dari komanya. Hingga Clara merwat dan membawanya kerumah.
"Bagaimana dia Dok?" tanya Clara pada Dokter Mira.
"Kondisinya sudah membaik, semoga dia cepat sadar" jawab Dokter Mira, setelah selesai memeriksa pria itu yang tak lain adalah Kei
"Kalau begitu, saya permisi Pak" ucap Dokter Mira.
"Tunggu Dok!" seru Clara, ia melihat tangan Kei melakukan pergerakan.
Dokter menoleh menatap tangan Kei yang bergerak, lalu ia kembali membuka peralatan medisnya dan memeriksa Kei.
"Dia mulai sadar Pak," ucap Dokter Mira.
"Tidaak!!"
Kei membuka mata dan bangun dengan berteriak histeris.
"Tenanglah." Dokter Mira menyentuh pundak Kei untuk menenangkan.
Kei menoleh ke arah Dokter, wajahnya berkeringat. Kei menatap sekitar ruangan dan matanya tertuju pada Clara.
"Siapa kau?" Kei beralih menatap Dokter Mira. "Aku di mana?" tanya Kei dengan wajah panik.
"Tenanglah, kau ada di rumah Bu Clara Kami menemukanmu dalam keadaan terluka." Dokter Mira menjelaskan.
"Aku terluka?" tanya Kei menatap bingung Dokter Mira.
Dokter Mira menganggukkan kepala dan tersenyum. "Nama kamu siapa? dan di mana rumahmu?" tanya Dokter mira.
"Namaku?" Kei menautkan dua alisnya, wajahnya tertunduk.
"Namaku siapa.. dan rumahku dimana..aku tidak tahu.." jawab Kei lirih.
"Kau tidak ingat namamu?" tanya Dokter Mira.
Kek menggelengkan kepala, ia tertegun sesaat berusaha mengingat siapa namanya, tapi usahanya sia sia. Kei merasakan sakit dikepalanya.
"Ahhkkk!"
Kei berteriak memegang kepalanya yang merasakan sakit yang hebat.
"Cukup, kau tidak perlu mengingat namamu. Sekarang kau istirahat saja." Dokter Mira memberikan obat penenang pada Kei. Tak lama kemudian Kei tertidur.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan dia, Dok?" tanya Clara tidak mengerti.
"Sepertinya dia mengalami amnesia yang di akibatkan benturan keras di kepalanya." Dokter mengambil kertas dan pena, lalu ia menuliskan beberapa resep pada Clara.
"Usahakan jangan buat dia berpikir keras, dan berikan dia perawatan dan ketenangan supaya cepat pulih." Dokter Mira memberikan kertas resep pada Clara.
"Apa dia akan kembali pulih ingatannya Dok?" tanya Clara. Tangannya terulur menerima kertas resep dari Dokter.
"Butuh waktu lama untuk sembuh, tapi ke depan siapa yang tahu, dia bisa pulih dengan cepat."
Kemudian Dokter Mira berpamitan pulang setelah semua selesai, Clarapun mengantarkan Dokter Mira sampai depan teras rumahny. Sesaat Clara terpaku dan berpikir keras. "Nama apa yang harus aku berikan?" gumam Clara pelan.
"Samuel" Bibir Clara tersenyum saat ia menemukan sebuah nama baru untuk Kei.
Clara melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar Kei. Ia terkejut karena Kei tidak ada di kamarnya. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju ruangan lain untuk mencari Kei, namun Kei tidak ada di setiap ruangan.
Clara kembali mencari Kei di kamar bayinya yang belum ia periksa, saat Clara membuka pintu ia melihat Kei tengah duduk di tepi tempat tidur dengan menggendong bayinya Clara yang tengah menangis.
Clara langsung mendekati Kei, ia khawatir Kei akan menyakiti bayinya yang masih merah. "Apa yang kau lakukan disini!" seru Clara
Kei menoleh dan menatap Clara. Ia letakkan satu jarinya di bibir.
"Sssttt."
"Kau tidak bilang, kalau kita sudah punya anak." Kei berdiri mendekati Clara.
"A,anak? kita?" ucap Clara gagap.
Kei menganggukkan kepala tersenyum pada Clara. Tangannya terulur menyentuh baju Clara yang sedikit terbuka kancing kemejanya. Hingga membuat Clara sangat gugup. "Siapa nama anak kita?" tanya Kei.
"Ddi,a namanya Keila Pratama, panggilannya Kei" jawab Clara menurunkan tangan Kei dari dadanya.
"Keila?" Kei mengerutkan dahi menatap Adrian.
"Kei..Kei.." Kei memegang kepalanya yang terasa sakit. Tiba tiba ia jatuh pingsan dan sebelum Kei jatuh ke lantai, Clara dengan sigap menahan tubuh Kei dan memeluknya erat. Kemudian Clara berusaha membawa tubuh Kei dan ia baringkan di atas sofa berukuran besar yang tak jauh dari tempat tidur bayinya.
Clara duduk di tepi sofa dan berusaha membangunkan Kei dengan menepuk pipi Kej pelan. "Hei, bangunlah."
Tak lama kemudian Kei membuka mata perlahan, ia melihat Clara yang duduk di sebelahnya. Kemudian Kej bangun dan tersenyum pada Clara. "Maaf, aku merepotkanmu."
Clara menganggukkan kepala, "tidak apa apa."
Kei menoleh menatap bayi yang tertidur pulas, lalu beralih menatap Clara.
"Jika kita sudah punya anak, lalu siapa namaku?" tanya Layla.
__ADS_1
Sesaat Adrian terdiam, lalu ia menyebutkan sebuah nama yang sudah di persiapkannya.
"Samuel, namamu Samuel."
"Samuel?" Kei mengulangi nama tersebut. Ia merasa asing dengan nama itu. Tapi Kei sendiri tidak mengingat namanya sendiri.
"Sekarang kau kembali ke kamarmu, dan bersihkan badan kamu," Clara berdiri. "Ada banyak pakaian di dalam lemari, aku rasa itu cocok buat kamu." Clara berpikir semua pakaian suaminya yang belum di pakai, yang dulu pernah ia belikan cocok buat Kei.
Kek menganggukkan kepala, lalu ia bangun dan turun dari sofa. "Baiklah."
Kemudian Clara mengantarkan Kei ke kamar. Setelah itu ia kembali melangkahkan kakinya menuju ruang kerja yang ada di rumah milik Clara
Satu jam berlalu, Kei telah selesai dengan dirinya. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. " Aku lupa bertanya namanya siapa." Kei tersenyum mengingat Clara. Lalu ia melangkahkan kakinya mencari Clara.
"Mbok, dimana istriku ?" tanya Kei pada asisten rumah tangga yang bernama Minah.
"Mungkin ada di ruang kerjanya Den." jawab Minah membungkukkan kepala.
"Jangan panggil saya Den, saya tidak suka. Panggil saya Samuel." Kei tersenyum menyebut nama barunya walau terasa asing.
"Baik Den" jawab Minah tersenyum.
Kemudian Kei berinisiatif untuk membuatkan Clara teh hijau. Setelah itu Kei melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Clara di antar Minah karena tidak tahu di mana letak ruang kerja Clara.
Sesampainya di pintu ruangan, Minah kembali ke dapur dan Kei mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum ia membuka pintu ruangan. Kei tersenyum saat melihat Clara tengah menatapnya. Kei langsung mendekati Clara dan meletakkan teh hijaunya di atas meja.
"Kau sedang apa?" tanya Kei berdiri di belakang Clara dan melingkarkan kedua tangan di leher Clara.
Clara terpaku menatap lengan Kei yang melingkar di lehernya. "Aku sedang bekerja" jawab Clara lalu ia menurunkan lengan Kei dari lehernya.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Kei dengan wajah murung.
"Ti,tidak, bukan begitu," ucap Clara gagap. "Kau tidak menggangguku Sam."
Kei kembali tersenyum menatap Clara. Lalu ia duduk di kursi sebelah Clara dan memperhatikan Clara yang bekerja di depan layar monitor.
Clara merasa canggung di temani Kei. sebelumnya ia tidak pernah diperhatikan sedemikian rupa oleh pria yang pernah ia nikahin dulu.
****
Setiap hari Kei membantu pekerjaan Clara di kantornya. Bahkan ia menangani semua permasalahan di perusahaan Clara dengan baik. Dengan adanya Kei, Clara sangat terbantu. Ia dapat lebih sering di rumah merawat bayinya.
Hati Clara yang dingin sedingin salju, lama lama mulai mencair melihat ketulusan dan kasih sayang yang di berikan Kei pada bayinya juga dia sendiri. Dalam hati Clara tumbuh rasa kagum dan rasa sayang terhadap Kei.
Selama ini Kei menganggap bahwa Clara dan Keila adalah suami dan anaknya. Tapi meskipun begitu, Clara tidak pernah mau di sentuh Kei. Meskipun hasratnya sangat menginginkan itu. Clara takut terlalu dalam mencintai Kei. Bagaimana kalau dia sudah punya istri?
__ADS_1