
'Bagaimanapun caranya, aku akan membalaskan sakit hatiku, tunggu saja Raiden.' ucap Yuda dalam hati. Suasana siang yang terik menambah panas hatinya Yuda atas penghinaan Raiden tempo hari.
Yuda duduk termenung di teras rumahnya. Tiba tiba ia melihat sebuah mobil Taksi online memasuki halaman rumahnya. Ia bangun dari duduknya, mengerutkan dahi menatap Taksi yang menepi di halaman rumahnya. Yuda terkejut melihat Kei dan Dinda sudah kembali dari Jepang tanpa memberitahu Yuda terlebih dahulu.
"Dinda? Kei?!
Yuda langsung bergegas menghampiri mereka berdua. " Kalian sudah pulang? kenapa tidak memberitahu Papa? Papa bisa jemput kalian?" tanya Yuda sambil memeluk Dinda dengan perasaan senang dan bertanya tanya.
"Papa, aku kangen Papa" ucap Dinda membalas pelukan Yuda.
"Ayo masuk."
Yuda menggandeng Dinda masuk ke dalam rumahnya, disusul Kei sambil menyeret dua buah koper memasuki rumah tanpa bicara sepatah katapun.
"Ceritakan pada Papa, apa kau bahagia? apa kau menikmati liburannya?" tanya Yuda menatap Dinda lalu duduk di kursi ruang tamu.
Sesaat Dinda terdiam menatap Yuda, lalu beralih menatap Kei sesaat. "Aku bahagia Pa."
Sebagai seorang Ayah, tentu akan memiliki ikatan batin yang kuat. Seorang Ayah akan tahu apa yang sedang anak anaknya sembunyikan ataupun sedang bahagia.
"Kau tidak berbohong?" tanya Yuda menaikkan satu alisnya menatap Dinda. Sementara Kei hanya diam tertunduk.
"Benar Pa, buat apa Dinda bohong. Iya kan Kei?" Layla tersenyum menatap Yuda lalu beralih menatap Kei dengan tersenyum getir.
Kei tidak mengiyakan apa yang di ucapkan Dinda, Kei tetap seperti biasanya tak banyak bicara. Hingga Yuda semakin curiga dan merasa bahwa Kei tidak berubah sama sekali. Yuda ingin bertanya lebih banyak pada Dinda, tapi Yuda menyimpannya dan akan ia tanyakan lagi nanti. Saat ini dia akan menyusun rencana untuk menjatuhkan perusahaan Raiden.
"Baiklah, kalian istirahat. Papa masih ada urusan" ucap Yuda sembari mengecup puncak kepala Dinda. Ia bangkit dari duduknya, sesaat menatap Kei lalu ia melangkahkan kakinya keluar rumah.
Dinda bangkit dari duduknya dan berlalu begitu memasuki kamarnya. Sementara Kei hanya diam tertunduk di kursi. 'Layla.' ucapnya dalam hati.
Entah untuk berapa lama Kei diam terduduk. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Saat ia membuka pintu, Kei melihat Dinda tengah duduk di kursi sembari menangis. Kei mendekati Dinda dan berdiri mematung di hadapannya.
"Maafkan aku, yang tidak pernah bisa menjadi suamimu" ucap Kei menatap Dinda yang sesegukan menangis. Satu bulan sudah mereka ada di Jepang. Tapi sikap Kei tetap sama saja.
"Kenapa kau menyakiti aku terus, kenapa kau hanya memberikanku harapan palsu, kenapa kau mengorbankan aku hanya untuk menyenangkan hati orang tuamu, Kei, Kenapa!" ucap Dinda dengan sedikit penekanan.
__ADS_1
"Maafkan aku" ucap Kei tertunduk.
"Semudah itu kau meminta maaf? apa salahku padamu Kei, apa salahku!"
Dinda berdiri sembari menyeka air matanya menatap tajam Kei yang berdiri di hadapannya. "Aku akan mengurus sendiri perceraian kita Kei, aku lelah. Aku tidak punya harapan lagi, percuma kita teruskan jika kau hanya menyakitiku saja" ucap Dinda mengambil keputusan final. Satu keputusan yang sulit dia ambil. Tapi pada akhirnya Dinda menyerah.
"Sekarang kau tidak perlu tinggal di rumahku lagi. Pulanglah ke rumah orang tuamu dan kau tinggal menanda tangani surat perceraian kita" ucap Dinda dingin, sedingin hatinya yang telah membeku dan hancur berkeping keping. Setelah selesai bicara, Dinda berlalu meninggalkan Kei di kamar sendirian.
'Ya Rabb, bagaimana mungkin aku bisa menyentuh wanita yang tidak aku cintai, maafkan hamba Ya Rabbb.' ucap Kei dalam hati, ia duduk di kursi menangkup wajahnya.
"Bukkk!!"
Tiba tiba Dinda masuk ke dalam kamar dan melemparkan sebuah koper berukuran besar yang berisikan pakaian Kei. Kei perlahan menurunkan tangannya menatap koper di lantai lalu beralih menatap Dinda.
"Kau boleh pergi dari rumah ini sekarang Kei, aku sudah tidak tahan lagi. Kesabaranku sudah habis."
"Tapi Dinda?"
"Apalagi Kei? aku berusaha sabar, memupuk semua harapan dan keyakinanku, tapi apa nyatanya? kau berulang kali menghancurkan perasaanku. Jadi tunggu apalagi? bukankah ini yang kau inginkan Kei? kau ingin kembali pada Layla bukan?." Air mata Dinda mengalir deras di pipinya, matanya sembab dan merah.
"Dinda, aku-?"
"Aku..aku tidak tahu Dinda" ucap Kei. Kini ia dalam situasi serba salah. Entah apa yang dia inginkan saat ini. Situasi ini terasa memojokkannya. Seakan semua adalah salah Kei.
"Sekarang aku bertanya sekali lagi. Kau mau kita pisah dan sekarang juga kau pulang, atau kau berubah sikap hari ini juga??!"
Kei menatap tajam Dinda, ia menundukkan kepala sesaat lalu berkata. "Baik, kita lakukan sekarang" jawab Kei berjalan lebih dekat dengan Dinda. Ia mengusap air mata Dinda dan menatapnya dengan tajam. Tangan Kei terulur mencengkram tengkuk Dinda dan mendekatkan wajahnya pada wajah Dinda sehingga tak ada jarak diantara keduanya.
Perlahan Kei mulai menyentuh bibir Dinda dan melumatnya pelan. Dinda menyambutnya dengan perasaan lega dan bahagia. Tanpa Kei sadari, tangannya mulai meraba tubuh Dinda dan membaringkannya di atas tempat tidur, untuk sesaat Dinda menikmati cumbuan mesra Kei. Namun detil berikutnya Kei terdiam dan menatap wajah Dinda. 'Layla' ucapnya dalam hati. Lalu ia bangun dan turun dari tempat tidur dan duduk di kursi menangkup wajahnya.
"Kei?" ucap Dinda bangun dan menatap Kei.
"Maafkan aku Dinda, aku belum bisa" jawab Kei.
Dinda tertunduk, ia merasa apa yang di lakukan Kei adalah setitik harapan buat Dinda, kembali ia percaya bahwa Kei bisa menerimanya. "Tidak apa apa Kei, kita bisa lakukan itu pelan pelan" jawab Dinda. Lalu ia turun dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya keluar kamar.
__ADS_1
Kei hanya diam menatap kepergian Dinda.
"Maafkan aku Layla, maafkan aku" ucap Kei pelan.
Lama Kei terdiam di kamarnya, sampai akhirnya ia memutuskan untuk menemui Ayah dan Ibunya bersama Dinda.
***
Kei dan Dinda sudah terlihat rapi dan bersiap siap untuk menemui Abdul Dan Alya. Setelah berpamitan pada Yuda merekapun langsung berangkat sore itu juga. Sepanjang perjalanan Kei dan Dinda saling diam tak banyak bicara.
Tiba tiba Kei menghentikan kendaraannya dan menepi di tepi jalan. "Kei? ada apa?" tanya Dinda menatap Kei yang memperhatikan ke luar jendela. Tapi Kei tidak menjawab pertanyaan Dinda. Kei terus memperhatikan ke luar jendela menatap seorang wanita dan seorang pria tengah berdiri bergandengan tangan di sebrang jalan raya. Karena penasaran Dinda mengikuti arah pandang Kei. Dinda langsung merasakan panas di dada karena cemburu saat tahu Kei tengah memperhatikan Layla yang tengah menyebrang jalan bersama Raiden.
"Oh, Layla rupanya. Tapi tunggu dulu? akhir akhir ini Layla nampak akrab ya dengan Raiden" ucap Dinda mencoba membuat Kei membenci Layla.
Kei menoleh menatap Dinda dengan datar, sedikit perasaan Kei tergoyahkan akan pernyataan Dinda. Lalu ia menatap lagi ke arah Layla dan Raiden yang lewat di depan mobilnya. Nampak Raiden menggenggam tangan Layla. Dan Layla pun nampak terlihat lebih bahagia. Kei langsung keluar dari mobil dan mendekati Layla dan Raiden yang berdiri di halaman toko alat alat lukis.
"Layla" ucap Kei berdiri di belakang Layla dan Raiden.
Layla dan Raiden menoleh ke belakang dan memutar badan. "Kei?" ucap Layla menatap Kei lalu beralih menatap Dinda yang berjalan mendekati Kei langsung memeluk lengan Kei dengan manja.
"Kalian?" timpal Raiden menatap ke duanya.
"Hai Layla, sedang apa kalian di sini?" tanya Dinda tersenyum menatap Layla.
"Oh, aku mau membeli alat lukis" jawab Layla datar.
"Kalian sendiri sedang apa di sini? kalian sudah kembali dari bulan madu?" tanya Raiden tersenyum sinis.
"Sudah dong, dan kami menikmatinya. Iya kan sayang?" jawab Dinda menatap Kei. Kei hanya diam terpaku menatap Layla, ada rasa ingin memeluk Layla, ada kerinduan yang sangat besar di mata Kei.
Raiden yang memperhatikan Layla dan Kei merasakan kesal dan cemburu. Raiden melihat masih ada rasa cinta yang besar dan kerinduan di mata Layla dan Kei. Lalu Raiden berusaha mengalihkan pandangan mereka.
"Maaf, kami harus ke toko dulu. Ada yang mau kami beli."
"Oh iya, silahkan di lanjutkan. Kami juga hendak menengok Ibu dan Ayah mertua" ucap Dinda sembari bergelayut manja di lengan Kei. Kemudian Dinda menarik lengan Kei untuk kembali masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Dengan sangat terpaksa Kei mengikuti langkah Dinda untuk kembali melanjutkan perjalanannya. Sementara Layla dan Raiden kembali melangkahkan kakinya memasuki toko alat lukis.
'Layla, kau masih seperti yang dulu, kau tepati janjimu padaku.' ucap Kei dalam hati tersenyum.