
Layla dan Raiden tengah berdiri di balik pintu, menunggu momen di mana ada orang yang masuk ke dalam gudang. Detik berlalu, menitpun berganti. Layla dan Raiden dengan sabar menanti saat itu tiba untuk melarikan diri.
Apa yang Raiden dan Layla rencanakan membuahkan hasil, seseorang membuka pintu dari luar. Raiden sudah siap dengan balok di tangannya untuk memukul.
"Ceklek" suara pintu di buka.
Satu pria kekar masuk ke dalam gudang untuk memastikan Raiden dan Layla tidak berulah sebelum mereka di eksekusi nanti malam sekitar pukul 02:30.
Pria itu terkejut melihat sekitar, ia tak melihat Raiden dan Layla, lalu ia balik badan hendak memanggil temannya. Namun sebelum pria itu bersuara, Raiden lebih dulu memukul tengkuk pria itu.
"Buggg!"
Pria itu tersungkur ke lantai, ia sempat memegang tengkuknya yang merasakan sakit dan pusing di kepala. Kembali Raiden memukul punggung dan kepala pria itu hingga jatuh pingsan sebelum membalas Raiden.
Mendengar kegaduhan di dalam gudang pria yang lainnya berlari menghampiri dan langdung menerjang Raiden hingga oleng ke samping dan jatuh ke lantai. Raiden langsung bangun dan menubruk pria itu, akhirnya terjadilah perkelahian di dalam gudang. Layla yang sedari tadi berdiri memperhatikan. Akhirnya ia berinisiatif untuk memungut balok kayu yang tergeletak di lantai.
Layla langsung membetikan balok kayu itu pada Raiden. Raiden langsung mengambil balok kayu itu dan mengayunkan balok itu ke arah wajah pria kekar tersebut. Pria itu tersungkur jatuh ke lantai. Tidak ingin membuang waktu lagi, Raiden langsung menghantam tubuh pria itu hingga tidak berkutik lagi. Raiden langsung melempar balok kayu itu sembarangan. Lalu ia menarik tangan Layla dan membawanya pergi dari dalam gudang.
Raiden dan Layla terus berlari mencari jalan keluar, namun ketika Raiden dan Layla menemukan jalan keluar, mereka di kerahui oleh Yuda yang baru saja masuk ke dalam pabrik.
Mihat Raiden dan Layla yang berhasil kabur, Yuda langsung mengejar mereka dan mengarahkan pistol ke mereka berdua.
"Dorrrr!
Yuda berkali kali melepaskan tembakan ke arah Layla dan Raiden yang terus berlari, hingga sasaran pistol Yuda meleset. Akhirnya Layla dan Raiden berhasil keluar pabrik. Sesampainya di halaman pabrik, Raiden dan Layla melihat sebuah mobil yang mendekatinya. Mereka berniat berlari menghindari mobil itu.
" Layla! Raiden!" teriak Kei yang baru saja datang.
Layla dan Raiden menghentikan langkahnya mendengar nama mereka di panggil oleh seseorang yang mereka kenal. Raiden Layla langsung menghampiri mobil Kei dan masuk ke dalam mobil.
"Ayo cepat Kei, kita pergi dari sini!" seru Raiden sambil menutup pintu. Kei langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju jalan raya.
Sementara itu Yuda tidak mau kehilangan mereka, lalu ia langsung masuk ke dalam mobil dan mengejar mobil Kei yang melaju sangat kencang. Akhirnya terjadilah kejar kejaran di jalan yang lumayan berlumpur.
"Kei, lebih cepat lagi!" seru Raiden semabri menoleh ke arah belakang menatap mobil Yuda yang mengejar mereka, sementara Yuda terus mengarahkan pistolnya ke arah mobil Kei.
"Dorrr!!"
__ADS_1
Suara pistol melesat ke arah kaca spion kanan hingga pecah, Raiden, Kei dan Layla terkejut membuat fokus Kei terpecah. Ia membelokkan mobilnya ke arah perkebunan warga. Kei terus menerobos hingga hilang keseimbangan.
"Dorr!"
Yuda mengarahkan pistolnya lagi tepat mengenai ban mobil Kei. Yuda pun tertawa melihat mobil Kei hilang keseimbangan. Jalan yang menurun karena itu adalah perkebunan di dekat kaki bukit membuat Kei tidak bisa mengendalikan mobil yang bannya terkena peluru.
Mobil Kei terus terperosok turun ke bawah, situasi yang gelap dan jalan yang salah arah membuat kepanikan di dalam mobil.
Raiden memeluk Layla dengan erat, sementara Layla menjerit histeris saat mobil Kei meluncur deras ke arah jurang yang tidak di ketahui Kei.
"Aaahhhhhhkkkkk!!! Layla berteriak sekencang kencangnya dalam pelukan Raiden.
" Gubraggg!!
Mobil Kei meluncur turun ke bawah jurang yang terdapat aliran sungai yang sangat dalam dan deras.
"Byurrrrr!!"
Mobil Kei hanyut terbawa aliran sungai dan berkali kali membentur bebatuan yang ada di setiap aliran sungai.
"Akhirnya, kalian mati juga!"
Yuda terus menatap mobil Kei yang terus hanyut terbawa aluran sungai hingga hilang dari pandangan. Tak lama kemudian Yuda memutuskan untuk pulang. Namun saat dia balik badan, Yuda sangat terkejut ketika melihat lima anggota Polisi tengah mengarahkan pistol padanya.
"Jangan bergerak! Anda sudah kami kepung!"
Yuda sempat hendak melarikan diri, tapi Polisi dengan sigap mengejar dan menembak kaki Yuda hingga ambruk ke tanah. Akhirnya Yuda di tangkap Polisi malam itu juga bersama dua rekannya itu. Dan di bawa ke kantor Polisi untuk di proses secara Hukum.
Kemudian pihak Kepolisian menurunkan tim SAR untuk mencari keberadaan Layla, Raiden dan Kei yang masuk ke dalam jurang.
Malam itu juga Polisi dan tim SAR mencari keberadaan Layla hingga seharian penuh para tim SAR mencari mereka bertiga, dengan menyusuri aliran sungai di mana tempat mobil Kei terjatuh.
Mbok Darmi, Mang Usman dan kedua orang tua Kei menunggu kabar tim SAR dengan cemas, karena seharian ini mereka belum membuahkan hasil.
Hari kedua tim SAR kembali melakukan pemcarian hingga aliran sungai menuju kota lain. Tim SAR terus mencari hingga membuahkan hasil. Raiden dan Layla di temukan dalam keadaan tersangkut diantara pepohonan yang ada di tepi sungai. Tapi sayang, tim SAR tidak menemukan Kei.
Kemudian tim SAR membawa Layla dan Raiden ke rumah sakit, dan mereka di nyatakan masih hidup.
__ADS_1
Tim SAR kembali melanjutkan pencariannya hingga melebihi batas yang sudah di tentukan, namun tim SAR tidak berhasil menemukan Kei. Akhirnya pencarian pun ditutup karena sudah memakan hampir satu bulan.
***
Sebulan berlalu, Layla dan Raiden sudah pulih dan di perbolehkan pulang. Namun Layla mengalami kelumpuhan karena akibat benturan di tubuh dan kepalanya. Sementara Raiden tidak mengalami kelumpuhan.
"Apakah Kei sudah ditemukan?" tanya Layla pada Raiden.
Raiden menggelengkan kepala. "Tim SAR sudah menutup pencariannya."
Layla menggelengkan kepala, "tidak mungkin, tidak mungkin." Mata Layla berkaca kaca.
"Iya itu benar." Raiden menyentuh pundak Layla untuk menenangkan.
"Tidak..Kei masih hidup..Kei masih hidup.." ucapnya lirih.
"Keiii!!" Layla beryeriak histeris dan menangis, ia memukul kedua kakinya yang tidak bisa ia gerakkan lagi.
Raiden dan Mbok Darmi berusaha untuk menenangkannya. Tapi tidak berhasil.
"Layla sudah menganggap aku sebagai kakaknya," Raiden duduk di tepi tempat tidur. "Aku dan kau, akan mencari Layla sampai ketemu."
Layla menatap wajah Raiden dengan terisak.
"Kau percaya padaku, kalau Kei masih hidup?" tanya Layla.
"Bukan cuma kau yang kehilangan Kei," Raiden mengusap air mata yang hampir jatuh. "Tapi aku, Om Abdul dan Tante Alya masih percaya kalau Kei masih hidup."
Layla memeluk Raiden. "Jangan pernah kita tinggalkan Kei,"
"Kau tenanglah Layla."
Layla menganggukkan kepala. "Aku mau pulang sekarang."
"Baiklah, tapi kau jangan menangis lagi, percayalah bahwa aku tidak akan meninggalkanmu dan aku juga akan mencari Kei.
Layla hanya diam, ia menatap kedua kakinya yang tidak bisa di gerakkan lagi. Sekarang hidup Layla akan bergantung pada orang lain. Layla memejamkan matanya tersenyum getir. Inikah hidup?
__ADS_1