Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 73: Hamil?


__ADS_3

Rico dan Raiden menunggu di luar kamar Layla dengan perasaan cemas, "bagaimana ini bisa terjadi? bukankah Layla baik baik saja?" tanya Raiden menatap ke arah Rico.


Rico mengangkat kedua bahunya, "aku tidak tahu Rei," ucap Rico pelan. "Sebelum pingsan, Layla memanggil nama Kei." Rico menyandarkan tubuhnya di dinding.


"Dia lagi, dia lagi," gerutu Raiden tak habis pikir apa maunya Kei, banyak kesempatan untuk Kei kembali pada Layla, tapi sedikitpun Kei untuk melakukannya.


"Enaknya pria itu di apain, Rai?" tanya Rico tersenyum sinis.


"Sabar, Ric," jawab Raiden. "Kita harus pikirkan perasaan Layla juga."


Tak lama kemudian, Dr. Kenzi keluar dari kamar Layla.


"Bagaimana Dok?" tanya Rico mendekati Dokter Kenzi. Sementara Raiden tetap duduk di kursi.


Dokter Kenzi menghela napas dalam dalam. Ia terdiam menatap Rico lalu beralih menatap Raiden.


"Dok?" Rico mengerutkan dahi menatap Dokter Kenzi yang masih bungkam tidak mau bicara membuat Raiden bangun dan berdiri mendekati Dokter Kenzi.


"Kenapa Dok? ada apa?" tanya Raiden semakin membuatnya gelisah.


"Layla..." Dokter Kenzi tidak melanjutkan ucapannya.


"Ya?" Rico dan Raiden mengangkat kedua alisnya menunggu jawaban Dokter Kenzi.


"Dok, katakan apa yang terjadi pada Layla Dok!" ucap Raiden menaikkan satu level nada bicaranya.


"Baik, dengarkan saya baik baik," ucap Dokter Kenzi menghela napas panjang lalu ia hembuskan perlahan. "Layla hamil."


Rico tertawa kecil, ia mengusap wajahnya kasar, "jangan bercanda Dok," ucapnya penuh penekanan.


"Dok, ini bukan saatnya untuk bercanda," ucap Raiden menunjuk ke arah Dokter Kenzi.


"Aku tidak sedang bercanda," jawab Dokter Kenzi dengan mimik serius.


"Tidak mungkin..." ucap Rico lirih. Sementara Raiden mendekap mulutnya dengan satu tangan. Ia masih tidak percaya apa yang di katakan Dokter Kenzi. Layla tidak mungkin melakukan hal itu, apalagi kondisi Layla sedang tidak baik.


"Kabar buruk ini, kalian harus tahu karena resikonya sangat fatal," ucap Dokter Kenzi. "Layla cuma punya satu pilihan."


"Ini pasti karena pria brengsek itu!" pekik Rico meninju pintu kamar dengan tangan kanannya.

__ADS_1


Dokter Kenzi dan Raiden terdiam, tidak ada kata yang terucap lagi dari bibir mereka. Yang mereka lakukan hanya berusaha menenangkan Rico yang emosi.


"Aku juga sangat menyesali perbuatannya, tapi bukan itu yang harus kita lakukan sekarang," Raiden menepuk pundak Rico untuk tidak terbawa emosi.


"Benar, Rico," ucap Dokter Kenzi. "Kita harus pikirkan Layla."


"Bagaimana aku tidak emosi?!" seru Rico. "Apa dia tidak punya otak, sudah tahu bukan kalau Layla sedang sakit?!" Rico memaki perbuatan Rei yang di luar batas.


"Aku tahu Ric," sela Raiden. "Dok, pilihan apa yang harus Layla ambil?" tanya Raiden lagi.


Dokter Kenzi menundukkan kepala sesaat, "Layla tidak memungkinkan untuk hamil, itu sangat beresiko," ucap Dokter Kenzi. "Layla harus memilih nyawanya, atau bayinya yang selamat."


Raiden dan Rico matanya terbelalak mendengar penjelasan Dokter Kenzi, "ini pilihan yang sulit Dok," ucap Raiden. "Apa tidak ada jalan lain?" Dokter Kenzi menggelengkan kepala menatap Rico dan Raiden.


"Aku harus menemui Kei, harus," ucap Rico langsung balik badan melangkahkan kakinya dengan tergesa gesa keluar rumah. Di susul oleh Raiden dari belakang.


"Rico!" seru Raiden. "Jangan gegabah Ric!" Namun Rico terus berjalan tidak memperdulikan panggilan Raiden.


"Jangan halangi aku?!" Rico melotot ke arah Raiden yang berusaha mencegahnya.


"Aku tahu, kita semua kecewa," ucap Raiden. "Tapi saat ini Layla membutuhkan kita."


"Rico!" seru Raiden, menatap mobil milik Rico yang meninggalkan halaman rumah Layla.


"Hufffttt" Raiden mendengus kasar, lalu ia balik lagi masuk ke dalam rumah, ia pikir percuma mengejar Rico. Dia tidak akan mendengarkan kata katanya.


Sementara Rico terus menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Kei. Tak butuh waktu lama Rico telah sampai di halaman rumah Kei. Ia langsung keluar dari pintu mobil dan melangkahkan kakinya menuju pintu rumah.


"Dor Dor Dor!!"


Rico menggedor rumah Kei tanpa basa basi lagi, dengan perasaan marah bercampur kecewa telah merasuki perasaannya yang paling dalam.


"Kei! keluar kau!" pekik Rico menatap pintu rumah. "Kei keluar kau sialan!" seru Rico lagi karena belum ada tanda tanda yang membuka pintu.


"Ceklek" suara pintu di buka, dan kebetulan yang membuka pintu adalah Kei sendiri.


"Rico, ada ap-?"


"Kemari kau," potong Rico. Tangannya mencengkram kerah baju Kei dan menyeret paksa tubuh Kei menuju halaman rumah.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya Rico belum mengerti kemarahan Rico.


"Banyak bicara kau!" Rico langsung meninju wajah Kei hingga oleng kesamping, belum sempat Kei bertanya apa alasan Rico menghajarnya, Rico sudah menarik lagi lengan Kei dan meninju wajah kanannya.


"Tunggu! ada apa ini!" pekik Kei, memgang wajahnya menatap Rico.


"Brengsek! tidak perlu banyak bicara!" Rico kembali menerjang Kei dengan melayangkan kaki kanannya menghantam perut Kei. Kei benar benar belum mengerti apa kesalahannya, ia terus bertanya dan pertanyaan Kei semakin membuat Rico marah dan tak dapat mengontrol emosinya.


"Pria brengsek, tidak tahu diri!" Rico kembali hendak menerjang, namun kali ini Kei berusaha menghindar dan mempertanyakan apa ke salahannya. Rico berdiri menatap tajam Kei, dadanya naik turun karena amarah yang bergolak di dalam dada.


"Kau pura pura tidak tahu rupanya?" ucap Rico.


"Apa maksudmu Ric?" Kei masih belum paham.


Rico tersenyum mencemooh, "kau benar benar brengsek," ucap Rico. "Sudah menghamili Layla masih bertanya apa salahmu?"


"Hamil?" Kei membulatkan mata menatap Rico, lalu ia menundukkan kepala mengingat kejadian malam itu.


"Aku..." Kei tidak melanjutkan ucapannya.


"Aku Apa, hah?!" Rico mendekati Kei dan mencengkram kerah bajunya.


"Aku akan menikahinya," jawab Kei memegang tangan Rico.


"Cuih!" Rico menanggapi dingin pernyataan Kei.


"Kau benar benar tidak punya hati!" seru Rico. "Aku tidak akan mengizinkan kau untuk mendekati Layla lagi!" Rico melepas cengkramannya sembari mendorong tubuh Kei. Lalu ia balik badan melangkahkan kakinya menuju mobil.


"Rico, aku akan bertanggung jawab!" seru Kei menahan pintu mobil milik Rico.


"Minggir brengsek!" pekik Rico mendorong tubuh Kei dengan kasar, lalu ia masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya.


"Rico, dengarkan dulu!" Kei mengguncang pintu mobil Rico, namun Rico tidak perduli lagi, ia terus menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Kei.


"Rico!!" seru Kei, ia mengusap kasar rambutnya.


"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan," ucap Kei. "Aku benar benar khilaf." Kei menangkup wajahnya sesaat, lalu ia bergegas masuk ke dalam rumah mengamb kunci mobil. Setelah itu ia kembali keluar rumah dan menjalankan mobilnya menuju rumah Layla.


"Layla, maafkan aku..." ucapnya lirih.

__ADS_1


__ADS_2