
Sesampainya di rumah, Raiden dan Sila langsung berpamitan pulang. Sementara Rico membawa Layla masuk ke dalam kamar untuk beristirahat tapi Layla menolak untuk tidur di atas tempat tidur. Ia memilih menghirup udara segar di balkon kamar.
"Kau tunggu di sini, aku buatkan kau susu untuk kandunganmu," ucap Rico.
Layla menganggukkan kepala, lalu Rico beranjak pergi keluar meninggalkan Layla di balkon sendirian. Sepeninggal Rico, Layla kembali teringat semua kata kata Rico di rumah sakit, ia juga teringat bagaimana Raiden dan Rico berdebat.
"Kenapa kalian tidak mengerti.." ucap Layla lirih, air matanya kembali turun dengan sangat deras tanpa mampu ia cegah lagi.
"Aku bukan tidak ingin hidup lagi..aku bukan menyerah..aku bukan ingin mati..tapi aku benar benar pasrah pada Sang Maha Hidup." Layla menyeka air mata dengan telapak tangannya tapi tak mampu menghentikan tangisannya.
"Bukankah kalian juga tahu! selama ini aku selalu berjuang! bertahan! berusaha! tapi kalau kalau sudah menjadi ketentuan Sang Maha Hidup, aku bisa apa! aku bukan menyerah tapi aku lelah untuk terus berusaha! apa kalian tidak melihat itu! jika kalian lelah bersamaku, kenapa kalian tidak pergi saja!" jerit Layla tak mampu lagi menahan pilu di hatinya.
"Dan kalian pikir aku egois!" Layla memukul dadanya berkali kali untuk menghentikan tangisan yang tak bisa lagi ia sembunyikan.
"Aaaahhhkkkhhhh!" jerit Layla.
Tanpa ia sadari, semua ucapannya di dengar oleh Rico yang telah berdiri di depan pintu dengan membawa segelas susu di tangannya. Rico langsung mundur beberapa langkah, ia tidak berani mendekati Layla bukan karena takut. Namun Rico memberikan ruang untuk Layla mengungkapkan semua isi hatinya yang tak pernah ia tahu.
"Tahukah kau Rico! jika aku masih punya kesempatan hidup lebih panjang lagi, akan kuserahkan sisa hidupku bersamamu dan bayi dalam kandunganku! apakah harus kuucapkan setiap detik supaya kau tahu?! ucap Layla lagi. " Kenapa kau tidak mengerti Rico! kenapa!" Berkali kali Layla menyeka air matanya. "Aku memilihmu, karena kutahu kalau kau pria hebat dalam hidupku selain dari Ayahku.."
"Layla..maafkan aku..maafkan aku telah melukai perasaanmu," ucap Rico dari arah belakang. Layla langsung terdiam dan menundukkan kepala sembari mengusap air mata di pipinya. "Maafkan aku yang telah meragukanmu, Layla." Rico berjalan mendekati Layla, ia letakkan gelas di atas meja.
"Maukah kau memaafkanku, Layla?" tanya Rico langsung memeluk erat tubuh Layla.
"Aku lelah Ric..aku lelah..biarkan aku tenang berada di sampingmu..jangan kau ragukan aku lagi," ucap Layla lirih dalam pelukan Rico.
__ADS_1
"Iya sayang.." jawab Rico lalu ia lepaskan pelukannya. "Sekarang kau jangan menangis lagi..kasihan bayimu..sekarang kau minum susunya." Rico mengambil gelas di atas meja, lalu ia berikan pada Layla.
"Terima kasih," kata Layla sembari mengambil gelas susu ditangan Rico lalu ia menyecapnya perlahan. "Setiap orang butuh waktu, dan butuh pembelajaran untuk menyadari setiap kesalahan bukan?" tanya Layla, ia berikan gelas pada Rico.
"Kau benar, Layla," jawab Rico. "Sekarang kau istirahat ya." Layla menganggukkan kepala, lalu Rico bangun dan meletakkan gelas di atas meja. Setelah itu ia mendorong kursi roda Layla masuk ke dalam kamar.
"Kau tidur saja biar tenang, aku siapkan makan malam buatmu." Rico langsung mengangkat tubuh Layla ke atas tempat tidur dan membaringkannya. Sesaat ia mengusap lembut pipi Layla lalu ia beranjak pergi keluar kamar. Sepeninggal Rico, Layla terdiam menatap kosong ke langit langit kamar, matanya sembab dan perih sehabis menangis, lalu ia menejamkan matanya mencoba untuk tidur.
"Ayah..Ibu..andai kau masih ada," gumam Layla.
Suasana di kamar Layla hening, tak ada lagi jeritan pilu dari Layla, hanya terdengar isak tangis yang masih tersisa. Lambat laun isak tangisnya pun hilang seiring dengan ia yang tertidur pulas.
Adakah yang lebih kejam dari sebuah prasangka? untuk menyatukan dua hati yang berbeda, dua pemikiran yang berbeda menjadi satu hati satu tujuan, seiya dan sekata butuh proses yang panjang dan berliku. Namun bukan berarti tidak bisa di gapai dalam keselarasan menjalani bahtera rumah tangga. Butuh untuk mengesampingkan ego dan mengutamakan cinta kasih di atas segala yang ada.
"Layla.." ucap Rico menatap kedua mata Layla yang sembab.
Layla menoleh ke arah Rico, "iya..ada apa? tanya Layla.
" Aku.." Rico tidak melanjutkan ucapannya, ia menoleh ke arah halaman menatap sebuah mobil berwarna putih berhenti di halaman rumah mereka. Nampak Kei kelu dari arah pintu mobil langsung berjalan mendekati mereka. Disusul Clara dari arah belakang dengan menenteng dua kantong plastik.
Rico langsung berdiri dengan tatapan tidak suka ke arah mereka, "ada apa lagi kalian darang kesini?" tanya Rico ketus.
"Maaf, kalau kedatanganku mengganggu kalian," ucap Kei menatap Layla yang menundukkan kepala.
"Tidak perlu basa basi, katakan saja apa keperluan kalian?" Rico tersenyum sinis menatap Kei.
__ADS_1
"Aku datang ke sini, bermaksud untuk.." Kei terdiam.
"Kelamaan!" potong Clara. "Kami datang kesini hendak memberikan barang barang untuk keperluan bayi yang ada dalam perut Layla, berikut sejumlah uang," sahut Clara. Ia langsung meletakkan dua kantong plastik itu di bawah kursi roda Layla, lalu Clara membuka tasnya dan mengeluarkan amplop berwarna coklat kemudian ia letakkan di atas meja dekat kursi roda Layla.
"Ini sebagai bukti bahwa, suami saya bertanggungjawab atas bayi itu," ucap Clara menegaskan. Sementara Kei hanya diam menundukkan kepala.
Rico terdiam, ia tidak ingin mendahului Layla untuk mengambil keputusan, apakah uang dan barang utu di terima atau tidak. Namun di luar dugaan Rico dan yang lain. Layla tengadahkan wajah lalu ia tersenyum manis pada Kei dan Clara.
"Tetima kasih atas kepedulian kalian," ucap Layla sembari mengambil amplop berwarna coklat yang tergeletak di atas meja.
"Tentu saja kau harus berterima kasih, masih untung suamiku mau bertanggungjawab," ucap Clara sinis.
"Aku berterima kasih bukan karena pemberian Kei, tapi aku berterima kasih karena kalian telah menunjukkan siapa diri kalian sebenarnya. Beruntung aku memiliki Rico sekarang..dia pria yang tepat buatku meskioun sedikit terlambat aku menyadarinya dari pada aku akan menyesali seumur hidupku karena telah memilih pria yang tak punya hati dan tidak memiliki prinsip dalam hidupnya!" bentak Layla. Lalu ia membuka amplop berwarna coklat yang berisi sejumlah uang. Lalu ia lemparkan uang itu kehadapan Kei.
"Kau masih ingat Kei! saat ayahmu merobek dan membuang uang hasil kerja kerasku?!" ungkap Layla. "Dan ternyata kau tidak lebih sama seperti ayahmu! dan sekarang aku minta kau pergi dari rumahku dan jangan berharap bisa bertemu denganku lagi, kau paham?! pergi sekarang juga!" Kei hanya diam, ia tidak menjawab sepatah katapun ucapan Layla.
"Kau tidak perlu sombong Layla!" sahut Clara.
"Pergi!" seru Layla.
"Tolong kalian pergi sekarang juga, dan kami tidak membutuhkan apapun dari kalian," ucap Rico. Setelah itu ia langsung mendorong kursi roda Layla memasuki rumah dan menutup pintu.
"Sudah kubilang bukan? dia terlalu angku!" sungut Clara menatap pintu rumah Layla.
"Kau yang memaksa, bukan aku yang menginginkan," jawab Kei, lalu ia memutar badan melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Layla dengan perasaan hancur. Rasa rindu, rasa menyesal dan rasa cemburu menjadi satu di dalam hati Kei. Sementara Clara mengikuti Kei dari belakang dengan hati di selimuti kebencian yang semakin mendalam terhadap Layla.
__ADS_1