Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 42: Penculikan


__ADS_3

"Tok tok!"


Suara pintu dari luar kamar Layla di ketuk. Layla membuka matanya lalu ia turun dari tempat tidur. Ia melangkahkan kakinya langsung menuju pintu dan membukanya.


Layla melihat Mbok Darmi berdiri di depan pintu kamar. "Ada Mbok?" tanya Layla.


Mbok Darmi menundukkan kepala sesaat, "maaf Neng, tadi ada telepon dari Den Raiden," ucap Mbok Darmi. "Katanya, Den Raiden tidak bisa mengantar Neng ke pemakaman Bapak sama Ibu."


Layla mengangguk anggukkan kepala menatap Mbok Darmi. "Ya, tidak apa apa Mbok."


"Kalau begitu, Mbok permisi" ucap Mbok Darmi lalu ia melangkahkan kakinya menuju dapur.


Layla menghela napas dalam, lalu ia menutup pintu kamar, dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


tiga puluh menit berlalu, Layla telah selesai dengan dirinya. Ia mengenakan pakaian serba putih. Layla langsung keluar kamar menuju pintu rumah.


"Neng Layla!" seru Mbok Darmi.


"Iya Mbok?" tanya Layla. Ia menoleh menatap Mbok Darmi yang mendekatinya.


"Apa tidak sarapan dulu?" tanya Mbok Darmi.


Layla menggelengkan kepala menatap Mbok Darmi. "Nanti saja Mbok, sepulang dari pemakaman" jawab Layla tersenyum.


"Baik, Neng, hati hati di jalan."


Layla mengangguk, lalu ia melangkah keluar pintu rumah, di ikuti Mbok Darmi dari belakang.


"Hati hati Neng!" seru Mbok Darmi.


"Tumben, kau mengkhawatir si Eneng" sapa Mang Usman dari belakang.


Mbok Darmi menoleh kebelakang. "Iya Pak, tidak tahu dari pagi kok perasaan saya tidak enak." Mbok Darmi menjelaskan perasaannya yang tidak biasanya.


Mang Usman manggut manggut, ia menenangkan istrinya supaya tidak khawatir dan menyerahkan semua pada Yang Maha Kuasa.


***


Layla berjalan menyusuri jalan setapak, menuju pemakaman dengan membawa sebuket bunga. Disela sela langkahnya Layla merasakan ada mobil yang menguntitnya dari belakang. Ia balik badan dan menepi melihat sebuah mobil berwarna hitam terparkir tak jauh dari tempat ia berdiri. Lalu ia memutuskan untuk kembali melanjutkan langkah kakinya.


"Greepp!!"


Tiba tiba dari arah belakang, satu tangan kekar membungkam mulut Layla, sementara tangan lainnya memiting leher Layla. Sehingga Layla kesulitan untuk bergerak.

__ADS_1


"Diam kau" ucap pria itu dari belakang, menyeret paksa tubuh Layla. Layla berusaha berontak namun tenaganya tidak mampu mengimbangi pria kekar itu.


Layla di paksa masuk ke dalam mobil hitam itu, Layla melihat pria lain yang tengah duduk tersenyum menyeringai, ia langsung mengikat ke dua tangan Layla dan mulut Layla dengan kain. Pria itu juga menutup kedua mata Layla.


Layla berusaha melepaskan diri dan berteriak, namun usahanya sia sia karena mulutnya di tutup kain. Tak lama kemudian Layla merasakan mobil ini mulai melaju kencang.


Layla tidak tahu, akan di bawa kemana dirinya oleh kedua pria itu. Namun ia hanya merasakan mobil itu berbelok dan berjalan lurus.


Layla mulai merasakan pegal pegal, karena kedua pria itu membawa Layla ke tempat yang jauh. Layla sendiri tidak tahu di mana ia berada.


Tak lama kemudian, Layla merasakan mobil itu berhenti, lalu kedua pria itu mencengkram lengan Layla dan memaksanya turun dari mobil dan di seret kesebuah tempat yang Layla sendiri tidak tahu. Yang ada hanyalah gelap.


Tak lama kemudian, dua pria itu membawa Layla ke sebuah gudang yang berukuran sangat luas. Dua pria itu membuka penutup mata, mulut dan ikatan tangannya.


Layla mengerjapkan mata berkali kali untuk menyesuaikan pencahayaan. Layla menatap sekitar gudang. Dan matanya tertuju pada seorang pria yang sangat familiar tengah duduk di kursi dan tersenyum menyeringai menatapnya.


"Om Yuda?" Layla membelalakkan matanya menatap Yuda.


"Selamat datang Layla." Yuda berdiri dan langsung mendekati Layla, di tangannya memegang segelas minuman beralkohol.


"Apa maksud Om menculikku!" seru Layla mundur selangkah, tapi tubuhnya menabrak pria kekar yang berdiri di belakangnya. Layla melirik sesaat ke belakang dan kembali menatap Yuda.


"Kau mau tahu,mengapa aku menculikmu Layla?"


"Apa salahku Om?" tanya Layla.


"Salahmu?"-Yuda mendekatkan wajahnya ke wajah Layla-"banyak Layla."


"Om, aku mohon..lepaskan aku.." ucap Layla lirih.


"Hahahaha!" Yuda tertawa keras, hingga terdengar membahana.


Yuda menghentikan tawanya, lalu melotot ke arah Layla. "Kau yang menyebabkan Putriku meninggal, Layla."


"Kematian Dinda bukan salahku Om," Layla menarik napas dalam. "Dinda meninggal juga karena Om."


"Diam kau!" pekik Yuda.


Yuda mencengkram wajah Layla dan menghempaskannya ke samping. "Tidak perlu kau banyak bicara Layla, simpan energimu. Karena sebentar lagi kau akan menyusul Dinda."


Layla terdiam menatap tajam Yuda, ia tidak pernah berpikir, jika Yuda akan menyimpan dendam yang begitu besar.


"Kalian jaga di luar! jangan sampai dia kabur!" Yuda memerintahkan anak buahnya untuk keluar ruang gudang dan berjaga di depan pintu.

__ADS_1


Dua pria itu mengangguk, dan melangkahkan kakinya keluar gudang. Disusul Yuda dari belakang.


Layla berlari ke arah Yuda dan menarik lengan Yuda. "Lepaskan aku Om!"


Yuda menoleh menatap Layla sesaat, lalu ia menepis tangan Layla dan mendorong tubuh Layla dengan keras. Hingga tubuh Layla terhuyung ke belakang dan terduduk di lantai.


Yuda tertawa menatap Layla, lalu ia melangkahkan kakinya keluar gudang dan mengunci pintu gudang dari luar.


Layla bangun dari duduknya dan berlari ke arah pintu, lalu menggedor pintu gudang dengan keras. Berharap Yuda mau membuka pintu dan melepaskannya.


Akhirnya Layla menyerah, apapun yang ia katakan dan lakukan, tak mampu lagi menyentuh hati nurani Yuda yang dipenuhi oleh dendam dan amarah. Layla mundur selangkah lalu ia balik badan dan melangkahkan kakinya menuju kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia duduk di kursi dan termenung memikirkan hidupnya.


Layla tengadahkan wajahnya dan matanya terpejam. "Ya Rabb, jika memang aku harus mati di tangan Om Yuda, aku siap Ya Rabb, aku iklas." ucap Layla pelan.


Entah sudah berapa lama Layla terduduk dan akhirnya tertidur di atas kursi. Hingga suara pintu di buka membuat Layla terbangun dari tidurnya. Layla membuka matanya menatap pintu sesaat. Lalu ia bangun dan berdiri langsung mendekati pintu. Tapi langkahnya tertahan saat melihat pintu di buka. Layla melihat dua pria kekar itu mendorong seorang pria yang Layla kenal. Lalu pria itu kembali menutup pintu.


"Raiden!" seru Layla menghampiri Raiden yang berdiri terpaku menatap Layla.


"Layla." Raiden langsung memeluk Layla dengan erat.


"Om Yuda, Rai..Om Yuda.." ucap Layla lirih dalam dekapan Raiden.


"Aku tahu Layla." Raiden mengusap punggung Layla untuk menenangkan.


"Apa yang harus kita lakukan Rai?" tanya Layla menatap wajah Raiden.


"Aku tidak tahu Layla, tapi kita harus keluar dari sini" jawab Raiden. Lalu ia mengecup kening Layla dengan dalam.


"Kita pikirkan jalan keluarnya Layla, kau jangan takut. Ada aku disini."


Layla menganggukkan kepala, lalu mereka mulai membuat siasat untuk melarikan diri.


***


Sementara itu Mang Usman dan Mbok Darmi sangat khawatir, karena sudah malam tapi Layla belum juga pulang. Bahkan tadi sore Mang Usman sudah menyusul Layla ke pemakaman tapi Layla tidak ditemukan. Mang Usman hanya menemukan sebuket bunga di tengah jalan. Lalu Mang Usman juga mencari ke rumah teman teman Layla, tapi Layla juga tidak datang ke sana.


Mang Usman langsung menghubungi Raiden, tapi menurut asisten rumah tangga Raiden pun mengatakan kalau Raiden belum pulang sedari pagi. Hal itu membuat kecurigaan Mbok Darmi semakin kuat. Kalau terjadi sesuatu pada Layla.


Mang Usman sudah menghubungi semuanya termasuk Kei. Kei pun sama saja, ia tidak bertemu dengan Layla sedari pagi. Akhirnya Kei memutuskan untuk melaporkan kejadian itu pada pihak Kepolisian. Dan Kei mencurigai Yuda yang seringkali mengancamnya dan juga Layla.


Sekarang Mang Usman dan Mbok Darmj hanya menunggu kabar dari pihak Polisi dan Kei yang tengah mencari Layla.


***

__ADS_1


Sementara itu Kei bergerak cepat, ia mencari Yuda di rumahnya, tapi tidak ada. Kemudian Kei mencari kesemua tempat di mana Yuda biasa nongkrong. Tapi Kei tidak menemukannya, hingga ia mendapatkan informasi dari salah satu teman dekat Yuda. Kalau Yuda pergi ke Bogor tepatnya Gunung Sindur tempat perusahaan yang dulu pernah berdiri dan di kelola Yuda, tapi sudah lama bangkrut dan tak terpakai. Dengan cepat Kei meluncur ke Bogor.


__ADS_2