
Raiden menyelesaikan semua pekerjaan, dia ingin cepat cepat kerumah sakit untuk menjenguk Layla.
"Taraaaa!!" sapa Sila dari arah pintu kantor Raiden, tersenyum padanya sambil membawa kantong plastik di tangannya.
"Ah, kau lagi..kau lagi" ucap Raiden melirik sesaat.
Sila berjalan menghampiri Raiden sambil meletakkan kantong plastik di atas meja.
"Aku bawain makanan buatmu." Sila duduk di atas kursi.
"Aku tidak lapar" jawab Raiden datar.
Sila bangin dari duduknya dan berdiri. Ia mengeluarkan kotak makanan dari dalam kantong plastik.
"Kau harus makan, supaya tidak sakit. Bukankah kau harus menjaga Layla."
Raiden menoleh menatap Sila, ia mengerutkan dahi.
"Kau waras kan?" tanya Raiden.
Sila mengangkat dua alisnya menatap Raiden.
"Tentu saja," kata Sila.
Raiden memperhatikan Sila yang membuka kotak makanan dan di sodorkan ke hadapannya.
"Makanlah."
"Tidak." Raiden menggeser makanan itu ke hadapan Sila.
Sila mendengus kesal, lalu ia berjalan mendekati Raiden.
"Mau aku suapin?" tanya Sila.
Raiden menautkan dua alisnya menatap Sila.
"Gadis aneh."
Sila tertawa kecil menatap Raiden, ia sangat suka ketika Raiden memanggilnya dengan sebutan 'gadis aneh'.
"Ayo makaaaan."
Sila mengambil sendok lalu memaksa Raiden untuk makan. Awalnya Raiden menolak, tapi kegigihan Sila yang terus memaksa akhirnya ia mau di suapin oleh Sila.
"Nah gitu dong," ucap Sila. "Kau mau kerumah sakit bukan?" Sila tersenyum menatap Raiden.
Raiden hanya diam menatap Sila sambil mengunyah nasi goreng di mulutnya.
"Kalau sudah selesai makannya, kita ke rumah sakit sama sama."
Raiden mengusap bibirnya dengan tisu.
"Kenapa kau perduli terhadap Layla?" tanya Raiden.
Sila menatap ke atas langit langit ruangan seolah sedang berpikir, lalu mengalihkan pandangannya lagi pada Raiden.
"Dia wanita tangguh yang menginsprasi," ucap Sila. "Dari perjuangannya melawan kanker sampai perjuangannya tetap bertahan dengan cinta suci yang dia miliki."
Raiden menghela napas dalam dalam. Sesaat ia terdiam mendengarkan kata kata Sila. Mungkin benar, saatnya Raiden mengiklaskan Layla untuk kembali pada Kei. Itu satu satunya supaya dia bisa bertahan, pikir Raiden.
"Jangan bicara mulu, ayo mau ikut tidak?!?
Raiden menekan kening Sila dengan jarinya.
" Iya, aku ikut!" seru Sila mengusap keningnya lalu berdiri dan mengikuti langkah Raiden dari belakang.
"Apa pendapatmu jika kau mencintai pria yang mencintai wanita lain?" tanya Raiden di sela sela langkahnya.
"Aku mudah saja, hidup tidak perlu di buat ribet" jawab Sila.
"Apa?" tanya Raiden.
"Buat apa, aku terus bertahan jika pada akhirnya pria itu tidak bisa di miliki, melepaskannya dengan wanita yang di cintainya itu akan membuat beban di hati berkurang."
__ADS_1
"Begitu?" Raiden menatap Sila, ia meragukan dengan jawaban Sila.
"Iya," kata Sila.
Perlahan tapi pasti, setiap usaha pasti ada hasil. Begitu pula dengan Sila. Awal jumpa memang tidak mengenakkan hati. Tapi lama lama Raiden mulai terbiasa dengan sikap Sila yang selalu memaksakan kehendaknya. Dan Raiden pun tidak keberatan jika kemanapun dia pergi, Sila selalu menguntitnya. Sedikit demi sedikit, Raiden mulai ada simpati terhadap Sila.
***
Sepuluh hari berlalu, kondisi Layla sudah mulai stabil. Layla di pindahkan ke kamar inap biasa meskipun ia masih dalam keadaan koma.
Tiap hari Kei selalu ada di sisi Layla dan tidak pernah meninggalkannya. Bahkan ia menggunakan pengacaranya untuk mengurus surat perceraiannya dengan Clara.
Proses perceraian yang rumit dan alot membuat Pengacara Kei butuh waktu sedikit lebih lama. Meskipun pada akhirnya gugatan cerai dari pihak Kei sudah di setujui.
"Kei...bangun.."
Kei membuka matanya, ia mendengar seseorang memanggilnya. Ia angkat wajahnya dan menatap wajah Layla yang tersenyum samar padanya. Kei langsung bangun dan menyentuh lembut pipi Layla.
"Layla..kau sudah bangun sayang ." Mata Kei berbinar.
Kei langsung memencet tombol untuk memanggil Dokter atau Suster.
"Kei...aku haus" ucap Layla serak.
"Sebentar" jawab Kei.
Kei mengambil air mineral di atas meja dengan sedotan lalu di berikan pada Layla.
"Terima kasih."
"Ada apa?" sapa Dr. Kenzi dari arah pintu bersama Suster.
"Layla sudah sadar Dok." Kei menoleh menatap Dokter Kenzi.
"Kau tunggu di luar" ucap Dr. Kenzi.
"Tapi Dok?"
"Maaf, sebaiknaya tunggu di luar."
Kei berdiri di depan pintu ruangan dengan sangat cemas.
"Kenapa kau berdiri disini?" sapa Raiden.
Kei menoleh menatap Raiden dan Sila yang sudah berdiri di belakangnya.
"Layla sudah sadar" terang Kei.
"Sadar?" ucap Raiden. "Syukurlah."
"Lalu kenapa kau berdiri disini?" tanya Sila.
Kei menatap Sila, "aku di minta menunggu di luar."
Sila menganggukkan kepala. Kei, Sila dan Raiden menunggu di depan pintu dengan perasaan harap harap cemas.
Tak lama kemudian Dr. Kenzi membuka pintu ruangan, "Layla sudah sadar, kalian boleh menjenguknya."
"Benarkah?" tanya Raiden.
Dr. Kenzi menganggukkan kepala, "iya."
Kei, Sila dan Raiden langsung masuk ke dalam ruangan, sementara Dr. Kenzi dan Suster pergi meninggalkan ruangan Layla.
"Layla...sayang.." Kei langsung duduk di kursi dan meraih tangan Layla.
"Hai Layla!" seru Sila tersenyum.
"Hai..Sila" jawab Layla pelan.
"Apa kau sudah lebih baik?" tanya Raiden duduk di kursi, tangannya terulur menggenggam tangan Layla, membuat Sila yang punya rasa terhadap Raiden sedikit ada kecemburuan.
"Aku sudah lebih baik Rai..." ucap Layla pelan.
__ADS_1
Saat mereka tengah berbincang, dari arah pintu Clara dan Alya masuk mendekati Kei.
"Apa apaan kamu Nak?" Alya menarik lengan Kei untuk berdiri, dan menunjukkan surat perceraian di tangannya.
"Kei, aku tidak mau cerai," ucap Clara suaranya serak, dan matanya sembab. Semalaman Clara menangis tidak ingin di ceraikan oleh Kei.
"Itu sudah keputusanku," ucap Kei menatap Clara. "Kau harus menghormati keputusanku."
"Tidak akan pernah ada perceraian!" Alya merobek surat perceraian yang belum di tanda tangani oleh Clara.
"Ibu!" Kei berusaha menahan tangan Alya untuk tidak merobeknya, namun usaha Kei sia sia.
"Papa!
Kei dan yang lain menoleh ke arah Keila yang sengaja di datangkan Abdul untuk menahan Kei untuk tidak bercerai dengan Clara.
" Papa jangan tinggalkan kami," Keila menangis memeluk Kei. "Jangan tinggalkan Keila pa!"
"Keila..Papa," Kei tidak melanjutkan ucapannya.
"Sekarang juga kau harus pulang!" Alya menarik lengan Kei dan Keila.
"Tidak Bu," ucap Kei. "Aku mohon, sekali ini, biarkan aku menentukan jalan hidupku sendiri."
"Papa, ayo pulang Pa," rengek Keila.
"Keila, Papa-?"
Raiden yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara, "Kei, sebaiknya kau pulang dan selesaikan urusanmu," ucap Raiden. "Biarkan Layla istirahat."
Kei menatap Raiden sesaat, lalu beralih menatap Layla.
"Pulanglah Kei," ucap Layla pelan.
"Ayo Pa, pulang Pa!" seru Keila menarik tangan Kei.
Untuk kesekian kalinya, harapan Kei untuk bersama Layla harus terkubur dalam dalam, situasi yang sulit bagi Kei untuk menentukan pilihan jadi kendala terbesarnya untuk bersama Layla. Perlahan Kei melangkahkan kakinya mengikuti keinginan Keila.
"Layal.." ucap Kei pelan, ia menatap Layla di sela sela langkahnya dan menghilang di balik pintu.
Layla menarik napas dalam dalam, matanya berkaca kaca. Ia paham benar akan situasi yang di hadapi Kei, "aku mencintaimu Kei, aku mencintaimu," ucap Layla terisak.
"Layla, masih ada aku di sini. Kau jangan sedih," ucap Raiden mengambilkan tisu di atas meja lalu ia seka air mata di pipi Layla.
"Aku tahu Rai, terima kasih," Layla melirik Raiden sesaat, lalu ia ambil tisu di tangan Raiden dan ia seka sendiri air matanya, sepintas mata Layla memandang, ia melihat ada kecemburuan di mata Sila. Layla tidak ingin memperkeruh situasi hidupnya yang sudah di ambang batas.
"Rai, aku lapar," ucap Sila menarik lengan Raiden.
Raiden menoleh ke arah Sila, "bisa tidak, kau tahan dulu," ucap Raiden kesal. "Kau lihat sendiri bukan? Layla tidak ada yang menemani?"
"Tapi Rai, lambungku bisa kambuh kalau telat makan." Sila memberikan alasan supaya Raiden menjauh dari Layla.
"Kau bisa makan sendiri bukan?" tanya Raiden.
"Adduh..aduh..." Sila memegang perutnya yang tidak sakit.
"Kau kenapa?" Raiden bangun dan memegang bahu Sila.
"Perutku sakit, tolong antar aku pulang," rengek Sila.
"Tapi-?"
"Aduuhhh!" Sila terus terusan berpura pura.
"Rai, sebaiknya kau antar dia pulang," ucap Layla meraih tangan Raiden.
"Tapi Layla..." Raiden tidak melanjutkan ucapannya.
Layla menganggukkan kepala, "antarkan Sila."
"Baiklah," ucap Raiden. "Ayo aku antar kau pulang."
"Iya, terima kasih." Mata Sila berbinar.
__ADS_1
"Layla, aku akan datang lagi ke sini."
Layla menganggukkan kepala. Ia tersenyum menatap punggung Raiden dan Sila hingga hilang dari pandangan.