Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 34: Kedewasaan


__ADS_3

Jumat pukul 8:30. Layla meninggalkan rumahnya sendirian dengan berjalan kaki menuju pemakaman orang tuanya. Sudah kebiasaan Layla di setiap hari Jumat untuk berziarah. Tidak butuh waktu lama Layla telah sampai di pemakaman. Sesampainya di pusara Ayah dan Ibunya, seperti biasa Layla membersihkan daun daun yang berserakan di atas pusara, setelah itu ia mendoakan kedua orang tuanya.


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya Layla selesai berdoa dan memutuskan untuk pulang dan mengambil jalan memutar. Karena Layla berniat untuk membeli alat alat lukis yang sudah habis di rumahnya.


Sesampainya Layla di halaman toko alat lukis, Layla langsung masuk ke dalam toko dan membeli alat alat yang ia butuhkan. Setelah semua selesai ia beli. Layla memutuskan untuk langsung pulang kerumahnya.


Di tengah jalan Layla menghentikan langkahnya. Ia melihat Yuda dan dua pria yang tidak di kenal. Layla mundur selangkah dan bersembunyi di balik gerobak yang tidak terpakai di tepi jalan. Dari balik gerobak Layla dapat memperhatikan apa yang Yuda lakukan bersama dua pria itu.


'Aku tidak mengira kalau Om Yuda bisa sejahat itu padaku.' ucap Layla dalam hati.


Layla terus memperhatikan setiap pergerakan meskipun Layla tidak dapat mendengar percakapan mereka. Tapi ia bisa melihat Yuda sedang memberikan sebuah amplop berwarna coklat kepada dua pria itu. Setelah Yuda memberikan amplop itu, lalu kedua pria itu pergi meninggalkan Yuda.


'Apakah Yuda sedang menyewa orang bayaran untuk melukaiku atau Raiden?' ucap Layla dalam hati, tatapannya terus mengawasi Yuda.


Tak lama sepeninggal kedua pria itu, Layla dapat melihat Dinda datang menghampiri Yuda, dan mereka tengah berjalan menuju arah di mana Layla sembunyi.


"Apa yang harus aku lakukan?" ucap Layla menatap sekitar. Akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan langkahnya menuju rumah.


Layla keluar dari tempat persembunyian dan melangkahkan kakinya dengan santai seolah tidak terjadi apa apa. Layla menghentikan langkahnya saat berpas pasan dengan Dinda dan Yuda.


"Hai, Layla. Sedang apa kau berjalan sendirian. Dimana kekasihmu?" tanya Yuda tertawa kecil matanya menatap sekitar mencari keberadaan Raiden.


"Oh, aku habis belanja alat tulis" jawab Layla sembari menunjukkan kantong yang dia tenteng.


"Oh, begitu" jawab Yuda memperhatikan Layla.


"Maaf Om, aku harus segera pulang." Layla menundukkan kepala sesaat menatap Yuda dan Dinda yang terlihat kesal pada Layla. Kemudian Layla melangkahkan kakinya, baru saja dua langkah Layla mendengar kata kata tidak pantas dari mulut Dinda.


"Perawan tua!" Hardik Dinda . Di ikuti tawa Yuda yang terdengar mencemooh.


Layla menghentikan langkahnya dan balik badan menatap Dinda dan tersenyum.


" Lalu bagaimana dengan keadaanmu Dinda? sama bukan?" ucap Layla.


Dinda melebarkan matanya menatap Layla, ia merasa tersinggung dengan ucapan Layla. Lalu ia berjalan menghampiri Layla.


"Berani sekali kau bicara seperti itu Layla!" tangan Dinda terulur hendak menampar wajah Layla. Tapi tangan Dinda tertahan karena Layla dengan sigap mencengkram lengan Dinda.


"Jika kau tidak ingin terluka, maka jangan rendahkan dirimu dengan kata kata yang tidak pantas" ucap Layla sembari menghempaskan lengan Dinda.

__ADS_1


Dinda menarik napas dalam, matanya melotot menatap tajam Layla. "Kau tidak perlu menceramahiku Layla, apapun yang terjadi padaku semua adalah salah kau!" jawab Dinda dengan nada tinggi.


Layla tersenyum, ada keinginan untuk membalas kata kata Dinda, tapi Layla memilih pergi dan tidak mau tahu apa yang dipikirkan orang lain tentangnya.


"Selamat siang Dinda, semoga harimu menyenangkan" ucap Layla. Lalu ia kembali memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya. Namun kembali langkah Layla tertahan saat tangan Yuda menarik kerah baju Layla dari belakang. Hingga membuat Layla mundur selangkah, sejajar dengan Dinda dan Yuda.


Yuda melepaskan cengkramannya di kerah baju Layla, dan menatap Layla dengan geram ia berkata. " Aku sudah peringatkan kau berkali kali Layla, jangan pernah kau menyakiti keluargaku. Atau kau-?"


Layla memotong ucapan Yuda. "Atau kau akan membunuhku dan Raiden, bukan begitu?" tanya Layla tersenyum sinis.


"Kau?" ucap Yuda geram.


"Sudahlah Pah, tidak ada untungnya meladeni wanita gila seperti dia" sela Dinda menarik lengan Yuda dan memaksa Yuda untuk pergi.


"Awas kau." Yuda menatap Layla seakan ingin menelannya hidup hidup.


Layla terdiam menatap punggung mereka yang berjalan menjauh hingga hilang dari pandangan.


'Begitu mudah dia menyalahkan kesalahan pada orang lain, seberapa sulit ia harus membuka pikirannya dan menyadari bahwa apa yang terjadi padanya adalah konsekwensi dari setiap pilihan hidup.' ucap Layla dalam hati.


"Titttttttt..!!


Suara klakson di pinggir jalan raya mengagetkan Layla yang berdiri terpaku menatap Yuda dan Dinda. Layla mundur selangkah dan menoleh ke arah suara klakson mobil. Layla melihat Raiden keluar dari pintu mobil langsung menghampirinya.


"Tidak ada, aku habis berziarah lalu mampir ke toko alat lukis" jawab Layla mencengkram lengan Raiden dengan kuat.


Raiden menatap tangan Layla yang mencengkram lengannya untuk sesaat, lalu beralih menatap Layla yang terlihat gelisah.


"Apa kau baik baik saja Layla?" tanya Raiden.


Layla mengangguk dengan cepat. "Kita pulang."


Layla menarik lengan Raiden dan memaksanya untuk berjalan. Akhirnya Raiden mengikuti langkah Layla sambil memperhatikan sekitar, Raiden sangat penasaran ingin tahu apa yang menyebabkan Layla menjadi gelisah. Kemudian Layla dan Raiden masuk ke dalam mobil dan kembali pulang menuju rumah Layla.


Sesampainya di rumah Raiden mengajak Layla duduk di taman tempat anak anak melukis, karena hari jumat anak anak libur melukis, Raiden punya banyak waktu untuk berbincang dengan Layla di taman.


"Duduklah" ucap Raiden menarik tangan Layla untuk duduk di sampingnya.


"Ada apa?" tanya Layla penasaran menatap Raiden.

__ADS_1


Raiden terdiam, dia sangat ragu dan takut untuk mengatakan yang sejujurnya kalau Raiden ingin bertunangan dengan Layla.


"Ada apa? kok diam?" tanya Layla lagi.


"Layla, aku..aku ingin kita bertunangan." Raiden mengeluarkan satu kotak kecil berwarna merah dari saku depan bajunya.


"Bertunangan?" Layla mengangkat kedua alisnya menatap Raiden.


"Benar Layla" jawab Raiden menatap Layla.


Layla tertawa kecil, ia mengerti mengapa Raiden ingin bertunangan secepat itu.


"Aku tidak mau bertunangan denganmu" jawab Layla tersenyum.


Raiden terhenyak mendapatkan penolakan dari Layla, ia sudah menduganya dari awal. Kalau Layla akan menolaknya. Raiden menundukkan kepala menatap kotak kecil yang ada di dalam genggaman tangannya.


"Kau tahu kenapa aku menolak tunangan denganmu?" tanya Layla pada Raiden.


Raiden mengangkat wajahnya dan menggelengkan kepala menatap Layla dengan raut wajah kecewa.


Layla berdiri membelakangi Raiden dan berkata.


"Kau tahu? tanpa tunanganpun aku tidak akan meninggalkanmu. Dan kau tahu? tanpa cintapun aku tidak akan meninggalkanmu. Kau tahu kenapa? karena aku sangat menyayangimu seperti aku menyayangi diriku sendiri" ucap Layla panjang lebar menjelaskan alasan ia menolak tunangan dengan Raiden.


Mendengar kata kata Layla, Raiden bangun dari duduknya dan berdiri terpaku di belakang Layla.


"Cinta datang hanya sekali, dan kita merasakan jatuh cinta hanya sekali. Tapi rasa sayangku terhadapmu tak akan pernah hilang meski badai menerpa."


"Greepp!"


Raiden langsung memeluk Layla dari belakang saat Layla selesai bicara.


"Maafkan aku, aku hanya terlalu takut akan kehilanganmu, aku takut kau akan menjauhiku dan meninggalkanku" ucap Raiden masih memeluk Layla dari belakang.


"Pertengkaran, perbedaan, beda pendapat dan cara yang beda dalam bersikap itu sudah pasti. Untuk menyatukan dua hal yang berbeda akan sulit jika di jalani dengan ego. Tapi kalau kita menjalaninya dengan kasih sayang. Apapun yang terjadi kita akan saling mengerti tanpa harus bicara." Layla mengusap lembut lengan Raiden yang melingkar di dadanya.


"Aku mengerti Layla, ternyata aku salah menilaimu."


"Manusiawi" jawab Layla sembari melepaskan pelukan Raiden dan balik badan menatap Raiden.

__ADS_1


"Aku tidak akan melakukannya lagi, aku tidak akan memaksamu lagi Layla." Raiden memasukkan kembali kotak kecil berwarna merah yang berisikan dua buah cincin.


"Aku lapar, ayo masuk ke dalam. Kita lihat Mbok Darmi masak apa." Layla menarik tangan Raiden dan mengajaknya untuk kembali masuk kedalam rumah.


__ADS_2