
Sesampainya di rumah, layla sangat terkejut karena mendapatkan kejutan dari sahabat sahabatnya. Ia tidak mengira kalau mereka semua sudah mempersiapkan semua pesta kecil itu untuk dirinya
"Surprise!!" seru mereka semua saat Layla sudah sampai di dalam rumah.
Raiden tak kalah terkejutnya karena ia melihat Kei datang bersama Layla, tapi ia coba menahan diri untuk tidak membuat keributan demi Layla.
"Selamat ulang tahun Layla" ucap Raiden, lalu mencium kening Layla. Kemudian ia memberikan hadiah sebuah kalung liontin pada Layla, lalu ia pakaikan di leher Layla.
Layla menyentuh kalung itu dan berkata, "terima kasih."
Raiden menganggukkan kepala tersenyum pada Layla. Kemudian ia berdiri di samping Layla, memberikan kesempatan yang lain untuk mengucapkan selamat.
"Selamat ulang tahun sayang" ucap Valeri, Stela sambil memeluk Layla erat.
Disusul Sila, Mbok Darmi dan Mang Usman. Mereka mengucapkan selamat ulang tahun dan serangkain doa kesembuhan dan panjang umur di berikan untuk Layla.
"Terima kasih semuanya." Mata Layla berkaca kaca.
Kemudian Mang Usman memimpin serangkaian doa dan puja puji kepada Sang Pemilik Hidup untuk kesembuhan Layla. Semua orang yang ada di ruangan itu tengadahkan kedua tangan dengan memejamkan mata.
Layla memperhatikan mereka semua, ia tersenyum getir mengingat semua yang di katakan Dokter Kenzi.
'Valeri, Asha, Stela. Kalian sahabat terbaik yang pernah aku miliki dalam hidupku. Raiden, kau pria yang baik dan penyayang. Kau pun selalu ada buatku, di saat suka dan dukaku. Semoga kau mendapatkan wanita yang terbaik untukmu. Mang Usman, Mbok Darmi, kalian orangtuaku seperti Ayah dan Ibuku, terima kasih telah merawatku layaknya putrimu sendiri. Kei, kau lah cinta pertama dan terakhirku, janjiku padamu akan aku tepati. Bahwa aku akan setia dan mencintaimu sampai ajal menjemput.' ucap Layla dalam hati.
Setelah Mang Usman selesai, dengan serempak mereka mengucapkan kata, "amiin"
Kemudian, Raiden membawakan kue ulang tahun kehadapan Layla dengan lilin yang sudah dinyalakan diatas angka 35.
"Tiup lilinnya! tiup lilinnya!" seru mereka semua, tersenyum menatap Layla.
Tapi belum sempat Layla meniup lilin itu, dari arah yang tidak terduga, Alya dan Clara datang kerumah Layla. Alya langsung mendekati Layla dan Raiden, dengan tangan kanannya ia menepis kue di tangan Raiden dan membuangnya ke samping. Hingga kue itu jatuh kelantai berantakan.
Semua orang terkejut dengan kedatangan Clara dan Alya yang tiba tiba.
"Ibu!" seru Kei melebarkan matanya menatap Kei.
"Dasar anak tidak tahu diri, apa kau tidak berpikir kalau kau sudah punya istri!!" seru Alya menarik tangan Kei supaya menjauh dari Layla.
"Tante!! tolong kau bawa anakmu pergi dan jangan buat keributan disini!" sela Raiden menatap kesal pada Alya.
"Diam kau, apa kau tidak punya sopan santun hah? berani beraninya membentak orang tua!" pekik Alya menatap kesal Raiden.
"Sudahlah Bu, kita pulang." Raiden menarik tangan Alya supaya tidak ribut di rumah Layla, namun Alya menolak dan menepis tangan Kei.
"Ibu tidak akan pergi sebelum memberikan pelajaran pada wanita gila satu ini!" Alya menunjuk Layla dan matanya melotot menatap Layla.
"Cukup Ibu!" seru Kei menarik tangan Alya.
"Apa yang dikatakan Ibu benar Kei, kau lebih mementingkan wanita lain dari pada Keila."
__ADS_1
"Tutup mulutmu Clara!" Kei mendengus kesal, ia tidak menyangka Clara dan Ibunya bisa datang kerumah Layla.
"Heh! wanita gila! kenapa kau tidak mati saja, dari pada gangguin suami orang terus!" teriak Alya pada Layla. Layla hanya menggelengkan kepala, ia tidak menjawab semua hinaan Alya.
"Cukup Tante!" Raiden menarik tangan Alya supaya menjauh dari Layla.
"Kau sama saja, pria bodoh! ucap Alya. " Mau maunya kau membela wanita gila!"
"Ibu cukup!!" pekik Kei, ia melangkahkan kakinya mendekati Alya dan menarik tangannya, hingga terjadi saling tarik dan saling dorong antara Kei, Clara dan Alya.
Sementara yang lain hanya diam, mereka sudah tahu bagaiman kelakuan Alya dari dulu.
"Kei, kau pulang saja" ucap Layla pelan hingga tak terdengar oleh orang lain. Layla merasakan kepalanya sakit yang luar biasa dan sesak napas. Tapi ia coba untuk tidak memperdulikannya.
"Dia wanita gila! kita semua tahu dari dulu! seru Alya. " Dia perawan tua yang hanya bisa gangguin orang lain, kenapa kau tidak mati saja dari pada ngerepotin orang lain. Dasar Gila!! hardik Alya sambil meludah di depan Layla.
"Ibu ayo kita pulang!!" Kei memaksa Ibunya untuk pulang tapi Alya terus menolak hingga ia melanyangkan tamparan di pipi Kei.
"PLaakkk!!"
"Sadarlah, kau sudah punya istri dan anak!"
Kei memegang pipinya yang panas dan sakit, ia menatap Alya dengan perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan lagi, betapa marahnya Kei.
"Kkke,ei..ppulang,lah..." ucap Layla terbata bata ia semakin kesulitan bernapas. Ia pegang dadanya dengan tangan kiri, sementara tangan kanan mencengkram kursi roda.
Sementara semua orang matanya tertuju pada Keluarga Kei yang bertikai.
"Ibu, Clara ayo kita pulang."
"Gubraggg!!"
Semua orang menoleh menatap ke arah suara. Mereka melihat kursi roda Layla terguling dan Layla tak sadarkan diri.
"Laylaa!!" seru Raiden dan Kei bersamaan. Mereka berlari ke arah Layla.
Raiden mengangkat kursi rodanya, sementara Kei mengangkat tubuh Layla dan menggendongnya.
"Turunkan tubuh Layla, dia bukan siapa siapamu, ayo kita pulang!" Alya maju ke hadapan Kei dan menarik tubuh Layla.
"Hentikan! apa kau sudah tidak waras?! Raiden mengambil alih tubuh Layla dan menggendongnya.
" Ayo pulang!" Alya menarik lengan Kei dengan paksa.
"Tidak!" tolak Kei.
"Ayo Kei, kita pulang." Clara menarik lengan Kei yang kanan.
"Kei, kau pulang saja, aku mohon." Asha yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
__ADS_1
"Tidak, aku mau menemani Layla" ucap Kei.
"Pulang!" seru Alya menarik tangan Kei.
"Tidak Ibu!" Kei menepis tangan Alya.
"Aku mohon Ibu, Layla hanya bisa bertahan satu bulan lagi" ucap Kei lirih, melipat kedua tangannya memohon pada Ibunya.
Semua orang yang mendengar ucapan Kei, terkejut dan tak percaya.
"Tidak mungkin, Kei kau bohong!!" seru Raiden. Matanya melebar menatap Kei.
"Aku tidak bohong, kau tanya Asha."
Raiden dan semua orang menoleh menatap Asha yang menganggukkan kepala, membenarkan ucapan Kei.
"Layla..." ucap Raiden pelan.
"Baguslah kalau wanita gila ini cepat mati!" Alya tertawa kecil.
"Ibu! jaga mulut Ibu!" seru Kei.
"Aahh, ayo pulang!" Alya dan Clara kembali menarik tangan Kei.
"Kei, pulanglah Kei.." ucap Asha berlinangan air mata.
Kei menatap Asha dan menganggukkan kepala, lalu ia melangkahkan kaki mengikuti Alya dan Clara. Ia melangkahkan kakinya dengan hati yang dongkol.
"Raiden, Layla napasnya tidak ada. Ayo bawa ke rumah sakit cepat!! seru Valeri, ia menarik lengan Raiden dan membawanya keluar rumah di ikuti oleh yang lain. Akhirnya mereka semua membawa Layla ke rumah sakit.
***
Sesampainya di rumah sakit Layla langsung di bawa ke UGD untuk mendapatkan perawatan. Setelah satu jam berlalu, Dokter Kenzi keluar dari ruangan.
" Bagaimana Dok?" tanya Raiden dengan cemas.
"Layla harus menjalani operasi" jawab Dokter.
"Apa?!" Raiden menutup mulutnya dengan tangan. "Tapi Dokter, kondisi Layla apa memungkinkan untuk menjalani operasi lagi?" tanya Raiden.
"Jika tidak di operasi, sela kankernya akan semakin luas menyebar." Dokter Kenzi menutup pintu ruangan.
"Sebaiknya kau ikut saya, dan tanda tangani semua berkas yang diperlukan. Sebelum terlambat."
Raiden terdiam sesaat, lalu ia menganggukkan kepala dan mengikuti langkah Dokter Kenzi.
" Layla, kau harus kuat, kau pasti bisa melewati ini semua" gumam Raiden pelan.
"Ya Rabb, berikan yang terbaik buat Neng Layla, sembuhkanlah dia..." ucap Mbok Darmi terisak.
__ADS_1
Valeri, Asha, dan Stela saling merangkul, mereka terus berdoa pada Yang Maha Kuasa untuk kesembuhan Layla.
Sementara Sila, diam diam mengagumi Layla. Dari semua kisah yang dia dengar dari semua orang, menurut dia Layla wanita yang tangguh dan mandiri. Mampu tenang menghadapi berbagai situasi sulit. Bagai perahu di tengah lautan yang di terjang badai. Wanita yang lembut dari dalam tapi tangguh secara jiwa, tak tergoyahkan meski masalah datang silih berganti.