Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Bab 83: Sebening kasih, selembut cinta.


__ADS_3

Sepeninggal Kei dan Clara, suasana rumah kembali sepi. Layla terdiam melamun di atas kursi roda. Hingga Rico menjadi gelisah dan cemas, "Layla..apakah kau baik saja?" tanya Rico. Namun Layla hanya terdiam menundukkan kepala, ia tidak menjawab pertanyaan Rico.


Diamnya Layla membuat Rico semakin serba salah, "katakan sesuatu Layla..jangan buat aku khawatir." Layla masih enggan untuk bicara.


"Apa yang bisa aku lakukan supaya bisa mengembalikan keceriaanmu," ucap Rico lagi, dengan tatapan mata berkaca kaca menatap Layla. Ia menundukkan kepala di hadapan Layla, dengan kedua tangannya mencengkram kursi roda . Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya supaya Layla mau bicara. Namun tiba tiba Rico merasakan rambutnya di usap lembut, ia tengadahkan wajah menatap Layla yang tengah tersenyum padanya.


"Layla?" ucap Rico.


Layla menganggukkan kepala, "aku tidak menyesali apa yang sudah kulakukan tadi, tapi aku akan lebih menyesal kalau aku kehilangan kamu."


"Benarkah? kau tidak sedang berbohong?" tanya Rico lagi. Layla menggelengkan kepala.


"Tidak," sahut Layla. "Hei lihat! bayiku saja mengerti dan setuju dengan apa yang aku katakan baru saja." Layla menarik tangan Rico, lalu ia letakkan di atas perutnya.


Rico tertawa kecil saat ia merasakan gerakan bayi di dalam perut Layla, "sayang, jadi kau setuju dengan ucapan ibumu, Nak?" ucap Rico, ia dekatkan telinganya di perut Layla seolah olah tengah berbincang dengan si jabang bayi. Layla tertawa melihat sikap Rico, ada rasa hangat menjalar di hatinya. Untuk pertama kali ia merasakan hatinya tenang dan damai setelah sekian lama ia harus menghadapi permasalahan hidupnya yang rumit.


"Kenapa kau bengong?" tanya Rico.


"Tidak ada.." jawab Layla. "Kei memang masa laluku, tapi kau dan bayi dalam kandunganku adalah kesayanganku." Layla tersenyum, lalu ia memeluk Rico dengan erat. "Jangan lagi ada prasangka, jangan lagi ada keraguan di hatimu..biarkan aku tenang bersamamu, bersama anakku..kita bertiga," bisik Layla di telinga Rico.

__ADS_1


Rico melepas pelukan Layla dan berkata, "aku berjanji, akan menyayangi dan mencintaimu dan bayimu sampai akhir hidupku."


"Terima kasih," sahut Layla.


"Aku yang berterima kasih padamu, kau inspirasi dan semangat hidupku, Layla," kata Rico. Layla menganggukkan kepala.


"Aku mau istirahat, tolong antarkan aku ke kamar." Rico menganggukkan kepala, lalu ia berdiri dan mendorong kursi roda menuju kamar. Sesampainya di kamar, Rico mengangkat tubuh Layla dan membaringkannya diatas tempat tidur.


"Temani aku sampai tidur," ucap Layla.


Rico menganggukkan kepala, "baiklah..kalau itu maumu," jawab Rico. Lalu ia ikut naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Layla. "Tidurlah, aku akan menjagamu."


Rico memeluk Layla dengan erat, tapi baru saja beberapa menit. Layla terbangun, ia merasakan perutnya sakit.


"Awww, perutku..perutku sakit.." Layla merintih kesakitan. Rico langsung bangun menatap Layla.


"Apa kau mau melahirkan? ayo kita ke rumah sakit," ucap Rico. Layla menggelengkan kepala sembari merintih kesakitan.


Tanpa menunggu persetujuan dari Layla. Rico langsung mengangkat tubuh Layla dan menggendongnya. Dengan sangat tergesa gesa ia membawa Layla menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan Layla terus meringis, jalanan yang mulai sepi membuat Rico lebih cepat sampai di rumah sakit.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Layla langsung di bawa ke ruang persalinan. Sementara Rico menunggu diluar ruangan dengan sangat cemas. Ia merogoh saku celananya mengambil ponsel miliknya dan bermaksud menghubungi Raiden tapi tiba tiba ia mengurungkan niatnya.


"Ini sudah malam, mungkin mereka sedang beristirahat," gumam Rico. Kemudian ia kembali memasukkan ponselnya lagi ke saku celana. Dari dalam ruangan ia bisa mendengar dengan jelas suara Layla yang tengah kesakitan.


"Ya Rabb, selamatkan Layla dan bayi dalam kandungannya," pinta Rico dalam doa nya.


Sementara itu, jauh dari rumah Layla, nampak Kei tengah melamun, ia duduk di tepi jalan raya yang sudah terlihat sepi. Entah sudah berapa lama ia duduk di tepi jalan.


"Jika kau sudah menemukan kebahagiaanmu meski tidak bersamaku lagi, aku harap kau tidak akan pernah melupakanku dan semua kenangan tentang kita," ucap Kei pelan.


"Hubungan kita telah berakhir, semuanya telah berakhir karena kesalahan yang telah ku perbuat, tapi Layla..sampai saat ini sama sekali aku tidak bisa berpaling ke lain hati. Mungkin raga ini sudah bukan milikmu lagi, tapi cintaku padamu tak pernah hilang dan terpatri di dalam sanubari."


Kei menghela napas dalam dalam, ia kembali mengingat semua peristawa yang telah terjadi, ia coba menelisik ke dalam dirinya sendiri, "apa yang salah dengan kami?" gumamnya. "Jika memang kita di takdirkan tidak bisa bersama, tapi percayalah Layla..namamu akan selalu hidup di dalam hatiku sampai ajal menjemputku. Kuberjanji tidak akan mengganggumu lagi, akan kukirimkan doa untukmu dan bayi kita, aku selalu menyayangi dan mencintaimu, meskipun kita tidak bersama lagi."


Kei menghela napas dalam dalam, ia berdiri dari duduknya dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celana. Dengan tengadahkan wajah menatap langit ia berkata, aku sadar akan semua kesalahnku padamu Layla..aku sadar karena kelemahanku telah membuat hidupmu menderita. Namun percayalah...akupun tidak menginginkan ini semua terjadi. Terserah orang mau menilai aku seperti apa dan bagaimana..jauh di lubuk hati aku yang paling dalam aku sangat mencintaimu seumur hidupku hanya ada satu namamu..tak ada yang lain."


Kei menundukkan kepala sesaat, lalu ia melangkahkan kakinya menyeberang jalan tanpa melihat sekitar jalan raya. Hingga tanpa ia sadari dari arah kanan sebuah mobil berkecepatan tinggi melaju dengan sangat cepat menabrak tubuh Kei hingga terbawa beberapa meter. Mobil yang menabrak Kei hanya berhenti sesaat lalu melarikan diri entah kemana. Tubuh Kei tergeletak di jalan aspal bersimbah darah, ia berusaha tetap mempertahankan kesadarannya dan dari bibirnya terucap, "La..Layla.." ucapnya pelan, hingga gelap pun menyambut, akhirnya Kei kehilangan kesadarannya.


Di sana Layla tengah berjuang melawan rasa sakitnya, di sini Kei tengah berada di ambang batas kematiannya sendirian.

__ADS_1


Namun tiba tiba seorang pejalan kaki melihatnya lalu ia berteriak meminta bantuan, "tolong! tolong!" seru pria itu. "Tolong! ada korban tabral lari!" pekiknya lagi. Tak lama kemudian beberapa orang berhamburan menghampiri. Jalan raya yang awalnya sepi seketika itu juga menjadi ramai oleh warga yang ingin melihat kejadian dan ada juga yang mencari bantuan pihak Polisi.


__ADS_2