
Yuda duduk di kursi ruangan kerjanya, dengan kedua kaki diangkat dan dilipat diatas meja, ia tersenyum sendiri menatap pistol yang tengah ia putar putar.
"Lihat saja Raiden, kau sibuk merawat Layla. Dan aku sibuk menghancurkan perusahaanmu dari dalam dan lewat orang dalam kepercayaanmu, hahahaha!" ucap Yuda di akhiri dengan tertawa keras.
Kemudian Yuda menurunkan kedua kakinya ke bawah meja, lalu ia letakkan pistol itu di atas meja kerjanya. "Dan kau Layla, rasakan setiap detik adalah kematianmu. Kau akan menerima akibatnya karena telah membuat anakku menderita" ucapnya lagi dengan tersenyum sinis. Yuda kemudian bangkit dari duduknya dan mengambil pistol yang ada di atas meja lalu ia simpan di laci meja kerjanya.
"Saatnya melakukan pembalasan."
***
Setelah peristiwa kemarin di Rumah Sakit, Kei lebih banyak melamun memikirkan sikap Layla yang tiba tiba berubah. Ia tidak habis pikir apa yang menyebabkan Layla berubah.
"Kau sedang memikirkan Layla bukan?" tanya Dinda yang tiba tiba muncul di hadapan Kei yang tengah duduk di balkon kamarnya. Dengan membawakan segelas coklat hangat dan di berikan pada Kei.
"Ini, minumlah selagi hangat."
Kei menatap Dinda sesaat, dengan ragu ragu Kei mengambil coklat hangat di tangan Dinda. "Terima kasih" jawab Kei.
"Ayo di minum, aku akan pergi setelah kau habiskan coklat hangat itu" ucap Dinda setengah memaksa Kei.
Kei mengerutkan dahi menatap Dinda, ia sedikit merasa aneh dengan sikap Dinda yang tiba tiba baik memberikannya segelas coklat hangat, yang tak pernah dia lakukan sepanjang mereka menikah.
"Ya, nanti aku habiskan" jawab Kei.
"Tidak, sekarang kau habiskan."
"Baiklah." Dengan ragu Kei meminum coklat hangat itu sampai habis. Lalu ia letakkan gelas itu di atas meja.
"Oke, sekarang aku pergi dulu." Dinda balik badan melangkahkan kakinya keluar dan diam di balik pintu bersama memperhatikan Kei.
Sementara itu, Kei tiba tiba merasakan pusing setelah meminum coklat hangat yang di berikan Dinda. "Kepalaku pusing sekali" gumam Kei pelan. Lalu ia berdiri dan melangkahkan kakinya. Baru saja satu langkah tiba tiba Kei ambruk ke lantai dan tidak sadarkan diri.
Dinda yang memperhatikan Kei langsung berlari mendekati Kei setelah melihat Kei pingsan. Dinda langsung mengangkat tubuh Kei dengan cara di seret. Kemudian ia angkat ke atas tempat tidur. "Yes, berhasil!
Kemudian Dinda naik ke atas tempat tidur dan menatap wajah Kei yang tak sadarkan diri. " Kau tahu Kei? aku telah mencampur minumanmu dengan obat penenang dosis tinggi" ucap Dinda dengan tertawa kecil.
__ADS_1
Perlahan Dinda mulai melucuti satu persatu pakaian Kei hingga tak tersisa sehelai benangpun di tubuh Kei. Setelah itu Dinda mulai membuka sebagian pakaiannya dan dia pun menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Kei. Dinda kemudian berbaring sambil memeluk tubuh Kei sambil menatap wajah Kei dan menyentuh bibir Kei dengan lembut. Setelah puas memainkan bibir Kei, kemudian Dinda mencium bibir Kei cukup lama. Setelah itu ia kembali berbaring di dada bidang Kei.
***
Dari kamar Kei mendengar suara ramai di luar rumah. Kei membuka mata perlahan dan menatap sekitar. Kei sangat terkejut mendapati Dinda tidur di dadanya dengan sangat pulas. Kei memberalakkan matanya lalu ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Kei sangat terkejut ketika melihat ia tidak menggunakan pakaian sama sekali. Ia menatap Dinda sesaat lalu membuka selimut dan lebih terkejut lagi Dinda pun tidak menggunakan pakaian. Kei bangun dan melihat pakaiannya di lantai berserakan.
"Apa yang sudah aku lakukan? tidak mungkin, ini tidak mungkin" ucap Kei pelan. Lalu ia menoleh menatap Dinda dan membangunkannya.
"Apa yang sudah kau lakukan Dinda!!"
Dinda perlahan membuka matanya dan menatap Kei. "Ada apa sih, pagi pagi sudah berisik" tanya Dinda pura pura tidak tahu.
"Apa yang sudah kau lakukan padaku" tanya Kei menatap benci Dinda.
"Apa kau lupa? semalam kau melakukannya atas keinginanmu sendiri" jawab Dinda lalu ia bangun dari tempat tidur.
"Bohong! aku tahu kau berbohong!"
"Bohong katamu? Kei? kau lakukan itu semalam denganku, kau yang memintanya, kau jangan pura pura lupa Kei" Dinda memutar balikkan fakta seolah olah Kei yang bersalah.
Kei turun dari tempat tidur dan mengambil semua pakaiannya dan melangkahkan kaki memasuki kamar mandi. Sementara Dinda tersenyum sudah merasa menang.
Tak lama kemudian Kei keluar dari kamar mandi dan telah berpakaian rapi. Tanpa banyak bicara Kei berlalu dari hadapan Dinda.
"Ternyata ide Papa berhasil" ucap Dinda pelan. Lalu ia turun dari tempat tidur lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai Dinda keluar dari kamar menemui Yuda di ruang makan.
"Bagaimana sayang?" tanya Yuda sambil mengunyah roti panggang.
"Berhasil Pa" jawab Dinda lalu duduk di atas kursi.
"Sekarang kemana Kei?"
"Tidak tahu Pah, mungkin dia lagi kalut merasa bersalah pada Layla, dan dengan begitu Kei akan melupakan Layla" jawab Dinda sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas.
Yuda menganggukkan kepala tertawa kecil sembari mengelus rambut Dinda.
__ADS_1
***
Sementara itu tengah kalut dan tidak bisa berpikir jernih. Antara percaya dan tidak kalau dia sudah melakukan hubungan suami istri dengan Dinda. Kei merasa malu pada dirinya sendiri dan tidak bisa menepati janjinya pada Layla. Kei merasa tidak pantas lagi untuk Layla, Kei merasa kalau dia telah mengkhianati keagungan cinta yang ia miliki terhadap Layla.
"Akhhhh! apa yang sudah aku lakukan!" Kei memukul stir dengan kedua tangannya.
"Maafkan aku Layla, maafkan aku" ucap Kei sembari mengusap kasar rambutnya.
"Dinda, kau telah memperdayaku, jangan kau pikir aku akan menetimamu. Tidak akan pernah" ucap Kei mendengus kesal. Sesaat ia diam di dalam mobil lalu ia memutuskan untuk menemui Layla dan meminta maaf pada Layla. Kemudian Kei menjalankan mobilnya menuju Rumah Sakit.
Hanya butuh waktu dua puluh menit, akhirnya Kei telah sampai di rumah sakit. Ia menepikan mobilnya dan keluar dari pintu mobil dan menutupnya kembali lalu bergegas melangkahkan kakinya memasuki Rumah Sakit.
kei berhenti di depan pintu ruangan tempat Layla di rawat. Ia menatap ke dalam lewat celah pintu yang terbuka. Kei bisa melihat dengan jelas Layla tengah bersama Raiden tertawa bahagia. "Layla" gumam Kei pelan menatap Layla.
Kei terpaku untuk beberapa saat, dan akhirnya Kei mengurungkan niatnya untuk menemui Layla. Kei menundukkan kepala dan balik badan dengan melangkah gontai meninggalkan ruangan tempat Layla di rawat.
Sementara itu, Layla yang tengah bercanda dengan Raiden tiba tiba terdiam dan menatap ke arah pintu. Ia merasa Kei ada di balik pintu ruangan. "Kei! Kei!" Layla langsung turun dari tempat tidur dan berlari ke arah pintu dan membukanya. Tapi Layla tidak menemukan Kei sama sekali di sana.
"Kei, apa yang terjadi denganmu?" gumam Layla pelan menatap sekitar luar ruangan.
'Layla, seberapa keras aku berusaha, kau tetap tidak berhenti memikirkan Kei.' ucap Raiden dalam hati menatap punggung Layla yang berdiri di depan pintu. Lalu ia beranjak mendekati Layla.
"Kei tidak ada disini, kalau kau rindu padanya. Aku bisa antar kau untuk bertemu dengannya" ucap Raiden merangkul pundak Layla sembari tersenyum.
"Tidak perlu Rai."
"Terserah kau saja Tuan Putri" jawab Kei sembari membungkukkan badan.
Layla mencubit pinggang Raiden dan memajukan bibirnya menatap horor Raiden. "Ih apaan si? mulai deh."
"Hahahah!" Raiden tertawa hambar sambil mengusap pinggangnya.
"Ayo" ucap Layla menarik tangan Raiden kembali masuk ke dalam kamar ruangan.
'Kei, apa yang terjadi denganmu.' ucap Layla dalam hatinya, ia sangat yakin kalau tadi Kei berdiri di depan pintu. Dan Layla juga sangat yakin kalau Kei sedang ada masalah. Tapi Layla sadar kalau dia tidak bisa membantu menenangkan Kei lagi seperti waktu dulu selagi mereka masih bersama.
__ADS_1