
Raiden dan Layla telah sampai di gerbang sekolah, lalu Raiden menurunkan Layla ke atas kursi roda. Kemudian ia mendorongnya memasuki gerbang srkolah.
"Bu Guru!" sapa seorang siswa dari belakang.
Raiden membalikkan kursi roda Layla. Ia dan Layla melihat Keila keluar dari pintu mobil dan langsung mendekatinya.
"Pagi Bu." Keila mencium tangan Layla dan Raiden.
"Pagi juga Keila, ayo masuk. Nanti kamu terlambat." Layla mengusap rambut Keila sesaat.
Keila menganggukkan kepala, "Ibu, kenalkan Ayah dan Ibu Keila." Selesai bicara seperti itu, Keila langsung berlari dan masuk ke dalam mobil. Meminta Kei dan Clara untuk berkenalan dengan Layla. Akhirnya Kei dan Clara pun memenuhi keinginan Keila. Mereka keluar dari mobil dan berjalan mendekati Layla dan Raiden.
Layla dan Raiden melebarkan matanya, menatap sosok yang mereka kenal.
"Kei?" ucap Raiden pelan.
"Kei?" gumam Layla lirih.
Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Sosok Kei ada di hadapan mereka. Layla dan Raiden mengucek matanya untuk memastikan.
"Selamat pagi" sapa Kei dan Clara serempak.
Clara dan Kei saling pandang sesaat, mereka mengerutkan dahi menatap Layla dan Raiden yang terbengong.
"Kei, kau masih hidup?" tanya Raiden, kedua tangan terulur dan langsung memeluk Kei erat.
"Kei?"
"Gila kau ya, kami mencarimu kemana mana." Raiden terus memeluk Kei dengan erat. Ia luapkan semua rasa rindu dan kekesalannya karena tidak menemukannya selama lima belas tahun lamanya.
"Maaf, namaku Samuel, bukan Kei." Kei mendorong tubuh Raiden hingga mundur dua langkah ke belakang.
"Samuel?" ucap Layla pelan.
"Apa kau sudah gila? namamu Kei!" ucap Raiden sedikit menaikkan nada suaranya karena kesal.
"Maaf, ini suami saya, namanya Samuel" timpal Clara sembari menarik lengan Kei untuk mundur.
"Haha! tidak mungkin! kau bercanda bukan?" Raiden menggelengkan kepala, dan menganggap Kei tengah bercanda.
"Kami tidak bercanda, dia Samuel suami saya. Bukan Kei." Clara memperjelas keraguan Raiden.
"Mungkin dia benar Rai, dia bukan Kei." Layla menarik tangan Raiden ke belakang supaya Raiden tidak bersikeras menganggap suami orang adalah Kei.
"Tidak Layal! dia Kei! aku tahu itu!" seru Raiden.
"Bukan Rai." Sebenarnya Layla juga meyakini, kalau pria yang ada di hadapannya adalah Kei, tapi yang membuat Layla tidak keras kepala adalah, adanya sosok wanita di samping Kei yang mengaku sebagai istrinya.
"Seperti mimpiku semalam" ucap Layla pelan, hingga tak terdengar oleh yang lain.
"Kalau begitu kami permisi," ucap Clara. "Nak, kau masuk, nanti kesiangan."
"Baik Bunda." Keila berlari masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
"Sekali lagi, maaf." Clara menundukkan kepala sesaat, lalu ia menarik lengan Kei.
"Tunggu Kei! apa kau tidak lihat Layla! Raiden menghadang langkah Kei dan Clara.
" Lihat Layla!" Raiden menunjuk ke arah Layla.
Kei menoleh menatap Layla yang menundukkan kepala sambil menangis.
"Kau boleh melupakanku Kei, tapi kau tidak bisa perlakukan Layla seperti ini, dia tidak berhenti mencarimu Kei!" Raiden semakin geram melihat sikap Kei yang terlihat cuek saja terhadap Layla.
"Layla" Kei mulai merasakan kepalanya berdenyut hebat. Ia memegang kepalanya dan berteriak.
"Tidak!! tidakk!!"
Kei menjatuhkan tubuhnya ke bawah dan duduk sambil memegang kepalanya. "Tidakk!"
"Saya sudah bilang! dia bukan Kei! dia Samuel suami saya!" Clara marah dan memaki Raiden. Ia berusaha mengangkat tubuh Kei, dan memapahnya masuk ke dalam mobil.
"Tidak mungkin, apa yang terjadi dengan Kei?" ucap Raiden menatap mobil Clara yang meninggalkan sekolah.
"Sudahlah Rai." Mata Layla berurai air mata.
Raiden balik badan mendekati Layal, lalu ia jongkok di hadapan Layla. "Jangan menangis, aku akan mencari tahu" ucap Raiden.
"Aku mau pulang" ucap Layla lirih.
"Baiklah, kita pulang." Raiden mendorong kursi roda Layla, dan mengantarkannya pulang ke rumah.
***
Kemudian Raiden kembali ke sekolah tempat Keila menimba ilmu. Dia meminta Valeri dan Stela untuk mencari data Keila dan alamat rumah yang di gunakan. Setelah Raiden mendapatkan alamat rumah Ayah dan Ibunya Keila, Raiden langsung berangkat menuju rumah Clara dan Kei.
Tak butuh waktu lama, Raiden akhirnya menemukan alamat yang di tuju. Sesaat dia diam di dalam mobil memperhatikan rumah Clara. Lalu ia menepikan mobilnya dan langsung mendekati pintu rumah Clara.
Raiden langsung mengetuk pintu rumah Clara, tapi sayang, Clara dan Kei tidak ada di rumah. Yang ada di rumah hanya Minah saja sendirian.
"Ibu sama Bapak, ke rumah sakit." Minah menundukkan kepala sesaat.
"Boleh saya bertanya perihal suami Bu Clara?" tanya Raiden menatap Minah.
"Apakah benar, suami Bu Clara namanya Pak Samuel?" tanya Raiden pada Minah.
Minah terdiam sesaat, "benar Tuan."
Raiden menghela napas dalam, ia berpikir ulang. "Mungkin benar, itu bukan Kei."
"Apa kau kurang jelas?" sapa seseorang dari belakang, Raiden menoleh menatap Clara yang sudah berdiri di belakangnya. Tapi Raiden tidak melihat Kei bersama Clara.
"Aku mohon, katakan sejujurnya Bu Clara." Raiden melipat kedua tangannya menatap Clara.
Clara terdiam, ia merasa bersalah jika benar mereka adalah keluarganya, tapi Clara juga tidak ingin kehilangan Kei. "Dia Samuel, bukan Kei!"
"Baik, jika memang begitu tapi, sebelum aku pergi. Akan aku ceritakan, mengapa aku seperti ini."
__ADS_1
Raiden menurunkan tangannya dan berjalan lebih dekat dengan Clara. Ia berdiri di belakang Clara sambil menceritakan semua tentang Layla dan Kei. Bagaimana perjuangan Kei dan Layla sampai peristiwa penculikan itu kembali memisahkan mereka.
"Kalau begitu, aku permisi." Raiden melirik sesaat ke arah Clara. Lalu ia melangkahkan kakinya.
"Tunggu!"
Raiden menghentikan langkah ya, lalu ia balik badan menatap Clara yang berjalan mendekatinya.
Clara menghela napas dalam dalam. "Ya, Samuel aku temukan dalam keadaan hilang ingatan."
"Amnesia?" tanya Raiden
Clara menganggukkan kepala, "benar" ucapnya. Kemudian Clara menceritakan awal pertama kali ia menemukan Kei.
"Aku sudah terlanjur mencintainya, dan aku tidak mau kehilangan dia."
"Tapi bagaimana dengan Layla?" Raiden balik bertanya.
"Apa kau juga berpikir, bagaimana perasaan anakku?" tanya Clara.
Keduanya diam terpaku di tempatnya.
"Aku tidak menyukai kebohongan, aku akan mencetitakan kondisi Kei pada Layla."
"Tapi?" ucap Clara. "Bagaimana anakku?"
Raiden menggelengkan kepala, ia menatap Clara yang terlihat sedih, sama sedihnya dengan hatinya yang setiap saat terluka.
Raiden balik badan, lalu ia meninggalkan rumah Clara. Ia memutuskan untuk pulang dan memberitahu Layla.
***
Sesampainya di rumah, Raiden langsung menemui Layla. Ia menceritakan semua informasi yang ia dapatkan dari Clara.
"Kei, amnesia selama lebih lima belas tahun, padahal Clara sudah mengobatinya." Raiden mengakhiri ceritanya
"Aku mengerti sekarang, kenapa Kei tidak mengenaliku."
"Kau jangan sedih, masih ada aku." Raiden jongkok di hadapan Layla. Wajahnya tengadah menatap Layla yang tersenyum manis.
"Tidak lagi Rai, yang penting aku tahu kalau, Kei masih hidup dan bahagia walau dia amnesia."
"Kau iklas Layla?" tanya Raiden.
Layla menganggukkan kepala tersenyum, walau hatinya perih. Mengetahui kalau Kei sudah menikah dengan Clara.
Raiden memeluk Layla dengan erat, ia mencium puncak kepala Layla berkali kali.
"Janji, kau tidak akan menangis lagi."
"Iya bawel" jawab Layla sambil mencubit pinggang Raiden.
"Awww!" pekik Raiden, sambil melepas pelukannya.
__ADS_1
Usia mereka sudah tidak muda lagi, kedewasaan secara jiwa semakin mapan dan tetap stabil meski badai seringkali menerpa hidup mereka. Tiada yang lebih Agung selain Cinta, tiada yang mampu mengalahkan Sang Kala selain kasih sayang itu sendiri. Memberi tanpa berharap kembali, memberi tanpa pengembalian. Itulah hakikat cinta dan kasih sayang.