Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Bab 77: Kembali berpisah.


__ADS_3

Ke esokan paginya, Clara mendatangi rumah Layla dengan membawa surat cerai untuk Kei. Dia datang tidak sendirian tapi bersama putranya dengan mantan suami pertama, Keila.


"Tanda tangani surat cerai ini!" Clara melempar dokumen berwarna coklat ke atas meja. Keila menatap Clara sesaat lalu melirik ke arah Layla yang menundukkan kepala.


"Baik, jika itu maumu." Kei mengambil dokumen itu lalu membukanya.


"Papa! aku mohon jangan tinggalkan Keila!" pekik Keila duduk bersimpuh di bawah kaki Kei. Meskipun Keila bukan anak kandungnya namun Kei sudah sangat menyayangi Keila.


"Sayang..dengarkan Papa..Papa tidak bisa?"


"Tidak! Keila tidak mau tahu alasan Papa!" jerit Keila sambil menangis. "Kalau Papa lakuin ini, Keila mau pergi saja dari rumah!"


"Keila! kau jangan seperti itu," kata Kei.


Clara yang memang sengaja membawa Keila dan melibatkannya dalam kekisruhan rimah tangga untuk mencegah Kei meninggalkan dirinya, "Keila, bangun..percuma kau memohon. Papamu sudah tidak sayang kamu lagi."


"Clara!" Kei menatap ke arah Clara, ia tidak suka melibatkan anak kecil yang hanya akan membuatnya serba salah, dan Clara tahu kelemahan Kei.


"Tidak perlu kau banyak bicara, tanda tangani saja," ucap Clara sengaja membuat Keila tambah histeris.


"Tidak Pa! kalau Papa ninggalin Keila, sekarang juga Keila pergi! Keila berdiri lalu berlari keluar rumah, Keila langsung bergegas mengejar Keila dan memeluknya.


" Sayang, jangan lakukan itu.." ucap Kei.


"Papa janji untuk tidak meninggalkan Mama juga Keila," isak Keila.


"Ayo kemarilah Nak." Kei memegang lengan Keila dan membawanya kembali ke dalam.


"Kei.." ucap Layla, akhirnya ia angkat bicara. "Keila lebih membutuhkanmu, dia masih anak anak dan jangan sampai dia salah jalan karena perceraian orang tua."


"Nah..kau tau..kenapa kau masih mau menikah dengan suami orang," potong Clara ketus.


"Clara cukup! berhenti menyalahkan Layla!"


"Kei sudahlah..apa yang di katakan Clara memang benar," Layla berusaha untuk menengahi. "Sebaiknya aku mengambil keputusan untuk diriku dan bayiku."

__ADS_1


"Apa maksudmu Layla?" tanya Kei.


"Kei..aku sudah lelah dengan semua permasalahan yang ada, mungkin sebaiknya aku yang pergi dari kehidupan kalian," ucap Layla. "Dipaksakan pun percuma..yang ada kita saling menyakiti..aku sudah cukup sabar dengan semua kerumitan hubungan kita..jadi..aku ingin kita pisah."


"Bagus dong..tahu diri sedikit," timpal Clara.


"Clara cukup!" Clara semakin membuat kesal Kei.


"Sekarang kau pulanglah Kei..dan jangan temui aku lagi..surat perceraian biar pengacarku yang akan mengantarkannya," Layla menoleh ke belakang. "Mbok! Mbok!"


Mbok Darmi keluar dari arah dapur menghampiri Layla, "ada apa Neng?" tanya mbok Darmi.


"Bawa aku kekamar, dan panggilkan Rico juga Raiden," ucap Layla. Mbok Darmi menganggukkan kepala lalu memutar kursi roda Layla.


"Layla tunggu!" seru Kei. Mbok Darmi menghentikan kursi rodanya. "Layla aku mohon..jangan kau lakukan ini." Kei jongkok di hadapan Layla. Layla menggelengkan kepala.


"Kei..sudah cukup..biarkan aku menikmati hari hari terakhirku dengan tenang..aku mohon." Layla melipat kedua tangannya, bulir air mata turun tanpa bisa Layla bendung lagi. "Mbok, antarkan aku ke kamar." Mbok Darmi kembali mendorong kursi roda memasuki kamar pribadi Layla. Kei menundukkan kepala, ia diam tak bergeming di tempatnya.


"Papa! ayo pulang!" Keila membuyarkan lamunan Kei. "Ayo pulang." Keila menarik lengan Kei untuk bangun.


'Mengapa aku selemah ini..mengapa aku tidak bisa memperjuangkan cintaku pada Layla..aku memang laki laki bodoh dan tak pantas untuk Layla maafkan,' ucap Kei dalam hati.


***


"Ada apa kau memanggil kami, Layla?" tanya Rico, ia edarkan pandangan mencari keberadaan Kei. "Kemana suamimu?" tanya Rico lagi. Layla tidak menjawab pertanyaan Rico, ia menangis sambil menundukkan kepalanya.


"Layla?" Raiden menggeser duduknya dekat dengan kursi roda Layla. "Ada apa?"


"Aku mau pisah dengan Kei.." ucap Layla terisak.


"Pisah?!" ucap Rico dan Raiden serempak. Layla menganggukkan kepala. "Tapi kenapa? bukankah menikah dengan Kei adalah hal yang kau inginkan dari dulu, Layla?" tanya Rico lagi.


"Aku..aku.." Layla tidak sanggup lagi melanjufkan ucapannya.


"Jadi begini Den.." ucap Mbok Darmi sambil meletakkan minuman di atas meja. Kemudian ia duduk di kursi sambil memeluk Layla dan menceritakan apa yang terjadi tadi pagi.

__ADS_1


"Mengapa dia selalu menyia nyia kan kesempatan yang ada?! ucap Rico geram, lalu ia berdiri hendak keluar rumah untuk menemui Rico. Namun Layla mencegahnya dengan menarik tangan Rico.


" Jangan Ric.." Layla menggelengkan kepala. "Aku sudah lelah dan harus mengambil keputusan untuk mengakhiri kerumitan ini..aku yang menginginkan pisah..aku ingin di sisa hidupku, di jalani dengan penuh ketenangan..aku mohon Ric.." Rico kembali duduk di kursi.


"Maukah kau membantuku mengurus perceraianku? tanpa ada keributan lagi?" pinta Layla. Rico menganggukkan kepala.


"Itu keputusan yang bagus Layla, diteruskan pun percuma jika hidupmu tidak tenang..ada Clara..ada Keila yang akan membayang bayangi pernikahanmu dengan Kei," jelas Raiden. Layla menganggukkan kepala.


"Kalau begitu..sekarang kau harus dengar kabar gembira dari aku.." ucap Raiden.


"Apa?" tanya Layla sambil mengusap air matanya.


"Minggu depan, aku akan menikah dengan Sila," jawab Raiden senyumnya merekah meskipun terkesan di paksakan. Layla tersenyum menatap Raiden.


"Benarkah? aku ikut senang mendengarnya," ucap Layla. Raiden menganggukkan kepala.


"Nah, sebaiknya kau istirahat..besok kau datang ke rumahku ya," kata Raiden Layla menganggukkan kepala. "Sekarang aku pulang dulu..biar Rico yang temani kau di sini.." Layla menganggukkan kepala lagi.


"Ric, aku pulang dulu," ucap Raiden menoleh ke arah Rico. "Besok kau antar Layla ke rumahku, jangan sampai lupa ya." Rico menganggukkan kepala. Kemudian Raiden berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Layla. Kini tinggal Rico dan Layla duduk berdua, Mbok Darmi masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Sesaat hening tidak ada pembicaraan, Rico alhirnya angkat bicara, "jika itu sudah menjadi keputusanmu, kau jangan bersedih lagi," kata Rico. Layla menggelengkan kepala.


"Tidak..aku tidak sedih lagi..mungkin aku terlalu bodoh berharap pada Kei..atau memang kami tidak di takdirkan bersama," jawab Layla tersenyum tipis.


"Bagaimana kalau kita bantu Mbok Darmi di dapur?" Rico mengangkat kedua alisnya menatap Layla. Layla mengangguk cepat.


"Boleh," kata Layla. Rico berdiri lalu mendorong kursi roda Layla menghampiri Mbok Darmi di dapur.


"Mbok masak apa?" tanya Rico. Mbok Darmi menoleh ke arah mereka berdua.


"Mbok masak makanan kesukaan Neng Layla," jawab Mbok Darmi tersenyum ke arah Layla.


"Pasti ayam bakar kan, Mbok?" tanya Rico. Mbok Darmi menganggukkan kepala.


"Biar aku bantu Mbok, apa yang mau di iris?" tanya Layla.

__ADS_1


"Boleh, Neng.." Mbok Darmi menyodorkan pisau dan beberapa bawang merah ke hadapan Layla dan Rico. Sepanjang mereka memasak, Rico selalu membuat kelucuan supaya Layla tertawa dan melupakan kesedihannya.


__ADS_2