
Sementara itu di rumah Clara, keributan masih terus berlanjut. Saat ini kesabaran Kei sudah di batas ambang kelemahan setiap manusia. Ia sudah tidak bisa diam lagi menerima sikap Ibunya yang memiliki hati keras sekeras batu. Sepatutnya seorang ibu mengayomi dan mendukung putranya, bukan sebaliknya. Kei sama sekali tidak menemukan sosok Ibu dalam diri Alya. Alya hanyalah seorang Ibu saja, bukan sosok Ibu yang sepatutnya Ibu. Dan Kei juga kecewa terhadap Clara yang merasa berkuasa penuh atas dirinya. Padahal pernikahan mereka terjadi karena Kei amnesia bukan atas dasar keinginan Kei, apalagi adanya cinta.
"Kei, kau mau kemana?" tanya Clara yang melihat Kei membereskan semua pakaiannya ke dalam koper.
"Kita cerai." Kei menatap Clara sesaat, lalu ia kembali membereskan pakaiannya ke dalam koper.
"Cerai?" tanya Clara. "apa salahku?"
"Kau tidak salah, aku yang salah" jawab Kei.
"Lalu, mengapa kau mau menceraikan aku." Clara menarik lengan Kei.
"Aku kecewa denganmu" jawab Kei mendengus kesal.
"Tidak, aku tidak mau cerai" tolak Clara.
Kei tidak perduli lagi jawaban Clara, suka atau tidak Kei akan tetap pada keputusannya.
"Terserah, aku tidak butuh persetujuanmu." Kei menurunkan koper dari atas tempat tidur, dan melangkahkan kakinya.
"Kei! aku tidak mau cerai! bagaimana dengan Keila!" seru Clara mengikuti Kei dari belakang.
"Bukan urusanku, aku sudah terlanjur kecewa" jawab Kei sambil terus berjalan menuruni tangga.
"Kau menceraikanku, karena kau ingin dekat dekat dengan wanita yang sekarat itu, iya kan Kei?"
Kei menghentikan langkahnya, lalu balik badan menatap Clara.
"Jaga mulutmu, kau tidak tahu apa apa."
"Pokoknya aku tidak mau cerai!" jerit Clara. Hingga terdengar oleh Alya.
"Apa kau bilang?" ucap Alya. "Kau menceraikan istrimu karena wanita gila itu?"
"Bukan Layla yang gila, tapi Ibulah yang sudah gila karena harta!" seru Kei. "Sampai Ibu tidak memiliki hati nurani lagi!" Pekik Kei membentak Alya saking kesalnya. Bukan dia membenci Alya, tapi Kei tidak menyukai sikap dan ucapan Alya.
"Berani sekali kau bentak Ibumu sendiri!" seru Alya.
"Cukup Ibu!" seru Kei. "Aku tidak mau berdebat dengan Ibu lagi, aku capek!"
"Kau..beraninya sama ibu" ucap Alya merasa sakit hati.
"Sekarang aku mau pergi dan jangan pernah halangi aku lagi" ucap Kei. "Dan kau Clara, aku akan mengurus surat perceraiannya sendiri dan kau cukup menandatanganinya."
Kei melangkahkan kakinya menuju halaman rumah dan langsung naik mobil.
"Keiiii!!" jerit Clara mengejar Kei ke halaman rumah. Tapi mobil yang Kei kemudikan sudah pergi menjauh meninggalkan rumah Clara.
"Kei..aku tidak mau cerai" ucap Clara lirih.
"Nak, jangan menangis. Biar Ayahnya Kei yang membawanya pulang kerumah." Alya mengusap punggung Clara menenangkan.
Clara balik badan memeluk Alya, "Ibu, aku tidak mau cerai."
"Sabar ya Nak, Kei pasti kembali. Ayah dan Ibu tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi."
Clara menganggukkan kepala, lalu ia melepaskan pelulannya sambil terisak.
"Kita masuk ke dalam." Alya merangkul pundak Clara dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Sementara Kei terus menjalankan mobilnya menuju rumah sakit, tempat biasanya Layla di rawat.
"Aku lelah, lebih baik aku hidup sendiri dari pada seperti ini terus" gumam Kei pelan.
Terlintas wajah Layla dan semua kenangan masa indah dulu. Kei tersenyum getir, bulir air mata jatuh ke pipinya. Kei langsung menyeka air matanya sendiri.
"Layla, janjimu sudah kau tepati. Tapi aku tidak bisa menepati jnjiku padamu Layla" ucapnya pelan. Hatinya merasa hancur saat ia ingat kembali masa masa pahit yang harus ia jalani bersama wanita lain dan selalu mendapatkan pertentangan.
"Tapi di banding aku, Layla lebih menderita. Dia memang gadis yang luar biasa, tak salah aku mempertahankan cintaku padanya" gumam Kei lagi.
Hingga tak terasa, ia sudah sampai di halaman rumah sakit. Kei langsung keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam. Sesampainya ia di dalam rumah sakit. Kei langsung bertanya di mana kamar Layla di rawat kepada salah satu Suster.
Setelah mendapatkan informasi di mana Layla di rawat, Kei langsung menuju ruang operasi. Dari jauh Kei melihat Raiden yang lain masih setia menunggu di depan pintu ruang operasi.
"Apa sudah ada perkembangan tentang Layla?" tanya Kei kepada Valeri sahabatnya.
Valeri menoleh menatap Kei, ia menggelengkan kepala.
"Belum Kei" jawab Valeri.
Kei menghela napas dalam, "sudah berapa jam?" tanyanya.
"Dua jam, Layla harus menjalani operasi" timpal Stela.
"Operasi?" Kei mengerutkan dahi menatap Stela.
"Benar," kata Stela.
"Ini semua gara gara kau." Raiden berdiri menghampiri Kei.
"Mengapa kau selalu menyalahkanku?" tanya Kei. "Bisa tidak, kau bersikap dewasa?" Kei mendengus kesal.
"Cukup!" seru Asha.
Asha berdiri di antara Kei dan Raiden. Asha menatap Kei lalu beralih menatap Raiden.
"Kalian seperti anak anak, kalian hanya bisa ribut dan ribut terus."
"Tapi-?"
"Rai!" seru Asha.
Raiden diam tidak melanjutkan kata katanya, ia menatap Asha yang terlihat kesal.
"Seharusnya kalian bersikap dewasa, jangan hanya pikirkan ego kalian masing masing." Asha mendorong tubuh Raiden supaya sedikit menjauh dari Kei.
"Layla tidak punya banyak waktu untuk melihat kalian lebih dewasa, seharusnya kalian berusaha bagaimana Layla tetap bertahan." Asha menatap tajam Raiden.
"Iya benar, Layla menyayangi kalian semua, buat dia bahagia di sisa hidupnya. Bukan hanya mempertontonkan kebodohan kalian di depan Layla" timpal Stela.
Raiden dan Kei terdiam, apa yang dikatakan sahabatnya memang benar.
"Iya, kau benar" sela Kei.
"Tolong, aku mohon pada kalian, bekerjasamalah untuk selalu membuat Layla bisa merasakan kebahagiaan di sisa hidupnya" ucap Valeri.
"Maafkan aku." Kei menundukkan.
"Ceklek" suara pintu di buka dari dalam.
__ADS_1
Kei dan yang lain langsung menoleh ke arah pintu yang terbuka. Nampak Dokter Kenzi dan Dokter Adrian keluar dari ruangan operasi. Mereka pun langsung berjalan menghampiri kedua Dokter itu.
"Bagaiman Dok?" tanya Raiden dan Kei bersamaan.
Dokter Kenzi menatap mereka semua, lalu melirik Dokter Adrian sesaat.
"Operasi berjalan dengan lancar tapi," ucap Dokter Kenzi. "Layla akan kami buat koma untuk mempercepat kesembuhannya."
"Berapa lama Layla akan koma Dok?" Suara Kei terdengar bergetar.
"Kita lihat perkembangannya, kalau tubuh Layla merespon dengan baik obat obatan yang di berikan, Layla akan bangun lebih cepat."
"Apakah...apakah Layla akan bangun?" Kei menatap Dokter Kenzi.
"Aku tidak tahu Kei." Dr. Kenzi tahu kalau dia tidak boleh memberikan harapan berlebih pada keluarga Layla. Mereka harus siap untuk kemungkinan terburuk. Bisa saja hari ini atau besok Layla drop.
"Kalau begitu kami permisi dulu." Dr. Kenzi dan Dr. Adrian menganggukkan kepala sesaat. Lalu mereka kembali masuk ke dalam ruangan.
Kei menghela napas panjang, ia bersandar di dinding. Sementara Raiden terduduk lemas di kursi.
"Kei...kami pulang dulu, kabari kami kalau ada apa apa." Akhirnya Asha dan yang lain memutuskan untuk pulang dulu, karena mereka memiliki keluarga.
"Iya...terima kasih" jawab Kei pelan.
***
Empat hari berlalu sejak Layla keluar dari ruang operasi, ia di letakkan di ruang intensif dengan akses dua puluh empat jam untuk mengantisipasi bila ada sesuatu yang terjadi pada Layla. Sampai hari ini Layla belum juga sadar dari komanya.
Setiap hari Kei dan Raiden selalu ada di samping Layla, saat ini Kei dan Raiden memilih untuk mengikuti kata kata sahabatnya, meskipun masih ada rasa kesal di antara keduanya. Namun Kei dan Raiden memilih untuk diam.
Kei meraih kursi dan duduk di atas kursi, ia mengulurkan tangannya menggenggam tangan Layla dan mengusapnya lembut.
"Layla..bangunlah" bisik Kei di telinga Layla, seolah Layla akan mendengar ucapannya.
hari ini Raiden tidak berada di rumah sakit. Raiden harus menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda dan butuh pengawasannya langsung. Hingga akhirnya tinggal Kei yang menjaga Layla.
"Andai kau masih punya banyak waktu, bangunlah dan menikah denganku Layla." Mata Kei berkaca kaca.
Pada hari ke lima Layla berada di dalam kondisi koma, tidak ada banyak perubahan yang berarti. Dokter dan Suster masuk silih berganti memeriksa tekanan darah Layla dan membawa Layla ke ruang MRI dan CT-scan untuk melakukan pengecekan terhadap kondisi fisik Layla.
"Bamgunlah sayang, aku ingin melihat senyummu lagi. Aku ingin mendengar syair mu lagi, bangunlah Layla." Kei menundukkan kepala mencium jari jemari Layla.
"Den" sapa Mbok Darmi dari arah belakang.
Kei menoleh kebelakang menatap Mbok Darmi.
"Iya Mbok?" jawab Kei.
"Apa Den Kei membutuhkan sesuatu?" tanya Mbok Darmi.
Kei menggelengkan kepala, lalu ia beralih menatap wajah Layla lagi.
"Tidak Mbok," kata Kei.
"Kalau begitu, Mbok pulang dulu. Nanti sore kesini lagi bawakan Den Kei makanan."
Kei menganggukkan kepala tanpa melihat Mbok Darmi.
"Iya Mbok."
__ADS_1
Kemudian Mbok Darmi melangkahkan kakinya keluar ruangan. Tinggallah Kei di dalam menunggu Layla sendirian.