Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 40: Kasih terbesar


__ADS_3

Hari berlalu, bulan pun berganti. Hari hari Kei habiskan untuk bekerja dan sesekali ia menjenguk Yuda untuk memastikan ia baik baik saja. Meskipun perlakuan buruk dan caci maki harus Kei terima tiap kali ia menjenguk Yuda. Kei anggap itu semua adalah karma yang harus ia terima dan mesti di jalani dengan baik. Tidak hanya itu, Kei juga rutin berziarah ke pemakaman Dinda di tiap hari Jum'at.


Setahun sudah berlalu semenjak kematian Dinda, usianya makin bertambah dewasa tapi cintanya pada Layla tidak berkurang sedikitpun. Ia tenggelamkan dirinya bersama kesunyian dan kesendirian yang serasa mencekik lehernya. Tak jarang kerinduan dan keinginan untuk bersatu dengan Layla menyeruak di dalam dadanya. Tapi perasaan dia yang serba salah membuatnya tak mampu untuk menyatakan itu semua pada Layla. Kei lebih memilih diam dan menyimpan rasa cintanya dan keinginannya di dalam hati yang paling dalam.


Jum'at pagi Kei berniat mengunjungi pusara Dinda. Ia sengaja berjalan kaki dengan membawa sebuket bunga mawar kesukaan Dinda.


Tak lama kemudian, Kei telah sampai di pemakaman, dan Kei tidak menyadari kalau di pemakaman itu ada Layla yang sama sama sedang berziarah ke pusara Ayah dan Ibunya.


Sesampainya di pusara Dinda, Kei langsung meletakkan bunga mawar itu di atas pusara Dinda dan memanjatkan do'a pada Sang Pemilik Hidup untuk istrinya Dinda.


"Dinda, aku bawakan bunga kesukaanmu, aku harap kau senang dengan bunga yang aku bawa ini" ucap Kei pelan, sembari tangannya mencabuti rumput kecil yang baru saja tumbuh di sekitar tepi pusara. Kemudian Kei mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Dinda. Ia tatap nama dengan segenap perasaan yang ia miliki.


"Mafkan aku..maafkan aku" ucapnya lirih.


Tiba tiba Kei merasakan pundaknya di sentuh seseorang dari belakang. Ia menoleh kebelakang dan tengadahkan wajahnya menatap Layla yang menggunakan kerudung berwarna hitam.


"Layla?" sapa Kei. Ia bangun dan berdiri menatap Layla.


"Iya, aku baru saja dari pusara Ayah dan Ibu." Layla tersenyum menatap Kei, lalu beralih menatap batu nisan Dinda. Layla langsung jongkok dan memanjatkan do'a untuk Dinda. Tak lama kemudian Layla selesai berdo'a dan kembali berdiri.


"Apakah kau mau pulang sekarang?" tanya Kei.


Layla menganggukkan kepala, dengan tatapan terus ke arah batu nisan Dinda. "Iya."


"Kalau begitu, kita pulang sama sama" jawab Kei.


Kemudian mereka melangkahkan kakinya meninggalkan pemakaman dengan berjalan pelan.


"Layla."


Layla menghentikan langkahnya, menoleh menatap Kei. "Iya?"


Kei meraih tangan Layla dan menggenggamnya erat. "Apa kau keberatan?"


Layla menggelengkan kepala cepat. "Tidak."


Kei tersenyum, dan merekapun kembali melanjutkan langkah kakinya dengan bergandengan tangan.


"Layla..."


"Iya?" saut Layla dengan tatapan lurus ke depan.


"Kapan kau akan menikah dengan Raiden?" tanya Kei.


Layla menghentikan langkahnya, lalu ia melepaskan genggaman tangan Kei.


"Apakah pertanyaanku menyinggung perasaanmu, Layla?" tanya Kei lagi.


Layla hanya diam, ia tidak menjawab pertanyaan Kei. Lalu ia melangkahkan kakinya berlalu begitu saja.


Kei menghela napas dalam, ia menatap Layla yang meninggalkannya, detik berikutnya ia berlari menyusul Layla dan langsung menarik tangan Layla. Hingga langkah Layla terhenti dan balik badan menghadap Kei.


Kei langsung memeluk Layla dengan erat, seakan tidak ingin melepaskannya lagi.


"Layla, aku sangat merindukanmu. Aku rindu saat saat kita bersama dulu."


Layla hanya diam mendengarkan semua kata kata rindu yang Kei ungkapkan. Tak terasa bulir air mata jatuh dari sudut mata Layla.


"Kau tahu? aku ingin kita bersama lagi Layla, seperti dulu."


Layla melepaskan pelukan Kei, dan mendorong tubuh Kei supaya menjauh dari tubuhnya. Setelah itu Layla langsung balik badan dan berlari meninggalkan Kei.

__ADS_1


Kei terpaku di tempatnya berdiri menatap punggung Layla hingga hilang dari pandangannya. "Kenapa Layla?" ucapnya tidak mengerti.


***


"Maafkan aku Kei..." ucap Layla lirih. Ia duduk di sebuah taman tak jauh dari pemakaman.


Layla menghela napas dalam dalam. Ia tengadahkan wajahnya menatap Langit yang terlihat mendung.


"Aku akan selalu menjaga cinta ini Kei, dan aku sangat mencintaimu. Tapi-?" Layla menundukkan kepalanya, " aku tidak mungkin kembali padamu setelah kematian Dinda, terlebih sekarang ada Raiden."


Layla mengangkat wajahnya dan mengedarkan pandangan ke seluruh taman. Ia berusaha mengalihkan perhatiannya supaya tidak menangis.


"Layla."


Sapa Kei dari arah belakang. Layla menoleh menatap Kei sesaat, lalu kembali menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku." Kei duduk di sebelah Layla lalu ia meraih kedua tangan Layla dan menggenggamnya erat.


"Maafkan aku" ucapnya lagi.


Layla tetap diam tidak menjawab permintaan maaf Kei. Tapi Layla memilih pergi dan meninggalkan Kei sendirian di taman itu. Sikap diam Layla membuat Kei bertanya tanya dalam hati. Apakah dia salah bicara?"


Kei menghela napas dalam, sesaat ia terdiam dan ia pun memutuskan akan menemui Layla nanti malam. Lalu ia bangun dan melangkahkan kakinya kembali ke rumah.


****


Malam ini langit terlihat cerah, rembulan bersinar terang. Layla melangkahkan kakinya menuju taman tempat biasa ia melukis. Baru saja ia hendak duduk di kursi, seseorang menyapanya.


"Layla..."


Layla menoleh ke arah suara, nampak Kei sudah berdiri di hadapannya.


Kei berjalan lebih dekat, sangat dekat hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka. Kei menangkup wajah Layla dan menatap kedua bola mata Layla.


"Apa kau marah padaku?" tanya Kei.


Layla menggelengkan kepala, lalu ia menurunkan tangan Kei dari wajahnya.


"Lalu, kenapa kau berlari meninggalkanku?" tanya Kei menatap wajah Layla yang menunduk.


Layla hanya menggelengkan kepala, tanpa menjawab pertanyaan Kei.


"Kei, aku-?"


"Sssssttt." Kei memotong ucapan Layla dengan meletakkan telunjuknya di bibir Layla. Kei mulai mengerti akan sikap diam Layla.


"Aku tahu, kau tidak perlu menjelaskan lagi."


"Maksudmu, Kei?" tanya Layla.


"Raiden, bukan begitu?" Kei balik bertanya.


Layla tertawa kecil menanggapi pertanyaan Kei. "Ternyata kau cemburu juga."


"Tentu saja, Layla." Kei menyelipkan rambut di telinga Layla. Kei maju selangkah lebih dekat dengan Layla. Wajahnya ia dekatkan di wajah Layla hingga napas Kei begitu terasa di wajah Layla.


"Aku sangat merindukanmu Layla."


Perlahan ia mencium bibir Layla dengan tenang. Namun Layla mendorong tubuh Kei supaya menjauh dari tubuhnya.


"Tidak, Kei."

__ADS_1


Kei menautkan dua alisnya menatap Layla tidak mengerti, sudah tidak ada rasa rindukah di matanya?


"Maaf."


Layla menganggukkan kepala, menatap wajah Kei yang terlihat murung.


"Pulanglah, ini sudah malam." Layla duduk di kursi menatap lurus ke depan.


Kei menghela napas dalam, menundukkan kepala sesaat. Lalu ia berjalan mendekati Layla dan mengecup puncak kepala Layla.


"Baiklah, aku pulang" ucap Kei.


Layla menganggukkan kepala, ia tersenyum menatap wajah Kei.


"Bye."


Kei menatap Layla sesaat, lalu ia melangkahkan kakinya dengan berbagai pertanyaan di benaknya mengenai sikap dingin Layla.


Layla terpaku menatap punggung Kei hingga hilang dari pandangan. Lalu ia menundukkan kepala menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin pemberian Kei saat ia berjanji untuk setia di pernikahannya dulu.


Tak terasa air mata Layla jatuh dari sudut matanya, membasahi jari jemarinya.


"Mulai deh menangis lagi."


Layla terkejut saat mendengar suara Raiden menyapanya dari belakang. Layla menoleh menatap Raiden.


"Kau?," Layla mengusap air matanya. "Sejak kapan kau di sini?" tanya Layla.


Raiden berjalan dan duduk di sebelah Layla.


"Sejak ada Kei."


"Kkau,tadi?" ucap Layla kelu.


Raiden menganggukkan kepala, menatap Layla tersenyum tipis. "Iya."


Layla menundukkan kepalanya sesaat, lalu kembali menatap Raiden. "Kau jangan salah paham, itu tidak seperti yang kau lihat."


Raiden tersenyum, ia menundukkan kepala dan meraih tangan kanan Layla dan mengusapnya pelan.


"Kau tahu?"- Raiden menghela napas dalam-"tanpa perlu kau bicara, aku bisa mengerti" ucap Raiden.


"Maksudmu?" tanya Layla.


Raiden turun dari kursi, ia jongkok di hadapan Layla dengan kedua tangan menggenggam erat tangan Layla. Wajahnya tengadah menatap kedua bola mata Layla yang memancarkan kesedihan.


"Kembalilah Layla," Raiden tersenyum manis. "Aku tahu kau sangat mencintainya jadi, kembalilah padanya." Raiden tersenyum tipis dan menganggukkan kepala berkali kali untuk meyakinkan Layla. Bahwa dia baik baik saja.


"Kau serius?" tanya Layla.


Raiden kembali menganggukkan kepala berkali kali. "Kau bilang, bahwa kau sangat menyayangiku dan tidak akan meninggalkanku, bukan begitu?"


"Iya" jawab Layla pelan.


"Kau masih bisa menyayangiku sebagai keluargamu, Layla."


Layla tersenyum menatap Raiden. Ia lepaskan tangan Raiden dari tangannya. Lalu ia menangkup wajah Raiden.


"Aku sangat menyayangimu, sebagai kakakku."


Layla memeluk Raiden erat. Tapi bagi Raiden, ucapan Layla yang menganggapnya sebagai kakak. Bagai silet yang merajam hatinya secara perlahan. Tapi apalah daya, Raiden tidak bisa mengalihkan cinta Layla pada Kei, untuk dirinya. Mungkin dengan melepaskan Layla bersama orang yang di cintainya, adalah suatu bukti besarnya cinta Raiden pada Layla. Cinta memang menyakitkan, tapi ada kenikmatan tersendiri saat menyecapnya dengan kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2