Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 55: Harapan terakhir


__ADS_3

Tepat tengah malam, Raiden masuk ke dalam kamar rawat Layla. Ia melihat pergerakan tangan Layla yang menunjukan bahwa Layla telah sadar dari komanya dan telah melewati masa kritis. Raiden langsung memanggil Dokter untuk memastikan Layla.


Kemudian Dokter Kenzi datang dengan dua perawat, mereka langsung memeriksa Layla. Setelah Layla melalui berbagai pemeriksaan, akhirnya Dokter Kenzi menyatakan kalau Layla telah melewati masa kritisnya pada Raiden.


"Terima kasih Dok" ucap Raiden.


"Sama sama, kalau begitu saya permisi dulu."


"Iya Dok," kata Raiden.


Kemudian Dokter meninggalkan Raiden di dalam ruangan Layla.


Raiden langsung mendekati Layla dan tersenyum menatapnya.


"Layla" sapa Raiden sambil duduk di kursi.


"Raiden? dimana Kei?" tanya Layla, ia menatap seluruh ruangan kamarnya tapi tidak menemukan Kei.


"Dia pulang bersama istrinya" jawab Raiden.


Layla menghela napas dalam dalam, "apakah dia baik baik saja?" tanya Layla.


Raiden menarik napas panjang, ia tidak ingin membicarakan Kei. Tapi Raiden tidak ingin menyakiti perasaan Layla.


"Dia baik baik saja Layla, kau tidak perlu khawatir" ucap Raiden, "yang harus kau pikirkan itu kesehatanmu."


"Maaf" kata Layla.


Layla menatap wajah Raiden yang terlihat kesal, "terima kasih."


Raiden menggelengkan kepala, bukan kata tetima kasih yang Raiden inginkan. Tapi dengan melihat keberadaan Raiden saja itu sudah cukup bagi Raiden.


"Lebih baik kau istirahat, dan kau tidak perlu memikirkan Kei terus." Raiden berdiri dan mengecup kening Layla sesaat. Lalu ia berjalan menuju kursi yang tak jauh dari tempat tidur Layla.


Layla memperhatikan Raiden dari tempat tidur, ia melihat ada kelelahan dan kekesalan di raut wajahnya. Layla menarik napas dalam dalam, "maafkan aku Rai."


***


Cuaca terik matahari di siang hari terasa membakar kulit seorang gadis cantik berpakaian seksi. Ia tengah duduk bersama temannya di halaman rumah sakit.


"Hei Sila lihat!" seru temannya, "Dokter itu tampan bangeet." Mata gadis itu berbinar.


Tapi gadis seksi nan cantik bernama Sila terlihat cuek tidak tertarik sama sekali dengan cowok yang temannya tunjuk. Ia lebih asik memainkan ponsel yang ada di tangannya.


"Lina..lina..kalau lihat cowok ganteng langsung ijo..." gumamnya pelan.


"Ah kau, cowok kayak gimanapun, di matamu itu tidak berarti apa apa" sahut Lina memajukan bibirnya.


"Semua cowok sama, lihat yang cantik, lihat yang kaya langsung di modusin" ejek Sila.


"Tidak semua cowok cuma modus Sila." Lina berusaha meyakinkan Sila yang sering di modusin pria pria ganteng karena Sila anak orang kaya, cantik dan seksi. Hingga membuat Sila trauma dan tidak mau lagi pacaran dan tidak percaya terhadap pria manapun.


"Kita ke dalam yuk, siapa tahu yoga sudah sadar." Sila berdiri menatap Lina sesaat.


"Baiklah." Lina berdiri lalu mereka melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah sakit untuk menjenguk temannya.


Sepanjang perjalanan lorong rumah sakit Lina tetap bersikeras untuk merubah sudut pandang Sila tentang pria. Tapi Sila tetap bersikeras juga mempertahankan apa yang menjadi sudut pandangnya. Akhirnya mereka menjadi tidak fokus ke depan, karena Sila terus memainkan ponselnya.


"Buggg!"


Sila bertabrakan dengan Raiden yang tengah berjalan menundukkan kepala sambil membawa sebuket bunga sedap malam untuk Layla.


"Awww!" seru Sila memegang keningnya, ia tengadah menatap wajah Raiden yang menatapnya tajam, karena bunga yang Raiden bawa jatuh terinjak Sila hingga rusak.


"Kau bisa lihat jalan tidak." Mata Raiden menatap tajam Sila.


"Apa kau bilang?" balas Sila, "kau yang menabrakku duluan!"


"Minggir!" seru Raiden.


Raiden mendorong bahu Sila dan jongkok untuk mengambil bunga yang rusak terinjak. Kemudian Raiden berdiri sambil menatap bunga yang rusak. Lalu beralih menatap Sila dan Lina bergantian.


"Gara gara kau, bunga ini jadi rusak." Mata Raiden melotot.

__ADS_1


"Halah cuma bunga kok, tinggal aku ganti beres kan?" ejek Sila.


"Oke, kau bilang cuma bunga?" ucap Raiden, " Tapi bunga ini lebih berharga dari pada wajahmu yang cantik tapi biasa saja di mataku" balas Raiden.


Sila melebarkan matanya, ia maju selangkah mendekati Raiden, "kau pikir aku suka sama kau" Sila tersenyum sinis.


"Dan kau pikir aku suka, dengan wajahmu yang tak seberapa cantiknya di bandingkan bungaku ini?" ejek Raiden.


"Kau!" Sila memajukan bibirnya menatap Raiden yang meletakkan satu jarinya di kening Sila dan mendorongnya kebelakang hingga Sila mundur selangkah.


Sila menepis tangan Raiden di keningnya, "dasar laki laki kurang ajar!" Sila memaki Raiden.


Raiden terus saja berjalan tanpa menengok kebelakang lagi. Tangannya terulur ke atas dan mengacungkan jari tengahnya pada Sila. Membuat Sila bertambah geram. Lalu ia berlari menyusul Raiden hingga masuk ke dalam ruangan di mana Layla tengah di rawat.


Sila tertegun menatap Layla yang terbaring lemah dengan alat medis terpasang di tubuhnya, yang lebih membuat Sila tertegun adalah melihat kepala Layla yang botak.


Layla dan Raiden menatap Sila yang berdiri di dekat Layla. "Kau siapa?" tanya Layla tersenyum menatap Sila.


"Ah, maaf saya mengganggu" jawab Sila menundukkan kepala.


"Dia, wanita yang sudah menginjak bunga ini Layla." Raiden menatap tajam Sila.


"Oh, itu..aku tidak sengaja..." jawab Sila pelan.


"Tidak apa apa, jangan di ambil hati ucapan Raiden." Mata Layla sayu.


"Nama kamu Layla? namaku Sila." Sila menyebutkan namanya memperkenalkan diri pada Layla.


"Nama yang cantik." Layla tersenyum.


"Kayaknya aku pernah melihatmu?" Sila memperhatikan wajah Layla.


"Oh ya?" Layla mengangkat kedua alisnya menatap Sila.


Sila menganggukkan kepalanya, "Kau Layla putri Pak Surya bukan?" tanya Sila.


Layla menganggukkan kepala, "iya benar" jawab Layla.


"Kalau begitu kita tetangga dong!" seru Sila, "aku tinggal di samping rumahmu" balas Sila antusias.


"Mama sama Papa yang tinggal di situ" jawab Sila, "aku baru datang dua minggu yang lalu." Sila meraih kursi hendak duduk.


Raiden mendekati Sila ketika melihatnya hendak duduk, "hei, ngapain kau berlama lama di sini?! seru Raiden.


Raiden menarik lengan Sila untuk tidak duduk di kursi dan langsung mendoring bahu Sila.


" Eiitt, tunggu dulu." Sila menahan tangan Raiden di bahunya.


"Ada apa lagi?" tanya Raiden.


"Kau tidak perlu kasar dong, aku juga bisa pergi sendiri." Sila menatap kesal Raiden.


"Layla, aku pulang dulu ya sampai ketemu nanti!" seru Sila sambil melangkah mundur karena di dorong Raiden keluar ruangan dan menutup pintunya.


"Kau ketemu dia di mana, Rai?" tanya Layla tertawa kecil menatap Raiden.


"Dilorong rumah sakit" jawab Raiden.


"Dia lucu juga." Mata Layla berbinar.


"Gadis sombong," kata Raiden.


"Jangan begitu, nanti kau suka dia bagaimana?" tanya Layla tertawa kecil.


"Tidak mungkin!" timpal Raiden memajukan bibirnya menatap Layla.


"Awalnya benci, lama lama jadi suka" sindir Layla, tersenyum menatap Raiden.


"Tidak mungkin." Raiden mencubit hidung Layla dengan gemas.


"Oke, baiklah." Mata Layla memicing menatap Raiden.


"Kamu ya, paling bisa menggoda orang." Raiden membenarkan bantal supaya Layla bisa tidur dengan nyaman.

__ADS_1


Layla tersenyum sendiri menatap Raiden. Layla berpikir lain tentang Sila, mungkin suatu saat Raiden bisa membuka hati untuk wanita lain. Itu harapan dan apa yang ada dipikiran Layla saat berkenalan dengan Sila. Karena ia merasa bahwa hidupnya tidak akan bertahan lama lagi. Layla berharap sebelum ia pergi, Raiden punya pendamping hidup, sama seperti Kei. Harapan terakhir Layla, melihat Raiden dan Kei hidup bahagia meski tanpa dia


****


"Semoga Yoga cepat sembuh dan bisa kumpul lagi ya Lin?" tanya Sila sepulang dari kamar Yoga temannya yang di rawat karena sakit pencernaan.


"Hu'um" sahut Lina, "Sila, cowok yang kau tabrak tadi itu ganteng juga ya."


"Huuu!!" seru Sila, "cowok itu namanya Raiden, dan istrinya bernama Layla."


"Dari mana kau tahu?" tanya Lina.


"Tadi aku berkenalan dengan mereka." Sila menundukkan kepala memainkan ponselnya lagi.


"Oh, pantes dia bawain bunga." Lina mengangkat kedua bahunya.


Tak terasa mereka berjalan sudah. sampai di sebuah taman belakang rumah sakit.


"Lin, kita duduk dulu di sini, sambil menikmati sore hari." Sila berjalan menuju taman dan duduk di kursi, disusul oleh temannya Lina.


"Bunganya indah" kata Sila.


"Iya," kata Lina.


Sila tetap asik menggunakan ponselnya, sementara Lina mengedarkan matanya keseluruh taman yang beraneka warna bunga. Lalu ia menengok kebelakang.


"Sila lihat, bukankah itu cowok tadi?" bisik Lina.


"Mana?" Sila menatap lurus kedepan.


"Ini, dibelakang kita. Sedang duduk bersama Dokter." Lina menepuk pundak Sila pelan supaya menengok ke belakang.


Sila menoleh menatap ke belakang. Ia melihat Raiden dan Dokter Kenzi yang tengah membicarakan tentang sakit kanker otak Layla.


Sementara itu, Raiden dan Dokter Kenzi tidak menyadari kalau pembicaraan mereka tengah di kuping dua wanita di belakangnya.


"Jadi, bagaimana Dok?" tanya Raiden.


"Layla harus melakukan operasi yang kedua," Dokter Kenzi menghela napas dalam, "tapi saya tidak mungkin melakukannya sekarang sekarang."


"Kenapa Dok?" tanya Raiden lagi.


"Sebab kondisi Layla tidak memungkinkan untuk melakukan operasi lagi, setelah pengangkatan peluru." Dokter Kenzi menatap ke arah Raiden.


"Apakah Layla bisa bertahan Dok?" tanya Raiden, menundukkan kepala.


"Soal itu, saya tidak bisa menentukan. Tapi jika dia tetap tenang dan bahagia, itu akan sangat membantu" tegas Dokter Kenzi.


"Aku akan melakukan yang terbaik Dok, aku akan membuat Layla merasakan kebahagiaan di sisa hidupnya" ucap Raiden lirih.


"Kau sangat baik dan telaten, Rai" ucap Dokter Kenzi, "padahal Layla bukan siapa siapamu."


"Dia sebatang kara Dok, sekarang yang dia miliki hanya aku, aku satu satunya sahabat yang dia punya." Mata Raiden berkaca kaca.


"Oke, sebaiknya kau jaga Layla dengan baik, saya masih ada pekerjaan." Dokter Kenzi berdiri, di susul Raiden.


"Terima kasih Dokter" kata Raiden.


"Sama sama."


Kemudian Raiden dan Dokter Kenzi melangkahkan kakinya meninggalkan taman.


Sementara itu, Lina dan Sila yang sedari tadi mendengarkan saling pandang sesaat dengan mata melebar.


"Ya Tuhan..so sweet bangeett..." gumam Lina pelan.


"Ternyata Layla bukan istrinya, tapi sahabatnya." Mata Sila berkaca kaca.


"Iya," kata Lina, "dengan sahabat saja dia bisa berkorban seperti itu, apalagi dengan pasangannya." Mata Lina berbinar.


"Kau benar" gumam Sila pelan, dengan tatapan lurus ke depan. Sila secara sadar mengakui pendapat Lina. Bahwa, tidak semua pria itu modus. Masih ada pria yang tulus seperti Raiden yang mau merawat Layla yang hanya sahabatnya, pikir Sila tersenyum membayangkan wajah Raiden.


"Kau harus dapatkan cowok itu Sil!" seru Lina menepuk tangan Sila.

__ADS_1


"Ah kau ini, mana mungkin.." ucap Sila pelan.


"Ayolah, kau pasti bisa dapatkan dia, aku yakin!" Lina memberikan semangat pada Sila. Sila terdiam, dia merasa bahwa apa yang di katakan Lina itu benar.


__ADS_2