Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 63: luka hati


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Raiden tidak mendapati Layla di ruangan rawatnya. Dengan sangat tergesa gesa Raiden bertanya pada Dokter Adrian yang kebetulan lewat di depan kamar rawat Layla.


"Dok, Dok tunggu dulu!" seru Raiden dari arah pintu berlari menyusul Dokter Adrian.


Dokter Adrian menoleh ke belakang, "ya, ada apa?" tanya Dokter Adrian.


'Dok, Layla di pindahkan ke kamar mana?" tanya Raiden mengangkat ke dua alisnya menatap Dokter Adrian.


Dokter Adrian tersenyum, "Layla sudah di pindahkan ke rumahnya," jawab Dokter Adrian.


"Di pindahkan?" tanya Raiden.


Dokter Adrian menganggukkan kepala, ia melangkahkan kakinya, di ikuti Raiden berjalan sejajar di samping Dokter Adrian.


"Layla minta di rawat di rumahnya, karena Layla butuh ketenangan," jawab Dokter lagi.


Raiden menganggukkan kepala, ia menghentikan langkah Dokter.


"Terima kasih Dok, kalau begitu saya permisi dulu."


Dokter Adrian menganggukkan kepala, "sama sama."


"Mari Dok," ucap Raiden menundukkan kepala sesaat, lalu ia balik badan dan melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sakit untuk menemui Layla di rumahnya.


***


Sesampainya di rumah Layla, Raiden mendapati Layla tengah duduk di atas kursi roda di depan teras rumahnya.


"Layla...aku minta maaf," ucap Raiden.


"Minta maaf buat apa?" tanya Layla, dengan tatapan lurus ke arah taman bunga.


"Aku...." Raiden tidak melanjutkan ucapannya, ia menundukkan kepala sesaat. "Karena aku tidak menemanimu semalam."


Layla tersenyum samar, ia mengalihkan pandangan menatap Raiden.


"Tidak apa apa," jawab Layla.


"Oke, apa kau sudah merasa baikan sekarang?" tanya Raiden.


"Rai..." ucap Layla.


Raiden mengangkat kedua alisnya, lalu ia jongkok di hadapan Layla, "ada apa?"

__ADS_1


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi," ucap Layla. "Sudah waktunya kau memikirkan dirimu sendiri."


"Maksudmu?" Raiden mengerutkan dahi menatap kedua bola mata Layla.


"Aku tidak perlu menjelaskan apa apa padamu," ucap Layla. "Tentu kau mengerti maksudku."


"Iya, tapi Layla-?"


"Rai, aku tidak mau terus terusan bergantung pada orang lain," ucap Layla. "Kau juga butuh bahagia."


"Tapi Layla, bahagiaku ada di dekatmu. Ada di saat suka dan dukamu." Mata Raiden berkaca kaca.


"Tidak Rai, tolong mengertilah."


"Tapi Layla-?"


"Rai!" seru Sila dari arah pintu gerbang rumah Layla.


Raiden menepuk keningnya menatap Sila yang berjalan mendekatinya.


"Aduh, dia lagi dia lagi."


"Hai Layla, tadi aku ke rumah sakit. Ternyata kau sudah pulang." Sila langsung duduk di kursi.


"Iya Sil, terima kasih." Layla tersenyum menatap Sila.


"Aku tidak mengganggumu, aku hanya ingin membantumu menemani Layla," jawab Sila menundukkan kepala.


"Halah, alasan saja." Raiden berdiri dan duduk di kursi.


"Kalian jangan berantem," ucap Layla coba menengahi.


"Layla, aku boleh pinjam Raiden sebentar untuk mengantarkan aku ke rumah sakit. Boleh apa tidak?" tanya Sila.


"Eittt, apa maksudmu?" sela Raiden melebarkan matanya menatap Sila.


"Boleh kok Sila..." jawab Layla.


"Layla, aku tidak mau ya." Raiden mengarahkan telunjuknya ke arah Layla.


"Rai, dia perempuan sama seperti aku, apa kau akan menolak jika aku di posisinya Sila?" tanya Layla


"Tapi Layla, ini beda ya," jawab Raiden.

__ADS_1


"Ayolah Rai..." rengek Sila.


"Ayolah Rai, kau jangan begitu."


Raiden menghela napas dalam dalam. Lalu ia mengalihkan pandangan menatap horor Sila.


"Oke! sekali ini saja!" seru Raiden.


Sila bertepuk tangan pelan, "makasih..."


Kemudian Sila berdiri dan berpamitan pada Layla, di ikuti Raiden dari belakang dan meninggalkan rumah Layla menuju rumah sakit menggunakan mobil milik Raiden.


Layla menghela napas dalam dalam, ia menundukan kepala dan menatap jari jemarinya.


"Tess!


Satu bulir air mata jatuh menetes ke jari jemarinya Layla.


" Tesss!!


Bulir air mata itu semakin lama semakin deras membasahi jari jemarinya, tubuh Layla bergetar, ia menangis tanpa mengeluarkan suara. Hanya kepedihan, kesunyian dan yang pasti Layla merasa kalau dia sendirian.


"Ayah, Ibu...aku ingin pulang," ucap Layla pelan nyaris tidak terdengar.


Mbok Darmi yang berdiri di depan pintu mendapati Layla dalam ke adaan menangis tanpa suara. Nampan yang berisi susu hangat yang di pegang Mbok Darmi hampir saja jatuh karena ikut bergetar saat Mbok Darmi menahan suaranya saat menangis tatkala melihat Layla terpuruk.


Mbok Darmi memalingkan wajahnya dan menyeka air mata di pipinya yang sudah keriput. Lalu ia mendekati Layla seolah olah tidak terjadi apa apa.


"Neng, ini susu hangatnya," ucap Mbok Darmi sambil meletakkan nampan di atas meja, lalu ia mendekati Layla dan berdiri di belakang kursi roda.


"Makasih Mbok," jawab Layla dengan nada suara berat sembari mengusap air matanya.


"Jangan di hapus air mata itu Neng Layla," suara Mbok Darmi terdengar parau. "Jika itu bisa meringankan beban di hati, menangislah Neng." Mbok Darmi bergeser ke samping Layla.


"Mbook..."


Layla menoleh dan tengadahkan wajahnya menatap Mbok Darmi. Lalu ia memeluk Mbok Darmi sambil menangis sesegukan. Layla menangis sejadi jadinya dalam pelukan Mbok Darmi. Ia tak mampu lagi menyembunyikan kepedihannya. Layla tidak tahu lagi, harus ia simpan di mana luka hati yang tak kunjung mengering.


"Mbok tidak memiliki kata kata motivasi, tapi Mbok tahu kalau Neng Layla bukan wanita lemah."


"Mbok...aku ingin pulang"


"Jangan bicara seperti itu Neng," ucap Mbok Darmi. "Masih ada Mbok juga Mang Usman."

__ADS_1


Layla menganggukkan kepala, "Mbok, antarkan aku ke kamar," ucap Layla.


Mbok Darmi mengusap air mata Layla, dengan jari jemarinya yang sudah tidak muda lagi. Kemudian Mbok Darmi mendorong kursi roda Layla kembali masuk ke dalam kamarnya.


__ADS_2