Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 56: Kerumitan


__ADS_3

Setelah sepuluh hari Layla di rawat di rumah sakit. Akhirnya, Dokter pun mengizinkan Layla untuk pulang. Tetapi, dalam pengawasan Dokter Kenzi yang akan selalu memantau kesehatan Layla.


Dengan Mata berbinar, Layla sangat tidak sabar untuk cepat pulang kerumahnya. Karena rumahlah yang memberikan kedamaian dan ketenangan untuk Layla.


Setelah Raiden menandatangani berkas berkas dan pembayaran administrasi, Raiden akhirnya membawa Layla pulang hari itu juga.


Hanya waktu lima belas menit, Raiden dan Layla telah sampai di rumah. Disambut dengan wajah wajah penuh kasih sayang dari Mbok Darmi dan Mang Usman.


"Akhirnya aku pulang juga." Mata Layla berbinar.


"Mbok senang sekali, Neng Layla sudah pulang." Mbok Darmi memeluk Layla sesaat.


Mang Usman tetap berdiri dan tersenyum penuh kehangatan menatap Layla.


"Mamang, buatkan susu hangat kesukaan Neng Layla, ya?" tawar Mang Usman.


Layla tersenyum menatap Mang Usman, "boleh," kata Layla.


Kemudian Mang Usman balik badan kembali ke dapur, sementara Mbok Darmi duduk di kursi di sebelah Layla.


Raiden yang sedari tadi diam mematung memperhatikan mereka, akhirnya angkat bicara, "Layla, aku akan tinggal di sini sampai kau sembuh," Raiden jongkok di hadapan Layla, "aku tidak mau terjadi sesuatu lagi padamu, boleh?" tanya Raiden.


Layla menganggukkan kepala, menatap Raiden yang jongkok di hadapannya.


Layla terdiam sejenak untuk mempertimbangkan keinginan Raiden. Mungkin dengan adanya Raiden di rumahnya, Yuda tidak akan berani menyakitinya lagi.


"Iya Rai, aku mengizinkan" jawab Layla


Raiden tersenyum menatap layla, ia mengulurkan tangannya mengusap lembut pipi Layla.


"Sekarang kau istirahat dulu, aku pulang sebentar untuk mengambil pakaian" ucap Raiden.


"Aku mau di sini, kau tidak perlu khawatir Rai," jawab Layla, "aku tidak akan kemana mana sampai kau kembali.


" Baiklah." Raiden berdiri dan mencium kening Layla sesaat, lalu ia berpesan pada Mbok Darmi dan Mang Usman untuk menjaga Layla dulu sampai ia kembali. Setelah Itu Raiden langsung menuju rumahnya.


"Neng Layla jangan main di luar ya, Mbok takut ada penjahat lagi." Mbok Darmi melangkahkan kakinya menuju pintu dan menguncinya dari dalam.


"Neng Layla, ini susu hangatnya." Mang Usman menundukkan kepala sesaat, lalu ia meletakkan gelas di atas meja.


"Terima kasih," kata Layla.


"Sama sama," kata Mang Usman.


"Pintu semua sudah di kunci, sekarang Neng Layla istirahat saja." Mbok Darmi duduk di kursi bersebelahan dengan Mang Usman.


"Antarkan saya ke kamar Mbok."


"Baik Neng."


Mbok Darmi langsung berdiri dan mendorong kursi roda Layla menuju kamarnya.


"Terima kasih ya Mbok" ucap Layla.


"Sama sama Neng, kalau begitu Mbok masak dulu" ucap Mbok Darmi, "nanti kalau Neng ada perlu apa apa, panggil si Mbok, ya?"


"Iya Mbok" jawab Layla. Wajahnya tengadah menatap Mbok Darmi sembari mengusap tangan Mbok Darmi yang sudah keriput.


Kemudian Mbok Darmi kembali keluar kamar, meninggalkan Layla sendirian di kamarnya.


Layla menatap sekitar ruangan kamarnya, meski sedikit berbeda karena ada alat alat medis tapi foto foto keluarga masih terpajang di dinding kamarnya, tidak ada yang berubah seperti dua puluh tahun yang lalu.


Layla mendekati meja rias, dan mengambil sebuah foto keluarga yang di ambil saat hari ulang tahun Layla yang ke sepuluh. Layla menatap foto itu lama, perlahan jari jemari Layla mengusap pelan foto keluarga itu.


Tak terasa, air mata Layla turun dengan deras membasahi foto itu.


"Ayah..Ibu...aku kangen kalian" ucap Layla lirih.


Masih hangat dalam ingatannya saat kebersamaan, saat Surya memangkunya dan di bawa berlarian di sekitar taman, lalu sang Ibu mengejarnya dari belakang.


"Ibu andai kalian masih ada..." Layla tak sanggup melanjutkan ucapannya, ia menangis sesegukan, hatinya perih dan dadanya sesak.


"Ibu benar, menjadi dewasa itu sulit" gumam Layla pelan, sambil menyeka air matanya.

__ADS_1


"Layla, kenapa kau menangis?" Raiden memeluk Layla dari belakang, "kau rindu Ayah dan Ibumu?"


Layla tengadah menatap wajah Raiden, ia menganggukkan kepala.


"Iya aku...." Layla terdiam dan langsung menangis, membenamkan wajahnya di dada Raiden.


Raiden terdiam, ia peluk Layla erat dan mengusap punggung Layla dengan lembut untuk menenangkan.


"Hapus air matamu" ucap Raiden, "kau sarapan dulu, terus minum obat."


Layla menganggukkan kepala, lalu Raiden melepas pelulannya dan mengusap air mata Layla, "tersenyumlah" ucap Raiden pelan.


Layla tersenyum samar, menatap Raiden.


"Terima kasih," kata Layla.


Raiden menganggukkan kepala, kemudian ia berdiri dan mendorong kursi roda menuju luar.


***


Sementara itu di rumah Clara, Kei berniat untuk menjenguk Layla di rumahnya, karena tadi pagi ia ke rumah sakit, ia di beritahu kalau Layla sudah pulang oleh salah satu perawat.


"Kau mau kemana sore sore begini?" tanya Clara menatap punggung Kei.


"Aku mau menjenguk Layla." Kei menoleh menatap Clara sesaat. Lalu kembali menatap cermin sambil mengancingkan kemejanya.


"Kei, bisa tidak? sehari saja kau lupakan Layla." Mata Clara terlihat kesal.


Kei balik badan dan menghela napas dalam dalam, "aku tidak mau ribut soal ini" ucap Kei, "jadi, aku mohon sama kamu jangan ikut campur" jawab Kei.


"Tapi, aku istrimu. Aku berhak tau apapun yang kau lakukan." Clara mulai kesal setiap kali Kei selalu mementingkan Layla dari pada dia.


"Kau lupa?" balas Kei, "aku menikahimu karena amnesia, paham?!" Kei melangkahkan kakinya menuju meja dan mengambil kunci mobil.


"Tapi Kei..." Clara tidak melanjutkan ucapannya.


"Cukup, aku tidak mau ribut lagi!" seru Kei, "kalau kau seperti ini terus, aku akan pergi dari rumah." Kei melangkahkan kakinya keluar kamar.


"Kei!"


"Apa yang dikatakan Clara itu benar Kei," kata Alya.


"Kau sudah dewasa Kei, tapi sama sekali Ayah tidak melihat ada perubahan dari dirimu" timpal Abdul.


"Kalian tidak perlu ikut campur lagi soal kehidupanku" sindir Kei.


"Kei!" seru Alya, "kami orang tuamu?!"


"Ya, aku tahu" balas Kei, "kalian orang tua yang telah menghancurkan hidup putranya, harapan dan masa depan putranya, hanya demi harta!!" pekik Kei dengan lantang.


"Tutup mulutmu Kei!" Abdul mengangkat tangannya hendak menampar Kei. Tapi di halangi oleh Clara.


"Jangan Yah, aku mohon. Kalian jangan bertengkar lagi, biarkan Kei menemui Layla."


"Tapi Clara...." ucap Alya pelan.


"Ibu, sudahlah." Clara menganggukkan kepala menatap Alya dan Abdul bergantian. Lalu mereka membiarkan Kei untuk pergi menemui Layla.


Kei berlalu begitu saja, tanpa harus menunggu persetujuan kedua orangtuanya. Ia langsung menjalankan mobilnya menuju rumah Layla.


"Ahkkk!" seru Kei di dalam mobil.


"Kenapa aku selalu mengalami kesulitan untuk bersama Layla." Bibir Kei mengatup, hatinya merasa kesal.


Lima belas menit berlalu, akhirnya Kei telah sampai di halaman rumah Layla, Kei keluar dari pintu mobil dan langsung mendekati Layla dan Raiden yang tengah duduk di teras depan rumah, dan mereka tengah menatap ke arah Kei.


"Kau lagi" gumam Raiden pelan. Ia memalingkan wajah ke samping.


"Kei..." sapa Layla pelan.


"Bagaimana keadaanmu Layla? apa sudah lebih baik?" tanya Kei.


"aku sudah..." Layla tidak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Dia baik baik saja selama kau tidak berbuat ulah" sela Raiden.


Layla dan Kei menoleh menatap Raiden sesaat. Tapi Kei hanya diam tidak menanggapi perkataan Raiden. Dan kembali fokus pada Layla.


"Aku senang kau sudah pulang ke rumah, Layla." Kei jongkok di hadapan Layla.


"Terima kasih, kau tidak perlu khawatir. Ada Raiden yang menjaga aku" jawab Layla.


"Syukurlah kalau kau..." Kei terdiam.


"Tidak perlu kau basa basi, sebaiknya kau tidak mengganggu Layla lagi," ucap Raiden


"Tapi Rai..." ucap Layla pelan.


"Layla sudahlah, apa kau mau melihat Kei berantem terus dengan istrinya seperti yang dia lakukan dulu pada Dinda?"


Kei mendengus kesal, ia menatap tidak suka terhadap Raiden. Karena sudah mengungkit masa lalu dan melibatkan Dinda yang sudah tiada didalam pertengkaran mereka.


"Aku masih bisa tahan emosiku Rai, karena aku tahu kalau kau yang telah merawat Layla" ucap Kei geram. "Jika kau bukan yang merawat Layla, aku sudah menghajar mulutmu itu!"


"Oh, siapa takut?" ejek Raiden.


"Kei...Raiden..aku mohon..kalian jangan ribut terus, aku cape..." Ucap Layla lirih.


Raiden bangun dan berdiri langsung mendekati Kei.


"Sebaiknya kau pulang." Raiden menarik lengan Kei supaya berdiri dan menjauh dari Layla.


Kei berdiri dan mundur selangkah karena bahu Kei di dorong Raiden.


"Kau tidak perlu mengusirku, aku bisa pulang sendiri." Kei merasa sikap Raiden terlalu berlebihan. Karena menurut Kei, ia tidak melakukan sikap dan tindakan di luar kewajaran.


"Kenapa kau bengong?" tanya Raiden menatap wajah Kei.


"Kau tidak perlu kekanak kanakan seperti ini Rai" sindir Kei.


"Kau bilang aku kekanak kanakan?" Raiden tersenyim miring dan memalingkan wajah sesaat, "apa tidak kebalik?" tanya Raiden.


"Cukup..kalian jangan ribut.." ucap Layla pelan.


Raiden menoleh menatap Layla sesaat lalu kembali menatap Kei, "tunggu apalagi?"


"Baik" ucap Kei, "Layla aku pulang dulu." Kei menatap Layla sesaat, lalu menatap Raiden dengan tatapan tidak suka.


Layla menganggukkan kepala menatap Kei, "iya Kei." Mata Layla berkaca kaca.


Kei melangkah mundur dengan tatapan terus pada Layla, "aku mencintaimu, selalu. Sampai kapanpun aku mencintaimu!" seru Kei di sela sela langkahnya. Kemudian Kei balik badan dan melangkahkan kakinya menuju mobil.


Layla tersenyum tipis menatap Kei, dadanya sesak dan tenggorokannya sakit menahan air mata yang jatuh, dia tidak ingin Raiden tahu dan Layla juga tidak ingin menyakiti Raiden.


"Layla, jangan sedih." Raiden jongkok di hadapan Layla. Ia mengusap air mata Layla yang hampir saja jatuh dari sudut matanya.


"Aku hanya tidak ingin kau sedih layla."


Layla diam dan menundukkan kepala, "jika aku mampu memenggal ego di kepalalu, maka akan aku lakukan supaya aku tidak tersesat dengan apa yang ku anggap benar." Mata Layla berkaca kaca.


"Salah dan benar hanya sebuah penilaian, aku melakukan apa yang aku anggap benar" balas Raiden. Tangannya mengangkat dagu Layla supaya sejajar.


"Kebenaran yang kau anggap baik, belum tentu baik buat orang lain" sela Layla.


"Entahlah..." gumam Raiden.


Raiden menatap kedua bola mata Layla, "kebaikan, kebenaran, kejujuran dan kebohongan. Apapun hasilnya hanya untuk dirimu, bukan untuk orang lain. Pahami itu Rai." Layla menangkup wajah Raiden. Ia tersenyum getir menatap wajah Raiden.


Raiden hanya diam, ia tahu kalau Layla sedih, tapi Raiden tidak ingin Layla tambah terluka jika terus bertemu dengan Kei yang sudah memiliki keluarga. Jika di biarkan, maka Dinda yang kedua akan terjadi. Itu tidak di inginkan Raiden.


"Sebaiknya kau masuk, hari sudah mulai gelap." Raiden menurunkan tangan Layla dari wajahnya. Lalu ia berdiri dan mendorong kursi roda masuk ke dalam rumah.


Sementara Kei tidak benar benar pulang, ia masih ada di sekitaran rumah Layla.


"Aku harus ke kantor Polisi besok, untuk mencari kepastian si pelaku penembakan Layla." Kei memutuskan untuk pulang, karena besok pagi ia harus ke kantor Polisi. Ia menduga kalau pelakunya adalah Yuda.


Ia berpikir, tidak mungkin orang lain. Karena Kei sangat tahu betul kalau Layla tidak memiliki musuh.

__ADS_1


Kei merasa apa yang di lakukannya sudah benar, dan Raiden pun merasa apa yang di lakukannya benar. Bagaimana jika kedua duanya salah?.


__ADS_2