
"Neng Layla, ini susu hangatnya." Mbok Darmi meletakkan gelas di atas meja, sejenak Mbok Darmi terdiam melihat Layla yang duduk melamun di depan jendela kamarnya.
"Semenjak Bapak dan Ibu tidak ada, Neng Layla tidak pernah keluar rumah." Mbok Darmi berjalan mendekati Layla yang tengah memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong.
Layla menghela napas dalam dalam, lalu menoleh ke arah Mbok Darmi yang berdiri di sampingnya. "Aku tidak ingin kemana mana Mbok" jawab Layla tersenyum tengadahkan wajahnya menatap Mbok Darmi.
"Baiklah Neng, kalau perlu sesuatu Mbok ada di dapur." Selepas bicara Mbok Darmi memutar tubuhnya melangkahkan kakinya keluar kamar. Sementara Layla kembali menatap kosong ke luar jendela. Angin yang sepoi sepoi yang masuk lewat pintu jendela menyapa lembut kulit pucat Layla, seolah angis sepoi sepoi itu adalah sentuhan tangan Kei dan memberikan ketenangan saat angin menyentuh kulitnya, Layla pun tersenyum sendiri.
Sementara itu Mbok Darmi dan Mang Usman sedang memperhatikan Layla dari arah pintu kamar Layla yang terbuka. Mereka menatap sedih Layla yang tiap hari seperti itu.
"Apa yang harus kita lakukan Pak?" tanya Mbok Darmi pada suaminya Mang Usman.
Mang Usman menggelengkan kepala, menoleh ke arah Mbok Darmi. "Aku tidak tahu Bu, aku juga khawatir dengan keadaan Neng Layla." Mang Usman kembali mengalihkan pandangannya pada Layla.
"Bagaimana kalau kita telepon Den Rai saja?" Tanya Mbok Darmi memberikan usul.
"Ide bagus sih Bu, tapi takutnya nanti malah mengganggu Den Rai" jawab Mang Usman menoleh ke arah Mbok Darmi sesaat. Lalu Mang Usman menarik tangan Mbok Darmi untuk menjauh dari kamar Layla.
"Ada apa Pak?" tanya Mbok Darmi mengerutkan dahi menatap Mang Usman.
"Ssstt"
Mang Usman meletakkan satu jari di bibirnya sendiri sembari menoleh ke arah Mbok Darmi sesaat. Lalu berjalan mengendap endap menuju pintu rumah. Mbok Darmi yang pendengarannya sedikit kurang jelas mengerutkan dahi tidak mengerti maksud Mang Usman, tapi Mbok Darmi tetap mengikuti apa yang di lakukan Mang Usman.
"Kau dengar? ada keributan di halaman rumah kita Bu." Mang Usman sedikit membuka pintu dan mengintip ke luar halaman lewat celah pintu rumah.
"Ada apa Pak?" Mbok Darmi menggeser wajah Mang Usman dengan tangan kirinya lalu mengintip di balik celah pintu rumah.
"Walah Pak, ada apa di luar kok tetangga pada kumpul?" Mbok Darmi menutup pintu rumah dan menghalanginya dengan tubuh gendutnya.
"Aku tidak tahu Bu, tapi aku melihat Pak Yuda ada di antara kerumunan tetangga" jawab Usman menggeser tubuh Mbok Darmi supaya tidak menghalangi pintu. Mang Usman mendekatkan kupingnya ke luar pintu rumah untuk mendengarkan percakapan Yuda dan para tetangga yang berjumlah kurang lebih lima belas orang.
"Bagaimana Pak? apa yang mereka bicarakan?" tanya Mbok Darmi mengerutkan dahi menatap punggung Mang Usman yang sedang mendengarkan dari dalam.
Tiba tiba Mang Usman balik badan lalu ia menutup kembali pintu rumah dan berkata. "Gawat Bu" ucap Mang Usman sambil memegang dadanya sendiri, matanya melebar menatap Mbok Darmi.
"Ada apa Pak?" Mbok Darmi menarik tangan Mang Usman hendak menggeser tubuh Mang Usman untuk menjauh dari pintu.
"Jangan Bu."
"Ada apa Pak? jangan buat aku takut to Pak."
__ADS_1
"Pak Yuda sedang memprovokasi warga untuk mengusir Neng Layla Bu." Mang Usman balik badan lalu mengunci pintu.
"Apa Pak?" Mbok Darmi menarik lengan Mang Usman untuk me jauh dari pintu dan menariknya untuk masuk ke dalam rumah.
"Cepat kau telepon Den Rai, Bu."
Mbok Darmi menganggukkan kepala, dengan berjalan tergesa gesa mendekati meja dan memutar nomer telepon rumah Raiden.
"Dukkk Dukk!!"
Baru saja Mbok Darmi hendak menelepon, terdengar suara pintu di tendang orang dari luar. Mbok Darmi meketakkan telepon rumah dan langsung mendekati Mang Usman yang menggigil ketakutan. "Bagaimana ini Pak?"
"Aku tidak tahu Bu"
"Darmi! Usman! keluar kalian!" Terdengar suara orang orang teriak dari arah luar. Membuat Mbok Darmi dan Mang Usman ketakutan.
" Ada apa Mbok? Mang?"
Mbok Darmi dan Mang Usman menoleh kebelakang, melihat Layla sudah berdiri di belakang mereka.
"Neng, tidak ada apa apa, Neng Layla masuk ke kamar dan kunci pintu." Mang Usman langsung berjalan mendekati Layla dengan wajah pucat pasi.
"Tidak ada apa apa bagaimana Mang? itu suara siapa ramai sekali di luar." Layla langsung berjalan mendekati pintu rumah hendak membuka pintu.
Layla menghentikan tangannya yang hendak membuka pintu, menoleh menatap Mang Usman dan Mbok Darmi yang ketakutan.
"Buka pintu cepat! atau kami dobrak!"
Layla mengalihkan pandangannya ke pintu rumah yang di pukul dari luar, dengan sangat tenang dia membuka kunci pintu dan membukanya. "Nampak di halaman rumah Layla, orang orang tengah berdiri dan berteriak memaki Layla.
"Usir Layla! usir Layla!
" Layla gila! usir dia!"
Layla tersenyum menatap orang orang yang tengah menghina Layla. Dengan tenang Layla turun dari teras rumahnya dan berjalan menuju halaman rumahmya dan disusul oleh Mbok Darmi dan Mang Usman dari belakang.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Layla dengan tenang, arah pandang Layla tertuju pada Yuda yang tersenyum sinis, berdiri menyilangkan kedua tangannya di dada menatap Layla benci.
"Oh, kau rupanya Pak Yuda." Layla berjalan mendekati Yuda dan berdiri di hadapan Yuda dan orang orang tanpa rasa takut lagi.
"Bapak Bapak! Ibu Ibu! tunggu apalagi?! ayo usir Layla!" ucap Yuda dengan suara lantang.
__ADS_1
"Apa kesalahanku, hingga kau begitu benci terhadapku Pak Yuda?" tanya Layla menatap tajam Yuda.
"Karena kau gila! dan kau juga telah satu rumah dengan pria yang bukan suamimu!" Yuda sengaja membakar emosi warga tanpa memberikan bukti kalau yang di katakan Yuda itu benar.
"Kau fitnah Neng Layla! itu bohong!" ucap Mang Usman ada keberanian setelah melihat Layla dengan berani menghadapi orang irang yang tengah di sulut emosi oleh Yuda.
"Jangan dengarkan dia, usir saja dia!" Yuda semakin membuat suasana tambah tidak terkontrol.
Tiba tiba salah satu warga melempar batu seukuran kepalan bayi ke arah Layla.
"Pukk!!
Batu itu tepat mengenai pelipis Layla, darah segarpun mengalir dari pelipis Layla. Layla mengusap darah yang mengalir ke wajahnya. Layla menatap tajam semua orang dengan gigi gemelutuk menahan amarah. Mbok Darmi dan Mang Usman melihat Layla di lempar langsung maju dan berdiri di hadapan Layla menghadang orang orang yang hendak melukai Layla.
" Apa kalian sudah gila! menuduh tanpa bukti. kalian tidak punya otak!" ucap Mang Usman wajahnya merah padam.
"Usir Layla! Layla gila!" ucap Yuda lagi membuat para warga mulai mengikuti yang lain untuk melempari Layla dengan batu, sandal. Ada juga yang melempar Layla dengan tanah lumpur yang sudah di siapkan Yuda. Mang Usman dan Mbok Darmi membungkukkan badan melindungi Layla yang jongkok karena menghindari lemparan warga.
Warga mulai merangsek ke depan dan menarik baju Mang Usman dan Mbok Darmi supaya menjauh dari Layla. Setelah mereka berhasil menyeret Mbok Darmi dan Mang Usman dan menghempaskannya ke samping. Warga pun mulai menarik Layla dan menyeret tubuh Layla dan dipukul tanpa ampun oleh warga.
"Hentikan, atau saya laporkan ke polisi!!"
Dari arah belakang Raiden turun dari mobil langsung menghampiri warga yang sedang memukuli Layla dengan mengatakan 'Layla gila'.
Warga menghentikan aksinya lalu menatap Raiden, sementara Yuda mengetahui Raiden datang langsung melarikan diri sebelum warga melihatnya.
"Kalian tidak punya hati!" ucap Raiden mendekati Layla dan mengangkat tubuh Layla supaya bangun.
"Saya akan melaporkan tindakan kalian pada Polisi, ingat! ini negara hukum! kalian tidak bisa seenaknya main hakim sendiri tanpa adanya bukti!"
Warga pun saling pandang, " Tapi Layla gila!" jawab seorang warga.
"Apa kalian punya bukti kalau Layla gila! apa hak kalian melukai Layla! ingat, saya akan tetap melaporkan pada Polisi!"
Raiden menatap geram warga yang telah berbuat anarkis pada Layla. Wajahnya merah padam, giginya gemelutuk. Setelah bicara seperti itu, warga pun satu persatu meninggalkan halaman rumah Layla.
"Layla, kamu terluka parah sekali, kita kerumah sakit" ucap Raiden memperhatikan luka di pelipis Layla dan luka lebam di wajah Layla. Sementara mbok Darmi dan Mang Usman juga luka luka karena lemparan batu langsung mendekati Layla dan Raiden
Layla menggelengkan kepala dan berkata. "Tidak Rai, bawa aku masuk ke dalam rumah" jawab Layla dengan sangat pelan. Matanya terbuka sedikit tubuhnya lemas, Layla pun tak sadarkan diri di pelukan Raiden.
Raiden langsung mengangkat tubuh Layla dan menggendongnya. " Mang Usman, tolong bawa mobilnya kita akan ke Rumah Sakit, dan Mbok Darmi juga ikut biar sekalian di obati!"
__ADS_1
Raiden memutuskan membawa Layla ke rumah sakit bersama Mbok Darmi dan Mang Usman. Karena mereka pun terluka yang di akibatkan warga.