Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 22: Suara hati.


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Layla masih melihat kerabatnya menunggu di rumah. Sebagian telah pulang ke rumah masing masing. Raiden dengan sabar masih menemani Layla yang dalam keadaan berdula. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Layla.


"Ya Rabb, semalam Engkau masih memberiku bahagia, Kau berikanku secawan madu namun kembali Kau ganti dengan racun, masih ada kah bahagia yang akan Kau berikan namun kembali Kau hempaskan ke dasar jurang hingga tak mampu lagi mengangkangi waktu." ucap Layla dalam hati dengan tatapan kosong ke depan.


"Layla, percuma kau menagis. Kematian orang tuamu karena kesalahanmu, kau tahu itu!" Tiba tiba saja salah satu kerabat Layla mengucapkan kata yang tak pantas di ucapkan saat Layla berduka.


Raiden tidak terima Layla di tuduh sebagai penyebab kematian Surya dan Anita, berdiri dan menatap wajah wanita paruh baya itu.


"Tidak sepantasnya Tante bicara seperti itu di depan Layla."


"Kau siapa berani beraninya ikut campur! memang kenyataannya seperti itu kok!"


"Saya memang bukan siapa siapa Layla, tapi sewajarnya saya mengingatkan Tante" Raiden menatap wanita itu tidak suka.


"Rai, sudahlah. Biarkan mereka mau bicara dan menilai sesuka hati mereka." Layla menarik tangan Rei dan menyuruhnya duduk kembali.


Wanita paruh baya itu mendengus kesal sampai matanya mendelik menatap Layla dan Raiden. Lalu ia meninggalkan rumah tanpa berpamitan.


***


Malam itu, setelah acara tahlilan selesai. Layla tetap duduk di kursi ruang tamu di temani Raiden. Sementara kerabat lainnya telah pulang meninggalkan rumah Layla.


"Layla, dari tadi kamu belum makan, apa kamu tidak lapar?" tanya Raiden sembari meletakkan susu hangat di hadapan Layla di atas meja.


Tiba tiba dari arah pintu yang terbuka, nampak dua orang berdiri dan mengetuk pintu.


"Tok tok!"

__ADS_1


Layla dan Raiden menoleh ke arah suara, betapa terkejut dan sekaligus senang melihat Kei berdiri di depan pintu bersama seorang wanita.


"Kei" ucap Layla tersenyum lalu berdiri, namun saat melihat Dinda juga ada di sampingnya Kei, Layla berubah raut wajahnya kembali murung. Raiden berdiri dan berjalan mendekat menghampiri Kei dan Dinda.


"Masuk Kei." Raiden mempersilahkan Kei dan Dinda masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi berhadapan dengan Layla dan Raiden.


"Layla, aku minta maaf karena baru datang." Kei memulai pembicaraan dengan tatapan ke arah Layla. Kei melihat luka yang sangat dalam di mata Layla. Sayang sekali posisi Kei saat ini tidak bisa meneluk, menenangkan seperti dahulu kala yang biasa ia lakukan pada Layla saat menghadapi masa sulit.


"Tidak apa apa." Jawab Layla datar.


"Layla, kami ikut berduka cita." Timpal Dinda menatap tidak suka terhadap Layla.


Layla menganggukkan kepala, tersenyum menatap Dinda dan Kei. Bibir Layla tersenyum tapi hatinya menyimpan luka yang sangat dalam dan hanya Layla yang tahu bagaimana rasanya. Setidaknya saat ini Layla sedikit mulai bisa tenang dan berbesar hati meskipun tak mampu melupakan Kei san Kei tak kan pernah bisa tergantikan oleh siapapun.


"Ayo kita pulang, jangan lama lama. Nanti Papa mencari kita." Dinda berdiri dan menarik tangan Kei. Tapi Kei tetap diam dengan terus menatap ke arah Layla. Membuat hati Dinda terbakar cemburu.


"Kei!"


Kei yang sedari tadi hanya diam menatap Layla, lalu berdiri dan berkata pada Dinda dengan nada kesal. "Aku memang suamimu, tapi sampai kapanpun aku tidak akan menjadi suamimu. Kau ingat itu Dinda, jadi kau tidak perlu membentak dan mengatur aku." Setelah bicara seperti itu Kei langsung berpamitan pada Layla dan Raiden lalu meninggalkan rumah Layla tanpa mengajak Dinda. Dinda yang merasa malu diperlakukan seperti itu di hadapan Raiden dan Layla, menatap marah pada Layla. "Kau gadis pembawa sial." Dinda langsung balik badan meninggalkan rumah Layla menyusul Kei.


Raiden yang memperhatikan sedari tadi hanya menggelenfkan kepala menatap Layla, dan mengusap punggung Layla dengan lembut. "Tenangkan hatimu Layla." Layla hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Setiap kali aku melihat wajahmu, kenangan itu selalu mengusik dan menyakiti relung hatiku, dan ternyata masih dan akan selalu ada kau di hatiku. Walau seribu hati datang menggoda dengan keanggunan cinta yang di tawarkan tapi tak mampu membasuh luka dan melenyapkan waktu yang masih sama seperti dulu kala, hatiku tak terjamah meski madu Engkau tawarkan. Karena ku tahu Engkau akan membunuhnya lagi. Ya Rabb." Ucap Layla dalam hati.


***


Sementara itu Dinda dan Kei telah sampai di rumahnya. Dinda langsung mengeluhkan pada Papanya semua sikap Kei padanya di rumah Layla karena tidak tahan lagi harus menyimpan rasa sakit hati dan kecewanya Dinda.

__ADS_1


"Kei! sampai kapan kau akan bersikap seperti ini! kalau kau memang tidak bisa mencintai Dinda dan menerimanya sebagai seorang istri. Lebih baik kau ceraikan Dinda!" Emosi Yuda tidak terkontrol lagi saat mendengar keluh kesah Dinda. Tapi di luar dugaan, apa yang di tawarkan Yuda di sambut baik Kei.


"Dengan senang hati Om, jika itu mau Om dan Dinda" jawab Kei menatap yuda tersenyum sinis.


"Tidak! aku tidak mau berpisah dari Kei! Dinda tidak menetima keputusan Yuda yang sebelah pihak, sementara Dinda masih berharap dan meyakini jika suatu hari nanti Kei akan luluh juga.


" Tapi Dinda? apa kau rela hidup menderita seperti ini?" Tanya Yuda menatap Dinda dengan sedih.


"Pa, aku mohon jangan pisahkan aku dengan Kei." Dinda memohon dengan melipat ke dua tangannya. Yuda memegang ke dua tangan Dinda.


"Baiklah sayang, tapi kau jangan menangis."


Dinda menganggukkan kepala lalu menyeka air mata di pipinya dengan kerudung yang dia gunakan.


"Kau lihat Kei? kurang apa Dinda?" tanya Yuda menatap Kei yang terlihat acuh menanggapi Dinda, apapun yang di katakan Dinda tak mampu membuatnya berpaling dari Layla.


"Dinda memang tidak kurang apapun Om, tapu aku tidak bisa menerima kekurangan dan kelebihan Dinda, karena aku tidak mencintainya."


"Plakkk!


Dinda melayangkan telapak tangannya di pipi Kei. " Kau memang tidak punya hati Kei." Dinda langsung berlari memasuki kamarnya dan membanting pintu kamar.


"Ini semua gara gara gadis gila itu, ingat Kei. Jika kau tidak merubah sikapmu pada Dinda, jangan salahkan siapa siapa kalau aku menyakiti Layla." Yuda mulai memperingati Kei, dan Yuda bukan orang yang memiliki empati tinggi terhadap orang lain Yang dia pikirkan kebahagiaannya dan Dinda tanpa perduli yang lain. Jika ada yang menyakitinya atau Dinda maka Yuda akan bermain licik dan kejam.


"Jangan coba coba sentuh Layla Om." Kei melebarkan matanya menatap tajam Yuda, lalu ia balik badan meninggalkan ruangan tamu dan masul ke dalam kamarnya. Kei duduk di atas kursi didepan meja. Lalu ia mengambil kertas dan pena. Ia mencurahkan isi hatinya di sebuah kertas yang ia tujukan pada Layla.


"Sepanjang waktu masih terus berputar tanpa mau menunggu sang ilalang. Sepanjang itu pula aku akan selalu ada dalam setiap kegelisahan menyebut namaMu di setiap hembusan napas.

__ADS_1


Ya rabb, masih banyak carakah untukku melangkah menyimpan kepedihan saat ku mulai bisa mencintai yang tak bisa kulihat?"


"Layla, aku sangat merindukanmu, sangat merindukanmu" ucap Kei lirih menatap wajahnya di cermin. Usianya mulai bertambah semakin dewasa, tapi tak mampu melupakan Layla yang selalu bertahta di dala hatinya.


__ADS_2