Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 65: Orang ketiga


__ADS_3

Tengah malam Layla terbangun, perlahan ia membuka matanya. Ia menatap langit langit kamar sesaat, lalu ia mengalihkan pandangannya ke sofa. Layla melihat Kei tertidur pulas di sofa.


"Kei?" Layla terkejut karena Kei ada di kamarnya. "Bagaimana aku harus membangunkannya?"


Layla menarik selimutnya lalu ia bangun dan duduk di tempat tidur.


"Kei.." ucapnya pelan.


Namun Kei tidak mendengar panggilan Layla, Kei tertidur pulas di kamar Layla. Ia merasakan nyaman dan tenang setelah sekian lama ia mengalami kesulitan tidur.


"Kei!!" seru Layla.


Layla menatap ke arah Kei, "aku harus membangunkannya," ucap Layla. "Clara pasti khawatir menunggu kepulangan Kei."


"Kei!" seru Layla lagi.


Beberapa menit Layla menunggu berharap Kei bangun, namun sampai menit demi menit berlalu, Kei tak bangun dari tidurnya.


"Aku harus membangunkannya, harus.."


Layla menoleh ke arah meja, ia melihat gantungan kunci mobil milik Kei tergeletak di atas meja samping tempat tidur Layla.


Layla berinisiatif untuk mengambil gantungan kunci mobil itu, untuk ia lemparkan ke arah Kei supaya bangun.


Tangan kiri Layla terulur ke arah meja, namun ia kurang dekat jaraknya dengan meja. Lalu Layla berusaha sekuat tenaga untuk menggeser tubuhnya sendiri. Dengan sangat susah payah Layla mencoba menggeser tubuhnya, menit berikutnya ia berhasil sedikit menggeser tubuhnya. Kemudian Layla mencoba untuk mengambil kembali kunci mobil itu. Namun Layla masih saja kesulitan.


"Ayo Layla, kau pasti bisa," ucap Layla pelan.


Jari jemari Layla terus berusaha meraih kunci mobil itu, "sedikit lagi Layla," gumamnya memotivasi diri sendiri.


"Ayo, ayo Layla..."


Semakin jari jemarinya mendekati kunci mobil itu, semakin bergeser pula tubuhnya di tepi tempat tidur. Tangan Layla berhasil meraih kunci mobil itu seiring dengan tubuhnya yang terguling ke bawah tempat tidur.


"Bukkk!!"


Layla terjatuh ke lantai bersamaan dengan kunci mobil yang terpental cukup jauh dari tempat ia jatuh.


Kei yang mendengar suara, langsung membuka matanya, ia menoleh ke arah tempat tidur Layla, dan langsung bangun.


Kei langsung berlari saat mendapati Layla terjatuh di lantai.


"Layla!" pekik Kei, sambil berlari mendekati Layla dan langsung mengangkat tubuh Layla dan menggendongnya.


"Apa yang hendak kau lakukan Layla?" Kei membaringkan tubuh Layla di atas tempat tidur. "Apa ada yang sakit?" tanya Kei memperhatikan Layla dari ujung rambut hingga ujung kaki.

__ADS_1


Layla menggelengkan kepala, "tidak Kei," ucapnya pelan. "Kei kenapa kau tidur di sofa? kenapa kau tidak pulang?" Layla menatap kedua bola mata Kei.


"Maafkan aku Layla," ucap Kei menundukkan kepala sesaat. "Aku ketiduran."


"Kei..pulanglah."


"Tapi Layla..." Kei tidak melanjutkan ucapannya.


"Kei, Clara pasti mencarimu. Dia pasti khawatir," ucap Layla. "Pulanglah."


"Aku tidak mau pulang Layla." Kei duduk di tepi tempat tidur meraih kedua tangan Layla dan menggenggamnya erat.


"Kei, beban hidupku sudah cukup berat," ucap Layla lirih. "Jangan kau tambah lagi beban yang harus aku tanggung." Mata Layla berkaca kaca.


"Layla, aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Kei. "Aku ingin ada di dekatmu malam ini, menjagamu Layla."


"Aku tahu Kei, tapi Clara akan sakit hati oleh sikapmu."


"Lalu siapa yang akan perduli dengan perasaanku, Layla?"


Layla terdiam, ia tidak menjawab pertanyaan Kei, "tidak Kei, kau harus pulang."


"Tapi Layla..."


Kei menatap kedua mata Layla yang mulai basah oleh air mata, "baiklah, aku akan pulang," Kei menyeka air mata Layla. "Tapi kau jangan menangis sayang, dan berjanjilah kau akan baik baik saja."


Layla menganggukkan kepala, "iya Kei." Suara Layla terdengar serak.


Kei membungkukkan badan, mencium kening Layla dalam dalam, lalu ia bangun dan berdiri, "aku pulang, kau beristirahat dan jangan berbuat hal yang mencelakai dirimu sendiri," ucap Kei. "Aku akan panggil Mbok Darmi untuk menemanimu." Sesaat Kei terdiam menatap wajah kekasihnya. Kei tersenyum lalu ia melangkahkan kakinya, sesekali ia menoleh ke belakang menatap Layla.


Layla tersenyum menatap Kei, hingga hilang di balik pintu. Layla langsung bangun dan duduk di atas tempat tidur saat Kei menutup pintu kamar, tangannya terulur ke depan.


"Kei..." ucapnya lirih.


Layla menurunkan tangannya, ia menundukkan kepala. Bahunya bergetar menahan tangis dan rasa sesak di dalam dada. Bulir demi bulir air mata jatuh membasahi selimutnya.


"Kei..!!" jerit Layla tak kuasa menahan semua perasaannya yang berkecamuk di dalam batinnya.


Pintu kamar terbuka, Mbok Darmi masuk ke dalam kamar dan mendapati Layla tengah menangis sendirian.


"Neng Layla!" Mbok Darmi langsung mendekati Layla dan naik ke atas tempat tidur.


"Neng, kenapa Neng," ucap Mbok Darmi memeluk Layla.


"Mbok..." ucap Layla lirih.

__ADS_1


Mbok Darmi matanya berkaca kaca, ia mengusap punggung Layla dengan lembut.


"Sabar Neng, serahkan semua pada Yang Maha Kuasa," ucap Mbok Darmi menenangkan Layla. "Iklas, menerima segalanya adalah obat yang kuat Neng."


"Mbokk.." ucap Layla lirih.


Mbok Darmi membaringkan tubuh Layla, lalu ia mengusap air mata Layla dengan tisu yang ada di atas meja.


"Mbok sayang sama Neng Layla," ucapnya pelan. "Sekarang Neng istirahat dan jangan terlalu berpikir keras."


Layla menganggukkan kepala, "Mbok tidur di sini." Layla membagi bantalnya dengan Mbok Darmi. Kemudian Mbok Darmi merebahkan tubuhnya di samping Layla sambil memeluk Layla erat.


***


Sementara itu Kei telah sampai di halaman rumahnya, ia berdiri di depan pintu sesaat, lalu ia berjalan duduk di kursi teras depan rumahnya.


"Orang rumah pasti sudah tidur," ucapnya pelan, ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 02:30.


Kemudian Kei melepas sepatu, lalu ia sandarkan tubuhnya di kursi.


"Layla.." ucapnya pelan dengan tatapan lurus ke depan.


"Masih ingat pulang?" sapa Clara dari arah pintu.


Kei melirik sesaat ke arah Clara, lalu ia kembali mengarahkan pandangannya ke depan.


"Kenapa kau tidak berhenti menyakiti perasaanku, Kei," Clara berjalan mendekati Kei lalu duduk di kursi. "Sebegitu pentingkah cintamu terhadap dia dari pada keluarga sendiri, hah?" Clara sekarang menjadi wanita paling egois, ia merasa dirinya yang jadi korban atas perselingkuhan Kei dan Layla.


"Aku malas ribut denganmu."


"Kei, aku juga tidak mau terus ribut denganmu," balas Clara. "Tapi kau yang membuat rumah tangga kita bagai neraka!"


"Aku mau tidur, aku capek dengar ocehanmu yang semakin lama semakin egois," ucap Kei.


Kei berdiri dan melangkahkan kakinya memasuki rumah.


"Kei! aku belum selesai bicara!"


Namun Kei tidak menanggapinya, ia memilih diam dan masuk kamar. Clara semakin kesal atas sikap Kei dan mulai menyalahkan Layla sebagai orang ketiga dalam rumah tangganya.


"Ini semua gara gara wanita pengganggu itu," ucap Clara geram. "Layla berhentilah mengganggu rumah tanggaku," gumam Clara.


Clara diam sesaat, ia berpikir bagaimana menghentikan sikap Kei. Akhirnya Clara berinisiatif untuk mendatangi Layla besok dan membicarakannya dengan Layla.


"Aku akan menemui Layla," ucap Clara. "Itu satu satunya jalan." Clara mengangguk anggukkan kepala, merasa apa yang di pikirkannya itu benar. Kemudian Clara berdiri dan melangkahkan kakinya memasuki rumah.

__ADS_1


__ADS_2