Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 47: Lemah


__ADS_3

Malam ini terasa dingin dan sunyi, tidak seperti malam sebelumnya. Raiden dan Layla sedang duduk di ruang tamu.


"Sudah malam, sebaiknya kau istirahat." Raiden berdiri dan langsung mendekati Layla. Kemudian ia mendorong kursi roda Layla menuju kamar.


Sesampainya di kamar, Raiden mengangkat tubuh Layla dari kursi roda dan menggendongnya. Lalu ia baringkan tubuh Layla di atas tempat tidur.


Raiden memperhatikan wajah Layla yang terlihat murung. "Apa kau baik baik saja." Raiden mengusap lembut rambut Layla.


Layla hanya menganggukkan kepala tanpa melihat wajah Raiden. "Iya, aku baik baik saja."


Raiden turun dari tempat tidur, lalu ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Layla supaya tidak kedinginan. "Kalau kau ada apa apa, panggil aku." Raiden menatap kedua bola mata Layla.


Lagi lagi Layla hanya menganggukkan kepala. Sesaat Raiden terdiam menatap wajah Layla. Lalu ia balik badan dan mematikan lampu. Setelah itu ia melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. "Selamat malam Princess." Raiden menutup pintu.


Layla menatap langit langit kamar, matanya sulit terpejam. Dalam cahaya yang remang remang, bayangan wajah Kei bermain main dalam pikirannya. Air mata Layla berlinang turun ke bawah bantal.


Kenangan itu bagaikan pil pahit. Kehidupan ini bagai bayang semu yang mengalir bagai jiwa yang sekarat. Tak mampu lagi mengisi yang hambar dengan kehambaran lainnya.


Tatap mata yang penuh rasa sakit. Kebohongan yang terlampau biasa hanya untuk mencari setitik cahaya kedamaian yang tak mampu lagi mencipta gairah.


Layla menghela napas dalam dalam. Coba untuk memejamkan mata, meski tak berharap lagi esok akan berbeda dari hari ini. Toh pada kenyataannya semua akan kembali berulang di tempat yang sama.


Layla mendesah kasar, ia tak mampu lagi menyembunyikan luka di hatinya. Di sini, di kamar ini. Tempat Layla bisa melakukan apa saja tanpa harus ada kepura puraan. Di mana kebahagiaan telah membeku, menjadi sebuah masa lalu yang jauh telah meninggalkan dirinya sendiri. Keberadaan yang semakin menua dan menjelma sebuah kehampaan dan kesunyian tiada akhir.


Menit berlalu, akhirnya Layla pun tertidur dengan air mata yang masih mengalir dari sudut matanya.


Mimpi pun menyambut Layla.


"Kei, kau ada di sini?" tanya Layla, "Tapi? siapa dia?" Layla menatap Kei yang berdiri mematung bersama seorang wanita cantik di sebuah taman tempat Layla dan Kei biasa menghabiskan waktu.


"Kei?" tanya Layla lagi.


Namun Kei berlalu begitu saja meninggalkan Layla yang berusaha mengejarnya. Hingga Layla terjatuh di rumput yang mengembun. Terasa dingin di kaki Layla.


"Keii!!"


"Kei.." ucap Layla lirih.


"Keiiii!!" Layla berteriak dalam tidurnya, lalu ia membuka mata dan bangun. Ia duduk di atas tempat tidur, matanya menatap seluruh kamar.


"Kei.." ucapnya lirih, ia menangkup wajahnya dan menangis, ternyata itu cuma mimpi.


"Di mana kau, Kei..aku rindu" gumam Layla lirih.


Layla menurunkan kedua tangannya, lalu ia menatap kedua kakinya yang tidak bisa bergerak lagi. "Tidak, Kei masih hidup. Aku harus mencarinya." Layla mengangkat selimut yang menutupi kedua kakinya, lalu ia lemparkan selimut itu ke lantai.

__ADS_1


Layla berusaha mengangkat kaki kanannya dengan kedua tangan. Namun usaha dia tetap saja nihil. Kakinya tidak bisa di gerakkan sama sekali. "Ayo Layla, kau pasti bisa" ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


"Ayo, Layla ."


Layla terus berusaha mengangkat kakinya, akhirnya usahanya membuahkan hasil walau hanya bergeser sedikit, dan itu pun hanya membuat Layla tambah kesulitan. Kaki kanannya menjuntai kebawah tempat tidur. Lalu Layla berusaha lagi menggeser kaki kirinya, dan hasilnya tetap sama.


Layla berusaha turun tapi, kakinya tetap tidak bisa di gerakkan. Akhirnya Layla putus asa, ia pukul kedua kakinya dengan tangan.


"Tidak berguna! tidak berguna!" Layla terus memukul kakinya sambil berurai air mata membasahi pakaiannya.


Layla kembali berusaha untuk mencobanya lagi. Ia menatap meja yang ada di dekat tempat tidur, lalu tangan kanannya mencengkram meja, sementara tangan kirinya mencengkram tepi tempat tidur.


Layla berusaha turun, namun ia terjatuh ke lantai dan telungkup bersama meja yang dia pegang untuk tahanan. Gelas, dan semua barang barang di atas meja jatuh ke lantai hingga berantakan. Sementara meja kecil itu menimpa punggung Layla.


"PRANGGGG!!"


Suara gelas dan barang barang jatuh ke lantai hingga terdengar oleh Raiden yang berada di sofa di luar kamar Layla.


Layla meringis kesakitan, ia berusaha untuk menggeser meja itu, namun usahanya sia sia. Ia menangis sambil kedua tangan memukul lantai berkali kali.


"Tidak berguna! tidak berguna!" Layla berteriak kecewa terhadap dirinya sendiri.


"Ceklek"


Suara pintu di buka, dan kamarpun menyala terang, rupanya Raiden terbangun dan langsung masuk ke dalam kamar Layla dan menyalakan lampu.


Raiden langsung mendekati Layla dan mengangkat meja yang menimpa tubuhnya. Lalu Raiden mengangkat tubuh Layla dan menggendongnya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Raiden sambil meletakkan tubuh Layla di atas tempat tidur. Raiden menatap lantai yang berantakan sesaat, lalu beralih menatap Layla yang menangis sesegukan.


Raiden naik ke atas tempat tidur, lalu memeluk Layla dengan erat.


"Aku tidak berguna" Layla terisak, " aku hanya menyusahkan orang lain saja."


"Sssttt" ucap Raiden, "jangan bicara seperti itu, aku akan selalu ada buat kamu Layla."


"Aku bermimpi bertemu Kei," ucap Layla.


Raiden mengusap punggung Layla dengan lembut, memberikan ketenangan. Meskipun rasa sakit yang Raiden tetima hampir sepanjang hidupnya tiap kali Layla merindukan Kei. Layla sama sekali tidak bisa membuka hatinya untuk orang lain. Meski Raiden sekalipun orangnya. Yang Layla pikirkan hanya Kei. Tapi itulah cinta, cinta selalu konsisten. Memberi tanpa berharap menerima kembalian.


"Besok kita cari Kei, sekarang kau tenang dan istirahat, ya?" Raiden melepaskan pelukannya, lalu merebahkan tubuh Layla di atas tempat tidur.


"Kau tidak pernah sendirian, ada aku." Raiden menyeka air mata Layla dengan tangannya. Lalu ia turun dari tempat tidur dan membersihkan semua barang barang yang berantakan di lantai.


Layla memperhatikan Raiden, ia kembali menangis tanpa suara, adakah yang lebih sakit saat melihat ketulusan Raiden sementara Layla tidak dapat membalasnya.


"Maafkan aku, yang selalu merepotkanmu." Mata Layla berkaca kaca.

__ADS_1


"Ssstt, kau tidak pernah merepotkanku, aku melakukan semua ini karena rasa sayang." Raiden tersenyum menatap Layla


"Terima kasih."


"Sekarang kau istirahat ya?" ucap Raiden.


Layla menganggukkan kepala, "Iya."


Kemudian Raiden berpesan pada Layla untuk tidur, dan tidak melakukan hal hal yang bisa membuatnya celaka. Kemudian Raiden mematilan lampunya lagi dan keluar kamar.


Raiden duduk di sofa, menangkup wajahnya.


"Bukan hanya kau yang terluka Layla, aku pun sama."


Malam membawa hati yang rapuh, mencoba untuk sedikit menghibur ketidak pastian hidupnya selama ini. Raiden berjuang untuk tetap bertahan meski berkali kali jatuh di tempat yang sama. Malam yang begitu angkuh telah merampas setiap cahaya keindahan menjadi sesuatu yang kosong.


***


Pagi pagi sekali Raiden sudah bangun, ia memicingkan mata sejenak. Lalu ia turun dari sofa dan melangkahkan kakinya ke dapur. "Mbok, Layla sudah bangun?" tanya Raiden


"Sudah Den, Neng Layla sudah rapi" jawab Mbok Darmi.


Raiden berjalan gontai menuju kamar Layla, ia masih merasakan sisa luka semalam. Raiden membuka pintu kamar, nampak Layla sudah rapi duduk di atas kursi roda.


"Pagi" sapa Raiden tersenyum, mendekati Layla.


"Pagi Rai" jawab Layla, matanya masih sembab.


"Ayo sarapan dulu, aku akan siap siap."


Raiden mendorong kursi roda Layla menuju meja makan. Setelah itu Raiden pergi ke kamarnya untuk bersiap siap.


Tak lama kemudian Raiden telah siap, ia keluar kamar dan menghampiri Layla, lalu duduk di sebelahnya.


"Apa kau sudah sarapan?" tanya Raiden, sambil mengambil gelas susu yang ada di atas meja lalu menyecapnya perlahan.


"Aku sudah kenyang." Layla tersenyum menatap Raiden.


"Oke, kalau begitu kita berangkat." Raiden meletakkan gelas di atas meja. Lalu ia bangun dari kursi langsung mendekati Layla dan mendorong kursi roda Layla untuk mengantarkan Layla ke sekolah untuk mengajar seni melukis yang sudah Layla jalani selama hampir lima belas tahun lamanya.


Sesampainya di sekolah, Valeri, Asha dan Stela sudah menyambut Layla dengan hangat. Lalu mendorong kursi roda Layla menggantika Raiden.


"Nanti siang aku jemput!" seru Raiden menatap punggung mereka semua.


"Iya!" seru Layla menoleh kebelakang menatap Raiden.

__ADS_1


Raiden balik badan dan melangkahkan kakinya untuk kembali bekerja. Dan nanti siang Raiden akan kembali menjemput Layla, yang sudah menjadi rutinitas Raiden selama lima belas tahun ini. Mungkin orang akan menganggap Raiden itu laki laki **** yang mau saja menunggu Layla, sementara Layla tidak pernah bisa membalas cinta Raiden. Tapi itulah hakikat cinta dan kasih sayang.


__ADS_2