
Dinda Akhirnya di bawa ke rumah sakit setelah berhari hari mengalami batuk berdarah. Setelah menjalani pemeriksaan Dinda terkena penyakit Paru paru basah yang sudah akut.
Kei duduk di kursi luar ruangan kamar tempat Dinda di rawat. Kei terduduk dengan kedua tangan menangkup wajahnya. Ia berada di posisi serba salah, saat ini Kei harus menentukan pilihan antara Layla dan Dinda. Jika Kei menginginkan Dinda hidup ia harus melupakan Layla selamanya dan membuat bahagia Dinda supaya Dinda mampu bertahan hidup melawan penyakitnya.
"Lupakan Layla Kei."
Kei menurunkan telapak tangannya dan menatap ke arah suara yang menyapanya. Kei melihat Abdul, Alya dan Yuda sudah berdiri di hadapannya.
"Ayah, Ibu" ucap Kei langsung berdiri menatap ke tiga orang di hadapannya.
"Selamatkan Dinda, beri kebahagiaannya di sisa hidupnya Nak" ucap Alya melipat ke dua tangannya memohon pengharapan supaya Kei berubah.
"Jika kau tidak bisa mencintai Dinda, setidaknya lakukan ini demi rasa kemanusiaan Kei." Timpal Abdul.
Kei membuang wajahnya ke samping. Ia tidak menjawab semua perkataan Ayah dan Ibunya. Ia berlalu begitu saja dan langsung masuk ke dalam ruangan di mana Dinda tergolek lemah di atas tempat tidur dengan peralatan medis yang terpasang di hidung dan tangannya. Kei tertegun sesaat menatap Dinda yang terlihat pucat. Kei mendekati Dinda dan duduk di tepi tempat tidur.
"Kei" ucap Dinda lemah.
Kei hanya diam menatap wajah Dinda, pikirannya kacau.
"Kei, aku menyerah. Jika kau mau kembali pada Layla silahkan. Aku tidak akan menghalangimu lagi. Aku akan menceraikanmu Kei."
Kei terhenyak mendengar ucapan Dinda yang di luar dugaan. Membuat Kei menjadi serba salah.
"Biar Papa yang urus semuanya, aku tinggal menandatanganinya."
Kei bungkam seribu bahasa, ia menatap ke dua bola mata Dinda yang kosong seakan tak berjiwa lagi.
Dengan tersenyum, Dinda mengalihkan pandangan menatap langit langit kamar.
"Aku iklas Kei" Ucapnya sembari memejamkan mata.
__ADS_1
"Kau dengar Kei? jika memang itu maumu, aku akan mengurus semuanya" ucap Yuda bicara dari arah belakang. Kei menoleh menatap mereka bertiga yang berdiri di belakangnya. Lalu ia mengalihkan pandangannya menatap Dinda raut wajahnya pucat pasi.
Kei menghela napas dalam dalam, lalu ia hembuskan perlahan. Ia pejamkan matanya kuat kuat sebelum akhirnya ia memutuskan hal yang paling sulit Kei lakukan.
"Baik, akan aku lakukan apa mau kalian. Aku akan berusaha menerima Dinda sebagai istriku" ucap Kei tertahan di tenggorokan, dadanya sesak terbayang wajah Layla, teringat janjinya pada Layla.
Akhirnya Abdul, Alya dan Yuda merasa puas atas jawaban Kei. Dan mereka bersyukur karena Kei sudah mulai bisa melupakan Layla, Itu yang mereka pikirkan.
Setelah berhari hari Dinda di rawat di rumah sakit. Kesehatan Dinda semakin membaik dan di perbolehkan pulang. Dinda sembuh karean punya semangat hidup lagi. Kei yang selama ini tidak pernah menyentuhnya tapi semenjak ia memilih Dinda, Kei menjadi perhatian terhadap Dinda.
Sesampainya di rumah dan beristirahat berhari hari. Yuda Abdul dan Alya memutuskan akan memberikan hadiah bulan madu mereka ke Negara Jepang. Tanpa ada bantahan lagi Kei menerima keputusan apapun yang di berikan mereka. Kini hidup Kei sudah layaknya boneka. Apapun akan Kei lakukan asalkan mereka senang. Apa bedanya dengan Kei yang dulu bukan? Tapi mereka tidak menyadari sama sekali apa yang sebenarnya yang terjadi dengan Kei. Apakah dia benar benar tulus atau hanya sekedar menyenangkan hati mereka. Tanpa merubah sedikitpun hakikat cinta yang Kei miliki untuk Layla.
Setelah hari H yang ditentukan. Akhirnya Kei dan Dinda pun berangkat ke Jepang dengan di antarkan oleh orangtua mereka masing masing. Dan Yuda, Alya dan Abdul pulang dengan perasaan lega.
***
Sementara itu, Layla yang mendapat kabar bahwa Kei dan Dinda berbulan madu ke Jepang. Akhirnya Layla jatuh sakit. Layla tidak mau makan dan minum sampai berhari hari. Raiden sudah berusaha ada di sampingnya, membujuknya tapi itu tidak membuahkan hasil. Akhirnya Raiden menyerah dan membawa Layla ke rumah sakit.
Setiap hari Raiden selalu ada di samping Layla, ia tidak pernah meninggalkan Layla sedikitpun. Ia memang tidak pernah nyatakan cinta pada Layla, tapi ia tunjukkan dengan setiap tindakannya sebagai bentuk rasa cintanya yang semakin lama semakin tumbuh bagai bunga di musim semi.
Pagi pagi sekali Raiden sudah datang ke kamar rawat Layla. Ia membawakan sebuket bunga Sedap Malam. Lalu ia letakkan di atas meja.
"Rai" ucap Layla begitu melihat Raiden.
"Ya, Layla" jawab Rai sembari duduk di atas kursi.
"Terima kasih"
"Kamu ada ada saja, kita kan sahabat" jawab Raiden datar.
"Rai."
__ADS_1
"Ya?" Raiden mengangkat kedua alisnya menatap Layla.
"Apakah kau mau menemaniku seumur hidupku?"
Raiden terkejut mendapat pertanyaan seperti itu dari Layla. Ada perasaan senang dan ia berpikir kalau Layla akan menerima keberadaan dan cintanya. Tapi cepat cepat Raiden menepisnya.
"Tentu saja Layla, aku berjanji padamu tanpa harus kamu minta" jawab Raiden tersenyum. Tangan kananya mengelus pelan kening Layla.
"Terima kasih, aku akan berubah dari sekarang" ucap Layla bangun dari tempat tidur, dibantu Raiden.
"Kamu tidak perlu terburu buru, aku tahu hal itu butuh waktu. Dan selama waktu yang kamu butuhkan. Aku akan menunggumu" jawab Raiden tersenyum.
"Terima kasih"
Raiden mencubit hidung Layla gemas. "Apaan sih kamu, dari tadi terima kasih melulu." Raiden tertawa kecil di ikuti Layla juga tertawa. Sekian lama Raiden tidak pernah melihat Layla tertawa. Hari ini Raiden bisa melihat tawa Layla walau hanya sebentar.
"Aku mau pulang Rai, aku bosan di sini" ucap Layla.
"Oke, kau tunggu di sini, aku akan beritahu Dokter dulu." Raiden berdiri dan memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya menuju ruangan Dokter yang merawat Layla.
Setelah diskusi dan mendapat persetujuan Doktet. Akhirnya Layla bisa menghirup udara segar lagi. Tidak seperti di dalam rumah sakit yang bau obat obatan.
Pagi itu juga Layla di bawa pulang ke rumah oleh Raiden, dan di sambut hangat oleh Mbok Darmi dan Mang Usman.
"Neng, syukurlah sudah pulang lagi kerumah, tetima kasih Ya Rabb" ucap Mbok Darmi bersukur pada Sang Pemilik Hidup.
"Tetima kasih Mbok" jawab Layla, lalu ia duduk di kursi di ikuti Raiden yang duduk di sampingnya.
"Mbok buatkan susu hangat dulu Neng, Den Rai mau minum apa?" tanya Mbok Darmi.
"Aku kopi saja Mbok" jawab Raiden.
__ADS_1
Tak lama Mbok Darmi datang membawakan susu hangat dan Coffe white dan di letakkan di atas meja. Setelah itu ia duduk di kursi mendengarkan percakapan Layla dan Raiden yang akan berencana membuat kelas melukis buat siapa saja yang mau belajar melukis.