Kei Dan Layla

Kei Dan Layla
Chapter 69: Tunangan?


__ADS_3

Selasa pukul 15:30.


Raiden, Sila dan Kei baru saja sampai di halaman rumah Layla. Tanpa di sengaja mereka bisa berbarengan datang di waktu yang sama untuk menjenguk Layla.


"Kau lagi," ucap Raiden menatap sinis Kei.


"Ada yang salah?" tanya Kei pada Raiden.


Raiden mengangkat bahunya, lalu ia berjalan mendekati pintu rumah Layla di ikuti Sila dan Kei dari belakang. Namun sebelum Raiden mengetuk pintu, Mbok Darmi sudah lebih dulu membuka pintu.


"Nak Kei, Nak Rai, Neng Sila," sapa Mbok Darmi.


"Mbok Layla ada?" tanya Raiden tersenyum menatap Mbok Darmi.


"Neng Layla sedang berlatih untuk berjalan Den," jawab Mbok Darmi membungkukan badan sesaat.


"Latihan berjalan? sama siapa?" tanya Kei.


"Dengan Dokter yang merawat Neng Layla, Dokter Rico Den," jawab Mbok Darmi.


"Dokter Rico," Kei menautkan kedua alisnya, di sini hanya Kei yang belum tahu akan keberadaan Dokter Rico.


Mbok Darmi dan Raiden kemudian menjelaskan tentang Rico di rumah Layla.


Kei menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Latihan di mana mereka?" tanya Kei.


"Di belakang rumah Den, deket taman," jawab Mbok Darmi.


"Kalau begitu, saya ke sana saja Mbok."


Mbok Darmi menganggukkan kepala, ia menatap mereka bertiga, lalu ia kembali masuk ke dalam.


Kemudian mereka memutar arah menuju belakang rumah Layla. Kei dan yang lain melihat Layla duduk di kursi roda, sementara kedua tangannya mengapit dua tongkat.


"Kau pasti bisa Layla, jangan menyerah!" seru Rico memberikan semangat.


Layla berusaha sekuat tenaga mengangkat tubuhnya supaya dapat di topang oleh dua tongkat. Namun usaha Layla berkali kali gagal.


"Aku tidak bisa Rico," ucap Layla menyerah.


"Kau bisa Layla, ayo lakukan lagi!"


Kei yang merasa cara Rico terlalu kasar, langsung mendekati Rico dan Layla.


"Caramu memang sudah tepat, tapi jangan terlalu memaksakan kehendakmu," ucap Kei berdiri di samping Layla.


"Ow, kau rupanya," sapa Rico berdiri tegap menatap tajam Kei. "Lalu apa yang bisa kau lakukan buat Layla? tidak ada bukan?" sindir Rico.


Layla menyentuh tangan Kei, dan tengadahkan wajahnya menatap Kei.


"Kei..sudah," ucap Layla pelan.


Kei melepaskan dua tongkat di lengan Layla, lalu melemparnya ke hadapan Rico. Sementara Raiden yang berdiri tak jauh dari Layla hendak ikut bicara, namun Sila melarangnya. Akhrinya Raiden pun diam kembali.

__ADS_1


"Jawab pertanyaanku!" seru Rico. "Apa yang bisa kau lakulan buat Layla?!"


Kei berjalan mendekati Rico, mereka berdiri saling berhadapan dengan saling pandang dengan tatapan tajam seakan akan ingin menelanjangi satu sama lain.


"Aku memang tidak bisa berbuat apa apa untuk Layla, tapi aku tahu bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita," ucap Kei. "Apalagi Layla sedang sakit!"


Rico tersenyum sinis, ia memalingkan wajahnya sesaat, "buktikan, jangan hanya bisa menyakiti perasaannya saja." Rico tertawa kecil.


Kei terdiam mendengus kesal menatap Rico, "aku tahu kau seorang Dokter, dan kau ada di sini atas keinginanmu sendiri," ucap Kei. "Tapi tidak seharusnya kau mengatur dan memaksakan semua kehendakmu terhadap Layla."


Rico menyilangkan kedua tangan di dadanya, ia tersenyum miring," oya?" Rico mengangkat kedua alisnya menatap tajam Kei. "Untuk ukuran pria yang tidak punya pendirian, apakah aku harus mempercayai perkataanmu?"


"Kau?" Kei matanya melotot menatap Rico, kedua tangan menarik kerah baju Rico.


"Kei! sudah!" seru Layla.


Kei menoleh ke arah Layla sesaat, lalu ia melepaskan cengkraman tangannya di kerah baju Rico.


"Kalau bukan karena Layla, aku sudah menghajarmu," ucap Kei mengusap baju Rico dua kali. Kei balik badan melangkahkan kakinya.


"Hahaha! akui saja kau pria lemah!" sindir Rico.


Kei menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah Rico langsung menubruk Rico dan meninju wajah Rico.


"Bukkk!"


Rico terhuyung ke samping, ia menoleh menatap Kei tajam, Rico pun tertawa.


"Kei! Rico!" seru Layla. "Hentikan!"


Namun Kei dan Rico tidak memperdulikan lagi, Kei yang tersulut emosi berkali kali menghajar Rico meskipun Rico tidak melakukan perlawanan.


"Bukkk!" Kei kembali meninju perut Rico berkali kali.


Sementara Layla hanya bisa berteriak dan menangis, "Raiden! pisahkan mereka cepat!" seru Layla.


Sila yang berusaha menahan Raiden, ia merasa senang dengan tontonan itu, mencengkram lengan Raiden dengan kuat.


"Jangan ikut campur Rai," ucap Sila.


"Apa kau sudah gila?" Raiden matanya mendelik, lalu ia melepas paksa kedua tangan Sila.


Raiden langsung berlari coba melerai Kei dan Rico, Raiden menubruk tubuh Kei dari belakang dan memeluknya erat.


"Hentikan Kei! kasihan Layla!" seru Raiden.


"Lepaskan aku! seru Kei. " Biar aku beri pelajaran laki laki bermulut perempuan ini!"


"Hahahaha! Rico mentertawakan Kei, ia sengaja memancing emosi Kei.


" Lepas Rai!" seru Kei.


"Kei hentikan!" Seru Layla.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah memperhatikan perkelahian Kei dan Rico di balik pagar pintu belakang yang menuju jalan aspal.

__ADS_1


"Ini kesempatanku untuk balas dendam," ucapnya pelan.


Saat semua fokus melerai Kei dan Rico, pria yang tengah mengintip itu berjalan mengendap menghampiri Layla dari arah belakang. Dengan sigap ia menarik kursi roda Layla dan mendorongnya kencang ke arah jalan aspal.


"Kei!! tolong!!" jerit Layla.


Kei dan yang lain menoleh ke arah suara, merska melihat kursi roda Layla tengah di dorong oleh seorang pria tak di kenal dan dilepaskan begitu saja di jalan aspal perumahan.


"Layla!!" seru Kei berlari mengejar kursi roda Layla. Di susul oleh Raiden ikut berlari mengejar Layla.


Sementara Sila hanya diam melihat kejadian itu semua, sedikitpun ia tidak punya rasa empati terhadap sesama.


"Pria itu pasti Yuda," ucap Rico. "Tapi aku harus samatkan Layla dulu, dengan memutar arah." Rico berlari ke arah jalan yang berbeda.


Sementara itu Kei terus berlari mengejar Layla.


"Laylaa!"


"Kei! tolong aku!" seru Layla menoleh ke arah Kei dan Raiden.


"Buk!!!"


Kursi roda Layla tertahan oleh tubuh Rico, Rico terjatuh duduk di jalan aspal dengan kedua tangan menahan kursi roda Layla.


Kursi roda Layla terjungkir ke depan bersamaan dengan tubuh Layla yang terjatuh menimpa tubuh Rico. Rico memeluk tubuh Layla dan menyingkirkan kursi roda dari atas tubuh Layla.


"Rico..." ucap Layla pelan.


"Kau baik baik saja Layla?" tanya Rico.


Sementara Raiden dan Kei baru sampai, "Layla, apa kau baik baik saja?" tanya Kei dengan napas tersengal sengal.


"Berikan padaku!" Kei mengambil alih tubuh Layla dan menggendongnya.


"Syukurlah kau selamat Layla," ucap Raiden sedih.


Kei langsung membawa Layla kembali ke rumah, sementara Raiden mengangkat kursi roda Layla dan mendorongnya.


"Raiden aku butuh bantuanmu!" seru Rico, ia bangun dan berdiri membersihkan pakaiannya dari debu.


Raiden menghentikan langkahnya menatal Rico, "bantuan apa?" tanya Raiden.


"Kau pasti tahu, orang yang baru saja mencelakai Layla?" tanya Rico.


Raidenn menautkan kedua alisnya menatap Rico, ia mengangguk anggukkan kepala.


"Yudha!" seru Raiden.


"Betul," kata Rico.


Rico berjalan mendekati Raiden, "kau antarkan kursi roda ini kerumah, lalu kau balik lagi kesini," ucap Rico.


"Untuk?" tanya Raiden, ia mengerutkan dahi tidak mengerti maksud Rico.


"Kita tangkap si Yudha, aku tahu di mana lokasi persembunyiannya," jawab Rico. "Jangan lupa kau bawa mobil."

__ADS_1


Raiden menganggukkan kepala, "baiklah, kau tunggu di sini." Raiden balik badan dan melangkahkan kakinya menuju rumah Lyla.


"Cukup sudah kau melakukan kejahatan Yudha," gumam Rico. "Tidak sepantasnya kau timpakan kesalahanmu sendiri pada Layla tunanganku," gumam Rico.


__ADS_2